Buku Kuasa Ramalan Jilid 1, 2, 3 karya Peter Carey: Kisah Hidup dan Perjuangan Pangeran Diponegoro yang Detail, Komplit, dan Sangat Manusiawi

Aku baru saja membaca buku yang sebenarnya sudah lama sekali aku belinya. Judulnya “Kuasa Ramalan: Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785 – 1855” yang terdiri dari jilid 1, 2, dan 3 dengan jumlah total halaman 1.146 halaman, tetapi sekitar 250 halaman terakhirnya hanya berisi Appendiks, Daftar Kata-Kata Jawa, Daftar Pustaka, dan Indeks. Bujubune lampirannya saja setebal 250 halaman sendiri yak, hehehe. Buku ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) dan cetakan pertamanya terbit November 2011. Aku masih ingat, dulu untuk beli buku ini harus inden dulu selama 3 bulan. Buku ini adalah buku babon tentang sejarah Jawa, khususnya sejarah tentang Pangeran Diponegoro dan Perang Jawa.

Buku ini sangat bagus sekali, sama sekali tidak membosankan, dan banyak hal yang bisa kita refleksikan dari kisah yang ada dalam buku ini dengan situasi kita hari ini. Karena dalam beberapa hal, nothing has really changed at all, dalam 200 tahun lebih terakhir ini. Membaca buku ini rasanya seperti menonton film sejarah yang keren, aku benar-benar bisa membayangkan dengan detail apa yang terjadi dalam setiap adegannya. Mungkin karena penulisnya, Peter Carey, benar-benar mengabdikan hidupnya untuk penelitian tentang Diponegoro yang hasilnya dituangkannya dalam buku ini, atau karena penerjemahnya juga sangat bagus dan mengalir (ya aku baca edisi Bahasa Indonesianya), atau mungkin karena aku saja yang imajinasinya terlalu tinggi, hehehe.

Hal yang sangat menarik dari buku ini yang pertama adalah covernya. Buku jilid 1 covernya mengambil lukisan berjudul “Penyerahan Diri Diponegoro kepada Letnan Jendral De Kock, 28 Maret 1830” karya pelukis Belanda Nicolaas Pieneman (1809 – 1860), sementara buku jilid 2 covernya menggunakan lukisan berjudul “Suatu Lukisan Bersejarah Penangkapan Pemimpin Jawa Diponegoro” karya pelukis Indonesia Raden Saleh Syarif Bustaman (1857). Dan oh my God, sumpah, dari kedua lukisan itu saja sudah sangat terlihat jelas keberpihakan pelukisnya. Cover kedua buku nanti akan aku tampilkan fotonya biar bisa dibandingkan. Lukisan bertama memperlihatkan gambar orang-orang Jawa yang tunduk dan menyerah, bahkan ada yang menyembah, sementara orang-orang Belandanya digambarkan penuh martabat dan pating petenteng serta penuh wibawa dan penghormatan dengan bendera Belanda yang berkibar-kibar gagah di belakangnya.

Sementara lukisan yang kedua menggambarkan Pangeran Diponegoro dan para pengikutnya yang penuh martabat dengan sorot mata yang menunjukkan harga diri tinggi sedang melakukan perlawanan terhadap para pejabat Belanda yang di lukisan itu digambarkan kepalanya besar-besar (tidak proporsional), suatu pesan tersembunyi penuh keberpihakan yang ingin disampaikan pelukisnya tentang orang-orang Belanda yang licik dan besar kepala. Padahal kedua lukisan ini menggambarkan satu peristiwa yang sama, yaitu penangkapan Pangeran Diponegoro oleh Gubernur Jendral De Kock di depan gedung Karesidenan Magelang pada hari Minggu pagi tanggal 28 Maret 1830. Judul kedua lukisan yang berbeda pun terang-benderang menunjukkan keberpihakan ya. Begitupun diksi yang aku pilih dalam menggambarkan itu semua dalam tulisan ini, menunjukkan keberpihakan juga kan. Hey, ini semua memang soal keberpihakan bung, hehehe. Jelas tidak ada sesuatu di dunia ini yang bebas nilai.

Buku ini sangat komplet, diawali dengan menceritakan era di mana Pangeran Diponegoro berhidup di dalamnya, khususnya hingga Perang Jawa dimulai. Yogyakarta pada awal abad 19 digambarkan sebagai sebuah wilayah yang makmur, kaya dan indah, negeri subur dan mujur, cantik dan asri, penuh gedung-gedung bagus, taman-taman tertata rapi dan pesanggrahan-pesanggrahan yang bagus. Di mana-mana makanan dan air melimpah. Pada saat itu, niaga, kerajinan, dan produksi berkembang. Orang Yogyakarta merasa amat bangga dengan tempat kelahiran mereka itu.

Pangeran Diponegoro yang dilahirkan di akhir abad 18 (1785) sendiri merupakan putra sulung dari Sultan Hamengkubuwono III dari seorang selir yang berasal dari Pacitan. Hanya sebentar tinggal di Kraton, Diponegoro kecil yang merakyat dan lebih tertarik pada kehidupan keagamaan memilih untuk tinggal di Tegalrejo bersama dengan nenek buyutnya, Nyai Ageng Tegalrejo yang adalah istri Sultan Hamengkubuwono I. Nyai Ageng ini pernah menjadi panglima pasukan kawal istimewa perempuan atau semacam korps putri kerajaan, pasukan militer yang pernah membuat Daendels terkagum-kagum ketika mengunjungi Kraton Yogyakarta. Nenek yang keren ini juga sangat mencintai ilmu pengetahuan serta terkenal suka membaca kitab-kitab agama serta tekun merawat adat tradisional Jawa. Komplet banget lah ya, dan semua sikap sang nenek buyut yang keren inilah yang kemudian diturunkan kepada cucu buyut yang dirawat dan dibesarkannya, Pangeran Diponegoro.

Tidak heran kalau Diponegoro tumbuh menjadi pemuda yang banyak mempelajari kitab-kitab fiqih, mahir membaca naskah berbahasa Jawa dan menulis aksara pegon, dekat dengan tradisi akademisi tarekat, serta sangat dekat dengan alam dan dunia binatang. Pangeran Diponegoro gemar menanam berbagai ragam tanaman bunga, buah-buahan, sayur-sayuran, dan semak belukar, serta selalu memiliki binatang peliharaan, seperti ikan, penyu, burung perkutut, burung kakatua, buaya, dan bahkan macan. Hidup di desa yang bersahaja di Tegalrejo juga membuat Diponegoro sejak kecil bergaul akrab dengan segala lapisan masyarakat dan menjalani hidupnya dengan santai tanpa merasa diri lebih tinggi. Hal inilah yang menambah karismanya sebagai seorang pemimpin rakyat.

Sang nenek buyut wafat pada tahun 1803 ketika Diponegoro berusia 18 tahun. Ia merasa sangat kehilangan sosok pembimbing utamanya itu. Diponegoro kemudian menggantikan nenek buyutnya mengelola kawasan pertanian di Tegalrejo. Seperti halnya neneknya itu, Diponegoro sangat memperhatikan susunan letak pepohonan dan tambak-tambak di Tegalrejo yang dari namanya berarti “lahan kemakmuran” karena merupakan kawasan pemukiman yang mengesankan dengan perumahan luas, taman, kebun pekarangan, kolam-kolam, serta sawah berhektar-hektar. Selain itu, Diponegoro juga membangun tempat untuk menyepi di Selorejo yang ia gunakan untuk bersemedi dan berdoa. Sebuah kehidupan masa kecil dan remaja yang damai, menyenangkan, dan biasa kita lihat di desa-desa di Jawa ya, kecuali soal bersemedi yang di zaman sekarang mungkin sudah banyak ditinggalkan.

Tidak lama sepeninggal nenek buyutnya, Diponegoro menikah dengan Raden Ayu Retno Madubrongto yang merupakan putri dari seorang guru agama terkemuka di Sleman. Pernikahan pertamanya tersebut merupakan pernikahan yang membahagiakan bagi keduanya, namun 3 tahun kemudian, Diponegoro mesti mengikuti kemauan ayahnya, Sultan Hamengkubuwono III, untuk melakukan “pernikahan politik” dengan Raden Ayu Retnokusumo, anak perempuan dari Bupati Panolan. Pernikahan digelar super mewah, besar-besaran, serta bergelimangan hadiah, namanya juga pernikahan politik. Namun tampaknya pernikahan kedua ini kurang membahagiakan karena Diponegoro tidak pernah menyebut nama istri keduanya ini di dalam otobiografinya. Mungkin karena pernikahannya bukan atas kemauan sendiri dan karena Diponegoro baru bertemu calonnya ini hanya 3 bulan sebelum hari pernikahannya. So don’t do this at home yes boys and girls; jangan melakukan pernikahan yang bukan karena mau kalian sendiri dan pacaranlah dulu yang lama sebelum menikah, hihihi.

Diponegoro digambarkan sebagai sosok yang agamis, pandangan matanya penuh energi, perawakannya kuat, serta karismatik dan memiliki pesona yang besar. Ia juga adalah seorang penunggang kuda yang terampil dan gemar bermain catur. Diponegoro juga suka mengunyah sirih dan menghisap rokok tingwe alias nglinting dewe tembakau dengan daun jagung. Ia juga digambarkan memiliki perikemanusian dan kasih welas asih yang mendalam. Selain 2 pernikahan yang kuceritakan di atas, di masa depan Diponegoro masih melakukan beberapa pernikahan lagi, salah satunya dengan Raden Ayu Retnoningsih yang kelak menemaninya ketika ia diasingkan ke Manado dan Makassar. Nah Raden Ayu Retnoningsih ini digambarkan sebagai sosok yang sangat cantik dan bermata besar bersinar. Tokoh idola yang menjadi panutan Diponegoro adalah Sunan Kalijogo, Sultan Agung, dan tokoh pewayangan Arjuna.

Pada tanggal 6 Desember 1822, adik Diponegoro yang adalah Sultan Hamengkubuwono IV meninggal secara tiba-tiba setelah balik dari perjalanan berkuda. Disinyalir dia terkena serangan jantung dalam usia yang masih sangat muda, 18 tahun. Soalnya gaya hidupnya sangat buruk, badan tambun, gemar makan makanan yang sangat berbumbu, dan masih memaksakan diri untuk berkuda pula, sehingga jantungnya tidak kuat, mak jleb jleb banget ga sih kalau ingat gaya hidup kita sendiri sekarang, hihihi, walaupun ada juga versi lain yang mengatakan bahwa Sang Sultan IV ini mati diracun. Lucunya lagi, karena meninggal setelah pulang dari jalan-jalan naik kuda, Sultan IV ini sering disebut “Sultan Sedo in Pesiar” alias sultan yang meninggal ketika sedang bertamasya, hehehe. Nah cilakanya lagi, sang putra mahkota yang akan menjadi sultan selanjutnya masih berusia 2 tahun, walaupun tetap 2 minggu setelah kematian ayahnya ini, si bayi umur 2 tahun tersebut diangkat menjadi Sultan Hamengkubuwono V. Namun karena masih batita, maka ditunjuklah 4 orang wali untuk mengurus segala pengasuhan dan pendidikan sultan kecil ini sekaligus pengelolaan kraton dan keuangannya. 4 orang wali ini adalah: ibunda Sultan IV, istri Sultan IV alias ibunda si sultan kecil, Mangkubumi (paman dari Diponegoro), dan Diponegoro sendiri. Sementara pemerintahan kraton sehari-hari dipegang oleh Patih Danurejo IV yang merupakan menteri utama.

Anehnya, Patih Danurejo ini dilarang melakukan apapun yang penting tanpa seizin Residen Belanda yang bertugas di Yogyakarta pada waktu itu, Baron Adriaan Mauritz Theodorus de Salis. Sultan V yang masih bayi ini dilantik pada tanggal 19 Desember 1822 dan 9 hari kemudian, yaitu pada tanggal 28 hingga 30 Desember 1822, Gunung Merapi yang terletak di sisi utara Yogyakarta meletus dengan sangat dahsyat.

Konflik mulai muncul di antara para wali Sultan V yang masih berusia 2 tahun itu, juga antara para wali dengan Patih Danurejo. Meskipun demikian, Diponegoro tetap berusaha menjalankan tugas sebagai wali sultan sebaik-baiknya, walaupun ia sangat tidak suka melihat Sang Patih Danurejo tunduk kepada Belanda. Setahun kemudian, konflik semakin meruncing dan semakin tidak bisa diatasi lagi. Apalagi ditambah ada masalah terkait penghapusan penyewaan tanah dan ganti rugi bagi orang-orang Eropa penyewa tanah. Karena adanya keputusan tersebut, Kraton Yogyakarta harus membayar ganti rugi dengan jumlah yang sangat-sangat besar kepada Belanda hingga kas kraton menjadi semakin menipis hingga harus berhutang ke orang-orang Eropa penduduk setempat maupun ke rentenir Tionghoa. Diponegoro dan Mangkubumi segera menyadari bahwa mereka telah ditipu sehingga mereka menolak membayar ganti rugi yang jumlahnya sangat besar tersebut. Namun Ibunda Sultan IV (yang juga salah satu dari wali Sultan V) tetap berkeras untuk membayarnya demi menjaga agar hubungan dengan Belanda tetap baik.

Namun setelah itu muncul permintaan ganti rugi yang lain lagi, sehingga Diponegoro marah dan mulai jarang hadir di kraton. Akibatnya urusan-urusan kerajaan pun diputuskan tanpa kehadiran Diponegoro. Diponegoro pun semakin malas dengan kraton, dia mengatakan kepada ibunda Sultan IV tersebut, “saya berharap tidak akan berurusan lagi dnegan itu, tanganilah sesuka Anda!” Sejak saat itu, putuslah hubungan Diponegoro dengan Kraton Yogyakarta. Sepeninggal Diponegoro, Patih Danurejo memecat orang-orang yang dekat dengan Diponegoro dan menggantikannya dengan orang-orang baru. Selanjutnya, pemerintahan kraton di bawah Danurejo menjadi pemerintahan yang sewenang-wenang dan korup. Di sana ada penjualan jabatan, penggelapan uang kraton, gaji yang tidak dibayar dengan semestinya, dan hal-hal semacam itu.

Dasar Diponegoro yang sejak kecil dididik dengan semangat perlawanan yang kuat dan dekat dengan rakyat, ia pun tidak tinggal diam melihat situasi itu. Ia segera mengonsolidasikan pertemuan dengan para pangeran Yogyakarta. Walaupun sama-sama prihatin dengan situasi yang ada, namun sebagian besar dari para pangeran yang hadir dalam konsolidasi itu tidak mendukung adanya strategi angkat senjata. Meskipun demikian, rencana pemberontakan tetap disusun oleh Diponegoro dan akan dimulai pada bulan Suro 1825 dengan persiapan dilakukan 2 bulan sebelumnya.

Namun pada awal tahun 1825, Residen Belanda pada waktu itu, Jonkheer Anthonie Hendrik Smissaert, berencana untuk memperbaiki jalan-jalan kecil di sekitar Yogyakarta, salah satunya jalan yang melewati Tegalrejo tempat tinggal Diponegoro. Patok-patok pun mulai dipasang oleh Patih Danurejo sehingga menghalangi jalan dan merepotkan Diponegoro serta penduduk Tegalrejo lainnya. Perbuatan Danurejo yang sengaja memasang patok-patok itu tanpa memberitahu Diponegoro dianggap sebagai hal yang melanggar tata krama secara terang-terangan sehingga memicu percekcokan antara orang-orang Diponegoro dengan para pekerja pembangunan jalan.

Perseteruan mengenai jalan itu menjadi semakin genting karena para pendukung Diponegoro dan para petani penggarap mulai berdatangan untuk membela Diponegoro. Akhirnya, rencana pemberontakan Diponegoro yang awalnya akan dilakukan pada bulan Agustus 1825 dimajukan, karena percekcokan tersebut menghilangkan segala keragu-raguan di hati Diponegoro untuk melakukan pemberontakan. Diponegoro memerintahkan agar tiang-tiang patok yang telah ditancapkan diganti dengan tombak-tombak sebagai tanda bahwa ia menganggap pembangunan jalan raya tanpa pemberitahuan tersebut sebagai penyebab terjadinya perang. Kemudian Residen Smissaert mulai mengirimkan pasukan untuk menyerang Tegalrejo. Pasukan tersebut merupakan gabungan antara tentara Belanda dan prajurit kraton. Namun Diponegoro sudah mendapatkan bocoran informasi tentang akan adanya penyerangan tersebut dari para pandai besi di Yogyakarta yang membantu memasang ladam kuda-kuda kavaleri dan persiapan senjata.

Pemukiman Diponegoro di Tegalrejo pun jatuh ke tangan pasukan yang dipimpin oleh orang Belanda tersebut dan langsung dibakar. Namun jangan khawatir, Pangeran Diponegoro dan sebagian besar pendukungnya telah berhasil lolos duluan melalui gerbang sebelah barat Tegalrejo menuju ke Selarong, Bantul. Keesokan harinya, Kamis tanggal 21 Juli 1825, Diponegoro dan pamannya, Mangkubumi, menancapkan panji-panji pemberontakan di Selarong dan Perang Jawa pun dimulai.

Kamis, 21 Juli 1825, Perang Jawa atau kadang disebut dengan Perang Diponegoro dimulai, ditandai dengan dikibarkannya panji-panji perang oleh Diponegoro dan Mangkubumi di Selarong. Gaya peperangan yang digunakan oleh Diponegoro adalah memanfaatkan sepenuhnya orang-orang desa yang merupakan para petani dan petani penggarap yang mendukung perjuangannya. Mereka merobohkan pohon untuk menghalangi jalan, membakar jembatan kayu, serta menggali lubang jebakan dan mengisinya dengan ranjau bambu. Strategi lain yang dilakukan oleh Diponegoro adalah dengan melumpuhkan komunikasi lawan dan menjaga jalur perbekalan pasukannya. Salah satu hal yang unik dalam perang ini adalah ketika terjadi penyergapan atau pertempuran, penduduk desa sekitar yang tampaknya tengah sibuk bertani dengan damai, tiba-tiba ikut dalam pertempuran dengan senjata peralatan tani mereka.

Tentara reguler Diponegoro sudah memiliki senjata api, baik yang berasal dari rampasan tentara Belanda maupun yang dihasilkan sendiri oleh desa-desa di berbagai kabupaten bagian selatan dan barat Yogyakarta. Mesiu yang dihasilkan sendiri oleh desa-desa ini dalam peracikannya dibantu oleh tenaga kerja perempuan dan bermutu sangat tinggi. Namun senjata yang paling umum digunakan adalah keris yang diletakkan di ujung sebatang bambu.

Ada beberapa perempuan yang berperan besar dalam Perang Diponegoro ini. Di antaranya adalah Raden Ayu Serang yang mengangkat senjata dan memimpin pasukan berkekuatan 500 orang di kawasan Serang, Demak, serta Raden Ayu Yudokusumo yang mengatur penyerangan terhadap masyarakat Tionghoa di Ngawi. Raden Ayu Yudokusumo ini adalah perempuan yang memiliki kecerdasan tinggi, kemampuan besar, serta siasat yang jitu. Ia menjadi salah satu panglima kavaleri senior Diponegoro. Ada juga seorang perempuan Tionghoa di Ngawi yang berperan penting dalam pembentukan pasukan keamanan setempat, serta seorang ibu keturunan Arab yang juga sangat berperan penting di Semarang.

Kelompok yang juga berperan sangat penting dalam perang ini adalah para santri. Kedudukan Diponegoro di mata santri pendukungnya sangat terangkat berkat sifat keagamaan perlawanannya terhadap Belanda. Dalam hampir semua pertempuran, kelompok-kelompok ulama tampil mencolok dengan jubah putih atau hijau beserta sorban. Baik laki-laki maupun perempuan yang bergabung dengan Diponegoro telah mencukur rambut mereka, mengenakan busana “ulama”, dan maju ke medan pertempuran sambil berdzikir. Syahdu banget kayaknya ya.

Namun, salah satu hal yang kemudian melemahkan kekuatan Pangeran Diponegoro adalah peseteruannya dengan rekan-rekan seperjuangannya (klise banget ya), terutama dengan Kyai Mojo yang sejak awal berjuang bersamanya. Pertengkaran yang berlarut-larut antara Diponegoro dengan penasihat keagamaan utamanya ini lama kelamaan semakin mustahil untuk diselesaikan. Kecerdasan Kyai Mojo yang hampir sebanding dengan Diponegoro dan pengaruhnya sebagai pendorong utama perang suci ini menyebabkan keadaan menjadi semakin runyam. Hingga akhirnya Kyai Mojo menyerah kepada Belanda di lereng Merapi pada November 1928.

Para pemimpin Perang Jawa ini terpecah akibat pasang-surutnya perang dan perbedaan ambisi pribadi serta jati diri sosial yang tak terdamaikan. Diponegoro memiliki persekutuan ksatria dan santri yang telah mewarnai peperangan selama 5 tahun dengan dukungan sosial yang luas dan unik ditambah dengan semangat keagamaan yang tinggi. Namun ternyata persekutuan tersebut sangat fragile, hal yang oleh seorang pangeran sekaligus santri yang sangat berwibawa seperti Diponegoro pun tidak bisa diatasi.

Selanjutnya, terlihat perang semakin mendekati masa berakhirnya. September 1829, paman Diponegoro, Pangeran Prabuningrat tewas ketika mempertahankan tempat peristirahatan Diponegoro, disusul 4 hari kemudian, paman Diponegoro yang lain sekaligus panglima tentaranya yang senior dan penasihatnya yang terpercaya, Pangeran Ngabehi berserta 2 putranya, tewas karena dicegat dan dibunuh di Pegunungan Kelir. Hal ini membuat Diponegoro menyadari bahwa ia tinggal sendiri di dunia ini. Ia mengatakan kepada Mangkubumi bahwa tidak ada lagi yang tersisa baginya selain mati sebagai sabilillah dalam pertempuran.

Sesudah kekalahan telak pada Pertempuran Siluk pada bulan September 1829, Diponegoro dan sejumlah kecil pasukannya menyelamatkan diri dengan menyeberangi Kali Progo. Ia memutuskan untuk bergerak lebih jauh lagi ke arah barat menyeberangi Kali Bogowonto dan bergerak terus ke Bagelen Tengah. Awal Oktober 1829, seorang panglima Diponegoro, Basah Hasan Munadi, menyarankan agar Diponegoro menuju ke daerah pegunungan Remo yang terletak antara Bagelen dan Banyumas, karena di situ konon ada pendukungnya yang masih bertahan dengan 300 prajurit. Putra sulung Diponegoro, Pangeran Diponegoro II pun rencananya akan bergabung dengannya pada pertengahan Desember 1829.

Pada tanggal 29 Desember 1829, Gubernur Jendral Hendrik Merkus Baron de Kock memberikan kekuasaan penuh kepada Kolonel Cleerens untuk mengajak Pangeran Diponegoro berunding melalui patihnya. Namun De Kock juga sekaligus memerintahkan Cleerens untuk memastikan agar daerah persembunyian Diponegoro dikepung untuk jaga-jaga siapa tahu perundingan gagal. Padahal sebelumnya, pada tanggal 26 Desember 1829 telah dikirimkan surat kepada Diponegoro yang isinya meyakinkan bahwa tidak akan ada bahaya yang mengancamnya begitu perundingan dimulai.

Sementara itu, pada tanggal 4 Januari 1830, kapal perang Angkatan Laut Belanda diam-diam memasuki Pelabuhan Batavia, dan ternyata salah seorang penumpangnya adalah Johannes van den Bosch yang sudah dilantik menjadi gubernur jendral baru dan doi mengantongi perintah langsung dari Raja Willem I bahwa “tidak boleh ada perundingan lagi, hanya penyerahan diri tanpa syarat yang diizinkan”. 2 hari setelah tiba di Batavia, Van den Bosch langsung menjalankan perintah rajanya dan mendesak De Kock untuk menangkap atau membunuh Diponegoro.

Beberapa pejabat Belanda kemudian bersiap untuk merancang pembunuhan atas Diponegoro, namun De Kock tidak termasuk di dalamnya. Apalagi setelah De Kock bertemu langsung dengan Diponegoro di Magelang, pandangannya terhadap Diponegoro langsung berubah menjadi jauh lebih baik. Begitulah, hubungan personal memang selalu menghilangkan prasangka dan membuat semuanya menjadi jauh lebih baik. Namun Van den Bosch yang memiliki pandangan garis kerasa terus berpikir bagaimana ia bisa membuat Diponegoro menyerah jika tidak melalui perundingan. Akhirnya pada tanggal 30 Januari 1830, dengan restu Van den Bosch, De Kock kembali mengirimkan surat kepada Diponegoro mengajaknya berunding sembari meyakinkan bahwa jika ia setuju untuk bertemu, “ia akan diterima dengan baik”. Diponegoro tentu tidak langsung percaya, mengingat perlakuan buruk orang-orang Eropa terhadapnya selama ini. Namun akhirnya pada tanggal 25 Februari 1830 Diponegoro bersedia untuk berunding. De Kock pun segera berlayar ke Semarang.

Meskipun bersedia untuk berunding Diponegoro mengatakan bahwa ia menolak berbicara dengan perwira Belanda selain panglima tertingginya. Ia juga minta agar disapa dengan gelarnya, sultan. Selain itu Diponegoro juga meminta hadiah berupa kain berwarna hitam yang cukup untuk 400 prajurit berkuda yang separuhnya akan datang mengawalnya, uang kontan 200 f untuk mendanai mereka, payung kebesaran berwarna emas untuk menunjukkan martabat kerajaannya, dan dua gunting besar untuk memotong rambutnya dan para prajuritnya, hehehe penting itu. Bahkan menjelang hari H perundingan, permintaan hadiah tersebut terus meningkat menjadi uang panjar 10.000 f untuk membayar upah prajuritnya plus tambahan 200 f untuk menyediakan pakaian baru, juga kain hitam tambahan untuk perlengkapan 400 prajurit lainnya. Sementara itu di suatu tempat yang lain, Van den Bosch mengatakan, “bagaimanapun juga, begitu tiba di Magelang, ia tidak boleh lepas dari tangan kita” (sambil tertawa jahat persis seperti adegan-adegan di sinetron, hehehe).

Dalam perjalanannya ke Magelang, jumlah rombongan pengawalnya bertambah menjadi hampir dua kali lipatnya menjadi 700 orang. Hal tersebut dikarenakan penduduk di Kedu bagian selatan banyak yang menunjukkan penghormatan khusus kepadanya. Nah dalam perjalanan ke Magelang tersebut, bulan puasa tahun tersebut dimulai, yaitu pada tanggal 25 Februaru 1830. Oh ya pada waktu itu juga kondisi Pangeran Diponegoro tengah menderita penyakit malaria. Hal itu juga menjadi salah satu alasannya kenapa dia mau melakukan perundingan damai dengan Belanda.

Begitu De Kock sampai di Magelang dari Batavia pada awal Maret 1830, ia segera memerintahkan Cleerens untuk membawa Diponegoro dan rombongan untuk menemuinya di Kantor Karesidenan Kedu. Awalnya Diponegoro setuju, namun begitu akan memulai perjalanannya, ia minta kembali saja ke Bukit Menoreh karena menurut Diponegoro tidak ada gunanya pergi ke Magelang karena yang bisa dilakukanya hanyalah kunjungan ramah tamah saja disebabkan sudah masuk bulan puasa dan tidak mungkin melakukan pembicaraan soal polirik, sehingga semua perundingan harus ditunda sampai setelah hari raya lebaran yang jatuh pada tanggal 27 Maret 1830. Cleerens mestinya sudah tahu itu, karena sudah menjadi kebiasaan Diponegoro selama bulan puasa untuk menyepi setiap hari di Bukit Menoreh. Setelah terjadi perdebatan, akhirnya disepakati sebuah kompromi, Diponegoro tetap bersedia menemui De Kock tapi hanya untuk kunjungan ramah tamah saja, dan setelah itu, dia akan kembali menjalankan ibadah puasa dengan kusyuk, baru setelah puasa berakhir, perundingan yang sebenarnya akan dimulai.

Pada tanggal 8 Maret 1830, Pangeran Diponegoro dengan para panglima tentaranya dan rombongan pendukungnya yang kini sudah membengkak menjadi 800 orang memasuki Kota Magelang. “Diponegoro masih mempunya banyak pendukung, di mana-mana rakyat menghormatinya (dengan ekspresi panik mata melotot seperti di sinetron),” demikian laporan Van den Bosch penuh kecemasan kepada Menteri Jajahan di Den Haag. Selama di Magelang, Diponegoro diperlakukan dengan sangat baik dan penuh penghormatan. De Kock menunjukkan sikap yang sangat bersahabat dan penuh simpati kepada Diponegoro, bahkan ia memberikan hadiah istimewa kepada Diponegoro berupa seekor kuda besar dan bagus berwarna abu-abu dan uang sebesar 10.000 f untuk biaya para pengikut Diponegoro selama bulan puasa. Bukan hanya itu, De Kock pun mengizinkan anggota keluarga Diponegoro yang sedang ditawan di Yogyakarta dan di Semarang untuk bergabung bersama Diponegoro di Magelang.

Sejak 8 Maret itu hingga hari penangkapan Diponegoro pada tanggal 28 Maret 1830, De Kock telah bertemu dengan Diponegoro dalam 3 kesempatan yang berbeda. 2 kali dalam acara jalan-jalan subuh di taman karesidenan dan sekali ketika ia datang sendiri ke pesanggrahan Diponegoro pada waktu sahur sebelum dimulainya puasa pada hari itu. 3 pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana yang menyenangkan dan santai dengan keduanya saling bercanda dan merasa senang bertemu. Apalagi pada waktu itu, keduanya sama-sama masih berduka karena baru saja kehilangan istri masing-masing yang sangat mereka kasihi, sehingga hal tersebut membuat keduanya merasa semakin ada koneksi saja. Sementara hubungan baik ini terus terbangun, De Kock menyadari bahwa Diponegoro tidak akan pernah menyerahkan diri tanpa syarat kepada Belanda.

Nah pada tanggal 25 Maret 1830, tepat 2 hari sebelum bulan puasa berakhir dan lebaran datang, diam-diam De Kock memberikan perintah rahasia kepada 2 orang perwira infanteri seniornya agar ketika Diponegoro datang menemuinya nanti, segala persiapan militer yang diperlukan sudah dilakukan untuk menjamin penangkapannya. Ia memerintahkan agar semua tentara sudah harus siaga di tangsi-tangsi mereka dan kuda kavaleri harus sudah dipasang pelana, sehingga begitu perintah dikeluarkan, semua anggota tentara sudah dapat langsung berkumpul dengan senjata lengkap.

Akhirnya, pada hari yang ditunggu-tunggu itu, 28 Maret 1830 atau Lebaran hari kedua, pengawalan di Wisma Karesidenan diperkuat 2 kali lipat. Namun hal tersebut tidak menimbulkan kecurigaan dikarenakan pada saat itu hari Minggu di mana jumlah serdadu bersenjata memang biasanya lebih banyak karena setiap hari Minggu memang selalu ada arak-arakan serdadu. Atas perintah De Kock, sepasukan hussar resimen ke-7 sudah dikirimkan ke perbatasan Kedu – Semarang untuk mengambil alih pengawalan tahap terakhir perjalanan Diponegoro ke Semarang. Selain itu, kereta Residen Kedu juga sudah disiagakan agar bisa langsung membawa Diponegoro keluar dari Magelang. Para perwira infanteri senior telah diminta untuk melaksanakan tugas mereka dengan setenang mungkin namun segala perlawanan harus siap dihadapi dengan kekuatan penuh. Pendek kata, segala sesuatu telah dipersiapkan untuk menjamin penangkapan Diponegoro. Pengikut Diponegoro yang bersenjata dilucuti dan segala perlawanan terakhir dicegah.

Pada tanggal 28 Maret tersebut, Diponegoro berangkat ke Wisma Karesidenan sekitar pukul 8 pagi tanpa curiga sedikitpun. Ia bahkan tidak merasa perlu mengenakan pakaian kebesarannya, melainkan hanya memakai pakaian biasa seperti hendak berjalan-jalan. Demikian juga halnya dengan rombongannya, tidak ada yang mengenakan lambang-lambang jabatan. Banyaknya orang bersenjata lengkap di sekitar Wisma Karesidenan tidak menimbulkan kecurigaan sedikitpun pada pasukan Diponegoro. Tidak seorang pun mengira something bad will happen very soon. Diponegoro mengamati bahwa semua orang dalam rombongannya benar-benar merasa santai karena De Kock bersikap tidak berbeda dengan biasanya.

Hingga dalam pertemuan itu, tiba-tiba De Kock mengatakan kalau Diponegoro tidak semestinya pergi dan harus tetap tinggal di Wisma Karesidenan dengan alasan karena ia ingin agar semua persoalan diselesaikan hari itu juga. Tentu saja Diponegoro kaget dengan penahanan secara tiba-tiba itu. Diponegoro mengatakan, ia tidak terpikir akan adanya persoalan. Salah satu panglima Diponegoro pun menyela dengan mengatakan bahwa urusan politik berada jauh di luar keprihatinan Sang Pangeran dan sebaiknya dicari hari lain untuk membicarakannya nanti setelah hari raya lebaran berlalu. Namun De Kock menggebrak meja dan dengan suara keras mengatakan, “tidak, hal itu tidak dapat diterima, dia suka atau tidak, saya ingin menyelesaikan semuanya sekarang!”

Diponegoro sangat menyesalkan cara ia diperlakukan. Ia mengingatkan janji yang sudah disepakati sebelumnya bahwa karena ia telah datang ke Magelang atas kemauannya sendiri sehingga seharusnya ia bebas pergi jika gagal mencapai kesepakatan yang memuaskan. Namun De Kock sudah langsung memerintahkan perwira-perwiranya menggerakkan semua pasukan yang berada di tangsi-tangsi di Magelang untuk menuju Wisma Karesidenan, sedangkan pasukan kawal yang berada di karesidenan sudah datang ke beranda depan tempat para pengikut Diponegoro duduk. Hanya beberapa menit setelah itu, Diponegoro pun ditangkap. Perubahan sikap De Kock yang mendadak itu membuat Diponegoro terperanjat dan merasa sakit hati hingga ke sumsum akibat pengkhianatan yang tidak beretika itu terhadap kepercayaan pribadi dan persahabatan, walaupun tidak bisa dibilang juga kalau penangkapan itu adalah sesuatu hal yang sama sekali tidak terduga.

Sementara itu dalam catatan hariannya, De Kock mencurahkan keragu-raguannya tentang kepatutan perilakunya terhadap Sang Pangeran. “Saya menyadari bahwa cara bertindak seperti itu di pihak saya tidak terpuji, tidak ksatria, dan licik karena Diponegoro telah datang ke Magelang menemui saya dengan niat baik. Lagipula ia sendiri tentunya tidak mempunyai rencana jahat karena ia tidak tahu-menahu apa yang akan dihadapi di Magelang, dan bagi barang siapa yang tahu sekalipun sedikit sekali tentang Orang Jawa, besarnya kepercayaan yang terpancar dari diri Diponegoro sangat mengesankan,” demikian tulis De Kock. Bisa kita lihat di sini, sebenarnya dari lubuk hati terdalam De Kock dia menyadari bahwa apa yang dilakukannya sangat tidak beretika dan dia menyesal telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh Diponegoro. Tapi well, mungkin segala sesuatunya saling bersilang sengkarut pada waktu itu antara berbagai kepentingan politik, relasi kuasa, dan hal-hal lain yang berada di luar kekuasaannya. Sebagai seorang manusia dia sangat menyesal, tapi sebagai seorang gubernur jendral yang sudah berada di akhir masa jabatannya (sebelum digantikan oleh Van den Bosch) dan adanya perintah langsung dari rajanya, tidak banyak yang bisa dia lakukan. Menurutku adegan ini sangat filmis, kok belum ada produser yang berniat memfilmkannya ya, hehehe.

“Bagaimana bisa menjadi begini? Bagaimana bisa?” demikian ucapan Diponegoro di dalam kereta yang membawanya dengan pengawalan kavaleri ke Bedono di perbatasan Karesidenan Semarang. Sesampainya di sana, ia dipindahkan ke atas tandu yang mengangkutnya mendaki jalan perbukitan yang menanjak tajam di daerah Jambu menuju ibukota kecamatan di mana sebuah kereta lain telah menantinya untuk membawanya ke Ungaran. Kereta itu tiba di Ungaran pada sore yang telah larut dan Diponegoro diperbolehkan untuk menunaikan sholat Magrib di sebuah banteng kecil Belanda. Itu adalah sholat Magrib pertama baginya sebagai seorang pengasingan. Pada malam hari keesokan harinya, 29 Maret 1830, Diponegoro tiba di Semarang. Selanjutnya ia melewatkan seminggu tinggal di sana, yaitu di Wisma Residen di Bojong karena Van den Bosch telah memutuskan untuk tidak menahannya di penjara kota. Pada tanggal 3 April 1830, baru Diponegoro diberitahukan bahwa dalam 2 hari ke depan ia akan dibawa ke Batavia menggunakan Kapal Uap SS Van der Capellen. Pagi hari tanggal 5 April 1830, rombongan Diponegoro yang terdiri dari 19 orang, termasuk istrinya Raden Ayu Retnoningsih, adik perempuannya Raden Ayu Dipowiyono, dan iparnya Raden Tumenggung Dipowiyono masuk pelabuhan untuk naik ke atas kapal.

3 hari kemudian, Diponegoro dan rombongan sudah sampai di Batavia dan segera dibawa ke Stadhuis atau Balaikota Batavia di mana ia akan tinggal di sana hingga tanggal 3 Mei 1830. Namun Diponegoro tidak dipenjara di rumah tahanan, melainkan ditempatkan dalam 2 kamar panjang di lantai atas yang memang sudah sering digunakan untuk menahan para pembesar pribumi Nusantara dan Eropa. Selama 3 minggu tinggal di Balaikota dirasakan oleh Diponegoro sebagai siksaan karena hawanya sangat panas ditambah kesehatannya yang tidak terlalu baik. Soalnya waktu itu Jogja masih dingin sih, coba sekarang, panasnya sudah sama dengan Jakarta, hehehe. Kebetulan pada saat itu, Gubernur Jenderal Van den Bosch sedang sakit parah sehingga tidak bisa menemui Diponegoro. Meskipun demikian, Van den Bosch menolak semua gagasan untuk mengizinkan Pangeran Diponegoro tinggal di Jawa karena dianggap terlalu berbahaya secara politik. Pada akhirnya, Van den Bosch memutuskan bahwa Diponegoro harus diasingkan “demi kedamaian Pulau Jawa” dan ditahan sebagai seorang tahanan negara di Manado, Sulawesi, “sebuah tempat yang paling cocok di luar Jawa”, di mana Kyai Mojo dan rombongannya baru saja dipindahkan.

Diponegoro dan rombongannya pun dibawa ke Manado menggunakan kapal yang didampingi oleh 50 orang serdadu. Sesampainya di Manado, Residen setempat sudah menyediakan pasukan dalam jumlah yang cukup untuk mengawal Sang Pangeran dan untuk memastikan bahwa ia tidak akan kabur. Setiap 3 bulan sekali, Residen mengirimkan laporan mengenai keadaan Sang Pangeran ke Jawa. Dan bilamana terjadi peristiwa yang penting, laporan pun dibuat lebih sering lagi, karena pengiriman laporan tersebut ke Jawa tergantung pada adanya kapal. Namun, meskipun diawasi dengan super ketat, Diponegoro tetap diperlakukan dengan “sikap bersahabat” oleh Residen dan martabatnya selalu dijaga. Tunjangan bulanan sebanyak 600 f juga diberikan kepada Diponegoro. Ia juga diizinkan untuk memilih 2 orang “ulama” atau haji dari kalangan pengikut Kyai Mojo di Tondano untuk membantunya dalam tugas-tugas keagamaan.

Pangeran Diponegoro dan rombongannya pun tinggal di pengasingan di Manado dari tahun 1830 hingga tahun 1833. Awalnya Van den Bosch bermaksud menempatkan pemimpin Perang Jawa tersebut di suatu lokasi aman di pedalaman Manado, tetapi karena hal itu sulit dilakukan, akhirnya Diponegoro ditempatkan dalam suatu rumah berkamar 4 di Benteng Nieuw Amsterdam, sebuah benteng utama Belanda di Manado. Selain berkebun dan merawat tanaman serta binatang, pada tanggal 20 Mei 1831, Pangeran Diponegoro pun mulai menuliskan babad karyanya, sebuah otobiografi dengan tebal lebih dari 1.000 halaman ukuran folio dalam aksara Pegon. Setelah Diponegoro wafat, naskah Babad Diponegoro ini disimpan oleh keturunannya di Makassar dan dianggap sebagai harta warisan keluarga. Naskah tersebut terbagi dalam 2 bagian. Bagian pertama memaparkan sejarah Jawa dari runtuhnya Majapahit tingga perjanjian damai Giyanti, dan bagian kedua mencakup kehidupan Diponegoro sendiri sejak masa kelahirannya di Kraton Yogyakarta pada tahun 1785 hingga pengasingannya di Manado. Naskah Babad Diponegoro tersebut diselesaikan hanya dalam waktu 9 bulan.

Sementara Pangeran Diponegoro menyelesaikan tulisan mengenai kisah hidupnya dalam Babad Diponegoro di Benteng Nieuw Amsterdam di Manado, jauh di belahan bumi lain yaitu di Benua Eropa, terjadi konflik yang dikhawatirkan akan dapat mengancam pecahnya Perang Eropa. Gubernur Van den Bosch khawatir jika Inggris akan berusaha memanfaatkan orang dalam pengasingan di daerah jajahan luar Jawa demi tujuan politik. Secara khusus, Van den Bosch merisaukan bahwa Diponegoro mungkin saja menggunakan kesempatan pecahnya Perang Eropa untuk melarikan diri dan kembali ke Jawa untuk memimpin perlawanan baru. Sehingga menurutnya jelas tidak baik jika Diponegoro tetap tinggal di Manado yang dekat dengan jalur-jalur pelayaran di mana Angkatan Laut Inggris bisa muncul sewaktu-waktu. Gila ya, sudah menjadi tahanan begitu pun, keberadaannya saja masih merupakan ancaman. Kharisma kepemimpinannya tetap sangat mengkhawatirkan walaupun sudah diasingkan beribu-ribu mil jauhnya. Awalnya Van den Bosch mengusulkan agar Pangeran Diponegoro diasingkan ke Negeri Belanda, tetapi usul tersebut ditolak mentah-mentah oleh Raja Belanda karena dianggap sebagai sesuatu yang secara politik tidak bisa diterima. Padahal kalau jadi diasingkan di Belanda, mungkin ceritanya akan lain ya.

Akhirnya Diponegoro dipindahkan secara sangat rahasia ke arah selatan, yakni ke Makassar, di mana ia akan ditahan hingga akhir hayatnya di Benteng Rotterdam. Aku pernah ke sana lho, hehehe, penting banget informasinya. Benteng Rotterdam ini secara keseluruhan merupakan bangunan pertahanan yang jauh lebih tangguh dibandingkan Benteng Nieuw Amsterdam di Manado. Diponegoro dan pengikutnya dibawa ke Makassar melalui sebuah perjalanan rahasia menggunakan kapal selama 21 hari (20 Juni – 11 Juli 1833). Setibanya di Makassar, para perwira kapal disumpah agar tidak membocorkan rahasia pemindahan Diponegoro. Tidak seperti di Manado, baik Sang Pangeran maupun para pengikutnya tidak diizinkan untuk berada di luar tembok Benteng Rotterdam, dan tidak boleh ada yang mengunjunginya tanpa izin tertulis dari Gubernur. Mereka juga dicegah untuk menjalin hubungan dengan pribumi setempat yang serdadu, pembantu, atau orang yang diasingkan, dan juga anggota tenaga kerja paksa yang bertugas di dalam benteng. Again, keberadaannya saja sudah dianggap sebagai ancaman, sedemikian hebatnya Diponegoro di mata para perwira Belanda di Indonesia. Namun meskipun demikian, mudah bagi Diponegoro dan para pengikutnya untuk melanggar berbagai pembatasan atas kemerdekaan mereka tersebut. Apalagi typical orang Indonesia ya, mudah menjalin hubungan baik dengan siapapun, apalagi masih dengan orang-orang senegara di Makassar.

Pada bulan April 1844, setelah pengakuan Belanda atas kemerdekaan Belgia dan berakhirnya segala ancaman terlibatnya Belanda dalam Perang Eropa, Gubernur Makassar bertanya kepada Diponegoro apakah ia ingin dipindahkan ke daerah lain di Hindia Belanda (Indonesia) yang tidak akan terlalu mengungkung kebebasannya dan yang menyediakan tempat tinggal yang lebih lapang untuk keluarganya dan semakin besar. “Tidak,” jawab Diponegoro. Ia hendak menghabiskan sisa usianya di Makassar, sebuah keputusan yang diperkuat 5 tahun kemudian dengan permintaan Diponegoro agar ia dimakamkan di ibukota Sulawesi Selatan tersebut di dekat makam putranya yang kedua. Ia tidak ingin jasadnya dikembalikan ke Jawa untuk dikuburkan di pemakaman kerajaan di Imogiri, Yogyakarta. Selama pengasingannya di Manado dan Makassar ini, Diponegoro mempunyai lebih dari 7 anak yang sebagian dengan perempuan-perempuan Jawa di luar istri resminya, Raden Ayu Retnoningsih.

Hingga akhirnya, pada suatu Senin pagi tanggal 8 Januari 1855, penguasa Belanda di Benteng Rotterdam dibangunkan lebih dini dari tidur mereka. Seorang pengikut Pangeran Diponegoro muncul di kediaman Gubernur untuk mengabarkan bahwa Sang Pangeran telah wafat tepat sesudah matahari terbit pukul 06.30, hampir pada saat yang sama dengan 70 tahun sebelumnya tatkala ia dilahirkan ke dunia di Kraton Yogyakarta. Surat Keterangan Kematian dikeluarkan dengan pernyataan penyebab kematiannya adalah merosotnya kekuatan jasmani akibat usia tua. Pada hari itu juga, jasad pemimpin Perang Jawa ini dimakamkan di Kampung Melayu, Makassar, sesuai dengan keinginan almarhum yaitu agar dimakamkan di samping makam putranya. Upacara pemakaman dilaksanakan dengan hak-hak peribadatan Islam sepenuhnya dan dengan penghormatan yang layak terhadap martabat keturunannya.

Demikianlah kisah hidup dan perjuangan Pangeran Diponegoro yang sangat manusiawi dan penuh lika-liku yang tidak hitam putih yang aku ceritakan ulang berdasarkan 3 jilid buku Kuasa Ramalan karya Peter Carey. Semoga bisa menginspirasi dan semoga aku bisa menuliskan kisah-kisah pahlawan nusantara lainnya, karena berkat jasa merekalah, hari ini kita bisa hidup damai dan berkarya di bumi nusantara tercinta ini, amiiinn!

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *