Bagaimana Dongeng-Dongeng Masa Kecil Kita Menguatkan Pembentukan Gender Tradisional Perempuan dan Laki-Laki

Siapa dulu yang waktu kecil impiannya adalah bertemu “pangeran” tampan, kaya, penyayang, baik hati, romantis, dan humoris, yang menyelamatkan kita dari lubang penderitaan dan membawa kita ke “istana”-nya, and then we will live happily ever after. Aku salah satunya, setidaknya waktu SD dan SMP! Benar-benar percaya bahwa gol alias tujuan akhir dari kehidupan ini adalah pernikahan. Soalnya semua dongeng, film, buku cerita, komik, semuanya mengatakan demikian, tamat ketika sudah terjadi pernikahan, dengan diakhiri kalimat, “and they will live happily ever after”.

Masalahnya jarang banget gitu ya, dongeng, film, buku cerita, dan komik zaman kita kecil dulu yang menceritakan, what happens after we live happily ever after, what happens since day 1 after the wedding, kan ga ada tuh, atau jarang lah. Dulu sih, zaman kita kecil! Kalau sekarang mah sudah banyak, sebut saja salah satu film favoritku Revolutinary Road, Blue Valentine, atau yang kemarin aku tonton, Instant Family. Tapi kan dulu waktu kecil tidak ada ya film-film semacam itu, atau sebenarnya ada, tapi kita tidak dapat akses ke sana.

Akses yang kita dapat ya ke dongeng/buku/film di mana perempuan should get rescued. Sebut saja dongeng-dongeng populer semacam Cinderella, Putri Tidur, Putri Salju, dan hampir semua dongeng serta kisah-kisah di buku atau film lainnya, yang ceritanya selalu tentang perempuan yang harus selalu dilindungi, dibantu, diselamatkan, diubah hidupnya.

Sebaliknya, dalam dongeng/cerita yang sama, laki-laki harus selalu melindungi, membantu, menyelamatkan, mengubah kehidupan. Ya jelas saja, banyak perempuan yang hidupnya menunggu untuk diselamatkan laki-laki, dan banyak laki-laki yang bersaing untuk menjadi superhero yang menyelamatkan perempuan (kalau perlu banyak perempuan), lha wong dongeng, bacaan, dan tontonannya sama, klop dah sudah, huh.

Sekarang baru aku berpikir bahayanya dongeng/bacaan/tontonan semacam itu yang semakin melanggengkan pembentukan pandangan gender tradisional ini. Bayangkan apa yang akan terjadi ketika dongeng/bacaan/tontonan semacam ini yang selalu dikonsumsi oleh anak-anak. Anak-anak perempuan akan tumbuh dengan kepercayaan diri yang lebih rendah dan merasa tidak akan bisa melakukan sesuatu sendiri tanpa dibantu oleh orang lain, plus menunggu untuk diselamatkan tadi.

Sementara anak-anak laki-laki akan tumbuh dengan kepercayaan diri yang terlalu tinggi yang berpotensi untuk tergelincir menjadi mengontrol atau menguasai, plus persaingan untuk menjadi yang paling superhero tadi. Ditambah, mindset anak-anak gadis bahwa seluruh cerita hidupnya akan berakhir bahagia setelah scene pernikahan di mana narator mengatakan “…and they will live happily ever after”. Sementara di anak-anak jejaka ada tuntutan untuk menjadi sukses sesukses-suksesnya agar bisa menyelamatkan dan bring happily ever after kind of life untuk para gadis sehingga tidak ada sedikitpun ruang untuk kegagalan.

Padahal kenyataannya, para gadis tidak perlu menunggu untuk diselamatkan kok. Mereka bisa menyelamatkan diri mereka sendiri dengan menempuh pendidikan yang memadai, mendapatkan akses terhadap informasi dan pekerjaan yang diinginkan, mengejar passion dan menjadi apapun yang mereka inginkan dengan usaha mereka sendiri, serta mencintai diri mereka sendiri dengan seutuhnya. Nah setelah itu, kalau mau, mereka bisa mencari laki-laki baik yang sevisi dengan mereka, mengamini nilai-nilai yang sama, menghargai dan mencintai mereka sepenuh hati untuk berbagi kehidupan dan membangun peradaban.

Para jejaka juga tidak perlu repot-repot harus menyelamatkan kehidupan seseorang dan menaruh beban membahagiakan keluarga serta mengubah kehidupan hanya di pundaknya saja, mereka kan manusia biasa ya bukan superhuman. Para jejaka ini bisa mencari gadis yang sevisi dan mengamini nilai-nilai yang sama, untuk bahu-membahu berbagi beban dan tanggung jawab serta berjuang bersama membangun keluarga sekaligus membangun kehidupan/peradaban yang lebih baik. Jadi bersama-sama ya dan dibagi, bukan hanya di pundak laki-laki saja tanggung jawabnya, dan otomatis kekuasaannya pun juga harus dibagi (ini biasanya yang susah, hihihi).

Setelah menikah pun, apakah akan otomatis they will live happily ever after? Ya engga lah, kalau tidak diusahakan dan diperjuangkan bersama. Live happily ever after will never happen unless we work on that and we fight for that, everyday! Yang sudah diusahakan dan diperjuangkan saja belum tentu terjadi. Bisa jadi kan ada hambatan-hambatan yang berada di luar kontrol kita.

Dan kalaupun ada gadis atau jejaka yang belum menikah atau memang memutuskan untuk tidak akan menikah, apakah mereka tidak akan bisa live happily ever after? Ya tetap bisa lah! Tanpa pernikahan pun orang akan tetap bisa live happily ever after, tetap akan bisa bermanfaat, dan tetap bisa membangun peradaban. Begitu juga yang pernah menikah dan kemudian memutuskan untuk tidak menikah lagi. Semua orang berkesempatan untuk live happily ever after, menjadi bermanfaat, dan membangun peradaban dunia ini, apapun pilihan hidup yang mereka ambil.

Jangan percaya pada dongeng/bacaan/tontonan yang hanya memberi satu pilihan jalur saja untuk live happily ever after. Sudah cuman satu jalur, bias gender pula, hahaha, mampus. Jadi, ayo dong para penulis dongeng atau buku cerita anak dan para pembuat film anak untuk menyediakan dongeng/bacaan/tontonan yang tidak seperti itu lagi. Dongeng/bacaan/tontonan yang bisa meng-encourage baik anak perempuan maupun anak laki-laki untuk berdiri di kakinya sendiri, menyelamatkan dirinya sendiri, dan berjuang dengan usahanya sendiri untuk menjadi bermanfaat dan menyumbang hal baik untuk peradaban dunia, dan tentu saja saling berbagi cinta yang penuh penghargaan dan kerja sama. Amiiinn.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *