Cintai Dirimu dan Orang-Orang di Sekelilingmu: Sebuah Pendekatan Appreciative Inquiry

Kebetulan hari ini saya ikut diskusi kelas ayah di Desa Jetis, Saptosari, Kabupaten Gunungkidul. Diskusi ini merupakan program penguatan ketahanan keluarga yang dilakukan oleh lembaga yang kebetulan saya aktif di dalamnya. Ada yang menarik di dalam proses diskusi ini. Bapak-bapak fasilitator komunitas (fasilitator yang berasal dari komunitas mereka sendiri) selalu memulai dengan berbagai pertanyaan positif. Seperti yang terjadi pada sesi ini, fasilitator komunitas sebut saja Pak Ahmad bertanya tentang: “Hal apa yang disukai dari pasangan Anda?” Pertanyaan ini terkesan sederhana namun tidak semua orang mudah lho menjawabnya. Saya mulai melihat beberapa peserta, mengerutkan kepala, bersorak gembira, malu, bahkan ada yang mulai bingung. Hal ini terpancar dari raut-raut wajah peserta dalam dinamika forum tersebut.

Saat tiba saatnya menjawab, salah satu peserta sebut saja Pak Amin, memulainya dengan jawaban hal yang tidak disukai dari pasangannya. Katanya, “saya paling tidak suka kalau istri saya menuntut, banyak ngomong”. Namun ketika giliran mesti menyebutkan hal yang disuka dari pasangannya, Pak Amin mulai sulit menjawabnya. Setelah beberapa saat berpikir, Pak Amin mengatakan, “oh ya, yang saya sukai dari istri saya adalah dia itu neriman (menerima apa adanya). Pertanyaan ini pun berlanjut ke para peserta kelas ayah yang lain yang kurang lebih sama dengan Pak Amin, mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan yang diajukan.

Namun dalam prosesnya kemudian, para ayah tersebut mulai berpikir dan pada akhirnya menemukan jawaban mereka masing-masing. Di antaranya seperti, istri saya masakannya enak, setia, menerima apa adanya, jujur, terbuka, dan bisa saling kerja sama. Saya jadi berpikir, kira-kira istri-istri mereka tahu tidak ya jika hal-hal tersebut ternyata disukai oleh suami-suami mereka. Saya juga membayangkan, jika saja istri-istri mereka mendengar pengakuan yang dikemukakan oleh suami-suami mereka ini, mereka pasti akan merasa senang dan terharu. Bisa jadi kan dalam relasi antar-suami-istri sehari-hari, ungkapan-ungkapan semacam itu jarang dilakukan atau bahkan tidak pernah sama sekali. Padahal sangat penting lho kita mengapresiasi diri kita sendiri maupun orang yang ada di sekitar kita.

Hal yang kedua yang saya pikirkan dalam situasi di atas adalah ketika fasilitator komunitas menanyakan hal yang positif kenapa yang muncul justru jawaban negatif. Mereka bertanya tentang apa yang disukai, kenapa yang muncul malah yang tidak disukai. Hal semacam ini tidak hanya terjadi di forum yang saya ceritakan ini saja lho. Beberapa kali saya terlibat memfasilitasi forum dan menanyakan hal-hal positif, misalnya tentang apa hal baik yang terjadi dalam kehidupan Anda, kesuksesan Anda, atau potensi Anda. Banyak orang tidak mudah menjawabnya. Sebaliknya orang akan mudah menjawab pertanyaan seputar apa masalah hidup Anda, apa masalah dalam pekerjaan Anda, dan apa masalah yang terjadi dalam keluarga Anda. Untuk jawaban seputar masalah, kita punya jawaban seabrek. Kira-kira mengapa sih pertanyaan positif lebih susah untuk dijawab dibanding dengan pertanyaan negatif? Why? Kita akan coba bahas situasi ini ya.

Ini adalah soal cara berpikir, cara pandang yang mempengaruhi pilihan-pilihan sikap, perilaku, bahkan pilihan bahasa. Selama ini kita biasa dengan cara berpikir masalah dibanding dengan cara berpikir potensi. Karena apa? Karena cara berpikir kita didominasi oleh wacana defisit, yakni wacana yang lebih sering memandang sisi negatif dari suatu hal. Coba saja, apa sih yang biasa kita bincangkan dengan pimpinan kita, rekan kerja kita, keluarga kita, forum rapat, forum kerja, forum arisan, atau dengan pasangan kita? Sisi positif atau negatif? Kekuatan atau kelemahan? Kelebihan atau keburukan? Umumnya, kita lebih banyak membicarakan hal negatif, masalah, keburukan, dan hal-hal yang tidak menyenangkan lainnya. Sebaliknya kita sangat sedikit membicarakan hal positif, kekuatan, kesuksesan, serta impian masa depan. Wacana defisit ini kemudian akan sangat mempengaruhi alam bawah sadar kita sehingga pilihan-pilhan sikap yang kita ambil pun lebih banyak yang negatif.

Hal ini juga ada kaitannya dengan proses belajar kita selama ini. Cara belajar pendidikan kita sejak kita TK, SD, SMP, bahkan SMA lebih mengedepankan otak kiri dibanding otak kanan. Kita lebih banyak diasah dengan cara berpikir menganalisis dan menyelesaikan persoalan dibanding mengolah rasa dan belajar soal seni. Hal ini kemudian berpengaruh besar terhadap bagaimana cara berpikir kita yang jauh lebih dominan menggunakan otak kiri dibanding otak kanan. Cara berpikir ini juga berimplikasi terhadap cara pandang kita melihat persoalan di sekeliling kita. Melihat dengan kerangka masalah, melahirkan sikap defensif atau saling tuding, lempar tanggung jawab, atau mencari kambing hitam. Membuat orang tidak percaya diri melakukan tindakan positif karena orang akan selalu dilihat dari sisi kelemahan maupun kekurangannya, jarang melahirkan visi baru karena terfokus pada kenyataan yang tengah terjadi dan jarang merefleksikan tujuan. Seringkali upaya penyelesaian persoalan tidak pernah benar-benar menyelesaikan, hanya memindahkan persoalan, dan bahkan memunculkan persoalan baru.

Hal ini juga akan mempengaruhi cara kerja di dalam organisasi atau bahkan ketika membuat perencanaan program. Saya pernah terlibat dalam forum perencanaan bersama komunitas dalam sebuah organisasi. Ketika membuat perencanaan program selalu dimulai dengan apa masalahnya dan bagaimana solusinya? Dengan pertanyaan semacam itu, saya yakin kita akan mendapatkan jawaban yang sangat banyak sehingga membuat kita bingung mau menggarap yang mana dulu. Hal lain yang terjadi saat merancang program adalah mengandalkan hapalan program apa yang biasa dilakukan sebelumnya. Hal yang sama itulah yang akan dilakukan di tahun yang sekarang, dan bahkan di tahun-tahun selanjutnya, berulang-ulang melakukan hal yang sama.

Jika dilihat dari gambaran ini, wacana yang dibangun adalah menggunakan pendekatan masalah, terfokus pada kenyataan yang ada tanpa melihat kembali tujuan, visi, atau situasi yang terjadi. Sehingga program yang berjalan adalah berdasarkan kebiasaan tanpa merefleksikan visi besar organisasi atau tujuan jangka panjangnya. Alih-alih merefleksikan tujuan, bahkan sangat sedikit juga yang dengan optimal melakukan evaluasi program untuk medapatkan pembelajaran. Yang terjadi akhirnya ya hanya business as usual saja, rutinan program maupun kegiatan yang sama setiap tahunnya di dusun maupun di desa. Pengalaman yang saya ceritakan ini merupakan salah satu gambaran bagaimana wacana defisit itu berkembang di mana-mana.

Wacana defisit yang demikian luas menuntut kita untuk melakukan loncatan kesadaran menuju wacana apresiatif. Kesadaran apresiatif ini perlu dibangun. Baik dalam proses mengapresiasi diri, berelasi dengan orang lain, maupun dengan lingkungan sekitar. Pendekatan apresiasi akan membantu melatih cara berfikir positif, membincang kelebihan dibanding kelemahan, dan tentu saja membahas potensi yang terdalam yang dimiliki oleh manusia. Dari pertanyaan positif yang diajukan, sebenarnya ada yang sedang dibangun. Menanyakan hal positif untuk diri sendiri maupun orang-orang di sekitar kita. Pertanyaan positif ini sebenarnya adalah soal prinsip apresiasi. Prinsip mengapresiasi seseorang, menghargai, melihat potensi, kekuatan, serta kesuksesan yang ada dalam diri seseorang. Pendekatan ini disebut pendekatan Appreciative Inquiry.

Apresiatif secara harfiah berarti menyadari kehebatan, kekuatan, potensi, menghargai sesuatu, memberikan nilai tambah, atau mengambil pelajaran. Sedangkan Inquiry bermakna menanyakan atau terbuka dalam melihat potensi, tindakan untuk mengeksplorasi sesuatu, maupun tindakan untuk menemukan sesuatu.

Bagaimana sih cara menggunakan pendekatan ini? Kita bisa menggunakannya dengan mulai memiliki cara pandang apresiatif, yaitu bertanya hal yang positif atau menemukan kisah-kisah inspiratif. Cerita tentang kehidupan seseorang punya daya magis tersendiri, menyentuh sisi emosi, dan menggugah kesadaran manusia. Ini tentang bagaimana kita belajar dari proses yang dialami, dan menemukan pembelajaran terbaik yang pernah dilalui. Mungkin proses ini agak susah dibayangkan, tapi sangat bisa dilakukan, dan bahkan hasilnya akan sangat luar biasa.

Bagaimana kita bisa mengambil kisah inspiratif itu dari orang-orang di sekeliling kita? Bagaimana kisah itu bisa menjadi energi positif? Yang bisa kita lakukan adalah mengapresiasi setiap kehidupan yang terjadi pada manusia. Apresiatif berarti menghargai, memberi nilai tambah, dan mengambil pembelajaran. Praktik apresiatif akan membuat kita menjadi makhluk yang menghargai segala sesuatu, termasuk menghargai hal-hal kecil di sekeliling kita. So, mari kita mulai dengan mencintai dan mengapresiasi diri kita sendiri dulu, kemudian mari membangun cara pandang apresiatif di manapun kita berada. 

Ani Rufaida

Ani Rufaida

Suka jalan-jalan, suka nongkrong dan ngobrol-ngobrol santai tentang kehidupan. Ibu dari satu anak laki-laki ini juga punya concern serius di isu perempuan dan anak. Community organizer penyuka kucing yang suka mendengarkan cerita dari masyarakat yang didampinginya.
Ani Rufaida
Bagikan:

Ani Rufaida

Suka jalan-jalan, suka nongkrong dan ngobrol-ngobrol santai tentang kehidupan. Ibu dari satu anak laki-laki ini juga punya concern serius di isu perempuan dan anak. Community organizer penyuka kucing yang suka mendengarkan cerita dari masyarakat yang didampinginya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *