Curhat Tidak Sama Dengan Tidak Bersyukur

Pernahkah kalian secara periodik mengalami ketidakpuasan dalam hidup (tidak secara keseluruhan sih mungkin hanya beberapa bagian dalam hidup saja), sehingga rasanya kita ingin mencurahkan semua perasaan dan kekhawatiran itu kepada orang lain, bisa kepada pasangan kita atau teman kita. Kita ingin menceritakan semua yang membuat kita sedih, cemas, khawatir, bingung, galau takut. Misalnya, kok rasanya aku masih begini-begini saja ya, tidak banyak melakukan sesuatu yang bermanfaat, kok rasanya aku terlalu banyak membuang-buang waktuku ya, kok aku merasa aku harus menemukan sesuatu yang membuat hidupku lebih bermakna, memberiku lebih banyak alasan untuk bangun di pagi hari.

Atau apa sih yang sebenarnya selama ini aku lakukan, kok terasa tidak mengarah ke mana-mana, apa aku terlalu banyak bermalas-malasan, terlalu banyak bersenang-senang. Bagaimana dengan masa depanku, aku belum melakukan ini, belum melakukan itu, belum menghasilkan ini, belum menghasilkan itu, belum pergi ke sini, belum pergi ke sini. Aku akan diingat dengan cara seperti apa, aku akan dikenal sebagai apa, apa yang ada dalam pikiran orang ketika mendengar namaku? Apa yang sudah aku sumbangkan untuk dunia ini, untuk orang lain?

Pernahkah kalian dihantui oleh pikiran dan perasaan seperti itu? Merasa seperti tengah ada di persimpangan jalan. Ya tentu saja tidak sepanjang waktu selalu merasa seperti itu, tapi ada masa-masa perasaan dan kekhawatiran seperti itu datang. Pernahkah?

“Mungkin ukhti kurang bersyukur, terlalu banyak maunya, coba sekali-sekali uhkti melihat ke bawah, maaf hanya sekadar mengingatkan.” Alhamdulillah sih aku tidak punya teman yang seperti itu ya, hehehe, soalnya it’s not that, you know. Plus apakah kata-kata seperti itu akan membuat orang yang sedang galau ini merasa lebih baik, atau malah merasa terhakimi? Kalau menurutku sih yang kedua ya, dan bisa jadi malah menjadi semakin galau dan semakin merasa meaningless, alih-alih menemukan insight.

“Ukhti terlalu membandingkan diri ukhti dengan Captain Marvel, mungkin bisa diperbanyak ibadahnya, sekali lagi, sekadar mengingatkan saja ukhti” atau “saatnya ukhti berhenti memikirkan diri sendiri dan lebih banyak memikirkan orang lain, perbanyak sedekah ukhti supaya hidup ukthi lebih tenang, lagi-lagi, sekedar mengingatkan ukhti” atau “mungkin ukhti kurang piknik”. Arrggghhhhhh (langsung lompat dari jendela lantai 25, hahaha).

Aku tidak punya teman-teman yang seperti itu sih (sekali lagi Alhamdulillah, berarti circle-nya se-frekuensi, hehehe), cuman aku sering membaca hal-hal semacam itu di timeline Facebook, hihihi. Don’t get me wrong ya, mengingatkan orang untuk beribadah dan bersedekah tentu tidak salah, malahan sangat benar. Tapi coba renungkan, ketika temanmu sedang mengalami kegalauan tentang apa yang dia ingin lakukan dalam hidupnya, ketika dia ingin mencari sesuatu yang dia sendiri masih bingung mendefinisikannya, kalau menurutku sih, didengarkan, didukung, dipahami akan lebih melegakan hati ya dan memberikan insight serta inspirasi yang dibutuhkannya, dibandingkan dengan dihakimi dan disalahkan bahwa selama ini dia kurang bersyukur, kurang beribadah, dan kurang bersedekah.

Tahu dari mana kalau temanmu itu kurang bersyukur, kurang beribadah, dan kurang bersedekah. Bukankah itu adalah hal-hal yang hanya Tuhan dan yang bersangkutan yang tahu. Lagian bentuk syukur, ibadah, dan sedekah itu kan banyak banget ya. Plus itu adalah sesuatu yang sangat personal. Lha wong tangan kanan memberi saja tangan kiri tidak boleh tahu, jangankan orang lain atau malah jagat semesta dunia maya, hahaha. Jadi aku kebayang deh, kalau lagi curhat-curhat tentang menemukan arah dan arti hidup, eh malah dihakimi seperti itu, pasti akan awkward moment, krik-krik-krik. Plus aku yakin psikolog pun tidak akan menyarankan demikian, karena mungkin yang tengah dialami oleh temanmu itu adalah masalah mental health, dan itu adalah sesuatu yang berbeda dengan tidak bersyukur.

Mental health itu tidak selalu disebabkan oleh hal-hal yang terjadi baru saja, bisa saja itu diakibatkan oleh hal-hal yang terjadi di masa lalu yang sudah lama sekali. Ya sama saja dengan physical health lah ya. Misalnya saja aku dulu sejak SMA dan kuliah suka diet tidak beraturan dan minum kopi bergelas-gelas dalam sehari, akibatnya sekarang lambungku kadang bermasalah (GERD). Jadi penyebabnya bukan sesuatu yang aku lakukan tadi pagi kan, tapi banyak hal yang aku lakukan dulu di masa lalu, walaupun kalau pemicunya bisa saja karena tadi pagi aku tidak sarapan. Demikian juga dengan mental health, ketika sekarang tiba-tiba bermasalah, bisa jadi sebabnya adalah dari hal-hal yang terjadi di masa lalu yang mungkin bahkan kita sudah tidak ingat, termasuk apa yang kita alami ketika kita masih dalam kandungan pun juga bisa menyebabkan kita membawa luka batin sampai dewasa.

Well, sounds like a little bit of understanding won’t hurt anybody right. Bisa jadi temanmu itu sedang dalam proses bermetamorfosis, dari ulat menjadi kepompong dan kepompong ini sebentar lagi akan pecah dan keluar menjadi kupu-kupu. Dukungan dan pengertian tentu akan lebih bisa membantu dia kan daripada menghakimi dan menyalahkan dia kenapa dia jadi kepompong dan belum keluar dari cangkangnya. Dan satu lagi, hidup ini adalah siklus yang akan terus berputar. Jadi walaupun kita sudah pernah jadi kupu-kupu pun, besok-besok kita akan jadi ulat lagi dan jadi kepompong lagi, kemudian jadi kupu-kupu lagi, dan jadi ulat lagi dan jadi kepompong lagi. Demikian seterusnya. Begitulah siklus kehidupan. Jadi hadiah yang paling besar yang bisa didapatkan oleh seorang manusia, menurutku, adalah mendapatkan orang-orang yang mencintainya, memahaminya, mendukungnya, dan terus menemaninya tanpa syarat selama proses-proses ulat-kepompong-kupu-kupu-ulat-kepompong-kupu-kupu yang dijalaninya sepanjang hidupnya itu.

Jadi curhat itu tidak sama dengan tidak bersyukur ya. Bahkan itu tidak ada hubungannya. Curhat itu berarti temanmu mempercayaimu menjadi bagian dari proses-proses hidup yang tengah dia jalani. Curhat itu berarti dia mempercayai bahwa kamu bisa menjadi bagian dari insight dan inspirasi yang tengah dia cari. Hal itu juga berarti bahwa bahkan hanya kehadiranmu saja, being there, and listen to her without any judgement and blaming, itu sudah seperti secercah cahaya di lorong gelap dan panjang atau oase di padang pasir yang luas. Bisa jadi penerimaan dan cinta tanpa syaratmu itu, serta insight dan inspirasi yang kamu berikan akan menyelamatkan dan mengubah hidupnya selamanya, and that’s what she needs, that’s just what she needs!

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *