BREATHE (2017): KETIKA KITA TETAP MEMILIH UNTUK HIDUP DI TENGAH SEGALA KEMUSTAHILAN

Berikut adalah film ketiga Andrew Russell Garfield yang akan aku tulis review-nya. Judulnya Breathe. Film keluaran tahun 2017 ini cukup susah aku dapatkan. Sudah aku ubek-ubek internet untuk mencari film ini di berbagai aplikasi pemutar film, tapi tidak ketemu juga. Semakin susah aku mendapatkannya, semakin lah aku penasaran ingin sekali menonton film di mana Garfield berakting bersama dengan Claire Foy yang kita (atau aku) paling ingat dari perannya sebagai Queen Elizabeth muda di The Crown Season 1 dan 2.

Tapi sudah aku ubek-ubek di mana-mana, tidak aku dapatkan juga akses terhadap film Breathe ini, baik berbayar maupun gratis. Sudah hampir putus asa saja aku, hingga tiba-tiba just like that, aku nemu aja gitu, website asing yang memutar film Breathe ini, gratis pula. Awalnya aku masih ngga percaya, masa sih, masa sih. Eh ternyata beneran, full movie Breathe. Awalnya sih agak berhenti-berhenti filmnya, tapi aku sabar saja, namanya juga film gratisan, yekan. Tapi itu cuman 10 menit pertama, selanjutnya film ini lancar saja dengan gambar yang bagus dan suara yang okay, serta English subtitle yang ciamik. How lucky me. Sayang karena terlalu excited dan langsung fokus menontonnya, aku sama sekali tidak ingat, apa ya nama website-nya, mohon dimaafkan.

Di film Breathe ini, Andrew Garfield berperan sebagai Robin Cavendish, sementara Claire Foy berperan sebagai Diana Cavendish, istri dari Robin. Film ini diangkat dari kisah nyata, dan bahkan di-produseri oleh Jonathan Cavendish, anak dari Robin dan Diana. Diana Cavendish sendiri masih hidup sampai sekarang, kalau Robin sudah meninggal. Jonathan dan Diana ini kabarnya juga selalu ada di lokasi syuting. Kebayang yak tekanan yang dirasakan oleh Garfield dan Foy, akting sambil dilihatin orang aslinya dan anaknya. Bagaimana nanti kalau Diana bilang, “itu bukan suamiku, itu bukan aku”, atau Jonathan bilang, “itu bukan ayahku, itu bukan ibuku”, hihihi. Jonathan Cavendish memang memproduksi film ini untuk didedikasikan kepada almarhum ayahnya, sebagai ucapan terima kasih karena sudah “memilih untuk hidup demi melihat dia bertumbuh”. Apa maksudnya?

Jadi, Robin dan Diana Cavendish ini hidup di Inggris pada tahun 1950an. Robin sehabis selesai menyelesaikan tugas kemiliterannya, bertemu dan langsung jatuh cinta dengan Diana. Robin adalah seorang pengusaha distributor teh di Kenya untuk dijual di Eropa. Nah setelah menikah, Robin mengajak Diana untuk tinggal di Kenya, bekerja sambil berpetualang menikmati keindahan benua Afrika. Sungguh kehidupan yang sangat indah dan sempurna, apalagi tidak lama setelah itu, Diana mengetahui kalau dirinya hamil, betapa berbahagianya pasangan itu.

Tetapi beberapa saat menjelang Diana melahirkan anak pertama mereka, Robin tiba-tiba terserang penyakit yang ekstrim, padahal sore harinya dia masih bermain tenis seperti biasa. Robin ini adalah seorang laki-laki muda yang penuh semangat, ekstrovert, aktif, dan mencintai hidup. Malam hari itu, Robin kesakitan seluruh tubuhnya dan dilarikan ke rumah sakit. Tiba-tiba saja, dia mengalami kelumpuhan dari leher ke bawah (jadi dia hanya bisa menggerakkan kepalanya saja). Bahkan dia tidak bisa lagi bernapas sendiri, dan juga awalnya tidak bisa berbicara kalau tidak ada oksigen masuk dalam tenggorokannya (walaupun kemudian akhirnya dia bisa berbicara lagi).

Jadi dia harus dipasangi selalu dipasangi mesin ventilator. Pada tahun segitu, ventilator tidak secanggih sekarang, jadi mesin ventilatornya masih berukuran besar dan bersuara berisik. Mesin ventilator itulah yang bernapas untuk Robin, kalau ventilator itu dilepas, tidak akan sampai 2 menit, Robin akan langsung meninggal. Saat itu Robin berusia 28 tahun, usia yang lagi sempurna-sempurnanya menikmati hidup, bukan?

Apa yang terjadi sebenarnya? Ternyata Robin terpapar virus polio ketika sedang di Kenya, sialnya virus Polio itu menempel/menyerang seluruh tulang belakangnya, itulah yang membuat dia langsung lumpuh dari leher ke bawah. Jadi virus polio itu menginfeksi orang selayaknya virus flu atau virus Covid sekarang ya, jadi dia masuk melalui hidung atau mulut kita lalu menyebar melalui aliran darah. Kalau dia menempel di kaki ya kakinya lumpuh, nah kasus Robin karena dia menempel di tulang belakang maka seluruh tubuhnya yang lumpuh. Dan pada saat itu ada banyak kasus yang sama seperti Robin, orang-orang yang lumpuh dari leher ke bawah dan harus menghabiskan sisa hidupnya berbaring di rumah sakit menempel pada ventilator.

Terus apa pada saat itu belum ada vaksin? Sudah ada sebenarnya vaksin polio di Eropa, tapi baru saja ditemukan. Ini tidak ada di film, tapi aku tahu dari cerita Andrew Garfield himself, hihihi. Katanya waktu itu baru saja ditemukan vaksin polio. Karena Robin dan Diana mau ke Kenya, sebenarnya mereka sudah dijadwalkan untuk vaksin. Tetapi pada saat itu, tiba-tiba Robin ada tugas mendadak dari bosnya yang tidak bisa ditolak, sehingga mereka terpaksa menunda jadwal vaksin itu dan berangkat ke Kenya tanpa vaksin terlebih dahulu.

Sebenarnya Diana juga terkena virus itu—ya suami istri mah kan ya kalau yang satu kena yang lainnya kemungkinan besar akan tertular juga—tapi mungkin kalau sekarang istilahnya si Diana ini OTG ya dan virusnya hilang/sembuh sendiri dari tubuhnya, sementara untuk Robin akibatnya fatal karena virusnya menempel di sepanjang tulang belakang. Well, mirip ya situasinya sama Covid sekarang, ada yang fatal ada yang OTG, random aja gitu.

Nah awalnya tentu saja Robin putus asa dengan situasinya tersebut, dia ingin mati saja, bahkan ketika anaknya, Jonathan lahir pun, Robin tidak mau melihat anaknya itu. Namun Diana tetap berada di sisinya. Hingga kemudian pasangan ini berhasil mengatasi semua tantangan dan kesulitan itu, dan dengan kenekatan-kenekatan mereka yang dibalut dengan cinta dan keberanian tiada tara, serta support system yang keren dari keluarga dan teman-teman terdekat. Robin akhirnya bisa getting his fullest life yang penuh petualangan dan kebahagiaan, yang bahkan bisa dibilang dia bisa lebih hidup dibanding orang-orang yang tanpa disabilitas sepertinya.

Seperti yang dikatakan oleh Robin Cavendish di film itu, bahwa dia tidak hanya memilih untuk hidup tapi dia benar-benar memilih untuk live his life to the absolute fullest. Apalagi bisa dibayangkan kan zaman segitu, peralatan untuk mendukung disabilitas belum secanggih sekarang. Jadi Robin dibantu dengan Diana dan teman-temannya menciptakan sendiri desain kursi rodanya, menciptakan ventilator portable dengan baterai, merekayasa mobil dan bahkan merekayasa pesawat agar bisa dinaiki oleh Robin dengan segala peralatan yang harus menempel di tubuhnya itu. Robin dan keluarganya pun jadi bisa bepergian dan berpetualang bahkan hingga ke negara-negara lain.

Apa yang dilakukan Robin cukup mencengangkan dunia kesehatan pada saat itu yang seperti aku bilang tadi belum cukup canggih teknologinya dalam mendukung kehidupan para disabilitas. Jadi orang-orang yang bernasib sama seperti Robin pada saat itu hanya ditaruh di tempat tidur di rumah sakit (atau di Jerman yang mengaku teknologinya canggih membuat semacam kotak-kotak tidur dilengkapi mesin-mesin) untuk orang-orang ini. Tapi intinya adalah mereka tetap “terikat” untuk selalu berada di tempat tidurnya the whole time.

Maka ketika Robin muncul untuk berbicara di salah satu konferensi kedokteran internasional, terkaget-kagetlah para dokter dan praktisi medis itu menyaksikan Robin and his fully life, yang bahkan bisa datang dan berbicara di konferensi itu. “Mengapa kalian mengurung orang-orang itu?” tanya Robin yang disambut oleh keheningan hadirin. Robin pun akhirnya mencari donor yang mau membiayai agar dia bisa memperbanyak mesin-mesin ciptaannya bersama temannya itu agar disabilitas-disabilitas lain sepertinya bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik selain hanya diam di kamar tidur for the rest of their life.

Andrew Garfield sangat salut dengan Robin Cavendish ini yang tetap bisa live his fullest life bahkan menginspirasi/menolong orang lain, despite of segala kekurangannya itu. Menurut Garfield, kita semua seharusnya seperti itu. Robin mungkin kekurangannya terlihat, tapi kalau Garfield sendiri (dia memberikan contoh dirinya) kekurangannya mungkin lebih hidden (tersembunyi) tapi despite any of that, dia tetap berusaha untuk live his absolute fullest life dan berusaha bermanfaat untuk orang lain, seperti halnya Robin Cavendish. Ouw, what a precious human being dear you Andrew, hihihi.

Ada satu cerita lucu soal film ini. Jadi kan ada adegan Jonathan kecil sedang bermain bersama anjingnya di kamarnya Robin. Tiba-tiba karena si anak 3 tahun dan anjingnya ini kejar-kejaran di sekitar tempat tidur, anjingnya menabrak kabel ventilator sehingga tercabut dari stop kontaknya. Langsung si Robin tersedak tidak bisa bernapas akibat terputusnya pasokan oksigen ke paru-parunya. Nah menurut Garfield, kejadian aslinya itu seharusnya yang menarik kabel listrik adalah si Jonathan batita, cuman si aktor kecil pemeran si bocah tidak mau melakukannya walaupun sudah diulang berkali-kali, bahkan dia takut sama Garfield (soalnya kan Garfield berbaring di tempat tidur dengan kabel-kabel menempel pada tubuhnya).

Jadilah karena di adegan itu malah anjingnya yang menarik kabel ventilator dan adegan itu terlihat bagus dan alami, jadi ya sudahlah itu yang dipakai, hahaha, bisa, bisa! Ditambah lagi, supaya si bocah kecil tidak takut lagi sama Garfield, Garfield sampai harus menyembunyikan HP yang memutar video Peppa Pig di bawah lehernya untuk dilihat si bocah supaya tidak takut ketika beradegan bersamanya, hihihi, lucu juga ya.

Chemistry antara Andrew Garfield dan Claire Foy di sini juga okay bingiiiitt deh, padahal mereka baru ini main bareng di film. Sampai pas mereka diwawancara tentang film itu (video wawancaranya ada di Youtube), orang-orang pada komentar, “eh mereka berdua saling jatuh cinta ya?” Padahal kan saat itu Claire Foy punya suami, dan Garfield punya pacar, aku maksudnya, wkwkwkwk, nyebelin yak. Saking memancarnya chemistry di antara keduanya.

Kabarnya juga Garfield stayed on character between taking, jadi kalau dia haus, Claire Foy harus menyuapi dia air minum, wkwkwk. Garfield juga mengatakan dalam sebuah wawancara bahwa dia tahu that he gave Claire Foy hard times (demi stayed on character) and that he thinks that she is an incredible actress! Foy sendiri juga bilang kalau Andrew adalah aktor yang luar biasa dan juga sangat tampan, dan membuat Garfield langsung merah mukanya dan menyuruh Foy untuk shush, thank you but shush, he said, hahaha, cute!

Menurutku film Breathe ini sangat bagus dan inspiratif, a very recommended to watch. Rating dari aku untuk filmnya 8.5 dan untuk akting Andrew Garfield di film ini 9.75, hehehe, karena dia aktingnya hanya pakai ekspresi wajah saja lho, kan dari leher ke bawah lumpuh. Jadi dia delivering semua perasaan dan ekspresi Robin Cavendish hanya dari ekspresi dan gestur wajah saja, coba bayangkan betapa susahnya. Dan on that case, dia memaksimalkan banget gerakan alisnya, which I found it super cute. Kabarnya Jonathan pun sudah mengkonfirmasi bahwa ya ekspresi dan gestur ayahnya memang exactly like that. What an incredible actor you, Andrew, hehehe.

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | BREATHE (2017): KETIKA KITA TETAP MEMILIH UNTUK HIDUP DI TENGAH SEGALA KEMUSTAHILAN
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *