7 Hal yang Dulu Bisa Sering Dilakukan Waktu Tinggal di Jogja Tapi Jadi Susah Pas Sudah Tinggal di Bantul

Aku tinggal di kontrakan di Yogyakarta selama 9 tahun, dari waktu single hingga sudah double, hahaha, yaitu sejak Januari 2008 hingga November 2016. Hah kebayang kan berapa duit yang sudah aku sumbangkan kepada ibu pemilik kontrakan dan tidak ada bekasnya. Nyumbang pala lo peyang, kata si ibu kontrakan, kamu pikir 9 x 365 kamu tidur di mana, terus ga ada bekasnya dari Hongkong, rumah saya yang dulunya bagus dan bersih jadi kotor dan rusak di sana-sini, hahaha, iya Bu, maaf. Anyway, pada akhir November 2016 aku dan suamiku pindah ke perumahan apalah-apalah yang dibelikan oleh BTN, baik banget ya mereka mau beliin kami rumah. Aku hanya harus memastikan setiap awal bulan rekeningku ada isinya untuk membalas “kebaikan” si tuan rumah, hingga 15 tahun kemudian, hahaha, damn.

Kontrakan kami dulu terletak di Jogja downtown alias tengah kota banget, cuman 3 menit dari Kraton dan alun-alun utara, 5 menit dari Km. 0 dan Malioboro, serta terletak persis di belakang bank-bank besar dan Jogjatronik. Tengah kota yang kumaksud di sini literally banget lho, kan dekat Km. 0, hehehe. Sedangkan rumahku sekarang terletak di Jogja coret alias sudah masuk ke kabupaten lain, walaupun masih di DIY, yaitu Kabupaten Bantul. Walaupun masih di kecamatan yang letaknya paling dekat dengan Kota Jogja (SEWONderland) dan hanya 2 km dari pusat kota kabupaten Bantul (alun-alun Bantul), tinggal di Kabupaten Bantul sangat berbeda dengan tinggal di Kota Jogja. Bahkan sampai sekarang setelah 2 tahun, aku masih sering mengalami culture shock lho, hahaha lebay. Eh tapi itu benar lho, padahal jaraknya hanya 8 km alias 20 menit perjalanan motor dari Km. 0 Kota Jogja. Apa saja hal-hal yang dulu bisa sering aku lakukan sewaktu masih tinggal di Kota Jogja dan sekarang jadi tidak bisa lagi setelah tinggal di Bantul, let’s check it out!

#1 Susah banget nyari toko atau warung yang buka sebelum jam 9 pagi dan masih buka setelah jam 7 malam

Beneran tahu, kalau terlalu pagi keluarnya untuk ke laundry, beli makan, beli makanan kucing, atau mau grocery shopping di minimarket lokal atau toko kelontong, lupakan saja, daripada kamu terpaksa pulang lagi sambil ngomel. Mereka tidak akan buka sebelum jam 9 pagi. Jadi duduk manis dulu ya di rumah ngopi-ngopi cantik sambil mainan HP, tunggu sampai jam 09.30 baru keluar, aman, sudah buka semua. Walaupun tetap, kadang mereka sering tutup aja gitu tanpa alasan yang jelas, hahaha, pokoknya selo adalah koentji. Bahkan warung sayuran segar saja baru pada buka jam 7.30 pagi, apa kabar ya kalau aku masih kerja kantoran, hihihi. Begitu juga malamnya, kehabisan makanan kucing atau rokok pada jam 8 malam, puasalah merokok dan minta kucingmu untuk puasa juga sampai keesokan harinya, soalnya toko-toko dan warung-warung sudah pada tutup. Malam itu saatnya mengaji atau menghabiskan quality time nonton TV bersama keluarga. Demikian kurang lebih pandangan hidup para pemilik toko dan warung tersebut, hehehe.

#2 Tidak bisa sewaktu-waktu ke Ind*mart atau Alf*mart, keduanya adalah barang langka di Bantul

Yes, tidak seperti di Kota Jogja atau kota-kota lainnya yang Ind*mart dan Alf*mart ada setiap 300 meter, di Bantul jumlahnya sangat dibatasi, menjadi hanya kurang dari 10 saja se-kabupaten Bantul. Bagus sih, aku sangat mendukung kebijakan ini karena membuat toko-toko kelontong dan minimarket lokal menjadi berkembang. Jadi kalau sudah pulang ke Bantul, dijamin kebiasaan dikit-dikit ke Ind*mart/Alf*mart langsung hilang ditelan kebijakan pro-rakyat, karena mau ke kedua frenemy-minimarket itu effort-nya banyak banget. Paling dekat adalah di dekat kampus ISI masih ke utara lagi, males lah, apalagi kalau cuman mau beli Onigiri atau Yummy Coffee.

#3 ATM dan pom bensin tidak buka 24 jam

Jangan kira semua ATM dan pom bensin itu buka 24 jam, not in Bantul baby, hehehe. Temanku dulu sampai heran ketika minta diantar ke ATM, eh jam 8 malam ATM-nya sudah digembok pagarnya atau kalau dia berada di dalam bangunan, bangunannya sudah dikunci, hahaha. Terlalu pagi juga sama, belum dibuka gembok pagar atau pintu bangunannya. Demikian juga dengan pom bensin. Pernah aku pulang jam 9 malam hendak mampir ke pom bensin, kok sudah gelap, ternyata sudah tutup dong pom bensinnya, hahaha. Sebenarnya ini bagus saudara-saudara, hidup kita jadi lebih sehat, malam itu saatnya beristirahat ga mikirin hal-hal duniawi terus, hehehe.

#4 Tidak bisa pulang ke rumah tanpa lewat kuburan

Aku pernah menceritakannya di tulisanku beberapa bulan yang lalu. Di Bantul ini kuburannya kecil-kecil, banyak, dan terletak di tengah-tengah rumah warga di perkampungan. Jadi kayak 3 rumah terus ada kuburan terus 5 rumah terus ada kuburan lagi, dan seterusnya. Aku menduga sih pesan filosofisnya adalah agar supaya manusia yang hidup selalu diingatkan akan kematian yang bisa datang kapan saja menjemput, dan juga agar supaya kuburan jadi tidak terasa seram lagi, karena terletak di tengah-tengah perkampungan. Tapi kalau malam-malam pulang sendiri, ya tetap seram lah, dan karena kuburan ini ada di mana-mana, jadi mau pulang lewat manapun, pasti tetap akan melewati kuburan, hiii.

#5 Males pulang tengah malam kalau sendirian soalnya gelap dan sepi

Dulu sewaktu masih tinggal di Jogja, mau pulang sendiri jam 12 malam atau bahkan jam 3 dini hari ayo aja, jalanan masih ramai orang dan terang penuh lampu-lampu jalan dan lampu-lampu dari kendaraan lain. Begitu tinggal di Bantul, duh, sepi dan gelap, apalagi tambah gerimis, males banget. Jadi kalau sedang pergi nongkrong ketemu teman tidak bareng suami, jam 9 atau jam 10 malam aku sudah gelisah pengen cepat-cepat pulang karena membayangkan harus melewati jalanan yang sepi dan gelap itu. Selamat tinggal dunia malam, mending kalau janjian ketemuan pagi sampai sore saja ya.

#6 Tidak ada bioskop, mall, dan warnet buat ngopy film, harus ke Jogja dulu

Tentu saja! Ind*mart dan Alf*mart saja dibatasi demi perkembangan perekonomian lokal, apalagi bioskop dan mall, ga ada lah! Layar tancap dan hadroh mungkin banyak di alun-alun atau di depan masjid agung, hehehe. Jadi kalau pengen ke bioskop atau mall ya harus ke Kota Jogja atau ke Kabupaten Sleman dulu. Terus kalau warnet ada sih, tapi masih kayak warnet- warnet 10 tahun yang lalu, yang masih tidak nyaman, tidak kencang, dan yang paling penting tidak bisa untuk ngopy film dan lagu kayak warnet-warnet di Jogja atau Sleman.

#7 Alun-alunnya cuman enak buat nongkrong kalau malam doang, soalnya kalau pagi-sore tidak ada tempat berteduhnya dan tidak ada orang jualan

Nah ini dia yang aku heran. Dulu awal-awal tinggal di Bantul, mengingat waktu di Jogja dulu, sejak jam 5 pagi alun-alun sudah ramai orang jualan, olahraga, atau hanya sekedar duduk-duduk saja, membuatku juga ingin nongkrong di alun-alun Bantul pagi-pagi. Eh ternyata kalau pagi alun-alunnya sepi, tidak ada orang jualan atau orang nongkrong duduk-duduk. Terus berbeda dengan alun-alun Jogja yang banyak tempat teduhnya untuk nongkrong sewaktu-waktu, di alun-alun Bantul ini tidak. Jadi malas lah nongkrong di alun-alun siang-siang, kan panas, dan yang terpenting karena tidak ada orang jualannya itu, masa nongkrong doang tidak sambil mengunyah, hehehe. Alun-alun mulai ramai orang jualan dan orang-orang yang nongkrong-nongkrong di sana, mengajak main anaknya, atau makan adalah ketika menjelang magrib, hehehe.

Itulah 7 hal yang susah aku lakukan lagi setelah pindah tempat tinggal ke Bantul. Tapi sebagai gantinya aku mendapatkan puluhan hal keren lain yang tidak aku dapatkan ketika masih tinggal di Kota Jogja, seperti warung-warung makan tradisional yang keren, enak, dan murah, tempat-tempat wisata indah yang dekat dan mudah dijangkau, minimarket-minimarket lokal yang harganya mengejutkan, dan masih banyak lagi, akan aku ceritakan kapan-kapan. Dan setiap kali pergi ke Kota Jogja dan melihat segala kemacetan serta crowdedness dan messiness itu, terutama di hari Sabtu – Minggu, tinggal di Bantul langsung terasa like a good idea, a very good idea, hehehe.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *