Anak Perempuanku adalah Inspirasi dan Sumber Kekuatanku untuk Merebut Kembali Kedaulatanku

Membaca tulisan-tulisan teman sesama perempuan yang menginspirasi membuat aku iri luar biasa pada kemampuan mereka menyusun dan menuangkan gagasan mereka ke dalam tulisan. Ini mengingatkanku pada perjuanganku menuangkan gagasanku yang kacau balau ke dalam sebuah latar belakang penulisan tesis S2-ku kemarin. Tapi kegagapan ini harus berakhir karena aku punya sebuah cerita yang mungkin bisa jadi semacam sudut pandang baru bagi para perempuan yang sedang berada di persimpangan jalan antara menikah atau tidak, bercerai atau tidak, sendiri atau berdua.

Aku perempuan yang baru saja bercerai, iya, dan aku tidak menyesalinya sedikitpun. Padahal dengan perceraianku ini aku kehilangan sangat banyak dalam hidupku. Potret keluargaku adalah keluarga bahagia, keluarga muda yang mapan, punya anak yang lucu, kami adalah pasangan dari lingkungan passion yang sama di dunia entertainment. Kami berbagi teman-teman yang sama, kami bicara dengan bahasa yang sama, dan kami sempurna.  Itulah perfect picture kehidupan kami, banyak yang menginginkan potret itu dengan gambaran aku PNS dengan karir lumayan, punya sambilan sebagai penyiar radio, masih ambil job-job MC, suami adalah karyawan swasta di perusahaan besar dan punya karir tidak kalah oke, masih nyambi nge-band, anak kami sangat periang, lucu, dan menyenangkan, kurang keren apa dong kami? Rumah baru saja terbeli, mobil baru, dan semua hal yang meskipun sedang-sedang saja tapi kami sepertinya menjadi contoh sempurna kaum muda perkotaan yang bergandengan tangan meraih mimpi mereka. Banyak orang akan menilai tidak ada yang salah dalam kehidupan kami, we are just perfect!

Tapi mereka salah, kalau kata orang nobody’s perfect. Bahkan kami, aku, jauh dari sempurna, salah, semua salah, dari awal semuanya salah. Kadang ada penyesalan luar biasa kenapa aku tidak pernah berani meluruskan kesalahan ini dari awal, awal aku memilih mantan suamiku ini sebagai pacar. Tapi kalau menyesal artinya aku menyesali anakku, sesuatu yang sangat aku syukuri dari semua kemalangan yang aku rutuki dalam hidupku ini.

Aku menikah setelah berpacaran hampir 4 tahun dengan mantan suamiku ini. Wow lama pacaran kok masih bisa bilang salah? Jangan-jangan hamil duluan? Atau dipaksa orangtua? Ah, tidak dua-duanya, I wish that somehow ada alasan yang bisa membuat kebodohanku ini tidak terlalu kentara. Dulu aku takut berpisah karena usia, hah? Iya, usia! Aku dulu orang yang sangat berapi-api, 24 jam dan 7 hari tidak lah cukup untukku, selalu harus ada kegiatan yang aku lakukan. Aku suka bergerak dan mimpiku adalah aku tidak mau menikah muda. Menikah muda itu omong kosong karena pasti belum cukup puas dengan luasnya kehidupan untuk dijelajahi karena terlanjur mengikatkan diri dalam sebuah lifetime commitment. Akhirnya aku memutuskan bahwa hidup itu mending pacaran saja, dan tentunya pacaran lah dengan yang lebih muda karena apa, mereka tidak akan mengajak kamu buru-buru menikah.

Aku memulai pacaran seriusku di usia 25 tahun, dengan seorang kawan lama. Iya aku sudah mengenal namanya dan sosoknya sejak lama dan gosip yang beredar menyebutkan si calon pacar ini playboy akut. Tapi untuk seorang aku, bahkan sosok laki-laki berpacar seribu pun tidak akan membuatku gentar karena aku punya bekal: aku perempuan mandiri, aku perempuan yang bisa semuanya sendiri, dan kalian laki-laki tidak akan bisa mendominasi aku dengan cara apapun. Akhirnya dapatlah aku dengan si pacar ini, kami jadian, pacaran di 3 bulan awal serasa surga dunia, sampai pada momen yang seharusnya di titik itu aku bisa beranjak. Dia menunjukkan karakter aslinya. Berawal dari mengulik kisah masa laluku. Kebetulan aku tipe yang sangat terbuka dengan semua orang, bahkan kebodohan masa lalu akan kuceritakan untuk melihat bisakah seseorang menerimaku dengan tulus. Ternyata orang yang menjadi pacarku ini tidak bisa tulus menerimaku dan bodohnya aku percaya someday he will, karena aku terlalu berharga untuk dia lewatkan, sumpah ini bodoh yang tidak berbatas. Girls don’t, stop it, karena sekali dia merendahkanmu, dia tidak akan pernah berubah.

Semenjak itu ada semacam “kontrak” bahwa dia sayang aku tapi tidak dengan kebodohan masa laluku, dan dia tidak bisa berjanji kapan dia akan menerima aku apa adanya. Dari situ aku mengabdi full pada dia, mencintai tanpa syarat, dan semua perlakuan tidak baik aku terima dengan sukarela. Awal pacaran dengan dia berat badanku 46 kg, 6 bulan setelah itu tersisa 38 kg karena stres parah. Aku kurus dan semakin kehilangan orientasi hidup, bagiku tujuan hidupku adalah meyakinkan laki-laki ini bahwa aku berharga, bahwa aku layak dia cintai. Semua omongan orang tentang bahwa aku terlalu baik untuk orang itu aku singkirkan karena itu mengganggu misiku menjadi manusia sempurna untuk dia. Semua teori tentang kesetaraan gender dalam otakku yang kudapatkan semenjak jadi relawan PKBI, sejak mengikuti mata kuliah antropologi wanita, kuliah pengantar teori gender, dan sebagainya bubar jalan di otakku.

Berkali-kali ada kesempatan beranjak dari kebodohan ini, aku lewatkan begitu saja. Satu tujuanku adalah menikahi laki-laki ini, apalagi sudah pacaran selama 4 tahun, usiaku pada saat itu sudah 29 tahun. Aku berpikir, kalau aku putus, bisa dapat siapa lagi aku, takut tidak ada yang mau, takut terlalu lama sendiri, pokoknya harus nikah, perkara besok cerai tidak apa-apa. Dan betul saja, 12 Juni 2011 aku menikahinya, dan selesai, aku sudah tidak peduli lagi dengan orang ini. Tapi lagi-lagi keputusan langsung hamil mungkin adalah kebodohan yang tidak kusesali. Kehamilanku menahanku untuk tidak meminta berpisah ataupun memikirkan soal itu, padahal sejak trimester pertama dia sudah meragukan anak siapa itu (pala lu peyang yak), sampai berbagai kekerasan verbal dan psikis terus-menerus menjadi menu harianku. Kenapa aku tidak kaget? Ya karena selama 4 tahun pacaran, kekerasan verbal dan psikis, not to mention kekerasan ekonomi, selalu menjadi santapanku sehari-hari, gila ya, ini mah kebodohan akut.

Sampai pada akhirnya anakku lahir dan aku punya selubung kehidupanku sendiri. Kenapa selubung? Karena aku tidak membiarkan ayah dari anakku ini untuk ikut berpartisipasi membesarkan anakku. Entah aku yang lebih kuat menghalangi atau memang si mantan suami ini yang dengan sukarela tidak mau terlibat dalam pengasuhan, karena apa, karena dia laki-laki. Baginya anak adalah tanggung jawab perempuan, semua dari A sampai Z, anak bodoh karena ibunya, anak pintar karena bapaknya, anak kenyang karena bapaknya pintar cari duit, anak lapar karena ibunya tidak pintar masak. Itulah gambaran mantan suamiku yang sudah kubuang jauh sekarang, hehehe, sekonvensional itu memang. Aku tidak pernah berpikir untuk bercerai selama 3 tahun aku mengasuh full anakku, ASI selama 3 tahun, home made baby food, pokoknya selama 3 tahun itu duniaku adalah anakku, nyawaku. Sampai akhirnya ayah dari anakku ini cemburu karena aku terlalu sibuk menyayangi anakku, tidak lagi mengabdi padanya, dan terjadilah kekerasan-kekerasan fisik pada anakku. And thanks to my daughter, she gave me back my sanity.

Aku melawan, aku berperang, dan aku meminta perpisahan! Entah karena aku berani memberontak atau karena memang secara fisik suamiku sudah pada waktunya anfal, karena penyakit bawaan dia sejak kecil (dokter memang sudah mengatakan bahwa waktunya 20 tahun sebelum semua sistem tubuhnya akan selesai berjuang). Mantan suamiku divonis gagal ginjal kronis. Hal itu sempat membuat aku ingin mengurungkan niatku meninggalkan dia, tapi ternyata mulut kasarnya tidak mengalami perubahan. So dengan bulat hati aku meninggalkan dia dan resmi menceraikan dia.

Tapi tahukah kalian, semua orang yang tadinya menjadi teman-temanku, yang tahu bagaimana karakter suamiku semenjak pacaran dan selalu menasihatiku untuk meninggalkan dia, tiba-tiba berbalik memusuhiku dan mengambil sisi suamiku, karena seorang istri harusnya bisa menerima suami di saat dia sehat atau sakit, bukan meninggalkan dia di saat terburuknya. Ini yang aku katakan di awal bahwa aku kehilangan banyak hal dari perceraianku. Semua orang menyalahkan aku, mengatakan aku orang paling tidak punya hati. Tapi aku berkeras dan bahkan aku tidak peduli. Kalian tahu, bahkan kematian sudah menyapa ayah dari anakku ini berkali-kali, tapi tetap tidak menghilangkan sikap kasarnya yang selalu tidak menghargaiku.

So apa yang harus kuharapkan? Aku bukan malaikat yang meskipun sudah hampir 10 tahun disiksa secara verbal, psikis, dan ekonomi (fyi: aku sudah lama bekerja siang malam untuk mencukupi kebutuhan hidupku sendiri, karena suami merasa, kan dia sudah bekerja, kalau tidak cukup ya kamu cari sendiri), terus apakah aku harus bisa memaafkan dia semata-mata karena dia sakit? Tidak sayangku, aku tidak mau terlalu lama mendzolimi diri sendiri, aku berhak bahagia! Tadinya aku sudah pernah berikrar, aku tidak bahagia tidak apa-apa asal anakku punya keluarga lengkap, tapi tahukah kalian, happy mom happy children! Iya, anakku bilang padaku dia tidak mau melihat aku menangis lagi, dia bilang, “yang selalu bikin Ami menangis itu Abi, aku benci sama Abi.” Then again, she gave me back my strenght to carry on my life.

Akhirnya dari semua kisahku yang panjang lebar ini, intinya, girls, seorang pathriarkis sejati tidak akan pernah berubah saayyyy, percayalah! Cinta, perhatian, dan semua pengorbanan kita bagi laki-laki seperti mereka itu dianggapnya kewajiban kita yang harus kita lakukan tanpa diminta dan tidak usah diberi balasan. Dan buatku, ini harus dihentikan! Alasan terbesarku bercerai adalah karena aku ingin anakku jatuh cinta pada laki-laki yang tepat nantinya. Ayah biologisnya adalah contoh terburuk laki-laki yang tidak boleh ada dalam hidup anakku. Aku percaya masih ada laki-laki waras yang bisa dijadikan contoh baik seorang laki-laki dan bisa menjadi standar minimal sosok laki-laki yang harus dia temukan kelak.

So girls, temukanlah laki-laki yang menghargaimu. Mencari laki-laki dengan dalih dia adalah sosok yang cuek, cool, dan tegas (pemarah) hanya karena kalian ingin ditaklukkan adalah sebuah kesalahan. Percayalah hubungan yang setara, komunikasi dua arah, saling menghargai, dan benar-benar “bicara” adalah yang paling masuk akal di antara pilihan-pilihan hubungan laki-laki dan perempuan. Percayalah pada saat ada yang bilang don’t let anyone or anything define your happiness, itu betul banget! Kamu tidak usah membuktikan apapun ke siapapun, cukup ke dirimu sendiri, dan semua orang berhak untuk bahagia dalam arti yang sebenarnya.

Gambaran sempurna bahwa keluarga lengkap dengan ayah, ibu, dan anak adalah yang ideal itu belum tentu benar. Definisi ideal itu akan berbeda-beda bagi tiap-tiap orang, termasuk aku, yang ternyata menemukan kebahagiaan dan arti tertawa lepas yang sebenarnya semenjak 2 tahun terakhir ini ketika aku hanya hidup berdua dengan anakku, tanpa ancaman kemarahan dan “jaim” yang berlebihan. It’s okay to make stupid decisions sometimes, but you have to be brave enough to say enough is enough and make a move. Meskipun di saat semua sepertinya sudah tidak mungkin, akan selalu ada kemungkinan itu. Dan siapa yang dianggap antagonis dari sebuah drama rumah tangga memang akan jadi sangat-sangat subjektif.

Fitria Dyah Anggraeni

Fitria Dyah Anggraeni

Seorang Abdi Negara di Kota Yogyakarta, penyiar radio selama 15 tahun dan MC yang lumayan masih laku sejak 2005, pernah aktif di pendampingan PSK Jalanan dan juga Kesehatan Reproduksi Remaja bersama PKBI DIY dari tahun 2003 sampai 2010, lulusan paling antik dari jurusan Antropologi Budaya UGM dan hasil cuci gudang Kajian Budaya dan Media Sekolah Pasca Sarjana UGM. Tinggal di sekitaran Godean, Sleman (dan sepertinya masih akan berpindah lagi) bersama satu orang anak perempuan paling gemash di dunia (paling tidak duniaku ), dan juga ibuku tercinta, serta tidak lupa 3 kucing yang juga perempuan semua. Penyuka kopi yang agak cemen karena kapok asam lambung naik berkat double shoot espresso, paling hobby ngemil sambel dan pete menyusul jengkol, karena hidup ini lebih indah saat dia agak bau, hehehe.
Bagikan:

Fitria Dyah Anggraeni

Seorang Abdi Negara di Kota Yogyakarta, penyiar radio selama 15 tahun dan MC yang lumayan masih laku sejak 2005, pernah aktif di pendampingan PSK Jalanan dan juga Kesehatan Reproduksi Remaja bersama PKBI DIY dari tahun 2003 sampai 2010, lulusan paling antik dari jurusan Antropologi Budaya UGM dan hasil cuci gudang Kajian Budaya dan Media Sekolah Pasca Sarjana UGM. Tinggal di sekitaran Godean, Sleman (dan sepertinya masih akan berpindah lagi) bersama satu orang anak perempuan paling gemash di dunia (paling tidak duniaku ), dan juga ibuku tercinta, serta tidak lupa 3 kucing yang juga perempuan semua. Penyuka kopi yang agak cemen karena kapok asam lambung naik berkat double shoot espresso, paling hobby ngemil sambel dan pete menyusul jengkol, karena hidup ini lebih indah saat dia agak bau, hehehe.

4 tanggapan untuk “Anak Perempuanku adalah Inspirasi dan Sumber Kekuatanku untuk Merebut Kembali Kedaulatanku

  • Januari 10, 2019 pada 2:08 pm
    Permalink

    well said. Love you Nggi.. Peluk..

    Balas
    • Januari 11, 2019 pada 2:05 am
      Permalink

      Merci madame #bighug

      Balas
  • Januari 13, 2019 pada 12:37 pm
    Permalink

    Semoga Allah memberikan hidayah pada kita semua… Allah Maha Tau..

    Balas
  • Januari 16, 2019 pada 7:48 am
    Permalink

    Tetep semangat ya mbak,

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *