Catnip, Tanaman yang Bisa Membuat Kucing Anda Sangat Bahagia

Sebenarnya sudah lama sekali saya mendengar soal catnip ini, sebuah tanaman yang bisa membuat kucing sangat bahagia, bahkan bisa dibilang mereka akan fly atau mabuk kegirangan karenanya. Efek yang ditimbulkan mungkin semacam ganja pada manusia kali ya, eh ganja bikin bahagia ga sih, sok tahu bener aku, hahaha. Sudah lama juga aku ingin menghadiahkan catnip ini pada kucing-kucingku, apalagi kalau mereka sedang sedih atau stres, tapi aku tidak tahu dari mana mendapatkan tanaman ini, soalnya tidak tahu nama versi Indonesianya apa. Pernah nanya ke beberapa petshop, sebagian dari mereka tidak tahu apapun soal catnip, dan sebagian lagi menjualnya tapi sudah dalam bentuk daun yang dikeringkan, semacam teh dalam kaleng gitu, dan harganya mahal sekali. Aku jadi pikir-pikir deh kalau harus mengeluarkan uang banyak-banyak hanya untuk membelikan “ganja” untuk kucing-kucingku, hahaha, sounds wrong ya. Jadi waktu itu aku masih mengira catnip ini adalah tanaman yang langka atau sulit didapatkan, setidaknya di Indonesia.

Hingga sore hari kemarin, ketika suamiku tengah mencabuti rumput di halaman depan rumah kami, tiba-tiba kucing-kucing kami pada berkumpul di salah satu sudut halaman dan mengais-ngais tanah di samping sebuah pot tanaman. Lama mereka berada di situ, kucing-kucing yang awalnya tidak ikut berkumpul di situ pun akhirnya ikut berkumpul juga di situ. Karena penasaran, akhirnya aku lihat ada apa sih di samping pot itu. Ternyata ada tanaman (yang kami kira rerumputan liar) yang baru saja dicabut oleh suamiku. Langsung saja aku ambil tanaman itu dan menaruhnya di lantai, dan benar saja, beberapa kucingku mengendus-endusnya, menghirup-hirup aromanya, menggesek-gesekkan badannya di dekat tanaman itu, dan bahkan Milu mulai mengguling-guling seperti mabuk kesenangan dengan tatapan mata seperti sedang fly, hahaha. Kami langsung meyakini bahwa itu adalah catnip.

Pesta catnip.

Jadi catnip atau Nepeta Cataria adalah tanaman yang berasal dari selatan dan timur Eropa, Timur Tengah, Asia Tengah, Cina, Eropa Utara, Selandia Baru, Amerika Utara, dan apparently, juga Pendowoharjo, Sewon, Bantul, hahaha. Jenis dan namanya sebenarnya bermacam-macam, ada catnip, ada catmint, ada catgrass, ada catswort. Kalau yang kucingku temukan di halaman kemarin nama lokalnya adalah tanaman anting-anting atau ada juga yang menyebutnya tanaman kucing-kucingan (lagi-lagi namanya pun sudah obvious gitu, hehehe). Tanaman-tanaman ini disebut dengan nama cat/kucing karena perilaku intensif kebanyakan kucing terhadapnya. Kebanyakan kucing ya, jadi tidak semua kucing akan bereaksi terhadap catnip ini. Dari 9 kucing di rumah kami, hanya 5 saja yang bereaksi kuat terhadap catnip, sisanya suka tapi biasa saja, tidak heboh. Pas aku cek di internet, ternyata memang hanya 66 % kucing yang akan terpengaruh, sisanya yang 33 % tidak akan terpengaruh oleh tanaman catnip ini, dan perilaku tersebut biasaya turun-temurun, hahaha bisa gitu ya. Dan cocok banget dengan yang terjadi dengan kucing-kucingku, hanya separuh lebih sedikit saja yang bereaksi kuat terhadap catnip, dan ada satu kucing, yaitu Milu, yang reaksinya paling heboh dibanding yang lain. Terus tahu ga sih, ternyata tidak hanya kucing rumahan atau kucing kampung saja lho yang tergila-gila pada catnip ini, tapi teman-temannya yang besar-besar itu juga, seperti macan tutul, cougars, servals, lynxes, harimau, dan bahkan singa, nah lho. Jangan bawa catnip ya kalau ke hutan, nanti catnipnya bisa langsung mereka kunyah-kunyah sekalian dengan kita yang membawanya, hahaha.

Nah ternyata catnip ini memang bermanfaat sebagai rekreasi substansi pemberi kesenangan pada kucing. Umumnya reaksi kucing terhadap catnip adalah menggosokkan diri pada tanaman tersebut, berguling di dekatnya, mengais-mengais, menjilati, dan mengunyahnya. Persis seperti yang dilakukan oleh kucing-kucingku, terutama Milu. Melihat reaksinya yang demikian, kami pun mencarikan lagi tanaman itu yang ternyata ada banyak di pinggir-pinggir sawah di sekitar rumah kami. Kami rasa aroma paling kuatnya terletak pada akarnya, bukan daun atau batangnya. Kami lalu membawa pulang sekitar 5 sampai 7 catnip yang kami temukan di sekitar rumah, dan benar saja, mereka langsung mengerubutinya dan terlihat penuh kebahagiaan, hahaha, lucu sekali, kucing-kucing kami mabuk catnip.

Milu asyik menikmati catnip hingga lupa segalanya.

Mereka terus-terusan mengerubuti catnip yang kami bawa tersebut dan mengguling-guling di dekatnya. Suamiku sampai khawatir, katanya, “apa ga berbahaya itu kalau mereka terus-terusan teler gitu, ntar kalau mereka jadi bego gimana,” hahaha dikiranya manusia. Dan ketika aku cek di internet, dikatakan bahwa ketika kucing terlalu banyak mabuk catnip, efeknya akan mengakibatkan mereka berliur, mengantuk, kecemasan, kegirangan dan purring (mendengkur) secara berlebihan, menggeram, mengeong, menggaruk, dan menggigit pergelangan tangan kita. Hmm terdengar tidak membahayakan, hahaha. Namun setelah beberapa saat (sekitar 15 atau 20 menit), efek memabukkan dari tanaman itu akan segera hilang dan biasanya mereka akan memakan akarnya.

Aku berencana ketika jogging besok pagi, akan aku carikan dan cabutkan lagi catnip-catnip yang ada di sepanjang rute jogging-ku. Apa salahnya kan ya memberi kucing-kucing sedikit kesenangan supaya mereka bisa sejenak melupakan masalah hidup mereka yang berat, seperti mengatasi para haters atau kewajiban mendoakan majikannya agar cicilan KPR-nya lancar, hahaha. Lagian ini kan tanaman, sayur-sayuran, jadi herbal dong, tidak berbahaya, hahaha. Dan sejauh ini mereka kalau teler tidak membahayakan orang lain, eh kucing lain kok, hihihi. Hanya saja ekspresi Milu itu lho yang seolah-olah mengatakan, “I can’t get enough catnip, give me more!!!” Hahaha.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *