Apakah Perempuan dan Laki-Laki Bisa Berteman Setelah Usia 25 Tahun?

Ya bisa lah! Menurut aku sih. Tapi aku tahu, ada banyak pendapat yang berbeda, yang mengatakan bahwa setelah umur 25 tahun, perempuan dan laki-laki tidak akan bisa berteman lagi dengan alasan pasti salah satunya akan jatuh cinta atau malah keduanya saling jatuh cinta, atau ada juga yang mengatakan karena akan menyakiti pasangannya masing-masing, atau menimbulkan fitnah, atau membuka pintu kemadaratan, atau cuman cari masalah saja dan tidak ada manfaatnya, pasanganmu harus menjadi your only one dalam segala hal, atau malah kalau kata Samantha di Sex and the City (dia tidak mau temenan sama cowok) karena women are for friend and men are for f*ck, hahaha ekstrim parah.

Kenapa aku berpikir bahwa laki-laki dan perempuan tetap bisa berteman setelah mereka menginjak usia dewasa? Ya manusia kan memang saling berelasi, saling terhubung, dan manusia itu ya laki-laki dan perempuan. Kalau setelah usia dewasa mereka tidak saling berteman lagi, bagaimana dong mereka bertukar pikiran atau membangun peradaban. Lagian jatuh cinta itu kan kasus khusus ya, tidak asal dekat dengan lawan jenis pasti kita akan jatuh cinta, emang perasaan itu ngga pilih-pilih. Masa kayak kucing banget, eh ngga ding, kucingku juga ngga gitu, Lulu dulu maunya sama Boxy ngga mau sama Dropi, tuh kucing aja pilih-pilih kan, hehehe. Masa iya setiap aku dekat dengan laki-laki aku pasti akan jatuh cinta dengan laki-laki itu, kan engga ya, kecuali kalau setiap laki-laki di dunia ini Roger Taylor versi usia 27 tahun, eh.

My point is, kita manusia itu driven by akal bukan by nafsu, jadi ya ngga asal dekat sama lawan jenis pasti langsung jatuh cinta. Dan kalaupun katakanlah jatuh cinta, lagi-lagi kembali ke akal dan budi tadi. Jatuh cinta ya jatuh cinta aja, tapi kalau kita sudah punya komitmen pada pasangan kita, ya tetap tidak akan terjadi apa-apa. Lha wong perasaan itu bisa dikontrol kok, dan nafsu itu letaknya di kepala bukan di ujung kelamin. Karena dia letaknya di kepala maka dia bisa dikontrol menggunakan apa yang disebut akal budi tadi, hehehe. Lagian hati manusia kan berubah-ubah, yang penting adalah ekspresinya, dan ekspresi ini berkaitan erat dengan yang namanya komitmen. Lagi-lagi kita kan bukan kucing ya, yang begitu suka sama orang, eh kucing lain, langsung asal tubruk saja. Dan sekali lagi, kucing saja tidak begitu lho. Kucingku kalau naksir sama kucing lain juga ngga asal tubruk saja tuh. Hidup mereka luas kok, tidak hanya mikirin begituan doang. Masih ada belalang yang harus dikejar, masih ada lemari yang harus dinaikin, masih ada catnip yang harus dinikmati, masih ada manusia yang harus dikruwelin, jadi pikirannya ngga hanya kawin doang. Mungkin memang tergantung manusia pemiliknya ya, hehehe.

Memang hal yang terpenting adalah komitmen dan tanggung jawab, dan itu bukan berarti pasanganmu harus menjadi satu-satunya centre of your life dalam segala hal. Soal kamu setia padanya dan dia adalah your significant other memang harus, tapi hal itu bukan berarti seluruh hidupmu 24/7 isinya hanya dia melulu, hahaha, nanti dua-duanya malah ngga berkembang lho. Kehidupan kan luas ya! Bersahabat dengan lawan jenis hanya salah satu opsi kecil saja sih. Hal lainnya, kamu bisa berteman dengan siapapun, mencoba banyak hal baru, mengejar passion-mu, menikmati karya seni dan budaya, dan lain-lain. Intinya banyak hal yang bisa kamu lakukan selain hanya berfokus pada pasanganmu saja. Dan kalau pasanganmu memiliki visi yang sama, pasti dia akan selalu mendukung dan encouraging you, serta menyediakan dirinya sebagai tempat untuk kamu selalu pulang setelah semua aktivitasmu itu. Jadi ingat dulu kalimat yang aku tulis sendiri di undangan pernikahanku, kurang lebih begini: I want to look for all the greatest faiths in the universe, learn about all the deepest knowledge in the world, and see all the most beautiful places on the earth, but in the end, I just want to come home and have an ordinary but super happy life with you.

Yes, so in my opinion, men and women can still be friend in their adult life. Asalkan pertemanan itu memang sejak awal sudah diniatkan untuk kebaikan dan kebermanfaatan. Hanya saja kalau aku pribadi, setelah menikah (dan bahkan sewaktu pacaran dulu), aku mengenalkan semua teman laki-lakiku pada suamiku, jadi kalaupun nongkrong pun most of the time, bersama suamiku juga, kalau pas dia selo sih. Bukan apa-apa, tapi karena he’s the significant part of my life, and we share a lot of things in life, so I share my friends with him too. Tidak hanya teman laki-laki saja sih yang aku share dengan suamiku, tapi juga teman-teman perempuan. Because even after married, we do still need social life, right? Kita kan tidak hidup hanya berdua saja di dunia yang luas ini.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *