Captain Marvel: Semangat Feminisme Dalam Superhero Paling Kuat di Jagat Semesta Marvel

Okay, aku akan membuat review film Captain Marvel yang kemarin sore aku tonton. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk no spoiler, walaupun believe me it’s hard, hehehe. Captain Marvel ini adalah film MCU (Marvel Cinematic Universe) yang ke-21 dalam 11 tahun terakhir ini. Film ini masih nyambung dengan ke-20 film-film sebelumnya, karena masih berada dalam satu semesta yang sama, yaitu jagat semesta Marvel. Semesta Marvel ini memiliki banyak sekali planet dan juga suku bangsa yang mendiaminya, memiliki logikanya sendiri, memiliki kisahnya sendiri, serta memiliki kesalingterkaitan sendiri.

Walaupun ini adalah film ke-21, tetapi kalau mau diposisikan berdasarkan kronologi waktu, mestinya ini adalah film ketiga, karena peristiwanya terjadi setelah film Captain America – The First Avenger (tentu saja, kan setting film ini di masa perang dunia 2) dan setelah film Hulk, yang kalau aku tidak salah sih ber-setting di awal tahun 1990an. Kalau Captain Marvel ini settingnya sekitar tahun 1995-1996. Terus kalau Thor yang berusia 1500 tahun gimana? Yah itu mah beda, kan Thor ke buminya sudah tahun 2000an, jadi dalam kronologi waktu tetap aku letakkan di tahun 2000an, hehehe.

Di antara film-film MCU yang lain, Captain Marvel ini paling dekat dengan film Guardian of the Galaxy (GOTG) Volume 1 dan 2. Jadi kalau ingin bisa lebih memahami film ini, sebaiknya nonton ulang dulu GOTG Volume 1 dan 2, hehehe. Karena di film ini akan diceritakan tentang Bangsa Kree yang sudah kita lihat di GOTG, bahkan Yondu Odunta ayah angkatnya Peter Quill adalah Bangsa Kree dan Quill dibesarkan di tengah-tengah bangsa berwarna biru itu. Muncul juga di sini Bangsa Skrull yang sudah pernah muncul juga di film MCU sebelumnya, tapi aku lupa film apa, kalau tidak GOTG ya Thor kayaknya. Sama ada juga Ronan the Accuser, penjahat dalam GOTG 1, muncul lagi dalam film Captain Marvel. Infinity stone yang muncul dalam film ini adalah Tesseract (Space Stone). Selain itu, kita juga bisa melihat Nick Fury, Direktur S.H.I.E.L.D. zaman mudanya dulu serta Agent Coulson yang masih jadi anak baru di bawah Fury. Kalau Agent Maria Hill belum ada sih.

Brie Larson sebagai Carol Danvers/Captain Marvel.

Okay itu tadi pengantarnya ya. Sekarang kita masuk ke film-nya. Aku suka banget dengan film ini, karena menurutku film ini membawa semangat feminisme, mungkin karena itulah film ini sengaja di-launching pada tanggal 8 Maret di Amerika sono, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Walaupun di Indonesia dimajukan 2 hari menjadi tanggal 6 Maret, entah kenapa. Yang aku maksud dengan semangat feminisme di sini misalnya terlihat dari Carol Danvers (Brie Larson) yang diceritakan dari sejak kecil selalu dianggap kurang mampu karena dia perempuan, dibatasi untuk beraktivitas yang dianggap tidak lazim bagi perempuan (dia suka balap mobil di sirkuit), termasuk ketika dia menempuh pendidikan di sekolah calon pilot angkatan bersenjata (air force) pun dia selalu direndahkan oleh rekan-rekan laki-lakinya, dianggap bahwa dia tidak akan mampu.

Setelah dia jadi pilot? Jangan senang dulu, subordinasi dan marginalisasi pun belum berhenti di sini! Carol dan teman pilot perempuannya, Maria Rambeau, masih didiskriminasikan untuk bisa mendapatkan kesempatan terlibat dalam misi-misi penting, sehingga satu-satunya misi yang bisa diikuti oleh kedua pilot perempuan ini adalah misi ilegal yang dilakukan oleh Dr. Lawson (Anette Bening), seorang pilot perempuan juga yang sudah senior. Misi tersebut sebenarnya sudah dibatalkan/dicabut izinnya, tapi Dr. Lawson nekat melakukannya bersama dengan Carol dan Maria. Meskipun berkali-kali diremehkan, direndahkan, tidak dipercaya, serta berkali-kali jatuh, seperti semua perempuan lainnya di dunia ini (yay), Carol selalu bangkit dan berdiri lagi. Mau berapa kalipun jatuh, dia selalu bangkit dan berdiri lagi. Hal ini digambarkan secara visual dalam film, aku sampai menangis terharu, hehehe. Dan pada akhirnya, nyatanya Carol Danvers menjadi superhero terkuat dalam semesta MCU. Dia bahkan bisa memindahkan planet lho.

Ternyata Dr. Lawson bukanlah pilot sungguhan. Dia adalah Bangsa Kree yang menyamar karena suatu misi untuk mengalahkan Bangsa Skrull, musuh bebuyutan Bangsa Kree selama berabad-abad. Tidak hanya berkulit biru (aslinya), bangsa Kree ini juga berdarah biru (literally), ingat kan Yondu dan geng-nya di GOTG. Karena alasan kemanusiaan (mereka bukan manusia sih tapi you know lah what I mean), sesuatu yang lebih besar dari misi itu sendiri, Dr. Lawson pun pada akhirnya malah jadi ingin mengakhiri perang di antara kedua bangsa tersebut. Dia ingin penemuannya digunakan untuk menghentikan perang, bukannya malah memperbesar perang.

Karena “pengkhianatannya” itulah, dia hendak dibunuh oleh Yon-Rogg (Jude Law) atasannya di Pasukan Kree. Namun sebelum dia mati, dia ingin menghancurkan dulu “inti energi” penemuannya supaya tidak disalahgunakan oleh Yon-Rogg. Sayangnya sebelum dia berhasil dia sudah keburu ditembak. Carol yang melihat semua peristiwa itu berniat meneruskan niat Dr. Lawson. Dia meledakkan inti energi yang diinginkan oleh Yon-Rogg, eh tapi yang terjadi malah inti energi itu menyatu dengan tubuh Carol, sehingga Carol menjadi setengah manusia setengah Bangsa Kree, bahkan memiliki kekuatan yang jauh di atas siapapun di Bangsa Kree. Carol pun dibawa pergi oleh Yon-Rogg. Stop! Ntar lama-lama keterusan, malah jadi spoiler aku. Susah ya bikin review film tanpa spoiler, hahaha. Oh ya, nama Dr. Lawson dalam misinya tersebut adalah “Mar-Vell”.

Samuel L. Jackson sebagai Nick Fury.

Semangat feminisme selanjutnya yang aku suka adalah persahabatan yang saling mendukung dan saling menguatkan antara Carol dengan Maria Rambeau. Carol sangat menyayangi dan mendukung Maria sebagai pilot maupun sebagai ibu bagi Monica anak perempuan yang juga sangat dekat dan menyayangi Carol. Sisterhood dan girlpower-nya terlihat banget dalam hubungan mereka bertiga; Carol, Maria, dan Monica. Bahkan Monica yang masih masa remaja awal saja sudah sangat mendukung ibunya dan juga Carol agar menjadi the best version of her self. Sampai pada akhirnya Carol memilih sebuah jalan yang sangat mulia yang membuatnya harus pergi. Itulah kenapa dia tidak terlihat sewaktu terjadi geger Infinity War kemarin. Namun sebelum Carol pergi, dia memberikan pager kepada Nick Fury (Samuel L. Jackson) yang bisa Fury gunakan untuk menghubunginya dalam situasi darurat. Pager ini sudah dimodifikasi sehingga signalnya kuat untuk diterima antar-galaxy. Pager inilah yang kita lihat di post credit title scene Avengers Infinity War sebelum Nick Fury menjadi debu, masih ingat kan?

Semangat feminisme yang berikutnya adalah bagaimana Carol ini berjuang untuk menemukan dirinya sendiri dulu, untuk mengenali dirinya, dan untuk menyembuhkan luka batinnya terlebih dulu, sebelum kemudian dia menjadi berdaya dan menyelamatkan orang lain, bahkan menyelamatkan the whole universe. Dia pun tidak takut untuk mencari bantuan dalam upayanya menyembuhkan luka batinnya. Sounds like a real feminist would do, right?

Beberapa hal yang sangat menarik dalam film ini adalah setting pertengahan tahun 1990an. Itu kan belum terlalu lama ya, jadi kita masih ingat banget kayak apa. Penyewaan film Blockbuster Movies, komputer desktop dengan monitor tabung, file masih disimpan di CD dan loading-nya lama banget, hahaha, permainan dingdong, barang-barang 1990an seperti kotak kaleng tempat menyimpan gambar-gambar, dan juga pakaian mereka pun kita sempat banget mengalaminya—kita, situ aja kali sudah tua—celana jeans yang robek di bagian lutut, kaos, kemeja flannel, jaket kulit/jaket jeans, dan juga tentu saja, pager, seperti yang tadi sudah aku sebutkan.

Bagian menarik selanjutnya adalah Bangsa Skrull yang bisa mengubah bentuk menjadi apapun, dengan syarat dia sudah melihatnya terlebih dahulu. Namun kelemahannya, ketika dia mengubah bentuk (misalnya menjadi manusia) dia hanya bisa meng-copy ingatan-ingatan terakhir dari si manusia tersebut. Sehingga untuk mengeceknya, apakah dia manusia asli atau Skrull, tanyakanlah memori-memori dari masa lalu atau hal-hal personal yang hanya sedikit orang saja yang tahu.

Reggie the Cat sebagai Goose.

Tetapi hal yang nomor satu paling menarik di film ini, kalau menurut aku sih hehehe, adalah kehadiran Goose the Cat, seekor ginger cat yang sangat manis namun sekaligus sangat mematikan, miauw. Goose ini aslinya adalah peliharaannya Captain Marvel, meskipun dalam film dia tampak tidak mengingat Goose. Goose lumayan plays a big role dan menentukan lho dalam film ini. Sebenarnya Goose ini bukan kucing, namun sebangsa alien yang menyerupai kucing yang bernama Fleckern. Meskipun manis dan imut layaknya kucing, namun Fleckern bisa mengeluarkan tentakel yang sangat mematikan. Fleckern juga bisa menyimpan seluruh alam semesta di dalam perutnya, hihihi lucu ya, terdengar seperti Katkat kucingku yang bisa memasukkan makanan apapun ke dalam perutnya, hehehe. Fleckern ini tidak beranak seperti kucing, melainkan bertelur.

Berdasarkan informasi yang aku dapat, Goose ini dimainkan oleh kucing betulan bernama Reggie the Cat dengan 3 ekor kucing lain sebagai stuntman eh stuntcat, hehehe. Pokoknya Goose ini sangat steal the show banget deh. Bahkan selain Goose memiliki poster sendiri, Marvel juga membuat promosi film ini salah satunya dengan live streaming aktivitas Goose selama 1 jam full, hahaha, silakan dicari di Youtube. Juga ada beberapa wawancara dengan Reggie the Cat, sang bintang, miauwww.

Film ini juga akan menjawab rasa penasaran kita kenapa Nick Fury mata kirinya terluka dan ditutup kain. Walaupun di film Captain America Civil War, Fury sudah menjelaskan bahwa itu akibat dia “terlalu mempercayai seseorang”. Nah di film ini akan ada penjelasan detailnya. Juga ada penjelasan kenapa inisiasi Fury mengumpulkan para superhero dia namakan “Avengers” inisiative. Ada semua jawabannya di film ini. Selain itu, akan ada 2 post credit title scene yang salah satunya menghubungkan film ini dengan film Avengers – End Game yang sudah sangat kita nanti-nantikan dan akan tayang di bulan April besok. Ingat ada 2 post credit title scene ya. Jadi pastikan jangan meninggalkan studio bioskop dulu sebelum melihat keduanya. Duh jadi tidak sabar menunggu Avengers – End Game bulan depan, dan juga pengen nonton lagi nih Captain Marvel, hehehe.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *