Animals Do Speak, But Only To Those Who Know How To Listen

It’s true, sooo true. Kata siapa orang tidak bisa berkomunikasi dengan binatang? Bisa tahu, tapi khusus hanya untuk orang-orang yang tahu bagaimana cara mendengarkannya. Tentunya, untuk bisa berkomunikasi tidak bisa terjadi begitu saja dengan sendirinya. Ada prasyaratnya, yang pertama adalah kita mau melakukannya dan yang kedua kita harus membangun hubungan personal yang baik dulu. Tidak usah deh dengan binatang, dengan manusia saja, untuk benar-benar bisa membangun komunikasi yang baik, kita juga harus membangun hubungan personal yang baik dulu kan, tidak bisa terjadi ujug-ujug dengan sendirinya.

Semakin dekat hubungan personal kita, semakin mudah kita berkomunikasi. Itu teorinya, baik dengan sesama manusia maupun dengan makhluk Tuhan yang lain termasuk binatang. Misalnya saja kami dengan kucing-kucing kami, hampir setiap hari kami berkomunikasi. Setiap kami telat bangun (melebihi jam biasanya), mereka akan sibuk membangunkan kami dengan berbagai macam cara, termasuk menjilati pipi dan menggigit hidung kami. Setelah itu mereka akan mengajak kami untuk menuju tempat di mana mereka biasa sarapan. Kalau kami habis pergi, begitu sampai rumah, mereka sudah hapal suara motor kami dan langsung datang menyambut. Karena kucing-kucing kami sudah kami beri nama sejak mereka kecil/lahir, mereka selalu merespon ketika kami memanggil nama mereka. Ketika dipanggil namanya, mereka akan langsung menengok atau menghampiri, bahkan ketika mereka tidak di rumah pun, sepanjang mainnya tidak terlalu jauh dari rumah dan masih bisa mendengar panggilan kami, mereka akan langsung pulang. Cara memanggil mereka untuk makan pun semudah membalikkan telapak tangan, tinggal pukul-pukulkan saja piring ke lantai, langsung mereka semua berkumpul.

Karena hubungan personal sudah dibangun lama, kami pun bisa mengetahui ekspresi perasaan mereka. Kalau mereka lagi senang, lagi sedih, lagi marah, lagi minta perhatian, semua terlihat dari ekspresi wajah dan nada mengeong mereka, kadang dengan gerak ekornya. Bahkan kadang sangat obvious, misalnya Si Krimy salah satu kucing kami, kalau sedang ingin dielus-elus, dia akan berlari ke bawah kaki kami dan mengeong memanggil dengan suara yang khusus. Lain halnya dengan Dripdrip kucing kami yang lain, kalau mengajak main dia akan menggosok-gosokkan wajahnya ke kaki kami dan kemudian mengguling. Milu, kucing kami yang lain lagi, kalau sedang sedih akan duduk di jendela menatap ke luar dalam waktu yang lama dengan ekspresi sedih. Bahkan mereka juga bisa protes, Lulu kucing kami yang lain, ketika ingin keluar rumah dan tidak kami izinkan keluar karena suatu alasan, dia akan protes dengan cara mengeong yang khas yang dilakukannya terus-menerus, dan ketika tetap tidak kami izinkan, protesnya ditingkatkan dengan sengaja pipis/eek tidak di tempat yang seharusnya, sesuatu yang hanya dia lakukan kalau dia sedang protes atau marah.

Tidak hanya dengan kucing saja aku rasa. Dulu aku pernah punya 3 ekor ikan mas koki, dan setelah beberapa saat mereka tinggal di rumahku, kalau aku mendekati akuarium tempat tinggal mereka, mereka akan segera naik ke atas dan mengeluarkan suara kecil yang khas, menyapa aku, bahkan ketika sudah aku beri makan, mereka tetap menyapa, tidak hanya untuk minta makan. Kalau hal-hal yang seperti kuceritakan di atas itu tidak disebut komunikasi, lantas apa dong yang dimaksud dengan komunikasi? Jadi yes, animals do speak, but only to those who know how to listen. Binatang itu berbicara tapi hanya kepada kita yang tahu cara mendengarkannya. Bahkan kalau dalam pandangan Jawa, keakraban dengan alam dan binatang itu merupakan pantulan kepekaan dan keutuhan rohani seorang manusia.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *