Cihuy dan Nyebelin-nya Pilihan Kerja sebagai Freelancer

Setiap pilihan pasti ada cihuy dan ada nyebelin-nya, tidak mungkin lah ada sebuah pilihan yang isinya cihuy doang tanpa ada nyebelinnya. Demikian pula sebaliknya, tidak ada pilihan yang isinya nyebelin doang tanpa ada cihuy-nya. Bisa merusak hukum alam kalau ada yang seperti itu, soalnya, we can’t get it all baby, can we? Kalau nanti pilihan-pilihan itu ada yang lebih banyak cihuy-nya atau lebih banyak nyebelin-nya, ya itu persoalan lain ya, yang jelas kan tetap pasti ada keduanya. Termasuk ketika memilih untuk bekerja secara freelance instead of kantoran, tentu ada cihuy-cihuy-nya dan sekaligus nyebelin-nyebelin-nya. Apa saja? Let’s check it out!

Cihuy #1

Kita bebas mengelola waktu kita sendiri. Tahu ini berarti apa? Kita tidak perlu ikut-ikutan bermacet-macet ria di jam berangkat kantor dan jam pulang kantor. Lebih cihuy-nya lagi, kita bisa nonton di bioskop pada siang hari di hari kerja di saat sebagian orang sedang berada di kantor atau sekolahnya masing-masing, sehingga tidak ada tuh yang namanya antri-antri tiket, harga tiketnya pun lebih murah dibanding weekend. Selain itu, tidak kalah cihuy, kita bahkan bisa ke pantai di hari Senin pagi, dan dijamin serasa the whole beach di-booking untuk kita sendiri, hehehe.

Nyebelin #1

Kalau deadline lagi memasuki masa akhir garis kematiannya, boro-boro ke bioskop atau ke pantai, yang ada kita jadi warga negara kebanggaannya Jokowi yang “kerja, kerja, kerja”. Pagi bangun tidur kerja, siang masih kerja, sore masih kerja, malam masih kerja juga, dini hari eh masih kerja juga. Kerja mulu, kadang sampai lupa makan dan lupa mandi, apalagi nyisir rambut. Di saat-saat seperti ini, kata “free” dalam freelance itu menjadi hanya sekadar mitos belaka. Mau weekdays ataupun weekend, ga ngaruh, tetap saja kita bekerja melulu.

Cihuy #2

Kita bisa mengelola peningkatan kapasitas kita sendiri, memilih hal-hal yang lebih bisa menjaga kreativitas dan inovasi kita, serta mengejar mimpi-mimpi kita sendiri. Karena kita tidak terikat pada visi, misi, tujuan, dan nilai-nilai bos kita, eh salah, kantor kita maksudnya, ups sorry. Ini seperti dua sisi mata uang sih, karena everything is under our own control, jadi semua tergantung kita mau membawanya ke mana. Bisa ke arah yang lebih baik, bisa jalan di tempat, atau bisa juga malah mundur ke belakang. Dengan demikian kita akan terkondisikan untuk lebih bertanggung jawab dan menjaga integritas serta mengembangkan kreativitas soalnya kita menyadari that no one behind us, hehehe.

Nyebelin #2

Ketika ditanya-tanya orang, “kerjanya di mana Mbak?” Kita susah menjelaskannya, dan ketika dijelaskan pun kebanyakan orang tidak akan paham dan malah menyambungnya dengan pertanyaan, “kantornya di mana Mbak?” Haduuuhh. Paling gampang sih jawab saja, “oh saya kerja di rumah Pak,” sambil kita merindukan betapa menenangkannya sebuah identitas bahwa kita tergabung dalam sebuah entitas, bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang berbentuk dan bernama, dan di situ kadang kita merasa sedih, hahaha, apasih.

Cihuy #3

“Easy money, low maintenance, less conflict!” Kenapa bisa begitu? Karena biasanya kerja-kerja yang kita lakukan itu berdurasi pendek-pendek saja dengan pemberi kerja yang berganti-ganti. Karena relasi kerja berlangsung dalam waktu singkat dan pemberi kerja tidak ada tanggung jawab untuk memberi kita gaji bulanan, THR, BPJS, dan fasilitas-fasilitas lainnya, maka fee alias honornya jauh lebih besar, soalnya kan kayak semacam beli putus gitu, jadi lebih mahal dong, hehehe. Low maintenance dan less conflict soalnya hubungan kerja yang pendek membuat kita belum sempat berkonflik eh hubungan kerjanya sudah berakhir, hahaha. Lagian orang kalau baru saja bertemu dan berelasi kan biasanya memang lagi manis-manisnya dan lagi baik-baiknya, belum kelihatan aslinya. Nah di hubungan pekerjaan freelance ini, kita dapat manis dan baiknya doang, karena sebelum sempat memperlihatkan aslinya dan memulai konflik, pekerjaan sudah selesai dan berganti ke pekerjaan selanjutnya, hehehe.

Nyebelin #3

Durasi dan hubungan kerja yang pendek-pendek membuat kita sulit untuk membangun sesuatu di satu tempat atau di satu hal, sehingga kita seakan tidak memiliki “jenjang karir”. Kadang kita juga akan merasa tidak menjadi bagian dari sebuah gerakan besar yang memperjuangkan sesuatu yang berjangka panjang. Hubungan kerja yang pendek-pendek ini juga mengharuskan kita memiliki teman atau circle yang kita bangun sendiri di luar pekerjaan, dikarenakan tidak bakal adanya orang-orang yang “terpaksa” menjadi teman kita karena hubungan pekerjaan atau karena bertemu setiap hari di kantor yang sama, hihihi.

Cihuy #4

Kita bisa sambil mengerjakan project idealis kita sendiri. Karena manajemen, pengambilan keputusan, dan penentuan target ada di tangan kita sendiri. Maka sambil mengerjakan pekerjaan-pekerjaan freelance kita, kita bisa sambil mengerjakan project idealis kita sendiri, karena lagi-lagi tidak ada visi, misi, tujuan, dan target yang dibebankan di pundak kita, ya kecuali yang kita sepakati sendiri, dan yang terpenting, tidak ada supervisor yang mengawasi kita, hahaha. Hal-hal semacam ini tentunya harus dibarengi dengan tanggung jawab yang tinggi serta manajemen waktu, mental, dan energi yang memadai. Kalau tidak, bisa bubar jalan semuanya, hehehe.

Nyebelin #4

Baju-baju modis kita dan alat make up terbaru kita jarang terpakai. Personally, ini yang paling bikin aku sedih, hahaha, ga penting amat yak. Soalnya aku tuh orangnya paling suka dengan rutinitas dress up and put on some make up and go somewhere. Dulu waktu kerja kantoran hal itu bisa aku lakukan setiap pagi, bahkan kadang di malam sebelumnya aku sudah tahu besok mau pakai baju apa, hahaha. Alat-alat make up pun bisa terpakai setiap hari dan itu menyenangkan. Nah sekarang, kerjanya kan di rumah, masa mau dress up dan put on some make up, apalagi Bantul panas banget gini, jelas daster longgar dan no make up at all (bahkan kadang ga nyisir rambut) menjadi pilihan yang paling masuk akal sehari-hari, hahaha. Baju-baju modis dan make up hanya terpakai sesekali saja kalau pekerjaannya mengharuskan kita untuk keluar rumah.

Cihuy #5

Kita bisa ikut kegiatan-kegiatan kampung seperti arisan, dasawisma, kondangan, tilik bayi, dan sebagainya. Yoi, dan itu penting lho, kan katanya think global act local. Kita boleh saja punya keinginan mengubah dunia, tapi mulailah upaya itu dengan memasuki ruang-ruang publik yang paling dekat dengan kita dulu, yaitu, ya itu tadi, arisan, dasawisma, kondangan, tilik bayi, layat, brokohan, dan segudang kegiatan kampung lainnya yang bisa kita ikuti dengan senang hati tak peduli mau hari apa dan jam berapa, hahaha.

Nyebelin #5

Momen makan siang menjadi momen yang biasa-biasa saja dan tidak ada istilah kabur setelah makan siang atau makan siang yang diperpanjang. Jujur saja waktu aku kerja kantoran dulu, momen paling favoritku adalah jam makan siang, di mana kita bisa berkumpul bersama teman-teman, makan bareng sambil saling bercerita dan tertawa ngakak-ngakak. Atau kalau pas makan siangnya di luar kantor, kita bisa memperpanjang jam makan siang kita atau bahkan kabur sejenak, dengan berbagai alasan yang dibuat-buat, hahaha. Pas sudah kerja freelance, makan siang ya di rumah dengan para meong, mau kabur ke manapun juga atau mau diperpanjang sampai besoknya pun juga tidak apa-apa, bebas! Tapi justru di situlah jadi tidak serunya, karena tidak ada lagi tantangannya, hahaha.

Cihuy #6

Kita bisa memilih hari libur kita sendiri, bisa bangun siang, dan tidak perlu mandi pagi. Libur di hari Sabtu dan Minggu? Terlalu mainstream saudara-saudara! Ketika bekerja freelance, kita bisa memilih sendiri hari libur kita, dan tidak harus Sabtu dan Minggu, bebas! Aku sih biasanya suka libur di hari Senin dan Selasa biar anti-mainstream, hahaha. Selain itu, mau bangun jam berapapun bebas, mau tidur jam berapapun juga bebas. Kerja sampai jam 3 dini hari? Tidak usah khawatir keesokan harinya akan ngantuk sepanjang hari, kan bangunnya saja sudah jam 9, hahaha. Begitu juga dengan mandi, tidak harus mandi di pagi hari lho, mau kerja dulu baru mandinya nanti siang boleh, mandinya sore boleh, nggak mandi juga boleh kalau tega sama partner serumahmu, hahaha.

Nyebelin #6

Tidak ada rekan kerja untuk berbagi pemikiran, gagasan, atau impian. Memang ada whatsapp dan berbagai media sosial lainnya untuk berbagi dengan teman-temanmu sih, tapi kadang kurang bisa nyambung karena konteksnya sudah berbeda. Kalau dulu waktu kerja kantoran kan, karena program yang sama juga visi, misi, dan tujuan yang sama, kita bisa saling berbagi pemikiran, gagasan, dan impian dengan rekan kerja kita untuk menyukseskan program atau pekerjaan kita itu, juga inovasi-inovasi baru yang bisa saling melengkapi. Kalau sekarang lebih seringnya begini: aku bercerita tentang pemikiran, gagasan, dan impianku pada temanku, dan temanku bercerita tentang pemikiran, gagasan, dan impiannya padaku. Jadi hanya saling bercerita saja, tidak berbagi, huhuhu. Ya kadang masih bisa berbagi sih, tapi jauh lebih jarang dibanding dulu, karena sudah beda konteks dan sudah masing-masing.

Cihuy #7

Kita bisa memilih playlist di mp3 player kita sesuka-suka kita atau memakai headphone sepanjang waktu tanpa harus merasa tidak enak dengan teman-teman seruangan kita. Dulu waktu masih kerja kantoran aku jarang muter mp3, karena khawatir teman-teman seruanganku tidak suka dengan daftar lagu yang aku pilih. Kayaknya sih memang bakal tidak akan suka, secara gitu lho, ada yang suka dangdut panturaan, ada yang suka lagu pop kekinian, sementara aku masih stuck dengan lagu rock and roll tahun 70an dan 80an. Jelas susah ketemu dengan dangdut panturaan, pop kekinian, apalagi lagu-lagu Korea, hehehe. Kalau mau pakai headphone ya nggak enak lah, ntar kalau mereka mau ngajak ngomong aku gimana dong. Lagian pakai headphone itu kayak semacam pernyataan kalau kita lagi on my own banget dan tidak mau diganggu. Nah aku tidak suka seperti itu, hehehe. Kalau sekarang sih, mau muter lagu-lagu Queen 15 album diulang-ulang seribu juta kali juga bodo amat, tidak ada yang keberatan, karena yang dengerin cuman aku saja, ya sama kucing-kucing sih, tapi sepertinya mereka asyik-asyik aja tuh, hehehe.

Nyebelin #7

Kalau tidak memaksa diri untuk olahraga, bisa-bisa kita jadi lemas dan stamina kita menurun drastis karena jarang bergerak dan malas keluar rumah kalau tidak ada keperluan. Yes, ini adalah masalah besar bangsa kita hari ini, kurang bergerak! Apalagi dengan ukuran rumahku yang hanya 10 x 10 meter saja, praktis aktivitas bergerakku hanya dari depan laptop ke kamar mandi berjarak 3 meter, ke dapur bikin kopi berjarak 4 meter, ngangkat jemuran ke halaman depan berjarak 6 meter, dan ngasih makan kucing di halaman belakang berjarak 7 meter. Kalau tidak dipaksakan bangun jam 6 pagi untuk jogging (padahal tidurnya jam 2, hiks) bisa-bisa tubuhku ntar jadi jauh lebih tua dari pikiran dan perasaanku, hehehe. Poin ini sekaligus mementahkan cihuy #6 di atas tadi yang mengatakan bisa bangun siang, karena ternyata nggak bisa, karena harus jogging, hahaha.

Sementara itu dulu ya, besok-besok aku tulis lagi sambungannya. Tapi itu hanya berdasarkan pengalamanku saja lho. Belum tentu kenyataan yang kamu rasakan seperti itu. Ingat, jangan percaya begitu saja semua yang kamu lihat, baca, atau dengar di Internet, hehehe.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *