7 Cara Perempuan Saling Mendukung dan Menguatkan

Aku tahu, aku dan juga beberapa teman perempuan yang lain sudah seringkali mengatakan atau bahkan menyerukan agar kita sesama perempuan saling mendukung dan saling menguatkan. Karena kita masih hidup dalam konstruksi timpang yang sama yang membuat semua perempuan mengalami ketidakadilan (dalam berbagai versi), karena ketika perempuan saling mendukung dan menguatkan maka apapun akan bisa kita lakukan, dan berbagai macam alasan lainnya yang semuanya meyakinkan kita bahwa yes, sebagai sesama perempuan memang kita harus saling mendukung dan menguatkan dan menghindarkan segala bentuk persaingan, saling menjatuhkan, saling menyalahkan, dan saling memandang dengan cara budaya patriarki memandang perempuan.

Ashiaaapp aku mau dong, right here right now, saling mendukung dan saling menguatkan teman-teman perempuanku. Tapi bagaimana sih caranya? Teknisnya? Jangan-jangan cuman berhenti di niat saja. Nah di hari perempuan internasional kali ini, aku akan memberikan beberapa tips berdasarkan pengalamanku cara-cara agar perempuan bisa saling mendukung dan menguatkan. Tapi tentunya teman-teman di sini juga bisa menambahkan tips-tips yang lain berdasarkan pengalaman teman-teman sendiri ya. Okay, apa saja tips-tipsnya. Let’s check them out!

#Tips 01: Luangkanlah Waktu untuk Benar-Benar Mendengarkannya

Salah satu kekuatan perempuan adalah kebiasaannya untuk berbagi perasaan dan mencari pertolongan. Hal ini seringkali di-stereotype-kan sebagai sesuatu yang lemah, padahal ini adalah kekuatan, dan perempuan bisa seperti ini karena memang dibiasakan sejak kecil (sebaliknya laki-laki dibiasakan untuk menyimpan sendiri perasaannya dan mengatasi sendiri masalahnya). Yes memang ini bagian dari konstruksi gender, tapi ini kekuatan kita! Luangkanlah waktu untuk benar-benar mendengarkan apapun yang keluar dari mulut teman perempuanmu, semua cerita, keluhan, sumpah serapah, mimpi-mimpi, harapan, keinginan. Dengarkan semuanya! Mendengarkan beda dengan mendengar ya, mendengarkan adalah listening beda dengan just hearing. Fokuskan semua perhatianmu padanya, letakanlah smart phone-mu sejenak, berpalinglah dari laptopmu sebentar. Just listen to her!

#Tips 02: Jangan Menghakimi Dia Atas Pilihan-Pilihan Hidupnya

Setiap perempuan bebas menentukan pilihan hidupnya. Pilihan-pilihan hidup temanmu mungkin berbeda denganmu. Kamu memilih kerja di NGO, temanmu memilih menjadi PNS. Kamu memilih menikah ntar-ntar aja, temanmu menikah di awal umur 20an. Kamu memilih aktif di luar rumah, temanmu memilih menjadi ibu rumah tangga dan lebih banyak di rumah. Kamu memilih tidak punya anak, temanmu memilih punya anak banyak. Kamu memilih mendidik anakmu sendiri, temanmu memilih menitipkan anaknya kepada orangtuanya. Kamu memilih cebong, temanmu memilih kampret, eh kok itu, hehehe. Semua pilihan ada alasannya masing-masing, hargai itu! Tidak ada yang lebih baik dan tidak ada yang lebih buruk. Semua ada konsekuensinya masing-masing, dan semua ada tantangannya sendiri-sendiri. Dengan kita saling mendukung justru kita jadi bisa saling curhat tentang tantangan-tantangan yang kita hadapi atas pilihan kita itu dan saling memberikan pandangan. Plus remember, best friends don’t judge each other, they judge other people together, hahaha, engga ding, yang terakhir ini bercanda ya.

#Tips 03: Jangan Menyalahkan Dia Atas Situasi yang Dia Alami, Try to Be in Her Shoes

Temanmu mengalami situasi yang membuat kamu sebel, karena menurutmu seharusnya dia bisa begini dan begitu. Hey kamu kan tidak tahu situasi sebenarnya seperti apa, dan apa yang dia alami atau rasakan. Try to be in her shoes. Hanya dia yang tahu situasi sebenarnya seperti apa, dan dia mungkin sudah punya rencana sendiri. Jangan sok tahu, kecuali memang kamu diminta pendapatnya. Misalnya kamu kesal dengan perlakuan buruk pasangan temanmu padanya, jangan menyalahkan dia atas situasi itu, apalagi meminta dia buru-buru mengubah atau meninggalkan pasangannya. It’s not that easy for her, let her decide. Kecuali ada situasi krisis, hal-hal yang sudah membahayakan keselamatannya, nah kalau itu kamu malah wajib membantunya. Atau misalnya temanmu tersiksa dengan pekerjaannya tetapi tidak melakukan langkah apa-apa terkait situasinya itu. Don’t blame her, it’s not that easy. It’s better to always stay by her side and give her unconditional support.

#Tips 04: Berikan Apresiasi Atas Hal-Hal Baik, Kemajuan, serta Prestasi yang Sudah Dia Lakukan

Ketika temanmu melakukan hal-hal baik, mengalami kemajuan, atau berkarya/berprestasi, hargailah dia, berikan pujian, tunjukkan kamu ikut senang, rayakan itu bersamanya. Dari mulai hal kecil hingga hal besar, be the person who will always happy for her! Misalnya temanmu sudah mulai bisa membuka komunikasi dengan pasangannya, atau dia semakin mencintai dirinya, atau dia mendapatkan pekerjaan sesuai passion-nya, atau dia mewujudkan mimpi-mimpinya, jadilah orang yang akan berteriak senang mendengar kabar itu dan merayakannya bersamanya. Show her that you are happy for her achievement!

#Tips 05: Luangkanlah Waktu untuk Bisa Bertemu dan Melakukan Hal-Hal Menyenangkan Bersama

Ini penting sekali ya. Walaupun di zaman sekarang mungkin teknologi sedikit banyak sudah bisa menggantikan hal itu, tapi tetap tidak ada yang bisa menggantikan ketemu muka, kopi darat, ketemu secara fisik, kalau memang memungkinkan sih. Luangkan waktu untuk bertemu dan melakukan hal-hal menyenangkan bersama, misalnya makan siang bareng, nonton film bareng, beli kosmetik bareng, lihat-lihat kain cantik bareng, dan lain-lain. Dengan melakukan hal-hal tersebut, kita akan bisa saling bertukar energi positif dengan teman kita itu. Energi positif yang akan menyuntikkan semangat alias mood booster bagi kita, dan tentunya untuk menjaga kewarasan kita.

#Tips 06: Berikan Saran Hanya ketika Diminta dan Biarkan Dia Membuat Keputusan Sendiri, dan Dukung Keputusannya

Kita tahu ya, sebagai perempuan dalam konstruksi budaya yang timpang gender, sudah terlalu sering orang membuatkan definisi dan keputusan untuk diri kita. Seperti harus seperti apa tubuh kita, harus seperti apa pakaian kita, harus seperti apa perilaku kita, harus menikah di umur sekian, harus punya anak di umur sekian, harus bekerja ini, harus begini, harus begitu, bla bla bla. Sudah terlalu sering definisi akan diri perempuan dan keputusan-keputusannya dibuatkan oleh orang lain. Maka dari itu, don’t do that girls, just don’t! Dukung temanmu, encourage dia, untuk membuat keputusan sendiri atas diri dan hidupnya, dan dukung keputusannya itu. Berikan saran hanya ketika diminta. Berikan dia insights yang kalian diskusikan bersama, tapi tetap, encourage dan dukung dia untuk membuat keputusan akhirnya. Believe me girls, empowering is always better!

#Tips 07: Jangan Tinggalkan Dia Ketika Dia Membuat Kesalahan

Yes, semua orang pasti pernah berbuat kesalahan, karena itu adalah bagian dari proses perkembangan dan pertumbuhan dirinya. Kadang kesalahannya sepele, kadang kesalahannya fatal. Either way, don’t ever leave her for the mistakes she has done! Itu adalah proses pertumbuhannya. Dan bisa jadi ketika dia membuat kesalahan, itu adalah saat-saat di mana she needs you the most, she needs you to be in her side through her worst time. She needs you to be with her during those bad times, to help her and to support her to figure it out and finally bangkit kembali menuju versi terbaik dirinya. Kebayang kan kalau kita malah meninggalkannya. Lagian bukannya manusia itu memang begitu ya, we fall down and we get up again, we make mistakes and we start all over again, that what’s people do in their life right?

Well demikian 7 tips dari aku, silakan ditambahi ya. Happy international women day for all my women fellows everywhere, I love you all, we can do this together!

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *