Ada Belasan Jenis Buah Mangga di Indonesia, Kenapa Selalu Beli Arum Manis?

Yes, bulan-bulan “-ber” di akhir tahun begini adalah bulan-bulan favorit. Kenapa? Tentu saja karena musim mangga telah tiba. Bulan-bulan di mana tumpukan buah mangga dijual di pinggir-pinggir jalan dengan harga yang sangat terjangkau, dari mulai 10.000 hingga 18.000 per kilonya. Di bulan Desember bahkan kadang harga bisa turun hingga di bawah 10.000 per kilonya, tahun lalu pernah sampai di angka 7.000 per kilo. Sungguh sebuah kenikmatan duniawi yang sangat terjangkau bukan?

Indonesia adalah negara tropis yang memiliki berbagai jenis mangga. Aku tidak tahu persisnya berapa, mungkin ada belasan jenis mangga atau lebih yang dihasilkan oleh bumi pertiwi tercinta ini. Sebut saja ada mangga golek, mangga gedong, mangga madu, mangga cengkir, mangga manalagi, mangga apel, mangga nanas, mangga Indramayu, mangga kweni, dan masih banyak lagi. Oh iya, kalian mungkin protes kenapa mangga arum manis tidak disebutkan, padahal itu yang paling populer dan paling banyak dijual di toko-toko buah, di pasar, maupun di pinggir-pinggir jalan.

Berikut penjelasannya. Sebagai orang yang sukanya aneh-aneh, sejak dahulu aku berpikir bahwa makan mangga arum manis itu terlalu mainstream. Aku tidak bilang rasanya tidak enak lho, enak kok, enak banget malah, dan aman, tapi ya itu mainstream banget. Semua orang kalau beli atau makan mangga pasti arum manis, yang mudah ditemukan pun kebanyakan arum manis, yang selalu dibawakan sebagai buah tangan juga arum manis. Itu seperti menyia-nyiakan jenis-jenis mangga yang lain yang unik-unik dan non-mainstream itu ga sih, hihihi.

Itulah kenapa sejak dulu, setiap akhir tahun begini, aku selalu hunting mangga-mangga selain arum manis. Dan walaupun tidak sepopuler arum manis, tapi masih mudah ditemukan lho, dan biasanya harganya lebih murah. Kalau arum manis rasanya cenderung manis, enak, dan aman, mangga-mangga lain ini lebih beragam, lebih penuh tantangan, dan lebih penuh kejutan, apaan sih, hehehe.

Aku tidak bisa mengatakan yang mana favoritku dari mangga-mangga non-mainstream ini, semuanya punya keunikan tersendiri. Mangga manalagi—yang sekarang kepopulerannya mulai menyaingi mangga arum manis—memiliki rasa manis yang cukup unik dan tekstur buah yang lebih padat, bentuknya kecil dan warna kulitnya hijau daun. Mangga ini mau mentah ataupun matang sama-sama manisnya. Mangga golek bentuknya panjang-panjang dan warna kulitnya kekuningan. Rasanya manisnya tidak semanis arum manis dan teksturnya lunak. Mangga nanas buahnya lebih kecil dan warnanya oranye, baik buah maupun kulitnya, selain itu buahnya berserat sehingga sering nyangkut di gigi dan airnya banyak, sehingga makan mangga ini biasanya messy, air dan seratnya ke mana-mana, hehehe. Mangga cengkir aku lupa sepertinya berserat dan banyak airnya juga, rasanya manisnya tidak sama dengan manisnya arum manis, tapi enak dan berbeda. Mangga gedong lebih kecil dan kulitnya terlihat ranum dengan warna oranye kemerahan, rasanya manis banget. Tapi menurutku walaupun sama-sama manis dan sama-sama ada rasa asamnya, tapi rasa manis dan rasa asamnya itu berbeda untuk tiap-tiap mangga. Tetapi perbedaan itu sulit dijelaskan, harus dirasakan sendiri, karena itu adalah pengalaman personal masing-masing orang, alaaahh. Ibaratnya warna biru, di antara biru tua dan biru muda itu ada banyak sekali warna-warna biru yang lain yang semuanya bagus dan masing-masing punya keunikan serta keindahan tersendiri, sehingga sangat relatif, tergantung selera masing-masing.

Jadi yakin masih mau hanya makan mangga arum manis saja dan menyiakan-nyiakan belasan jenis mangga yang lain dengan segala keindahan dan keunikan rasanya yang khas? Jangan kufur nikmat lah, hehehe.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *