Dulu Kok Mau Dicerai Sih, Padahal Kan Kamu Ibu Rumah Tangga yang Tidak Punya Penghasilan?

Beberapa waktu lalu, ada seseorang yang menanyakan sesuatu dengan sangat hati-hati kepada saya, mungkin karena takut saya tersinggung atau menjadi sedih karena seperti mengorek kembali luka batin saya di masa lalu, cieee padahal sih sudah nggak. Dia bertanya pada saya, “kamu dulu kok mau dicerai sih padahal kan kamu ibu rumah tangga yang nggak berpenghasilan, tapi tiba-tiba mau dicerai, apa alasannya?” Sambil tersenyum (entah senyum kecut, pahit, atau senyum apa saya juga tidak tahu), saya membatin, “sebenarnya siapa sih yang mau dicerai? Baik seorang perempuan yang menghasilkan uang sendiri atau yang tidak, mana ada yang mau dicerai oleh suami tercinta (jiahhhhh).”

Sedikit cerita pengalaman saya nih ya (mungkin tidak berlaku untuk perempuan lain karena situasi dan kondisi setiap perempuan pasti berbeda). Saya tuh untuk memutuskan mau menerima perceraian itu juga membutuhkan waktu yang panjang lho, tidak hanya sebulan atau dua bulan, namun sampai hampir 3 tahun! Lho kok lama ya ternyata? Hihihi, jadi buka-bukaan deh ini. Kalau saya hitung, saya itu benar-benar dianggap istri oleh mantan suami saya ya cuman 1 tahun saja, yaitu sampai anak kami lahir. 3 tahun setelahnya, memang sih dinafkahi, tapi hanya secara materi saja, jadi tidak saya hitung, karena menurut saya itu bukan arti pernikahan yang sesungguhnya. Pada awalnya, saya masih sering melakukan perlawanan dengan logika-logika hasil saya kuliah dulu (kayak sering dengerin kuliah saja ya, padahal sering bolos, hihihi). Gejolak batin saya pada waktu itu adalah, “ah masih bisa nih diperbaiki karena kan masalahnya bukan yang fatal banget, bahkan sebenarnya saya sendiri nggak pernah tahu apa sebenarnya masalahnya,” atau “ah ini mah kurang komunikasi saja karena memang kita LDR-an karena dia bekerja di luar kota,” dan eng ing eng, yang terakhir, “saya kan sekarang sudah nggak bekerja, buat biaya hidup saya dan anak saya nanti bagaimana”.

Alasan yang terakhir itulah yang sebenarnya paling berat dan terus menghantui di dalam kepala dan hati saya. Atas dasar itulah, akhirnya saya membuat pembenaran-pembenaran yang terlihat rasional dengan mengatasnamakan bahwa anak saya masih butuh ayahnya, anak saya perlu perlindungan ayahnya, dan anak saya tidak bisa hidup tanpa ayahnya. Dengan alasan-alasan tersebut, hampir tiga tahun saya memperjuangkan pernikahan kami agar menjadi baik kembali. Bahkan saya sempat berpikir, kalau suami mau menikah lagi silakan, tapi jangan ceraikan saya. Selama usaha mempertahankan pernikahan itu, saya juga tidak hanya berdiam diri saja. Saya pergi ke sana kemari mendatangi para ustadz, mau ustadz NU, Muhammadiyah, PKS, MTA, semua saya datangi, bahkan sempat ke paranormal segala (untung akhirnya saya nggak percaya), juga ke psikolog, dan bahkan sempat di-rukyah. Pokoknya segala hal saya tempuh untuk mendapatkan pencerahan, selain tentu saja sholat dengan lebih khusuk lagi.

Pada waktu itu, saya sudah tidak bisa menangis lagi. Eh bukan tidak bisa ding, tapi tidak mau. Soalnya kalau saya bersedih, anak saya yang masih ASI eksklusif sampai 2 tahun itu (hahaha boleh dong sombong dikit) bisa rewel tidak karuan semalaman. Mungkin bisa merasakan kali ya kalau ibunya lagi sedih. Dan dari semua ustadz, tokoh yang dituakan, serta keluarga yang dituakan yang saya temui itu, semuanya sepakat mengatakan, “San, kamu harus membuka lembaran baru!” Padahal mereka tidak saling kenal lho dan mereka tidak pernah bertemu untuk melaksanakan ijtima’ ulama untuk memutuskan kesepakatan itu, lho kok malah politik, hehehe.

Kalimat membuka lembaran baru pun saya artikan sebagai “terimalah perceraian itu”, karena jika seseorang sudah bulat tekadnya untuk menceraikan saya dan tidak sedikitpun goyah, kalaupun tetap dipertahankan, maka hasilnya pun tidak akan baik, kecuali Tuhan sang maha pembolak-balik hati berkehendak lain. Mau sampai kapan saya akan menunggu semuanya menjadi baik dan saya tidak segera beranjak ke mana-mana, paling tidak untuk mencintai diri saya sendiri. Waktu itu, badan saya tinggal tulang-belulang, mata cekung, dan kulit kusam, hihihi. Kata ibu saya saat itu, saya seperti mayat hidup, hidup segan, mati pun tak mau, hahaha. Dengan pergolakan batin saya akan takut menjadi miskin karena tidak punya penghasilan itu, saya pun berusaha untuk melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan. Sebagian berkat informasi dari mantan manajer saya di tempat dulu saya bekerja sebelum menikah. Oh ya, jadi saya keluar kerja karena kesepakatan dengan suami dengan alasan supaya saya bisa mengikuti suami, meskipun sewaktu hamil saya tetap di Magelang karena suami harus bekerja di luar negeri dan keluarga tidak diizinkan ikut. Sebagian informasi lainnya adalah hasil saya melihat-lihat lowongan pekerjaan di internet. Dari mulai interview di daerah Jawa Timur, di perusahaan milik asing, perusahaan dalam negeri, saya coba semua, dan yang terakhir saya di-interview oleh TV One lho dan bisa melihat Ardhi Bakrie, hahaha penting ya.

Dari banyaknya perusahaan yang saya lamar, ada seorang manajer yang berbaik hati memberi tahu saya bahwa sebagai seorang yang melamar di posisi HRD, saya sudah ketinggalan 4 tahun dalam dunia kerja, sehingga sebaiknya saya mengambil kuliah lagi, kuliah profesi psikolog. Ada juga manajer lain yang juga baik hati, tidak memberikan saya kesempatan di bagian HRD namun menawarkan saya lowongan sebagai SPG di pusat perbelanjaan agar saya mendapatkan penghasilan. Bukan maksud saya merendahkan pekerjaan SPG, karena semua pekerjaan itu baik, tapi saya hanya berpikir, lah saya kan sudah kuliah psikologi, apakah saya hanya akan menyerah dan menjadi SPG? Dyaaaaaarrrrr, intinya saya tahu apa maksud dari saran-saran tersebut. Sampai kapanpun dan ke perusahaan manapun, dengan kompetensi yang ketinggalan zaman seperti saya (4 tahun jadi full mommy) tidak bakal ada yang mau memberi saya pekerjaan dengan standar gaji yang cukup untuk membiayai hidup saya dan anak saya.

Akhirnya saya pun pulang ke Magelang. Tidak terasa badan semakin lemah karena perjalanan dari ujung timur ke ujung barat, termasuk wira-wiri hanya dengan naik angkot hingga jarak 10 km. Di rumah saya berpikir keras sambil gendong-gendong si kecil. Kebetulan di depan rumah sering lewat tukang donat dan sopir jemputan TK. Nyebelinnya mereka mengira saya adalah pembantu di rumah, dengan pertanyaan, “Mbak, sudah lama nderek Ibu?” atau “Mbak, matur Ibuk-e, tumbas donat mboten?” Hahaha maaf cuman selingan, tapi itu benar-benar terjadi lho, sueeeeerrrr, ngga bohong, hahaha. Hasil pemikiran saya pada saat itu, berarti hanya ada dua pilihan yang bisa saya lakukan, menjadi wiraswasta atau kuliah lagi ambil profesi. Sejak itu pula, tiba-tiba saya merasa plong, pergolakan batin saya pun menemui titik terang, bahwa saya memang harus dan terpaksa menyetujui perceraian itu.

Saya pun mulai menyusun amunisi, bagaimana saya bisa memulai lagi dan saya memang tidak mau mulai dari nol lagi (namun lagi-lagi saya katakan di sini bahwa kondiri dan situasi setiap perempuan tentu berbeda-beda). Saya menyetujui perceraian itu dengan syarat saya harus mendapatkan nafkah mut’ah dan tunjangan anak. Kenapa saya mengajukan nafkah mut’ah? Pertama karena saya ingin memberikan makna kepada mantan suami saya bahwa menceraikan seorang perempuan itu tidak gampang dan tidak murah. Saat itu ada bisik-bisik dari keluarganya dan juga dari tetangga, bahwa saya sudah minta uang banyak sehingga kesannya matre. Padahal nafkah mut’ah itu adalah hak bagi setiap perempuan yang diceraikan, dan kalau dipikir-pikir dengan logika dan dirasa-rasa dengan hati, sebenarnya itu masih sangat kurang untuk membayar waktu yang hilang dan risiko kehilangan nyawa untuk melahirkan anaknya. Bahkan nyawa suami atau keluarganya pun tidak akan pernah bisa untuk membayar semua yang sudah terjadi dan tidak bisa dikembalikan lagi seperti semula. Jadi persoalannya bukan soal harta ataupun soal diri saya sendiri saja. Saya kan juga punya keluarga yang mau tidak mau hatinya pasti terluka dan tersakiti. Saat itu bapak saya sampai kena serangan jantung untuk pertama kalinya karena memikirkan anak perempuan yang paling disayanginya menjadi seperti mayat hidup dan hanya bisa menangis ketika tak seorang pun melihat, termasuk ibu saya. Jadi saya tidak terlalu menanggapi bisik-bisik tidak jelas itu. Alasan kedua, siapa tahu di kemudian hari, mantan suami tidak lagi bertanggung jawab terhadap anak kami, sehingga jika itu terjadi, paling tidak saya punya modal untuk menghasilkan sesuatu.

Walaupun banyak omongan yang tidak enak mampir di telinga saya karena nafkah mut’ah yang saya ajukan itu, entah kenapa saya tidak pernah gentar dan dengan tegas saya mengatakan, “oke silakan saya digugat cerai”. Lawyer-nya pun menelepon saya (kebetulan dia sedang bekerja di luar negeri sehingga menggunakan jasa lawyer) dan menawarkan bagaimana kalau saya saja yang menggugat cerai biar prosesnya cepat dan nama baik saya terjaga. Dengan tegas saya menolaknya, buat apa perlu menjaga nama baik, toh orang yang akan menilai sendiri seiring dengan berjalannya waktu. Mau dijaga seperti apapun, kalau orang sudah dicap jelek ya bakal tetap jelek, begitupun sebaliknya. Saat itu saya benar-benar ikhlas, saya serahkan semua kepada Tuhan, yang penting saya sudah berusaha. Saya rajin mengikuti persidangan saya, tahap demi tahap, mengamati bagaimana prosesnya, apakah benar-benar mengakomodir sebuah islah dalam perselisihan pernikahan, hehehe, dan ternyata, ya gitu deh, hehehe.

Pertama kali lawyer suami memasukkan gugatan perceraian, saya masih tetap berusaha untuk terus mencari lowongan pekerjaan. Akhirnya saya mengikuti saran ibu untuk mendaftar CPNS. Saya pun mendaftar CPNS Pusat, karena menurut saya pada saat itu, hasilnya bisa lebih fair. Pada sidang perceraian ke-5, tiba-tiba ada pengumuman bahwa saya lolos tes CPNS. Tentunya untuk ikut tes CPNS itu saya benar-benar belajar dengan 2 buku latihan soal CPNS yang saya beli di sebuah toko buku kecil di Pecinan Magelang. Sidang perceraian ke-5 itu berbarengan dengan saya harus mendaftar ulang CPNS saya. Dan apakah pada sidang ke-5 itu sidang berjalan lancar-lancar saja sesuai kesepakatan yang tertulis. Tidak lah yauw, hihihi! Lawyer-nya mengajukan keberatan ke majelis hakim dan meminta untuk menurunkan tunjangan anak dan mut’ah dengan alasan karena saya diterima CPNS, hahaha, bisa begitu ya. Dan hal itu berlanjut pada sidang putusan, akhirnya ketok palunya pun tidak sesuai dengan kesepakatan di awal. Tapi tetap saya terima dengan ikhlas, toh rejeki masing-masing orang itu sudah ada kantongnya sendiri-sendiri. Saat itu, saya benar-benar menyadari memang begitu adanya janji Tuhan (maafkan saya ya Rabb telah sempat meragukan-Mu).

So girls, jangan takut akan rejeki yang akan kita dapatkan dan jangan mengkhawatirkan bahwa kita bakal tidak bisa hidup, apalagi kita sudah diberikan badan yang sehat dan otak yang jauh lebih baik dari makhluk manapun. Belajarlah mencintai diri sendiri dan jangan berbuat dzolim terhadap diri sendiri, apalagi mengatasnamakan anak, kan anak juga sudah memiliki kantong rejekinya sendiri dan itu sudah dijamin oleh Tuhan. Apakah saya merasa saya telah membuang-buang waktu selama ini dengan kemarin-kemarin sempat mempertahankan pernikahan saya? Ya tidaklah! Saya anggap itu adalah jalan menuju proses pemikiran yang lebih matang, walaupun sekali lagi situasi dan kondisi masing-masing perempuan akan berbeda. Apa yang saya lakukan belum tentu tepat untuk perempuan lain, namun semoga pengalaman saya bisa mengingatkan bahwa Tuhan itu ada dan kita perempuan itu bisa!

Alhamdulillah, saat ini sudah berjalan 5 tahun sejak perceraian itu. Mantan suami masih memberikan hak untuk anaknya, dan kadang kalau dia lupa, saya tidak pernah skip untuk mengingatkannya. Saya berusaha menyampaikan apapun kebutuhan anak kepadanya. Walaupun kadang beberapa teman bilang, “ngga usah diarepin lagi, ngga usah digantungin”. Bukan begitu persoalannya teman-teman. Alasan saya adalah meski kita tidak menyukai mantan suami kita atau sakit hati terhadap perilakunya, kita harus mencegah agar mantan suami kita tidak berlaku dzolim kepada anaknya karena hal itu akan memberatkannya di akhirat nanti pada saat dimintai pertanggungjawaban, dan juga agar sama-sama menyadari bahwa dititipi anak oleh Tuhan itu berat tanggung jawabnya. Ini persoalan hak anak, dan itu bukan hanya sekadar materi saja. Dengan begitu, masih ada tambahan kebaikan kan buat diri kita untuk dicatat karena telah mencegah kedzoliman terjadi.

Bagi para single moms yang mantan suaminya tidak pernah memberikan nafkah kepada anaknya, bahkan setelah diingatkan, anggap saja kalian diberikan ladang yang cukup luas untuk kalian bisa menanam apa saja amalan-amalan baik karena telah merawat dan mendidik buah hati dengan baik. Ketika di akhirat nanti dipertanyakan pada saat timbangan amal tentang anakmu, kalianlah yang akan paling lancar menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, dan semoga menjadi pemberat amal baikmu untuk masuk ke pintu surga yang kita idam-idamkan, amiiin. Selain itu, juga untuk memotivasi kita agar semakin kreatif untuk menghasilkan sesuatu demi kesejahteraan anak kita. Dan untuk para ayah, jangan pernah lupa bahwa di dalam rejekimu, seberapapun itu, ada rejeki yang dititipkan Tuhan untuk anak-anakmu. Jangan pernah bilang tidak punya, karena semuanya sudah ada, hanya saja bagaimana ikhtiarmu untuk menjemput rejeki yang sudah disiapkan oleh Tuhan itu.

Santi Listiyaningsih

Bagikan:

Santi Listiyaningsih

Santi Listiyaningsih - Seorang abdi negara yang khusus mengurus pemberantasan dan penyalahgunaan narkotika. Sejak 2013 aktif menjadi konselor bagi mereka-mereka yang memiliki masalah adiksinya sekaligus segambreng permasalahan hidup yang dimilikinya. Sesungguhnya keinginan saya adalah punya pasangan yang baik hati, setia, ganteng, kaya raya dan gemar menabung, hanya saja yang seperti itu hanya ada di mimpi jadi demi membuat mimpi saya terwujud saya menjadikan tidur sebagai hobi yang paling menyenangkan.

12 thoughts on “Dulu Kok Mau Dicerai Sih, Padahal Kan Kamu Ibu Rumah Tangga yang Tidak Punya Penghasilan?

  • Januari 10, 2019 pada 4:00 am
    Permalink

    So inspiring, akan membuat makna hidup berumah tangga menjadi lebih berarti.
    Salut atas perjuangannya.

    Balas
    • Januari 10, 2019 pada 5:24 am
      Permalink

      Iyesss….setiap momen perlu perjuangan pada akhirnya menjadikan makna tersendiri paling tidak untuk kita sendiri yaaaa….thanks supportnya yang luar biasa….

      Balas
  • Januari 10, 2019 pada 5:54 am
    Permalink

    semua akan terasa indah di akhir cerita..hanya kita mau bersabar,bersyukur,berusaha,berdoa dan ber ber yang lain dan kembali hanya Allah dpt menolong kita..amiin yra..

    Balas
    • Januari 10, 2019 pada 6:09 am
      Permalink

      Yuiii mbak…sabar dan ikhlas nyari yang indah dengan Ridho Tuhan…makasih supportnya Dan jangan sampai disini, beri support juga buat perempuan sekitar mbak yang memiliki nasib serupa…

      Balas
  • Januari 10, 2019 pada 5:55 am
    Permalink

    Perempuan tangguh patut jadi contoh buat perempuan2 lain,nasib memang harus kita perjuangkan walau sempat terpuruk tapi harus segera bangkit.
    Semangat buat perempuan2 ?

    Balas
    • Januari 10, 2019 pada 7:25 am
      Permalink

      Pada dasarnya semua perempuan bisa ternyata ya mbak…matur suwun supportnya…

      Balas
  • Januari 10, 2019 pada 5:59 am
    Permalink

    Perempuan harus tangguh nasib memang harus kita perjuangkan walau sempat terpuruk tapi harus segera bangkit.
    Semangat buat perempuan2 ?

    Balas
    • Januari 10, 2019 pada 7:42 am
      Permalink

      Makasih mbak supportnya buat kita perempuan?

      Balas
  • Januari 10, 2019 pada 6:11 am
    Permalink

    Salut atas kesabarannya..satu pintu tertutup, InsyaAllah dibukakan pintu yang lainnya..tetap semangat Jeng.dan jangan lupa bahagia

    Balas
    • Januari 10, 2019 pada 7:28 am
      Permalink

      Janji Tuhan memang ada pak kaji….pasti bahagia?

      Balas
  • Januari 10, 2019 pada 8:09 am
    Permalink

    STRONG WOMEN EVER!!! SALUTE ?

    Balas
    • Januari 11, 2019 pada 2:28 am
      Permalink

      Matur suwun supportnya

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *