Cintai Dirimu Dulu Baru Kamu Bisa Menjalin Hubungan yang Sehat dengan Orang Lain

Ini terdengar klise ya, tapi kalau bagiku sendiri, butuh waktu bertahun-tahun lho, bahkan menghabiskan masa-masa remaja dan dewasa awalku untuk benar-benar figuring it out, benar-benar memahami apa maksud dari kalimat tersebut. Aku remaja dulu ga seasyik aku pasca-remaja sekarang (dih, pasca-remaja). Aku remaja dulu, mungkin seperti kebanyakan remaja sekarang, atau engga, semoga engga sih, lebih banyak menghabiskan waktu untuk merasa galau pengen merasa dicintai instead of mencintai diriku sendiri dan mengembangkan potensi-potensiku. Kalau diingat-ingat sekarang sih ya, rasanya menyesal ya, betapa banyak dulu waktu yang terbuang percuma untuk galau berharap mendapatkan cinta, mempunyai pacar, mendapat perhatian, instead of melakukan sesuatu yang bermanfaat, mengembangkan diri, melakukan sesuatu yang menyenangkan seperti lebih banyak membaca buku, menonton film, mendengarkan musik, menulis, dan lain-lain.

Padahal sekarang pengen melakukan itu semua, waktunya terbatas banget, gara-gara sudah punya tanggung jawab harus membangun kehidupan dan membiayainya. Kalau dulu kan belum ada tanggung jawab sebesar itu ya. Rasanya pengen mengambil kembali waktu yang dulu aku habiskan untuk bergalau-galau ria dan memanfaatkannya dengan hal-hal yang lebih berkualitas dan berfaedah yang sekarang aku sering tidak ada waktu melakukannya. Hahaha, iya sekarang mah bisa mikir gitu, dulu hadn’t get any clue at all, habis dulu nggak ada yang ngasih tahu sih, hahaha, tuh kan nyalahin situasi lagi. Engga ding, namanya juga proses ya. Walaupun tetap, kadang sampai sekarang aku sering berpikir, I wish I knew better.

Jadi buat para remaja nih ya yang baca tulisan ini (walaupun aku yakin nggak ada, paling yang baca cuman orang-orang segenerasiku, hahaha). Believe me girls, don’t waste your times hoping boys to love you. Love your self! You are fabulous with or without them, exclamation point, hahaha. Lagian ya, kalau dipikir-pikir sekarang, kita kan bakalan punya waktu, like a whole life gitu alias sepanjang hidup kita, untuk ngurusin soal cinta romantis dan segala tetek bengeknya itu, ngapain coba buru-buru mikirin soal itu dari sejak remaja, entar-entar aja lah! Sayang banget kan waktunya, mending dinikmatin untuk melakukan hal-hal yang ketika kita sudah dewasa nanti kita tidak akan bisa melakukannya lagi. Iya nggak? Yes I know, sekarang aja aku ngomong gitu, kalau dulu mah enggak banget lah, hahaha.

Jadi bahkan sejak SD berlanjut ke SMP dan SMA aku selalu galau dan galau dan galau, berharap ada cowok yang memperhatikan aku dan mencintai aku, dih. Kayaknya hidupku pada waktu itu fokusnya ke situ banget, sehingga aku melewatkan banyak kesempatan emas yang ada di hadapanku, hanya karena fokusnya pengen punya cowok, hahaha. Waktu itu, hal itu kayak penting banget gitu. Mungkin karena peer pressure atau karena pengaruh komik-komik cantik dan film-film romantis yang dulu aku konsumsi, hahaha. Dan mungkin karena aku jadi sangat needy dan pathetic gitu pada waktu itu, cowok-cowok juga jadi males kali ya jadi pacarku, hahaha. Terus hal itu membuatku jadi semakin tidak percaya diri, sedih, dan merasa diri tidak layak dicintai. Remaja sekarang masih mengalami problematika semacam itu nggak ya? Kayaknya sih masih, berdasarkan pengamatanku ketika mendampingi banyak kelompok remaja dari berbagai daerah waktu aku masih kerja di LSM kemarin.

Pada akhirnya justru pacar itu akan datang sendiri ketika aku sudah tidak needy and pathetic! Ketika aku sudah mencintai diriku sendiri, dan sudah fokus untuk mengembangkan diri dan mengejar hal-hal yang bermanfaat dalam hidup, seperti berorganisasi, belajar hal-hal baru, banyak membaca buku, dan menikmati waktu bersama teman-teman. Mungkin hal-hal seperti itu justru membuat cewek jadi terpancar rasa percaya dirinya sehingga jadi terlihat menarik ya, dibanding ketika dia needy and desperately wanted to be loved. Pada akhirnya cowok-cowok itu datang sendiri dan tidak hanya satu, tapi banyak, hehehe, ketika kita mencintai diri kita, menjadi diri sendiri, fokus mengembangkan diri kita, dan terlihat enjoy with our selves. Tapi aku tahu sih tidak mudah bagi para remaja perempuan untuk bisa seperti itu, mengingat konstruksi yang ada selama ini, dan juga dongeng/bacaan/tontonan yang disediakan buat mereka, seperti yang sudah aku bahas di tulisanku beberapa hari yang lalu. Orang aku saja, baru sekarang aja giliran sudah tua bisa ngomong begitu, lha dulu waktu remaja, ya itu tadi, galau, needy, and desperately wanted to be loved, hahaha. Makanya aku bilang, I wish I know better.

Jadi ingat kata-kata Carrie Bradshaw di episode terakhir serial Sex and The City yang sudah aku tonton seribu juta kali. Carrie bilang gini: “But the most exciting, challenging, and significant relationship of all is the one you have with your self. And if you can find someone to love the you you love, well, that’s just fabulous!” Jadi setelah Carrie dan ketiga temannya melalui banyak sekali pengalaman terkait cinta dan relationship yang sangat beragam, pada akhirnya dia menyadari bahwa relationship yang paling menarik, menantang, dan signifikan dari semua itu adalah relationship kita dengan diri kita sendiri. Dan jika kita bisa menemukan seseorang yang mencintai diri kita yang kita cintai itu, itu yang keren banget. Dan memang pada akhirnya sih aku menemukannya, seseorang yang mencintai aku yang aku cintai, eaaa. Tapi itu setelah aku bisa menjalin relationship yang baik dengan diriku sendiri, yes!

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *