Be Kind with Your Acts and Your Words

Jauh sebelum netizen ramai dengan istilah mom-shaming, saya udah mengalami shaming-shaming lainnya, alias kenyang di-bully. Soal fisik dikatakan item, kurus, peyot, penyakitan. Soal suku dikatakan Ras Sunda genit, walaupun katanya tidak “begitu” berlaku buat saya karena saya campuran Sunda-Sumatera. Soal harta dikatakan kismin. Soal keluarga dikatakan keluarga aneh. Belum lagi dikatakan bloon, tidak tahu diri, bemper, keset, dan lain-lain.

Saya balas? Tidak! Kenapa? Karena saya tidak tegaan. Karena malas menanggapi. Kecuali sama Kaum Adam, saya lumayan tega. Tapi pernah iseng balas sekali:

“Ih, ternyata lo pendek ya? Lebih pendek dari gue, hahaha…”

“Iya. Tapi cantikan gue kan? Hahaha…”

Eh si dia langsung mingkem, sepi. Dan suasana pun jadi awkward. Krik krik krik.

Kalau diingat-ingat, mereka-mereka yang body shaming alias bully fisik saya, ternyata ya fisiknya juga biasa saja. Bukan jelek, tapi, bagaimana ya, begitulah pokoknya.

Mungkin mereka butuh merasa lebih dengan cara menunjukkan kekurangan orang lain. Mungkin saja mulutnya iseng. Mungkin!

Tapi saya bisa galak kalau yang di-bully sahabat atau pasangan. Langsung pasang badan. Salah satu contohnya:

Suami saya tipe konyol tapi suabarrrr, tidak banyak mengeluh apalagi komplain. Sedih dan marahnya sebatas diam. Suami saya selalu mengizinkan bahkan mendukung saya untuk men-support sesama perempuan, sesama ibu. Selama anak-anak terurus. Dan saya tidak terlalu “carried away”.

“A’, si itu kasian pengen jalan ga ada temen. Lagi ada problem. Boleh ga nemenin?” “Boleh. Ajak makan atuh dek, di mana gitu. Kafe itu enak buat ngobrol.”

Dan setiap kali suami tugas keluar kota atau pulau, selalu bawa oleh-oleh makanan berlebih. Bukan cuma buat orang rumah, tapi buat saya ngopi-ngopi cantik alias ngemil bareng-bareng ibu-ibu tetangga. Suami juga yang menyarankan saya menyisihkan sekian rupiah dari gaji, jaga-jaga kalau ada tetangga yang butuh pinjaman urgent. Terutama saat ada yang sakit.

Dan saat salah seorang yang seringkali diberi kemudahan oleh suami, seseorang yang sering saya beri waktu dan perhatian saat dia butuh tempat curhat, menghakimi suami saya sebagai kurang tegas dan terlalu memanjakan istri, saya langsung meradang dan memutuskan segala jenis kontak dengannya. Kenapa dia sampai menghakimi suami saya begitu? Karena suaminya tipe yang lisannya sering menyakiti hati istri, termasuk melakukan body shaming kepada istrinya.

Jadi bisa ditarik kesimpulan, seseorang yang senang mem-bully, body shaming, mencela, itu biasanya karena mereka butuh merasa lebih. Bisa juga karena memang iri, atau dia tidak merasa bahagia (bersyukur) dengan kehidupannya dan dengan apa yang dia miliki. Jadi saya paham kalau misalnya ada yang baper, sakit hati, atau marah saat diperlakukan tidak baik. I’ve been there. But believe me, it’s more about them, not us!

Seiring waktu, seiring bertambah eh berkurangnya umur, segala ejekan itu akan makin terasa “membosankan”. Bisa kita tanggapi dengan “heuay” alias menguap. Bomat!

Akan ada saatnya, ketika komentar-komentar miring, bully-an, ejekan itu datang—yang sepertinya tidak akan berhenti selama manusia punya mulut untuk berbicara dan jemari untuk menulis.

Namun kita bisa menghadapinya dengan senyuman. Mengangkat gelas sambil bilang:  Cheers to you! Lalu menyiram isi gelas di atas kepala si pem-bully. Eh ralat ding. Lalu pergi melenggang kangkung, tersenyum dan memeluk hangat orang-orang tersayang, yang menerima dan menyayangi diri kita, yang membuat kita ingin menjadi dan memberi yang terbaik dengan penuh syukur dan rasa bahagia.

To be honest, walau cara saya bertutur mungkin sangat ringan, namun sebelum membuat “curhatan” ini, hati saya gerimis. Di sebuah postingan, saya membaca kisah seorang perempuan yang kehilangan saudara perempuannya akibat baby blues. Baby blues yang dipicu mom shaming. Kakaknya hilang selama tiga hari sebelum akhirnya mayatnya yang terbawa arus sungai diketemukan warga.

Hanya, cuma, sekadar omongan. Tapi hanya, cuma, sekadar inilah yang bisa menghidupkan atau merenggut harapan bahkan nyawa seseorang.

So be kind. With your acts and mostly your words.

Siti Nuraida

Siti Nuraida

Perempuan yang lahir di Bandung pada tanggal 30 Januari 1982. Penyuka hal recehan dan biasa. Karena hidup itu sendiri sudah spektakular.

Latest posts by Siti Nuraida (see all)

Bagikan:

Siti Nuraida

Perempuan yang lahir di Bandung pada tanggal 30 Januari 1982. Penyuka hal recehan dan biasa. Karena hidup itu sendiri sudah spektakular.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *