Betulkah Setelah Usia Dewasa Teman Kita Akan Menjadi Semakin Sedikit?

Ada yang bilang manfaatkanlah masa mudamu sebaik-baiknya untuk mendapatkan sahabat sejati sebanyak-banyaknya, karena setelah kita dewasa, kita akan susah untuk mendapatkan teman baru. Jangankan mendapatkan teman baru, teman-teman yang lama pun satu per satu akan “mreteli” karena mengalami apa yang disebut dengan “seleksi alam”. Sehingga dengan bertambahnya umur, jumlah teman kita akan menjadi semakin sedikit dan semakin sedikit saja. Betulkah demikian?

Bisa benar bisa tidak sih menurutku. Tapi kalau seleksi alam itu terjadi, aku rasa memang iya. Seleksi alam akan secara alami “menyingkirkan” teman-teman kita yang kurang se-frekuensi dengan kita dan menyisakan sedikit yang benar-benar se-frekuensi dengan kita. Hey look at the bright side here, we are left with only few friends but those are the most qualified ones. Jadi mungkin secara kuantitas jumlah teman-teman kita akan berkurang banyak dibanding zaman waktu kita masih muda dulu, tetapi secara kualitas, ooh meningkat banget dong. Kita akan berada bersama sedikit teman-teman yang lolos seleksi alam, yaitu mereka yang paling berkualitas dan teruji.

Se-frekuensi yang aku maksud di sini adalah semakin kita bertambah umur, di mana tanggung jawab serta beban yang harus kita pikirkan dan kita lakukan sudah semakin bertambah banyak, rasanya kita sudah malas ya menghabiskan waktu bersama orang kalau tidak ada faedahnya. Kalau sesekali sih tidak apa-apa, tapi kalau sering-sering, rasanya kita lebih memilih untuk tidur di rumah saja, atau baca buku, atau nonton film. Tidak ada faedah yang dimaksud adalah tidak memberikan kita semangat baru, energi baru, insight baru, kesenangan, perasaan nyaman, dukungan, bisa berbagi perasaan. Plus kitanya juga tidak merasa berarti karena tidak bisa memberi dia semangat baru, energi baru, insight baru, kesenangan, perasaan nyaman, dukungan, dan bisa berbagi perasaan. Buat apa dong menghabiskan waktu bersama kalau tidak ada hal-hal yang aku sebutkan di atas? Wasting time doang dong, capek tahu, hehehe. Lho kok situ pilih-pilih teman sih? Lha emang situ engga? Emang siapa di dunia ini yang tidak memilih siapa saja orang-orang yang akan dia beri tempat istimewa dalam hidupnya?

Apalagi kalau sudah tidak satu nilai? Duh berat coy, biar Dilan saja. Satu nilai bukan berarti tidak bisa berbeda pendapat ya, itu hal yang berbeda. Beda pendapat sih fine-fine saja, dan malah bagus. Tapi kalau nilai-nilai dan cara memandang hidupnya berbeda, kadang kita males juga engga sih. Misalnya kita meyakini nilai keseteraan gender bahwa laki-laki dan perempuan itu setara, tetapi teman kita masih memiliki pandangan gender tradisional dan menganggap bahwa perempuan itu di bawah laki-laki dan harus melayaninya. Kan melelahkan ya dan menghabiskan energi. Walaupun ini debatable sih bagi aku. Kalau teman yang berbeda nilai dan pandangan hidup kita tinggalkan, apa kabar dong dakwah (eaaaa), dan bagaimana dong nasib pluralisme. Kan kalau kita mengaku menjunjung tinggi keberagaman, kita harus tetap mau berteman dengan orang-orang yang tidak sesuai dengan nilai kita itu, termasuk orang-orang yang tidak menjunjung keberagaman itu sendiri, kan mereka adalah bagian dari keberagaman itu, nah lho, hahaha.

Contohnya begini, aku kan sebel banget ya sama orang-orang yang suka menyebarkan kebencian di media sosial karena masalah SARA atau perbedaan pilihan presiden, eh. Di mataku langsung ah mereka tidak mendukung keberagaman. Dan beberapa kali pula aku terpikir untuk langsung unfriend saja. Tapi kalau aku lagi waras, aku mikir, lho kalau aku unfriend, berarti aku juga tidak mendukung keberagaman dong, kan mereka adalah bagian dari keberagaman itu sendiri, bagian dari Bhinneka Tunggal Ika itu sendiri. Yes, kelompok-kelompok garis keras itu, mereka bagian dari Bhinneka Tunggal Ika juga lho, hehehe. Tapi itu kalau aku lagi waras sih, hehehe. Dan lebih seringnya aku khilaf, media sosial aing kumaha aing, you ruin my mood all day, jadi ya unfriend, ups. Jangan dicontoh ya, hehehe.

Bagaimanapun pertemanan yang sudah dibangun sejak masa muda itu merupakan modal yang sangat kuat untuk kemudian kita bisa membangun persahabatan berkualitas seperti yang aku sebutkan di atas. Walaupun tetap banyak yang kemudian tidak lolos seleksi alam. Bagaimana dengan teman-teman baru? Bisakah kita menjalin pertemanan baru di usia dewasa?

Bisa, kalau menurutku. Tetapi karena sudah tidak ada sekolah atau kampus yang mempertemukan kita, ya paling kita akan bisa menjalin pertemanan baru di tempat kerja kita. Sama satu lagi, melalui irisan kegiatan-kegiatan yang kita ikuti. Misalnya kita tergabung dalam sebuah organisasi, atau kita ikut komunitas hobi apa gitu, atau kita ikut les bahasa atau les-les yang lain, atau kita ikut kegiatan seperti seminar, workshop, atau pelatihan. Nah di tempat-tempat semacam itulah kita biasanya akan bisa menjalin pertemanan baru, termasuk ketika kita sudah di usia dewasa. Oh ya satu lagi, karena dipertemukan oleh satu hal yang sama, misalnya tetangga kita, orangtua dari teman anak kita, atau teman dari teman kita, dan seterusnya. Tapi memang prosesnya tidak semudah zaman kita masih muda dulu sih, karena di usia dewasa biasanya orang sudah punya kepentingan dan circle sendiri-sendiri, dan akan lebih susah menemukan irisannya dibandingkan dengan dulu ketika masih muda. Yang jelas kalau berteman dengan orang baru secara random (termasuk di media sosial tanpa ada kopi darat) rasanya kita sudah malas ya, terlalu banyak pertaruhannya, and we are too old for that kind of bet, right?

Hehehe, maybe it’s just me sih yang ribet. Kalian mungkin asyik-asyik aja, atau malah lebih ribet, well share it in the comments below, lovies!

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *