Di Bantul Kita Selalu Diingatkan Bahwa Hidup Ini Hanya Mampir Minum Teh Nasgitel

Sejak Akhir November 2016, kami mulai tinggal menetap di Bantul, tepatnya di Pendowoharjo, Sewon. Tinggal di daerah pedesaan walaupun tidak terlalu jauh dari kota (baik kota Yogyakarta maupun kota kecamatan Bantul) tentu berbeda dengan dengan suasana tempat tinggalku sebelumnya yaitu kontrakan di kawasan downtown Yogyakarta di Keparakan Lor yang merupakan typical kampung urban padat penduduk di pusat kota Yogyakarta. Kalau di Keparakan Lor dulu rumah-rumahnya berdempet-dempet dengan gang kecil-kecil, namun begitu keluar gang sudah langsung jalan besar berjejalan gedung-gedung tinggi, mall, dan kantor-kantor bank maupun pemerintah, di Pendowoharjo ini orang masih memiliki rumah-rumah sederhana namun berukuran besar dengan halaman tanah yang luas berhiaskan pohon-pohon besar.

Ya tentunya selain kami yang tinggal di rumah-rumah kapling di perumahan. Karena kebetulan rumah kami adalah kapling kecil di tepi sebuah perkampungan, jadi tetangga dan lingkungan kami adalah kampung tersebut. “Wah rumah sekarang kecil-kecil banget ya Mbak, kalau rumah saya kamarnya saja segede rumah ini,” kata ibu-ibu tukang pijat paruh baya yang sering aku panggil ke rumah untuk memijatku. “Belum lagi halamannya ya bu, segede satu kompleks perumahan ini,” batinku, hehehe.

Satu hal lagi yang cukup mencolok bagiku. Di Bantul ini, kuburan atau pemakaman umumnya ada banyak, tidak terlalu luas, namun terletak di tengah-tengah rumah-rumah warga di kampung. Jadi ciri khas yang aku lihat di Bantul ini adalah, beberapa rumah berderet lalu ada kuburan, lalu sampingnya beberapa rumah berderet lagi lalu ada kuburan lagi. Kuburan ada di mana-mana dan terletak di tengah-tengah kampung di antara rumah-rumah dan warung-warung dan masjid-masjid. Ini sangat berbeda dengan beberapa wilayah yang pernah aku tinggali sebelumnya, seperti Magelang, Jatinangor, Bandung, Yogyakarta, apalagi Hamburg.

Hal ini membuat suasana kuburan menjadi tidak seram lagi (atau malah suasana kampung yang menjadi seram, tergantung dari sudut pandang mana melihatnya, hehehe). Dulu aku kalau sudah gelap selalu tidak berani lewat di depan kuburan, tapi sekarang di Bantul, lha wong kuburannya ada di tengah-tengah perkampungan yang sampai malam pun masih ramai saja orang lewat atau beraktivitas. Lagian mau lewat manapun ya pasti akan ketemu kuburan lagi, hehehe.

Namun menurutku ada alasan yang lebih mendasar dan filosofis kenapa orang Bantul meletakkan kuburan di tengah-tengah perkampungan. Sepertinya sih agar supaya orang-orang yang hidup dan berhidup di Bantul ini selalu ingat dengan kematian. Untuk selalu mengingatkan kita semua bahwa hidup ini hanya sementara, bahwa hidup ini hanya mampir minum teh nasgitel dan makan bakmi jawa sebelum kemudian menuju ke keabadian, hehehe. Entah benar atau tidak analisisku, mungkin ada warga Bantul di sini yang mau membantu?

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *