Be Mindful and You Will See the Beauty of the World More!

Hey Lovies, pernah nggak terpikir di benak kalian, we’ve been busy for life, melakukan banyak hal, menyelesaikan deadline, mengejar target, pekerjaan, bersosialisasi, melakukan banyak hal, mencapai banyak hal, memperoleh banyak hal, dan hampir setiap hari kita selalu melakukan sesuatu dan menyelesaikan sesuatu seperti tidak ada jeda. Setiap kali bangun pagi, otak kita sudah dipenuhi banyak hal yang harus diselesaikan hari ini, dari pagi hingga petang, dan tiba-tiba saja hari habis begitu saja, berganti minggu, bulan, tahun. Saya dulu tidak terlalu menyadari, tiba-tiba saja waktu berjalan begitu saja dengan sangat cepat, melakukan banyak hal dan hidup terasa lebih terfokus pada mengejar deadline, target, dan to-do list yang tiada henti, sampai-sampai sering pikiran dan badan saya burn out, kecapekan to the max yang sering tidak bisa sembuh dengan tidur dan bermalas-malasan.

Sering juga saya merasa seperti melakukan sesuatu karena “target”, dan tidak benar-benar menikmatinya (karena dalam pikiran saya kenikmatan itu adalah ketika berhasil menyelesaikan pekerjaan dengan baik dan tepat waktu) – saya seperti merasa tidak be present dengan apa yang saya lakukan, karena menganggapnya sebagai “hanya pekerjaan yang harus diselesaikan”. Ini juga yang seringkali membuat saya merasa kecapekan, baik pikiran, perasaan, maupun tenaga. Kalau sudah begini, satu-satunya jalan supaya bisa recovery adalah dengan melarikan diri sejenak dari kehidupan fana pekerjaan, mengasingkan diri, beristirahat badan, pikiran maupun perasaan for a while

Dulu, sebelum saya sadar bahwa mental health itu tidak kalah pentingnya dengan physical health, saya berpikir bahwa segala sesuatu yang menyangkut pikiran dan perasaan itu bisa “dijaga” dengan hal-hal yang bersifat praktis: bersenang-senang menghamburkan uang, belanja, nonton, ataupun dengan meningkatkan kadar spiritualitas yang instan seperti rajin ibadah dan berdoa. Seakan-akan kalau sudah belanja dan membeli barang-barang baru stres saya akan hilang, mental burn out saya akan membaik, dan saya akan kembali “normal”. Tapi, sekitar 4 tahun lalu, saya mulai berkenalan dengan konsep mindfulness yang saya dapat secara tidak sengaja dari kursus online yang saya ikuti. Dari situ saya kemudian sadar, bahwa seperti halnya fisik, otakpun perlu “dilatih” supaya mendapatkan “nutrisi” yang mencukupi dan bisa mencegah stres ataupun burn out sebelum itu terjadi.

Dari apa yang kemudian saya pelajari, konsep mindfulness ini sebenarnya adalah melakukan sesuatu dengan penuh kesadaran, be present pada apa yang sedang kita lakukan, dan tidak sekadar “melakukan sesuatu supaya segera selesai”, tapi juga memberi perhatian pada hal-hal yang sedang kita kerjakan, dan secara sadar mencoba mengenali, merasakan, dan menikmati perasaan itu, sekaligus juga sensasi yang ditimbulkan karenanya. Intinya sih sebenarnya adalah menumbuhkan kesadaran atas perasaan, pikiran, sensasi, dan lingkungan sekitar kita atas apa yang sedang kita lakukan. Semacam memberikan jiwa atas apa yang sedang kita lakukan, apapun itu, serta selalu “ada”, be present of the moment dan menikmati setiap sensasinya dengan seluruh indra yang kita miliki.  

Awalnya, saya merasa konsep ini aneh, karena seperti  misalnya, di pelajaran-pelajaran awal yang saya peroleh, kita diminta untuk melakukan hal-hal super sepele yang selama ini tidak pernah terpikirkan. Misalnya saja, saat mencuci tangan, atau mencuci piring, kita “merasakan” bagaimana air tersebut mengalir dan membasahi tangan kita, mengisi setiap pori-pori kulit, dan memberikan perasaan dingin dan segar di kulit (indra peraba), juga bunyi gemericik air yang akan berbeda-beda intensitasnya setiap kali kita menyentuhnya (indra pendengar). Atau ketika mandi, bagaimana air tersebut mengguyur tubuh, merasakan setiap butirnya membasahi pori-pori, dan merasakan setiap tetesnya bergerak menuruni tubuh kita (ini merupakan konsep baru buat saya, karena sebelum ini, saya tidak pernah “merasakan” mandi, intention saya setiap mandi adalah membersihkan diri dan menyelesaikan seefisien mungkin).

Latihan selanjutnya adalah “merasakan” apa yang kita makan, yang dulunya saya anggap aneh juga. Selama ini kan kita memang merasakan apa yang kita makan ya, entah itu enak, tidak enak, manis, asem, pedas, dan lain-lain. Tapi, dalam latihan mindfulness ini, kita “merasakan” lebih setiap makanan yang kita makan. Seperti mengenali rasa asin yang bercampur dengan asam, atau tekstur makanan yang kita kunyah, kekenyalannya, dan lain sebagainya, termasuk bagaimana ketika gigi-gigi kita saling bersatu dan lidah kita bergerak mencerna makanan. Sound simple kan ya, tapi siapa nyana, setelah berkali-kali mempraktikkan, ternyata memberikan sensasi makan yang “berbeda” dengan yang biasanya. Juga hal-hal kecil lain yang selama hidup kita tidak pernah memberi perhatian lebih dan menganggapnya sebagai daily activities, seperti memotong sayuran saat memasak, mengetik, mencuci baju, dan lain sebagainya.

Nah, latihan-latihan ini, secara lebih advanced, sangat membantu saya dalam mengelola stres dan manajemen emosi. Kalau dulu, misalnya, saat merasa sedih, saya akan bersedih dan larut dalam duka dan tidak ada lagi rasa lain yang bisa saya rasakan. Sekarang, saya sedikit mulai bisa “menikmati” kesedihan itu (don’t get me wrong, saya tidak suka bersedih), tapi saya serasa lebih bisa menerima kesedihan itu. Saya menerima itu sebagai perasaan sedih, saya sadar bahwa ini adalah sebuah perasaan, dan karena ini sebuah perasaan yang bisa saya terima, saya juga bisa mengubahnya menjadi semacam – oke, ini rasa sedih, saya bisa mengelolanya dengan baik dan benar, dan akan saya nikmati setiap proses ini sampai menemukan self-healing untuk rasa sedih ini.

Efeknya, saya jadi lebih bisa mengendalikan emosi, dan tidak menyalurkannya secara sembarangan sehingga seluruh dunia akan melihat kalau saya sedang bersedih. Dan guess what, dengan cara seperti ini saya jadi lebih bisa mengontrol diri sendiri. Hal ini berlaku juga dengan emosi lain, seperti marah, stres, capek, malas, kecewa, dan lain sebagainya – terima saja ini sebagai sebuah emosi dan nanti juga akan baik-baik saja pada waktunya.

Konsep lain yang saya dapatkan dari latihan mindfulness ini adalah be present, ada dengan  intention untuk setiap apa yang sedang kita lakukan atau kita hadapi. Contoh yang paling mudah, ketika sedang liburan ke pantai, saya benar-benar memusatkan perhatian dan fokus saya untuk liburan, menikmati pemandangan, berinteraksi dengan orang-orang di sekitar saya, dan menjauhkan diri dari my big distraction ever after: handphone. Yeups, tanpa sadar, seringkali saya merasa kehilangan momen dan not present karena terlalu sering memegang HP, sibuk foto-foto dan cari pose cantik, atau upload status dan membalas komen, sehingga tanpa sadar kehilangan momen yang ada di depan mata.

Dan ternyata, dengan memberi “rasa lebih” pada setiap apa yang saya lakukan, sedikit demi sedikit saya bisa mengatasi sindrom burnout pekerjaan yang dulu sering menimpa saya. Bukan berarti bahwa pekerjaan saya berkurang sih, kerjaan saya masih bejibun banyaknya, tapi sekarang saya lebih bisa enjoy the moment, lebih menikmati proses daripada sekadar mengejar hasil, lebih bisa mengontrol emotional and energy flow, dan yang lebih penting saya jadi lebih mengenali diri sendiri, tahu kapan saat merasa lelah dan harus beristirahat, serta kapan bisa on fire tanpa harus merasa exhausted.

Lalu, apakah dengan begitu saya terhindar dari rasa stres dan mental exhausted? Tentu saja tidak! Pekerjaan saya masih banyak, saya juga masih sering merasa kekurangan waktu dan kesulitan membagi fokus, dan yang namanya mood dan perasaan kan naik turun ya, jadinya tetap saja ada saat-saat di mana saya kesulitan mengendalikan emosi dan menerapkan manajemen stres dengan baik dan benar. Tapi, paling tidak, dengan latihan mindfulness yang tersebut, saya lebih bisa menerima jika perasaan-perasaan itu datang, dan mengenalinya secara sadar sebagai emosi manusiawi yang menyehatkan (karena intinya sebenarnya bukan “menahan” atau “mengendalikan” emosi, tapi mengenalinya saat rasa itu datang, sehingga kita akan lebih mudah untuk take control).

Dan, ketika perasaan itu mulai datang, maka saya akan secara mindful merasakan, menikmati, dan memperhatikan hal-hal kecil yang selama ini sering terlewatkan karena terlalu sepele – misalnya saja mengambil waktu beberapa detik lebih lama untuk menghirup aroma kopi atau teh sebelum meminumnya, menikmati gerakan-gerakan tangan saat mengetik di keyboard, mencoba mengenali dan menghirup bebauan yang ada di sekitar kita, dan lain sebagainya – dengan harapan bisa sedikit dan sejenak menenangkan pikiran saat hati sedang gundah gulana.   

Nah, bagaimana dengan kalian, Lovies? Pastinya kita memiliki manajemen stres yang berbeda-beda ya, sesuai dengan style masing-masing. Silakan share tips dari kalian di kolom komentar ya.

Sukmo Pinuji

Bagikan:

Sukmo Pinuji

I believe that I was born to be a traveller and a lifetime learner – dan sampai saat ini ibu satu anak ini masih percaya pada hal tersebut! Doyan jalan dan selalu merasa excited ketika menemukan hal baru, mengamati, mempelajari, dan menuliskannya (dalam artikel maupun dalam hati), saat ini dia merasa sangat beruntung karena pekerjaannya sebagai seorang researcher memberinya keleluasaan untuk menyalurkan hobi abadinya tersebut. Sangat menjunjung tinggi kesetaraan gender, dia juga adalah seseorang yang percaya bahwa setiap perempuan – dari manapun dia berasal dan seperti apapun latar belakangnya, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi apapun yang dia mau, selama dia memiliki keberanian, kepercayaan diri, tekad kuat, dan konsistensi untuk mewujudkan mimpi-mimpinya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *