Cerita Horor di Malam Hujan Gelap di Desa N

Minggu sore kemarin aku bersama tiga orang temanku naik ke Kecamatan S, Kabupaten G untuk mengadakan diskusi kelas ayah di Desa N yang rencananya akan diselenggarakan selepas Isya nanti dan biasanya akan berakhir sekitar jam sebelas atau setengah dua belas malam.

Sampai di Kecamatan S menjelang magrib kami langsung menuju ke sebuah lesehan penyetan dengan sambal khas terasi jeruk nipis yang rasanya tiada duanya. Laper gengs, dan doyan juga sih. Karena setengah jam kemudian di depan kami sudah terlihat sisa-sisa dari 2 porsi ayam kampung goreng, 1 porsi lele goreng, 4 porsi terong, 1 porsi petai goreng, 1 porsi tahu goreng, dan seteko teh GG khas Kabupaten G yang luar biasa enak tetapi entah kenapa rasanya tidak pernah enak kalau diminumnya di luar Kabupaten G. 

Jam 19.30 kami berangkat menuju Dusun N, Desa N tempat diskusi kelas ayah akan diselenggarakan. Perjalanan ke sana harus melewati jalan yang sepi dan gelap tanpa lampu jalan sama sekali dengan kanan kiri kebun dan tanah kosong. Tidak terlalu jauh sih, tetapi benar-benar gelap dan sepi. Baru setelah melewati pohon beringin besar di samping telaga yang sering kering airnya di musim kemarau, kami memasuki Desa N dan suasana langsung terang dengan lampu-lampu dan aktvitas warga desa.

Lokasi yang kami tuju adalah rumah Pak Dukuh tempat diskusi akan diselenggarakan. Malam itu, di sepanjang jalan menuju rumah Pak Dukuh, banyak warga yang ramai berkumpul di pinggir jalan di depan rumah mereka. “Kok pada ngumpul ada apa ya Pak?” tanya kami ke Pak Dukuh. Pak Dukuh malah belum tahu, dia pun segera keluar rumah untuk mengeceknya. Ternyata ada warga yang baru saja meninggal dunia.

Kami pun duduk di teras rumah Pak Dukuh yang sudah digelari tikar menunggu para peserta diskusi kelas ayah datang, ditemani oleh Pak Dukuh dan Bu Dukuh. Bresss, hujan deras tiba-tiba datang menyamarkan suara kodok yang sedari tadi bernyanyi bersahut-sahutan agak fals.

Kami mengobrol sambil menikmati teh GG dan bakwan goreng yang disediakan oleh Bu Dukuh sambil sesekali mengecek HP kami masing-masing walaupun signal di Desa N timbul-tenggelam. Sekadar untuk mengecek kalau-kalau ada peserta yang mengabari atau untuk mengintip media sosial masing-masing.

Pukul 20.30 peserta belum ada yang datang juga, mungkin karena hujan. Hujan kadang mereda dan kemudian deras lagi, mereda lagi, deras lagi. “Wah ada yang bunuh diri lagi di kecamatan sebelah,” kata Bu Dukuh sehabis melihat Insta Story-nya sambil menunjukkan video ketika si pelaku bunuh diri dievakuasi dari pohon. Hiii, aku langsung menutup mata tidak mau melihatnya, sementara teman-temanku penasaran dan melihat video itu.

Dengan cepat tema obrolan malam itu langsung bergeser ke cerita-cerita seram yang diceritakan oleh Bu Dukuh dan Pak Dukuh. Sialnya horor yang diceritakan adalah horor yang lokal dusun/desa banget yang kejadiannya adalah di tempat-tempat yang nanti akan kami lewati di perjalanan pulang kami menjelang jam 12 nanti. Mana lagi hujan begini pula.

“Saya pernah melihatnya sewaktu saya kecil, bola cahaya yang bentuknya seperti siwur (semacam gayung panjang) yang berputar-putar di udara dan akan berhenti berputar dan bergerak lurus ketika akan jatuh ke rumah salah satu warga. Keesokan harinya salah satu penghuni rumah yang kejatuhan bola cahaya tersebut pasti ditemukan sudah gantung diri,” cerita Bu Dukuh.

“Harus banget ya kita ngobrolin ini sekarang,” kataku. Eh malah Pak Dukuh menambahkan cerita waktu kecil dia mendengar kabar ada tetangganya yang gantung diri. Pak Dukuh kecil lari-lari ingin tahu dan tiba-tiba saja dia terhenti di depan sebuah pohon di mana korban tergantung berada, sudah jatuh melorot ke bawah pula, hiiii.

Mana tiba-tiba aku kebelet pipis dan ingin ke kamar mandi pula. Cerita malah dilanjutkan dengan tukang sate keliling yang magrib-magrib menjajakan dagangan di dekat telaga samping kuburan di desa itu. Dia merasa banyak sekali orang yang membeli satenya dan suasana ramai kayak perumahan dan banyak anak kecil berlarian. Ternyata setelah sadar dia terjebak di tengah kuburan itu, hiiiii. Untung setelah dicek uang yang digunakan untuk membayar oleh para pelanggan misteriusnya itu uang betulan bukan daun atau uang kuno, hihihi. Atau mahasiswa KKN yang jalan-jalan sendirian di daerah situ dan nyasar di kuburan tidak bisa pulang. Aku langsung terbayang detail lokasi itu karena beberapa kali aku melewatinya, meskipun kalau malam tidak berani.

“Waktu itu saya bersama-sama ibu-ibu sini dan juga dua orang bapak berjalan kaki mau menonton pertunjukan wayang,” cerita Bu Dukuh. “Tiba-tiba di jalan kami melihat ada bola api sebesar rembulan besar dengan ujungnya runcing-runcing seperti duri besar.” “Semua orang melihatnya Bu,” tanya saya penasaran. “Iya, kami semua melihatnya,” tegasnya. My God!

Suguhan teh panas dan bakwan goreng segera kandas, entah karena dingin, lapar, atau untuk menghilangkan rasa takut dan merinding. “Tahu daerah di Kecamatan P yang kalian lewati kalau menuju ke sini kan. Saya pernah pulang dini hari lewat situ, dan melihat ada motor parkir di bawah pohon besar dan masih ada tas yang tergeletak di samping motor itu. Ternyata orangnya sudah gantung diri di pohon itu,” Pak Dukuh melanjutkan dengan cerita yang berbeda. “Oh ya, daerah situ kan dulu pernah untuk buang mayat korban pembunuhan yang kasusnya kami dampingi,” sambung temanku. “Daerah mana sih,” tanya temanku yang lain. “Itu lho, yang selalu kita lewati kalau perjalanan ke sini, di perempatan kecil setelah pabrik pengolahan batu itu lho,” jelas temanku yang lain. “Bagooosss, bahas aja terus, lebih detail lagi aja, kenapa ngga sekalian kita mampir aja pulangnya nanti” rutukku dalam hati sambil mengunyah bakwan dan menggigit cabai rawit.

Hujan semakin deras. Aku pura-pura membahas soal program diskusi kelas ayah, maksudnya agar tema segera bergeser. Tapi tidak semudah itu gengs. Pak Dukuh malah bercerita tentang warga dusun yang rumahnya dekat pohon beringin besar tadi, gadis berusia 18 tahun, mati gantung diri. “Rambutnya panjang sekali, segini,” kata Bu Dukuh memberikan tanda dengan tangannya di atas pantat. Terima kasih banyak atas detailnya Bu, batinku sedikit mengumpat. “Tidak ada tanda-tanda apa-apa sebelum dia gantung diri, tidak terlihat dia ada permasalahan atau kejadian apa gitu sebelumnya. Hiiii tiba-tiba merinding aku,” jelas Pak Dukuh sambil bergidik, hiiii.

Salah satu teman kami mengatakan kalau dia jadi ikut merinding. Dia pun tengak-tengok ke belakang dan kemudian berpindah tempat duduk lebih merapat ke kami. “Ngapain sih kamu pakai pindah duduk segala,” protesku karena jadi ikut takut. “Itu lho aku duduknya menghadap cermin.” Kebetulan memang posisi duduknya menghadap pintu rumah Pak Dukuh yang terbuka yang di dalamnya ada cermin besar.

“Dan setelah kejadian itu, suasana desa ini rasanya mencekam. Tidak enak banget rasanya selama 3 bulan, pokoknya kerasa tidak nyaman dan itu sangat bisa dirasakan,” sambung Bu Dukuh. “Saya juga jadi merinding,” kata Bu Dukuh lagi setelah menceritakan hal itu. Hiiiii, kami pun semua jadi ikut merinding. Apalagi membayangkan nanti malam harus melewati lokasi yang diceritakan tadi, di tengah hujan yang gelap pula, naik motor pula. Hiiiiii.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *