Cara-Cara Kekerasan Itu Diwariskan Dari Generasi Ke Generasi

Hari kesembilan peringatan 16 Hari Anti-Kekerasan terhadap Perempuan kita masih akan membicarakan seputar isu kekerasan. Tahukah kamu kalau cara-cara kekerasan itu diwariskan? Diwariskan karena cara-cara itu dilihat, dirasakan, diserap, dipelajari, diadaptasi, dan kemudian dilakukan deh, baik sadar maupun tidak sadar.

Kemarin malam, aku diundang untuk mengisi kelas refleksi untuk para koreografer, penari, dan pekerja seni pertunjukan lainnya di kampus ISI Yogyakarta. Awalnya tentu kita buka dengan perkenalan melalui sebuah permainan untuk saling menceritakan diri masing-masing sehingga terlihat bahwa semua orang itu memiliki banyak perbedaan namun sekaligus juga memiliki persamaan, dan semua itu merupakan akibat dari pengalaman hidup yang membentuk kita hingga kita menjadi seperti sekarang ini. Karena kelas refleksi tersebut dimaksudkan untuk membantu seorang koreografer tari menyempurnakan karyanya yang mengangkat tentang isu bullying, maka proses selanjutnya peserta aku minta untuk menggambarkan benda atau sesuatu di 4 kertas yang berbeda warna. Kertas pertama mereka menggambar tentang bullying yang pernah mereka alami, kertas kedua tentang perasaan mereka ketika mengalami bullying, kertas ketiga tentang bullying yang mereka lakukan, dan kertas keempat tentang perasaan mereka ketika melakukan bullying. Para peserta bebas mengekspresikan gambarnya dengan bentuk, garis, warna, atau apapun yang mereka inginkan.

Kemudian masing-masing peserta secara sukarela menceritakan apa yang digambarnya tersebut. Dan ternyata semua orang pernah memiliki pengalaman baik sebagai korban maupun sebagai pelaku bullying yang merupakan bagian dari kekerasan psikis dan/atau fisik tersebut. Tentunya dengan level dan frekuensi yang beragam. Selanjutnya dari cerita-cerita para peserta, kita bersama-sama membahas bagaimana perasaan mereka ketika mengalami bullying. Tercatat di situ mereka merasa sedih, terluka, tidak suka, kecewa, dendam, marah, ingin menangis, dan seterusnya. Kita menyepakati bahwa ternyata perasaan yang ditimbulkan oleh bullying semuanya adalah perasaan yang negatif dan tidak menyenangkan. Lalu aku bertanya kepada peserta, kira-kira bagaimana perasaan orang lain ketika mengalami bullying, apakah kurang lebih sama dengan apa yang dirasakan oleh teman-teman. “Ya,” jawab peserta, dan mereka membayangkan kira-kira seperti itulah perasaan korban bullying, siapapun itu, tidak ada yang menyenangkan sama sekali dari menjadi korban bully.

Lalu kami beranjak ke membahas bagaimana perasaan peserta setelah melakukan bullying. Sebagian ada yang menjawab awalnya senang tapi kemudian takut kehilangan teman, awalnya senang tapi kemudian merasa bersalah, campur aduk antara senang namun sedih, dan sebagian lain menjawab perasaanya tidak suka, marah, sedih, menyesal, merasa kasihan, dan seterusnya. Di sini kami menyimpulkan, ternyata perasaan yang ditimbulkan setelah melakukan bullying pun tidak jauh berbeda dengan perasaan ketika mengalami bullying, sama-sama merupakan perasaan yang negatif. Kalaupun merasa senang itu hanya sesaat saja, setelah itu akan langsung digantikan dengan perasaan-perasaan yang negatif seperti kepikiran, menyesal, dan takut, dan sebagainya. Ternyata baik korban maupun pelaku sama-sama tidak diuntungkan dari peristiwa bullying ini. Korban tentu saja yang paling dirugikan, namun ternyata pelaku pun tidak diuntungkan juga. Dan perasaan yang dihasilkan pun sama-sama negatif. Dalam sebuah peristiwa kekerasan, semua pihak dirugikan dan tidak ada satupun yang mendapat manfaat.

Proses selanjutnya, aku bertanya kepada peserta, “menurut teman-teman, apakah ada hubungannya antara kekerasan yang teman-teman alami dengan kekerasan yang teman-teman lakukan?” Salah satu peserta langsung mengangkat tangan, dia mengatakan, berangkat dari pengalaman bullying yang dia alami, dia di-bully oleh seniornya, dia merasa kesal dan ingin membalasnya, tapi tidak bisa, rasanya seperti ada tembok besar yang menghalangi (ya tentu saja ini berkaitan dengan relasi kuasa), maka yang terjadi adalah dia gantian melakukan bullying kepada juniornya (yang kuasanya lebih rendah). Kemudian dia menyimpulkan, mungkin dulu seniornya juga mengalami bullying dari seniornya yang di atasnya dan merasakan seperti yang dia rasakan, kemudian akhirnya mengadaptasi cara tersebut dan melakukannya pada juniornya alias dia sekarang. Pendapat itu pun diamini oleh peserta yang lain.

Kemudian ada satu peserta yang mengatakan, “tapi kan tujuan bullying itu baik, supaya kita terlecut untuk menjadi lebih baik dan berkarya dengan lebih baik lagi”. Aku katakan, ya semua pelaku kekerasan pasti akan mengatakan bahwa tujuannya baik atau demi kebaikan, kan kita memang sedang tidak bicara tujuan tapi bicara cara-cara mencapai tujuan tersebut (walaupun aku meragukan juga sih kalau tujuannya memang baik seperti yang diakuinya, hehehe). Untuk mencapai tujuan yang baik, ada 2 pilihan cara, yaitu cara yang baik dan cara yang tidak baik (dengan kekerasan). Jadi tinggal dipilih saja, dan dibandingkan mana yang lebih bisa mencapai tujuan tersebut, dan mana yang tidak menyebabkan orang yang bersangkutan tersakiti dan penuh dendam serta kemarahan. Bukankah lebih baik memulai sesuatu dengan semangat dan dukungan daripada dengan dendam dan kemarahan?

Ternyata memang cara-cara kekerasan termasuk bullying itu dipelajari dan diwariskan dari generasi ke generasi. Kita di-bully oleh senior kita, kita sakit hati namun kita tidak mampu/berani membalasnya, kita lakukanlah hal yang sama ke junior kita, kita mem-bully junior kita. Junior kita sakit hati, namun tidak mampu/berani membalas ke kita, akhirnya dia membully junior yang dibawahnya lagi. Begitu saja terus, sampai Thanos menjentikkan jari dan menghilangkan separuh dari penduduk dunia, lho kok ke situ lagi, hehehe.

Tidak, tidak, tidak Esmeralda, tidak harus seperti itu. Kita bisa memotong rantai kekerasan itu, yaitu dengan menghentikannya di diri kita dan tidak mewariskannya kepada orang lain. Kita mendapatkan kekerasan dari senior kita, kita sakit hati, namun kita secara sadar TIDAK MAU meniru atau mengadaptasi cara-cara tersebut kepada junior kita atau kepada siapapun, sehingga cara-cara yang kita lakukan pada junior kita adalah cara-cara yang baik dan nir-kekerasan. Junior kita pun mendapatkan cara-cara yang baik tanpa kekerasan, sehingga dia pun akan memperlakukan juniornya lagi dengan cara-cara yang baik dan tanpa kekerasan. Begitu seterusnya. Cara-cara yang kita wariskan ke generasi-generasi selanjutnya adalah cara-cara yang baik dan tanpa kekerasan. Bisa dibayangkan ketika itu dilakukan oleh banyak orang? Mungkin tidak perlu menunggu waktu lama sampai cara-cara kekerasan itu hilang dari kebiasaan kita dan hanya tinggal dongeng dalam sejarah saja. Amiiinn.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *