7 Perbedaan Mendasar Antara Umur 20an Dengan Umur 30an

Sudah lama banget ya aku tidak menulis, entah sudah berapa ide tema di kepala, berapa kejadian yang dialami, berapa film yang ditonton, berapa hal menarik yang ditemui, dan lain-lain yang sebenarnya bisa ditulis. Tetapi terlewat semua, karena apa ya, karena terlalu banyak excuse sih lebih tepatnya, hehehe.

Baiklah, kali ini mari kita membahas tentang, pernah nggak sih para pembaca yang sekarang berada pada usia 30an alias thirty something merasa, kok kalau diingat-ingat kita banyak berubah ya dibanding dengan ketika kita berusia 20an alias twenty something dulu. Kalau aku sih yes, maksudnya kalau aku sih merasakan begitu. Beberapa hal berubah banget dulu ketika masih berusia 20an dan sekarang ketika sudah 30an. Jadi ingat dulu ketika pertama kerja di Jogja, beberapa rekan kerjaku yang berusia 30an tahun melihat aku yang khas anak 20an tahun banget kali ya mengatakan, “ntar setelah memasuki usia 30an tahun akan beda deh”. Dan waktu itu sih aku tidak percaya dengan perkataan mereka, dan tetap keukeuh bahwa age is just a number. I do still believe sih sampai sekarang bahwa age is just a number, tapi selalu saja, when my mind says I am 23, my body always interrups and says, you wish, hihihi.

Jadi mari kita lihat apa saja perubahan yang dirasakan oleh aku yang menolak tua tapi tidak bisa tidur tanpa kaos kaki dan vicks vaporub ini, hihihi, check them out!

Usia 20an #1: Rasanya pengen keluar rumah melulu, pokoknya nggak betah banget sih di rumah.

Kerja jam 9 pagi sampai jam 5 sore, pulang kerja langsung ngelayap sampai sudah ganti hari. Besoknya gitu lagi. Sabtu – Minggu ngelayap lagi seharian. Baru sampai rumah ada yang ngajak pergi, ayo aja. Jam 1 malam diajak keluar, atau jam 5 pagi, oke aja, pokoknya I am always up and available, hehehe.

Usia 30an #1: Selalu kangen bersantai di rumah, kasur, selimut, and doing nothing.

Dolce farniente baby, the sweetness of doing nothing! Setelah hari-hari padat penuh deadline kerjaan dan aktivitas-aktivitas lainnya, all I want to do is just stay at home with my cats and do nothing. Nggulung-nggulung di kasur sambil nontonin video nggak berfaedah di youtube atau mainan media sosial. Teman ngajak keluar? Ya ampun sudah jam 8 malam, besok pagi aja ya, mending berguling di balik selimut, dingin tauuu, eh minyak kayu putih mana ya.

Usia 20an #2: Senang, menikmati, sekaligus ingin hangout dengan sebanyak mungkin teman, termasuk teman-teman baru.

Always up untuk menghadiri acara-acara baru, masuk ke komunitas-komunitas baru, bertemu dengan teman-teman baru. Enjoy menikmati diri berada di tengah-tengah banyak orang dan kumpulan-kumpulan ramai. Pokoknya semakin banyak teman semakin oye dan semakin seru nongkrongnya.

Usia 30an #2: Low maintenanced friends only, please!

Lebih menikmati kumpul dengan beberapa teman saja yang memang sudah benar-benar dekat dan mengerti kita banget, dengan obrolan yang lebih mendalam dan personal tentang kehidupan dan tentang ide-ide serta tentang nilai-nilai. Teman-teman di mana kita bisa menjadi diri kita sendiri, bisa ngomong separah apapun, bisa berbuat sekonyol apapun but we are 100 % sure that they will still love us and never leave us, hehehe.

Usia 20an #3: Adrenalin tak tertahankan, selalu ingin mencoba hal-hal yang menantang dan berisiko.

Masih ingat banget dulu dengan motor jelek saja nekat ke Dieng nyetir sendiri dari Jogja, perjalanan malam hari dan pagi hari banget pula, dengan jaket tipis, dan jalanan yang menanjaknya gila. Bahkan nekat mau bawa motornya ke kawah candradimuka yang jalannya berbatu parah dan kemiringannya 60 – 75 derajat. Kalau lagi main ke pantai-pantai di Gunungkidul juga sengaja sukanya pulang malam, lewat hutan di daerah Panggang malah senang.

Usia 30an #3: Ya ampun jalannya menanjak ya, bisa muter aja nggak sih?

Mau ngisi diskusi komunitas di Mertelu Gedangsari yang jalannya menanjak dan berbatu, sejak seminggu sebelumnya sudah stres mikirin perjalanannya. Kalau ada acara di komunitas di Gunungkidul, jam 5 buru-buru cabut biar gelap sudah di bawah, atau kalau terlewat sudah gelap, nginep sana saja lah, pulang besok pagi saja. Mau nyebrang Jalan Bantul yang ramai banget itu saja malas, mending cari warungnya atau pom bensinya yang di kiri jalan saja, terus ntar pulangnya muter, hihihi.

Usia 20an #4: Suka nyobain tempat-tempat nongkrong dan tempat-tempat makan yang baru dan belum pernah dicobain.

Semua-semua pengen dicoba, bahkan kalau perlu jangan nongkrong atau makan di tempat yang sama deh, cobain yang baru, kayak apa, penasaran, enak apa enggak, pokoknya pengen nyobain aja.

Usia 30an #4: Duh yang pasti-pasti enak, nyaman, sepi, dan nggak ngantri aja deh!

Ya sebenarnya ada sih keinginan untuk mencoba-coba tempat baru, tetapi tanpa disadari ternyata aku dan teman-temanku selalu nongrong di café-café yang itu-itu saja, nonton di bioskop-bioskop yang itu-itu saja, dan makan di tempat-tempat makan yang itu-itu saja, yang pasti-pasti saja dan sudah jelas enak dan nyaman, hehehe.

Usia 20an #5: Suka hal-hal spontan dan nggembel, seperti tidur di tenda di pinggir pantai atau hutan, tidur di sekretariat, tidur ramean di satu ruangan besar, mandi di jalan.

Coba cek backpack aku versi usia 20an tahun. Dijamin isinya handuk, seperangkat alat mandi, dan baju ganti. Persiapan untuk tidur di mana saja di jalan, termasuk di teras masjid, di emperan kampus, di sekretariat, atau bahkan di tenda. Mandi? Oh bukan masalah itu, selama masih ada terminal, stasiun, atau masjid, di situlah kita bisa mandi.

Usia 30an #5: Hmm cari hotel yang murah ya atau pulang aja deh, besok pagi ke sini lagi.

Ntar kita nginepnya di mana? Sudah booking penginapan? Atau di rumahnya siapa? Ada kamar mandinya kan? Atau aku pulang dulu ya, besok janji deh jam 7 sudah sampai sini lagi, hehehe.

Usia 20an #6: Nggak masalah minum segala jenis minuman sachet, dari mulai segala merk kopi sachet, teh sachet, sari buah sachet, pop ice, jasjus, apalah-apalah.

Tahun-tahun di mana modal 1.000 untuk beli kopi sachet saja hidupnya sudah bahagia banget, rasanya sudah kayak enak banget, dan yang paling penting asam lambung aman. Dulu juga hampir setiap hari aku beli pop ice yang di-blender dan diberi topping apalah-apalah itu, rasanya sudah enak banget. Pokoknya semua minuman sachet atau instan rasanya enak banget dan lambung nggak pernah bermasalah.

Usia 30an #6: Jusnya buahnya asli nggak Mas? Kalau kopinya brewing atau instan? Instan ya? Hmm, air putih aja deh Mas!

Ini bukannya belagu atau gimana ya. Selain karena rasanya aku sudah tidak bisa menikmati, karena aneh atau kalau enggak ya manis banget, juga terlebih karena asam lambungku biasanya akan langsung menjerit ketika dimasuki minuman sachet atau instan, belagu banget yak dia. Jadi sumpah kalau nggak ada minuman yang asli, air putih saja, beneran deh, I am good with just water!

Usia 20an #7: Yakin deh kalau sekarang ini aku masih usia 20an pasti aku akan termehek-mehek dan klepek-klepek sama Spiderman (Tom Holland) atau untuk Indonesia Dilan (Iqbaal Ramadhan).

Kemarin pas lihat Spiderman iya sih I agree Peter Parker keren, cute, dan nggemesin banget. Atau waktu pas lihat Dilan, ya ampun bad boy yang keren dan bikin penasaran banget gimana gitu. Tapi sayang seribu sayang, kalian terlihat seperti anak kecil banget, jadi pengen tante traktir pop ice deh, hehehe. Monmaap ya, tante mau yang sudah matang dan besar, eh.

Usia 30an #7: Ya ampun anak kecil banget sih mereka, pusing deh tante lihatnya, Benedict Cumberbatch dong, Chris Hemsworth, atau Aryo Bayu deh, hehehe.

Ya ampuuun keren banget sih, sooo hot and yummy, dewasa, matang, dan berkarakter banget jeritku ketika melihat Dr. Strange, Agent H, Tony Stark, atau Sultan Agung. And yes, those men are in their late 30s, 40s, or even early 50s, hihihi.

Hehehe maybe it’s just me yes, what about you gurls? Let me know in the comment section below, yes!

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | 7 Perbedaan Mendasar Antara Umur 20an Dengan Umur 30an
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *