“Dolce Far Niente” alias the Sweetness of Doing Nothing: Konsep Orang Italia yang Perlu Kamu Praktikkan Paling Tidak Seminggu Sekali untuk Menjaga Kewarasan

Pernahkah kamu doing nothing alias tidak melakukan apa-apa, tidak memikirkan sesuatu, tidak melakukan aktivitas khusus, tidak merencanakan sesuatu, tidak terbebani apapun, in short, ya ga ngapa-ngapain aja. Pasti pernah kan ya, dan setelahnya biasanya energimu ter-recharge kembali, semangatmu kembali full, kewarasanmu berada di titik aman, dan you become 100 % of your self again. Ya itulah konsep yang oleh orang Italia disebut dolce far niente alias the sweetness of doing nothing, selebihnya soal seminggu sekali dan menjaga kewarasan itu tambahanku sendiri aja sih berdasarkan pengalaman, hehehe.

Aslinya bagi orang Italia, dolce far niente itu adalah sensasi ketika kamu duduk di sebuah bar di sebuah desa di Italia sambil minum kopi dan ngelihatin orang-orang yang lewat. Waktu terasa berjalan lambat dan dalam setengah detik kamu akan memuja hidup dalam kesederhanaannya yang paling hakiki, dan satu-satunya hal yang kamu ingin lakukan hanyalah tersenyum. Bisa dibayangkan lah ya, versi Italiano untuk dolce far niente itu, hehe. Kita tentu akan punya versi kita sendiri-sendiri, versi mBantul tentu berbeda dengan versi Milano sono, walaupun intinya sama, ga ngapa-ngapain alias selo sebentar, walaupun kurasa orang Indonesia (khususnya orang Jogja dan sekitarnya) sudah sangat menguasai konsep ini dengan kaffah, haha.

Aku mengenal istilah dolce far niente ketika menonton film Eat Pray Love, ketika Liz seorang perempuan New York yang mandiri dan mapan mencari makna hidup dengan pergi ke Italia untuk menikmati segala kenikmatan duniawi yang ditawarkan manusia (eat), lalu ke India untuk melakukan hal-hal yang spiritual (pray), dan terakhir ke Indonesia untuk menemukan keseimbangan di antara keduanya dalam cinta (love). Nah ketika di Italia ini Liz diajari untuk benar-benar menikmati hidup, salah satunya ya dengan dolce far niente tadi alias kenikmatan dan kebahagiaan dari ga ngapa-ngapain, hahaha.

Aku rasa tubuh kita secara alami itu sudah di-setting untuk bekerja keras hanya selama 5 hari (atau maksimal 6 hari ) dalam seminggu, sisanya yang 1 atau 2 hari ini harus ada yang tetap kita alokasikan untuk dolce far niente, beberapa jam saja, agar supaya semuanya kembali fresh dan kita bisa melanjutkan aktivitas kita seperti biasanya. Karena kalau tidak, kelelahan itu akan bertumpuk dan bertumpuk dan akhirnya menjadi burn out. Tahu akibat paling mengerikan kalau kita sudah burn out? Yes kita akan jadi jahat sama orang lain, atau paling tidak nyebelin atau ngrepotin atau malesin, hehe. Dolce far niente selama beberapa jam bisa menjadi salah satu cara untuk menyelamatkan diri kita dari menjadi jahat atau nyebelin itu. Sederhananya begini, rumus yang awalnya kerja keras – kelelahan – burn out – jadi jahat/nyebelin diganti menjadi kerja keras – kelelahan – dolce far niente – fresh kembali – everybody is happy.

Pengalamanku sendiri, kemarin aku ada deadline yang membuat aku harus bekerja keras selama 6 hari, benar-benar yang dari pagi sampai malam. Karena terkondisikan (baca: kepepet), semangat kerjaku tinggi banget, memuncak hingga 100 %, tidur jam 2 bangun jam 5 pun rasanya tidak masalah. Ibaratnya lagunya Queen nih ya, “I’m burnin’ through the sky, yeah, 200 degrees that’s why they call me Mr. Fahrenheit, I’m travelling at the speed of light, I wanna make a supersonic woman of you”. Kerjaan memang cepat selesai kalau caranya begitu. Tapi ketika di hari keenam malam hari pekerjaan itu akhirnya benar-benar selesai, hari ketujuh pagi harinya, ketika niatnya aku mau langsung melanjutkan ke deadline berikutnya, energi yang tadinya 100 % melorot tajam menjadi tinggal 0.5 % saja. Jangankan untuk bekerja, mau cuci piring aja males, lelah, rasanya males ngapa-ngapain. Dipaksakan juga susah, nanti malah jadinya tidak efektif. Nah di situlah dolce far niente diperlukan, tapi secukupnya saja ya, jangan kebablasan. Kalau kebablasan bisa berbahaya, karena kamu harus segera kembali on the track lagi and let the game on again, all right?

Untuk saat ini my very own version untuk dolce far niente sangat spesifik sekali, yaitu aku akan tidur-tiduran di kamar sambil nyalain kipas angin, dengan HP full battery di tangan siap-siap untuk melakukan sesuatu yang ga berfaedah tapi banyak manfaatnya. Pilihan pertama, aku akan buka IG dan stalking foto-fotonya Benedict Cumberbatch. Caranya gampang sekali, tinggal buka hashtag benedictcumberbatch, sherlock, atau dr.strange. Langsung deh puas-puasin tuh stalking foto-fotonya Mr. Cumberbatch sambil senyum-senyum sendiri. Apalagi zaman sekarang, banyak banget yang bikin meme yang lucu-lucu atau orang bisa nemu aja foto-foto doi yang uhuk banget dan meng-upload-nya di IG, God bless them. Untuk hashtag Sherlock saja itu ada jutaan foto lho, jadi tidak perlu khawatir akan kehabisan stok, haha. Di satu wawancara, Benedict pernah bilang, kalau salah satu hal yang menurutnya paling aneh yang pernah dilakukan oleh fans adalah halaman Facebook si fans tersebut dipenuhi dengan foto-fotonya. Sorry Ben, kalau aku sih ga gitu ya orangnya, aku ga menuhin halaman Facebook-ku dengan foto-fotomu (kadang-kadang doang, hehe), aku cuman stalking foto-fotomu di IG dan menyimpannya di ingatanku dan di HP-ku, eaaaa, hahaha. Jangan tertawa ya, kan sudah bilang tidak berfaedah.

Pilihan kedua dolce far niente versiku adalah membuka YouTube dan melihat-lihat video-videonya Queen, dari mulai video klip official, rekaman-rekaman live performance, video-video wawancara, sampai video-video yang dibuat oleh orang-orang dengan beraneka ragam versi dan jenis. Ada ratusan atau bahkan ribuan itu videonya di YouTube, jadi jangan khawatir kehabisan. Biasanya aku akan menontonnya sambil ikut bernyanyi, sambil tersenyum senang, atau bahkan sambil meneteskan air mata sedih dan terharu. What a perfect dolce far niente.

Pilihan ketiga masih menggunakan YouTube, aku sering nontonin video-videonya 2 youtuber agak terkenal, yaitu Sacha Stevenson dan Londokampung. Menurutku kontennya cukup berbobot dan menghibur, ya ga meaningless lah minimal, ada isinya, dan lucu tauuu. Aku sering sambil tertawa-tawa ketika menontonnya. Pilihan selanjutnya, tentu saja nonton Sherlock untuk kedua kalinya, nonton film-film MCU untuk kelima kalinya, nonton Grey’s Anatomy untuk seratus kalinya, atau nonton Sex and the City untuk kesejuta kalinya. Kenapa sudah nonton ditonton lagi? Ya namanya juga dolce far niente, kan nyari yang tidak pakai mikir. Kalau nonton film yang belum pernah ditonton mah namanya masih pakai mikir. Belum lagi kalau nanti ada adegan yang menyayat hati dan mengganggu pikiran, kan belum persiapan mental tuh, ntar ga jadi dolce far niente dong, hehehe.

Nah begitulah ceritaku tentang dolce far niente. Tapi biasanya aku memberi batas kepada diriku sendiri hanya boleh melakukan hal itu selama beberapa jam saja dalam sehari. Ya kalau ditotal-total mungkin kembali ke rumus yang tadi, tidak lebih dari 2 hari dalam seminggu. Aku rasa mungkin itulah alasan orang membuat jam kerja hanya 5 hari dalam seminggu ya. Semua sudah diperhitungkan, termasuk soal menjaga kewarasannya. Setuju?!! Nah kalau dolce far niente versimu apa?

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *