Apakah Dia Bahagia? Review Buku “9 Dari Nadira” Karya Leila S. Chudori

Kemala bunuh diri? Kenapa begitu tiba-tiba? Apa dia tidak bahagia?

Kemala, ibunda Nadira, ditemukan tergeletak di atas lantai licin, dengan bibir biru keunguan yang mengeluarkan busa putih.

Kemala, lahir dari keluarga berada yang terhormat, kuliah di Amsterdam, kemudian bertemu dengan mahasiswa peraih beasiswa bernama Bram, yang bekerja untuk mencari nafkah tambahan di sebuah bar, De Groene Bar. Mereka jatuh cinta, lalu menikah pada usia muda. Bram berasal dari keluarga muslim yang taat. Sedangkan Kemala? Dia shalat jika dia ingin, jika dia siap.

Menikah muda, mempunyai anak, dan tinggal bersama Bram dengan segala keterbatasan. Meninggalkan cita-cita yang sudah dibangun, meninggalkan kenyamanan dan kemapanan hidup, meninggalkan segala fasilitas yang sudah terbiasa digunakan. Apa Kemala mengeluh? Tidak. Dia tidak mengeluh. Dia mencoba menerima, beginilah keluarga suaminya. Dia mencoba menerima, beginilah hidup bersama Bram, dan sudah menjadi konsekuensi yang harus ditanggungnya. Ini adalah pilihannya. Termasuk pilihannya juga untuk menikah dan tidak melanjutkan kuliahnya.

Dia mencoba menjalankan peran sebagai seorang ibu dan istri yang baik. Menampung keluh kesah suaminya yang ambisius dan telah merasakan kekecewaan yang amat sangat, serta menjadi “tempat sampah” bagi anak-anaknya dengan sejuta masalah. Ia berusaha melayani suami dan anak-anaknya dengan baik dan sepenuh hati. Menjadi penopang jiwa yang lelah seluruh keluarga dan menelan sendiri semua masalahnya. Buku harianlah yang menjadi curahan isi hatinya.

Tapi tetap saja ada sesuatu yang hilang, yang tak pernah bisa dijangkau lagi olehnya. Kekosongan. Dia tidak memiliki ruang kosong. Seluruh ruangannya terisi dengan peran-peran yang harus dijalaninya.

Dan pada titik terendahnya, di mana Kemala sudah tak sanggup lagi menopang jiwa-jiwa itu, dia memutuskan untuk membebaskan jiwanya sendiri. Mungkin dia terlalu letih untuk terlihat sempurna. Terlalu letih untuk terus berpura-pura bisa menjadi penopang, sedangkan dia sendiri pun sebetulnya butuh penopang. Atau mungkin dia menganggap, memang sudah saatnya dia pergi. Tugasnya sudah berakhir.

Apakah dia bahagia?

Perempuan itu memiliki seribu wajah. Dia bisa memilih untuk menampilkan wajah tertentu di situasi tertentu. Siapa yang bisa menebak apa yang sesungguhnya dia rasakan? Tidak seorang pun. Hanya hatinya dan Tuhan.

Nurina Wardhani

Bagikan:

Nurina Wardhani

Sampai saat ini masih berkegiatan di Rifka Annisa. Aktif menulis untuk diri sendiri di blog dan bersyukur kalau dibaca orang lain. Suka membaca apapun mulai dari pengumuman, surat undangan, sampai jurnal. Hobi membeli (baca: menumpuk) buku meskipun dibacanya baru satu bulan kemudian. Antusias kalau diajak ngobrol seputar isu perempuan, pendidikan, kerelawanan, pengelolaan SDM di organisasi non-profit, dan social enterpreneur. Mimpi besarnya adalah punya toko buku dan perpustakaan. Tinggal di Bantul bersama suaminya yang nyebelin tapi ngangenin serta anaknya yang hobi bertanya tentang apapun. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *