DAY 472

Wow it’s been a year! More than a year.

Nggak terasa. I survived 2020. Dalam konteks saya masih hidup dan belum terpapar COVID-19, saya berterima kasih pada Tuhan. Tapi dalam konteks saya mampu melewati semua hal yang terjadi di 2020, I thank to myself. 

Sebagai seseorang yang sejak kecil selalu menjadi “sesuatu”, tidak menjadi siapa-siapa itu berat. Lepas dari afiliasi organisasi manapun dan berjalan sendiri itu berat. Tapi, saya rasa jauh lebih berat di masa-masa 2014-2019 di mana saya menemukan justru di tempat yang saya bayangkan akan menjadi wadah yang nyaman untuk berkembang, saya harus berjuang untuk menghadapi sesuatu yang dulu tidak pernah saya temui. Berjuang melawan orang-orang yang toksik, berjuang mengembalikan lagi rasa percaya diri, berjuang untuk percaya bahwa saya memiliki kemampuan, serta berjuang untuk keluar dari lingkaran tersebut. 

Tidak banyak yang tahu, bahwa selama 5 tahun itu saya berjuang untuk menemukan diri lagi. Berjuang untuk merengkuhnya kembali dan mendapatkan kembali kekuatan yang dulu pernah saya punya. Di antara hiruk pikuk pekerjaan dan gelak tawa, sesungguhnya ada saya yang sedang mengalami insecurity. Ada saya yang sedang mengalami ketidakpercayaan diri. Ada saya yang sedang mempertanyakan diri sendiri, benarkah saya seperti yang disebut-sebut itu? Benarkah saya sesungguhnya tidak mampu? Tidak kapabel? Hehehe, nggak nyangka kan?

Saya sendiri juga tidak menyangka akan mengalami itu di tempat yang sesungguhnya ingin saya panggil rumah. Tapi ternyata tidak. Rumah adalah tempat di mana kita menerima kesalahan sebagai bagian dari proses belajar. Rumah adalah tempat di mana semua memiliki ruang untuk bersuara dan didengarkan. Tempat itu bukan rumah saya. Untukmu, mungkin iya. Tapi saya tidak. 

Tidak banyak yang tahu juga bahwa saya mengalami semacam keraguan akan apa yang saya lakukan. Di saat hampir semua rekan kerja memiliki keyakinan akan apa yang sedang mereka perjuangkan, saya mempertanyakan diri sendiri. Saya melewati hari-hari yang penuh dengan keengganan. Enggan datang ke kantor, terlibat dalam sesuatu yang sama sekali berbeda, menghabiskan waktu dengan melakukan hal-hal di luar pekerjaan, sampai mengulur deadline. Iya, saya tahu, sangat kontra-produktif, kan? Seharusnya saat itu saya mencari pertolongan. Tapi saya tahu, di posisi saat itu, sebagai orang yang diharapkan mampu membuat orang lain menjadi lebih baik, tidak ada yang bisa menolong kecuali diri sendiri.

Maka saya melakukan hal-hal yang bisa menyembuhkan. Mencari kursus ke luar negeri dengan beasiswa, sampai pindah kerja ke sebuah lembaga internasional. Hingga tiga tahun yang lalu, saya memutuskan untuk menyampaikan niat untuk keluar, dan Desember 2019, akhirnya saya benar-benar keluar. Tapi berbeda dengan pengalaman resign dari kantor saya yang dulu, kali ini saya keluar dengan penuh kemarahan dan kekecewaan. Marah akan sistem, kecewa akan orang-orang yang seharusnya membuat keadaan menjadi lebih baik tapi ternyata tidak. Saya bahkan tidak merasakan apa-apa. Tidak merasa sedih, dan tidak merasa rindu. Too much negative feelings.

Saat ini, saya menjalani sesuatu yang saya sebut living my own dreams. Punya toko buku anak, punya value, punya workshop-workshop dengan narasumber dan fasilitator kompeten yang berasal dari lingkaran pertemanan sendiri. Bagaimana saya bisa menghadapi itu semua dan bangkit lagi setelah sempat jatuh? Mungkin hal pertama yang penting adalah bahwa saya menyadarinya. Menyadari kondisi saya, menyadari apa yang saya alami, lalu menerima. Setelah menerima, saya mencari penyebabnya dan apa saja yang memicunya. Ini adalah proses yang mudah, saya tidak perlu terlalu lama mengidentifikasi. Yang sulit adalah proses setelah itu. Saya mau apa? Bagaimana saya memulihkan diri? Beruntung saya dikelilingi oleh teman-teman dan keluarga yang suportif. Dari mereka saya mendapatkan kepercayaan diri lagi. Tapi setelah saya mendapatkan diri saya lagi, apa yang harus dilakukan? Tetap berada di sana atau pergi?

Tahun 2016, waktu saya bekerja di sebuah lembaga internasional, salah seorang rekan berkata “Jika kamu pergi, maka kamu kalah. Kamu harus tetap di sini untuk menunjukkan bahwa kamu kuat, maka kamu akan menang”. Tapi ini bukanlah soal menang atau kalah. Bukan soal kuat atau lemah. Bukan soal baper-baperan. Bukan pula soal tidak peduli atau peduli. Ini adalah tentang bagaimana saya bisa tetap sehat mental dan bisa berkembang. Ini adalah tentang saya yang ingin mencapai mimpi dan cita-cita. Jadi setelah menimbang-nimbang bahwa situasi tidak akan menjadi lebih baik serta menyusun rencana, saya mengambil jalan terakhir tanpa terlalu banyak menimbang lagi: resign, dan memulai hal baru.

Tapi sungguh, memulai itu tidak mudah. People are judging. People are watching. People are estimating. But I am over it. I’ve been there, in a dark place where I experienced horrible experience dan I don’t want to be trapped in it again. Saat ini saya punya mimpi, punya visi, punya semangat, dan saya punya diri saya. Versi saya yang lebih baik karena sudah melalui banyak hal. Jadi saya tidak mau terpuruk lagi. Jadi kalau ada orang yang nyinyir, atau memberi masukan dengan cara yang menyakitkan, saya nggak mau ambil pusing. Orang itu nggak pantas ada di kepala dan hati saya. Keluarkan aja. Hilangkan sambil tetap tersenyum dan terus berjalan. Jalan saya masih panjang and I want to live my life to the fullest.

Nurina Wardhani

WhatsApp Image 2019 01 05 at 22.37.45 e1546707626792 | DAY 472
Latest posts by Nurina Wardhani (see all)
Bagikan:

Nurina Wardhani

Aquarian. Co-founder Ninanoci, sebuah toko buku anak dan penyedia workshop anak. Aktif menulis untuk diri sendiri di blog dan bersyukur kalau dibaca orang. Hobi membeli buku meskipun dibacanya baru satu bulan kemudian. Antusias kalau diajak ngobrol seputar isu perempuan, pendidikan, kerelawanan, pengelolaan SDM di organisasi nirlaba, dan social enterpreneur. Tinggal di Bantul bersama suaminya yang nyebelin tapi ngangenin serta anaknya yang hobi bertanya tentang apapun.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *