Captain America and Mjolnir

Sepakat ngga sih, adegan Captain America memegang shield di tangan kirinya dan Mjolnir di tangan kanannya waktu Endgame kemarin adalah salah satu dari the best scenes ever di sepanjang sejarah Marvel Cinematic Universe. Seluruh penonton bioskop sampai pada berteriak “wow” dan bertepuk tangan keras-keras, begitu pula aku, hihihi, epik banget memang adegan itu, membuat aku tanpa ragu-ragu akan bilang: “I could watch it all day!” Hehehe.

Tapi apakah kalian juga sekaligus bertanya-tanya, kok tiba-tiba Cap bisa mengangkat (dan bahkan menggunakan kekuatan) Mjolnir? Memangnya dia worthy enough? Bukannya Mjolnir sudah dimantrai oleh Odin dan hanya orang yang layak/pantas (worthy) lah yang akan bisa mengangkat Mjolnir. Hal tersebut sudah kita saksikan di beberapa film MCU, termasuk di Avengers Age of Ultron ketika semua anggota Avengers mencoba sekuat tenaga mengangkat Mjolnir dan tidak ada satupun yang berhasil. Well, kecuali Vision, tapi kan dia bukan manusia ataupun dewa, dia adalah Artificial Intellegent yang memiliki tubuh, dan dia baru saja lahir (eh diciptakan), jadi dia masih murni dan bersih tanpa dosa, makanya bisa worthy mengangkat Mjolnir. Tapi kita lihat yang lain tidak ada yang bisa.

Terus kenapa di Endgame tiba-tiba Captain America jadi bisa begitu saja mengangkat Mjolnir. Apa yang membuat dia tiba-tiba menjadi worthy? Ada analisis yang mengatakan karena sebelumnya Cap masih dipenuhi ego dan keputusan yang tidak jernih, yaitu membela Bucky yang jelas-jelas salah (karena dimanfaatkan oleh Hydra), namun karena kedekatan personalnya dengan sahabatnya sejak kecil itu, Cap secara membabi buta tetap membela Bucky for whatever it takes, sampai-sampai akhirnya Avengers pecah kongsi di moment Captain America Civil War. Hal itulah yang membuatnya tidak worthy, ada analisis yang mengatakan begitu.

Captain America, shield di tangan kiri, Mjolnir di tangan kanan.

Tapiii, analisis itu tidak benar saudara-saudara! Captain America sebenarnya sejak awal selalu worthy enough untuk Mjolnir (ini sudah dikonfirmasi oleh sutradaranya). Jadi selama ini sebenarnya Cap memang selalu bisa mengangkat dan menggunakan Mjolnir. Lantas kenapa pas Avengers Age of Ultron dia tidak bisa? Hehehe, dia bisa lagi! Kalau kita perhatikan baik-baik, pas di Age of Ultron itu kan Mjolnir-nya sudah bergerak dan terlihat Cap effortless banget menggerakannya. Tapi dia segera menghentikannya dan mengaku menyerah tidak sanggup mengangkat Mjolnir, tidak seperti teman-temannya yang lain yang upayanya lebay banget, hehehe.

Kenapa Cap melakukan itu? Kenapa dia pura-pura tidak bisa mengangkat Mjolnir padahal bisa? Hehehe apa kalian tidak ingat, ekspresi wajah Thor yang insecure banget pas melihat Mjolnir sudah bergeser sedikit. Nah Cap tidak mau melukai ego Thor ataupun menyakiti hatinya, di depan semua anggota Avengers dan teman-temannya pula. No, no, no, that’s just not some kind of thing yang bakal dilakukan oleh superhero semanis, sebaik, sepolos, dan sesopan Captain America. Dia menjaga perasaan Thor dan tidak mau melukai egonya. How sweet! Walaupun sebenarnya Thor sudah curiga sih, lihat saja tatapannya pada saat itu.

Itulah kenapa waktu di Endgame, ketika Cap bisa menangkap dan kemudian menggunakan Mjolnir, Thor langsung berteriak, “I knew it!” Karena sejak di Age of Ultron dia sudah tahu itu, sudah tahu kalau Captain America worthy enough for Mjolnir. Terus kenapa Cap yang tadinya menyembunyikan kemampuannya mengangkat Mjolnir, di Endgame dia mau secara terang-terangkan menggunakan Mjolnir? Ya iyalah, kan situasinya sudah sangat mendesak. This is end game gitu loh! And they will do whatever it takes to beat Thanos, right, apapun kemungkinan dan peluang yang bisa dilakukan. Dan memang adegan Cap dengan shield dan Mjolnir itu kereeeeenn bingiiitt!!! Dan pas kemudian Mjolnir ada di tangan Thor dan malah Stormbreaker yang dipegang Cap, Thor pun meminta tukeran, “kamu pakai yang kecil saja,” katanya sambil melemparkan Mjolnir ke Captain America, hihihi.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *