BOY A: TIDAK ADA ANAK YANG JAHAT, KITALAH YANG MEMBUATNYA DEMIKIAN

Review kelima dari film-filmnya Andrew Garfield adalah Boy A (2007). Langsung balik jauh ya ke tahun 2007. Ini adalah film kedua Garfield, namun film pertama Garfield bermain sebagai pemeran utama. Karena di film pertamanya Lions for Lambs (2007) yang disutradarai oleh Robert Redford dan dibintangi oleh Robert Redford sendiri dan juga Meryl Streep dan Tom Cruise, Garfield bukanlah pemeran utama, walaupun sebagai pemeran pendukung, dia cukup banyak mendapatkan screen time di film itu.

Namun di Boy A ini, Garfield adalah pemeran utama banget dan filmnya memang fokus menceritakan kehidupan tokoh yang diperankannya. Baru pertama kali bermain sebagai pemeran utama, Garfield langsung dapat pujian bertubi-tubi, dan juga memenangkan penghargaan BAFTA Awards sebagai pemain terbaik. Waktu itu dia berusia 24 tahun, dan aku 25 tahun, wkwkwk yang kedua kagak ada yang nanya ya.

Boy A adalah film yang menurutku emotionally disturbing atau menggangguku secara emosional, bikin aku stres dan tertekan saja selama menontonnya. Aku tidak tahu sih apakah itu a good stress or a bad stress, I just feel stress aja, hehehe. Film ini benar-benar mencabik-cabik perasaanku dan merobek-robek hatiku, ealah. Seriously, begitu selesai menonton film ini aku sampai langsung nyari-nyari informasi di internet, this could not be based on true story, this could not be based on true story. Karena kalau sampai film ini berdasarkan kisah nyata, hatiku akan hancur banget deh, akan tertusuk banget. Semoga ini fiksi, semoga ini fiksi. Dan ternyata film ini based on novel dengan judul yang sama. Thanks God, syukurlah, aku lega, cuman novel doang. Eh tapi kemudian ada informasi lebih lanjut kalau novelnya terinspirasi dari kisah nyata. Oh no, no, no, no, no!

Boy A bercerita tentang seorang anak broken home (entah ini penggunaan istilahnya tepat ngga sih sekarang) berusia 9 atau 10 tahun yang bernama Eric. Ibu Eric sakit kanker dan depresi dengan penyakitnya itu, ayah Eric yang tak kalah depresinya dengan situasi tersebut menjadi selalu marah-marah dan mabuk-mabukan. Eric pun tidak pernah diperhatikan dan bahkan hanya selalu dimarahi saja. Di sekolahnya pun Eric selalu di-bully oleh segerombolan anak laki-laki senior yang selalu saja menyalahinya dan bahkan memukulinya.

Pada suatu hari Eric bertemu dengan Phillip, anak laki-laki seusianya yang ternyata juga sama-sama anak broken home. Karena senasib, mereka pun langsung ada bonding dan menjadi dekat. Bahkan Phillip juga membela Eric ketika Eric hendak dipukuli oleh para pembully. Melihat Phillip yang tubuhnya bahkan lebih kecil darinya melawan para pembully membuat Eric pun akhirnya juga berani melawan.

Eric dan Phillip pun akhirnya selalu menghabiskan waktu berdua, dari mulai bermain bersama, mengutil jajanan di toko bersama, memancing bersama, dan berpetualang di sekitar rumah bersama. Ke sini-sini Phillip bercerita bahwa ternyata Phillip adalah korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh kakak laki-lakinya, mengerikan sekali. Belum lagi kekerasan-kekerasan lain yang mesti dialami oleh Phillip dari keluarganya sendiri selama ini.

Pada suatu hari ketika sedang bermain di pinggir sungai di bawah jembatan yang sepi, Eric dan Phillip bertengkar dengan salah satu teman perempuan sebaya mereka. Si anak perempuan ini menghina Phillip dengan kasar dan akhirnya berakhir dengan Phillip yang memegang pisau melukai si anak perempuan ini dan menyeretnya ke bawah jembatan. Eric pun mengikuti mereka setelah mengambil pisau yang sempat dijatuhkan oleh Phillip. Tidak diperlihatkan bagaimana, pokoknya si anak perempuan itu akhirnya ditemukan meninggal dunia.

Kehebohan luar biasa segera terjadi di kota kecil itu, dan segera Eric dan Phillip pun menjalani proses peradilan anak, dan mendapat perhatian warga sekitar yang sangat marah dan menganggap mereka berdua sebagai anak setan yang keberadaannya hanya akan meresahkan dan membahayakan warga. Karena mereka masih anak-anak, maka pengadilan tidak menggunakan nama asli mereka, dan hanya menyebut Eric sebagai Boy A dan Phillip sebagai Boy B.

Memang mereka berdua telah melakukan kesalahan yang sangat besar hingga menghilangkan nyawa seseorang, tapi ya Tuhan, mereka hanyalah anak-anak, bocil usia 9 – 10 tahun yang tidak tahu apa-apa, yang adalah korban kekerasan biadab dari orang-orang sekitarnya (bahkan perkosaan oleh kakaknya sendiri dalam kasus Phillip). Mereka hanya anak yang tersesat dan tidak tahu apa-apa soal dunia ini karena tidak ada yang membimbingnya, memperhatikannya, apalagi mencintainya. Dan masyarakat sekitar, yang sebenarnya menurutku ikut bertanggung jawab mengapa kedua anak itu sampai menjadi sedemikian tersesat dan tersakiti, justru yang paling banyak menghakimi mereka secara sadis. Kedua orangtua Eric dan Phillip juga tidak melakukan apa-apa dan hanya diam saja ketika akhirnya kedua anak itu diseret untuk dijebloskan ke dalam penjara. Sungguh hatiku terluka sekali menyaksikan semua adegan itu.

Aku benar-benar tidak habis pikir, kenapa orang mesti melahirkan seorang anak ke dunia kalau tidak bisa bertanggung jawab membimbingnya dan memberikan kehidupan yang baik? Kenapa coba? Seriously! Punya anak kan merupakan tanggung jawab yang besar banget, tidak hanya sekadar membuat dan melahirkannya saja. Lihatlah Eric dan Phillip, mereka kan tidak pernah minta dilahirkan, dan mereka bisa sampai tersesat sedemikian rupa ya karena tidak ada orang dewasa yang menyelamatkan mereka, bahkan orang-orang dewasa inilah yang membuat mereka menjadi seperti itu, dengan siksaan dan kekerasan yang dilakukannya. Menyebalkan banget ya.

Semua yang aku ceritakan di atas itu diperlihatkan dalam film melalui adegan-adegan flashback yang berupa potongan fragmen-fragmen. Termasuk kemudian sebuah fragmen ketika di penjara Phillip akhirnya gantung diri, meskipun Eric meyakini bahwa Phillip sebenarnya dibunuh dan bukannya bunuh diri. Hal itu semakin menghancurkan hati Eric.

Nah film ini menceritakan 14 tahun kemudian, setelah Eric menjalani 14 tahun masa anak-anak dan remajanya di penjara. Ada seorang social worker baik hati yang bernama Terry yang ingin sekali merehabilitasi Eric untuk kembali hidup menjadi bagian dari masyarakat dan bahkan mendampinginya. Eric pun akhirnya mengubah namanya menjadi Jack, dan dengan dukungan serta bantuan dari Terry diajak untuk kembali hidup di masyarakat seperti layaknya kita semua.

Bisa dibayangkan kan ya, Eric (yes played by the precious young Andrew Garfield), yang sejak usia 10 tahun hingga usia 24 tahun menghabiskan waktunya di penjara anak, demikian polosnya, demikian fragile-nya, demikian tidak berdaya dan tidak tahu apa-apanya tentang kehidupan, tentang berelasi sosial, tentang kebaikan hati, tentang cinta, tentang persahabatan, tentang segala macam keindahan yang ditawarkan oleh dunia ini. Dia tidak tahu apa-apa, dia sungguh fragile, polos, bingung, dan tak berdaya. Bahkan ketika Terry menghadiahinya sepatu kets ketika keluar dari penjara, Eric/Jack bingung, terharu, senang, tidak tahu harus merespon apa, dan hanya mengatakan “I don’t know, I don’t know”, yang disambung Terry dengan mengatakan, “you don’t know what to say? You say thank you”. Aduh sedih banget deh.

Dengan bantuan Terry, Eric/Jack akhirnya bisa somehow managing him self back into society. Dia mendapatkan pekerjaan sebagai tukang antar barang di sebuah kantor, memiliki sahabat bernama Chris, dan bahkan he gets him self a girlfriend yang bernama Michelle. Semua hal itu adalah hal baru bagi Jack, jalan-jalan sama teman ke taman bermain, clubbing, joget-joget, nongkrong-nongkrong, termasuk kencan-kencannya dengan Michelle, di mana Jack yang super polos dan fragile itu langsung jatuh cinta sedalam-dalamnya pada Michelle di kencan pertama mereka (terasa banget ya, kerinduannya akan cinta dan penerimaan).

Ketika pertama kali berhubungan seksual pun, Jack benar-benar terlihat sangat rentan, tak berdaya, dan desperately merindukan cinta serta penerimaan. Aduh sedih banget pokoknya melihat adegan itu. Benar-benar adegan hubungan seksual yang emosional dan menyakitkan sekaligus membahagiakan dan melegakan, jadi benar-benar kagak terasa porno-pornonya deh sumpah, lebih ke deeply emotional. Jack juga sempat menyelamatkan seorang gadis kecil yang hampir meninggal karena kecelakaan, dan ketika gadis itu menuliskan surat ucapan terima kasih untuknya, bagi Jack terasa seolah seperti pembayaran hutangnya serta sedikit obat pelipur rasa bersalah yang terus dipikulnya selama 14 tahun terakhir hidupnya.

Aduh, akting young Andrew Garfield di sini bagus banget deh. Ekspresi fragile, polos, bingung, tersesat, terluka, tak berdaya, namun juga hopeful-nya dapat banget dari mimik muka, sorot mata, gestur tubuh, dan lain-lainnya. Benar-benar membuatku terbawa secara emosional banget. Film ini sangat recommended to watch ya. Awalnya film ini susah aku dapatkan, karena kucari di mana-mana tidak ada. Namun akhirnya aku dapatkan dari salah satu aplikasi pemutar film gratisan di internet tapi aku lupa namanya. Dan aku senang juga bisa dapat yang versi ada English subtitle-nya, jadi nontonnya bisa benar-benar menghayati tanpa takut ada lost in translation.

Garfield mengatakan, dia merasa sangat dibantu banget oleh rekan mainnya yang berperan sebagai Terry (Peter Mullan). Garfield yang baru ini bermain sebagai pemeran utama di film merasa sangat tegang, sangat serius, dan sibuk menghapalkan naskah melulu. Peter Mullan pun kemudian membantunya untuk merasa lebih relaks dan bagaimana agar Garfield bisa lebih menikmati semua prosesnya dan melakukannya dengan hati. Makanya sampai sekarang, ketika Garfield ditanya siapa lawan main yang paling mempengaruhinya, dia akan menjawab Peter Mullan di film Boy A. How sweet ya! Well, rating dari aku untuk Boy A ini 8.5 dan akting Andrew Garfield di film ini juga 8.5, asyiiiikkk!  

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | BOY A: TIDAK ADA ANAK YANG JAHAT, KITALAH YANG MEMBUATNYA DEMIKIAN
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *