Film “Ave Maryam”: Dinamika Antara Cinta Surgawi Atau Cinta Duniawi yang Dibalut dengan Keindahan Frame Kota Tua Semarang yang Mempesona

Aku menonton Ave Maryam 2 hari yang lalu di mall paling baru di DIY yaitu Sleman City Hall yang besar dan sepi (mungkin sebenarnya orang Sleman doesn’t need another mall kali ya). Bioskop XXI-nya pun masih baru gress, bagus, bersih, dan—ini yang paling penting—sepi. Mungkin besok aku nonton Avengers End Game di situ saja, biar tidak usah berebutan tiket, hehehe. Film yang aku pilih untuk aku tonton sore itu bersama seorang teman adalah Ave Maryam. Kenapa? Ya karena film yang lainnya yang main sudah aku tonton semua, hihihi, kecuali ada film horror, dan jelas aku tidak akan mau menontonnya.

Dan aku tidak menyesal dengan pilihan menonton film ini, karena filmnya bagus dan tidak mainstream, dan menambah keragaman tipe film-film Indonesia. Menurutku film Ave Maryam ini modelnya kayak film-film Eropa yang alurnya datar tapi detail. Tidak terlalu banyak konflik, tidak ada klimaks, tidak ada closing, tidak terlalu banyak roller coaster, ya begitu saja, sangat realistis, dan menuntut penontonnya untuk cerdas dan berpikir, karena harus mencari sendiri pesan dan value-nya, tidak semua disuguhkan secara cetho welo-welo nyolok moto. Tapi aku suka model-model film semacam ini. Eh aku pernah lho, 2 tahun hanya menonton film-film Eropa saja.

Namun yang paling aku suka dari film ini adalah gambarnya. Gambarnya bagus banget. Berlatar belakang kota tua Semarang (sekitar Gereja Blenduk), film ini menghadirkan banyak frame-frame yang membuat aku terpesona sampai rasanya pengen aku pause terus aku screenshoot, aku cetak, dan aku pigura, saking bagusnya, hehehe. Bagaimana ya, kayak perpaduan warnanya, posenya, bangunan tuanya, banyak yang sengaja dibuat dalam satu frame yang sangat keren banget dengan durasi agak lama, pokoknya capturable banget, you must see them yourself, hehehe.

Film yang berlatar belakang Kota Semarang tahun 1998 ini menceritakan kehidupan para biarawati yang tinggal di susteran dan bertugas khusus merawat para biarawati senior yang sudah sepuh. Seperti memandikan, memberikan obat, memasak, mencucikan bajunya, menyetrika, mengajak jalan-jalan, dan seterusnya. Terkadang mereka membayangkan bahwa kira-kira akan seperti itulah kehidupan mereka kelak, terus bertugas melayani Tuhan, dan setelah berusia lanjut akan kembali lagi ke susteran tersebut untuk dirawat oleh penerus-penerus mereka hingga ajal menjemput. Ketika ajal sudah menjemput pun mereka akan dikuburkan di bagian belakang dari susteran tersebut, di sebuah kompleks pekuburan kecil yang masih berada di dalam gerbang susteran.

Sambil menonton aku berbisik-bisik kepada teman perempuan di sebelahku, my movie date sore itu. Wah sungguh sebuah kehidupan yang sudah pasti ya, tidak bingung lagi apa yang mesti mereka lakukan dalam hidupnya, sudah jelas dan sudah pasti, bahkan sampai ajal menjemput nanti, tidak bingung apa yang harus dilakukan setiap harinya. “Mereka pasti jarang dihantui perasaan bingung mau ngapain, merasa galau dan tidak berguna, mengkhawatirkan masa depan, seperti kita yang masih sangat duniawi ini ya,” bisikku. “Iya, ditambah mereka juga tidak perlu pusing-pusing mikirin soal suami, anak, hubungan seksual, cicilan KPR, konflik dengan mertua, membeli baju-baju baru, belanja hal-hal tidak berfaedah, dan hal-hal duniawi lainnya seperti yang selalu kita lakukan,” demikian sambung temanku juga sambil berbisik dan mengunyah popcorn asin.

Tersebutlah Suster Maryam, salah satu suster di susteran tersebut yang sedang menjelang memasuki usianya yang ke-40. Suster Maryam tampak sangat menikmati hari-harinya sebagai biarawati. Setiap pagi mengobrol dengan gadis kecil berjilbab yang mengantarkan jualan susu murninya, menjemur cucian, menyetrika, masak, memandikan para suster yang sudah sepuh, ke gereja untuk berdoa dan melakukan misa, dan malamnya membaca buku-buku favoritnya, serta sesekali berjalan-jalan keluar di sekitar kota tua Semarang untuk mencari buku-buku baru. Juga sesekali bernyanyi dan menari bersama para suster lain di susteran atau menyaksikan grup paduan suara gereja berlatih. Maudy Koesnaedi sangat cocok dan pas sekali memerankan Suster Maryam ini. Ekspresinya dapat banget. I love her in this movie, and she looks so good in her nun’s outfit.

“Kekacauan” mulai menghampiri hidup Suster Maryam yang tenang dan damai itu ketika datang seorang pastor baru yang muda dan keren (yak “keren” adalah kata yang lebih tepat digunakan di sini dibandingkan “ganteng”), berambut ikal agak gondrong, dengan bulu-bulu di wajahnya, pelatih grup paduan suara gereja, energik, ceria, ke mana-mana naik sepeda dengan penuh semangat, dan sesekali merokok dengan wajah sendu. Aku rasa pastor seperti ini akan membuat siapa saja, termasuk aku, jadi ingin rajin-rajin datang ke gereja, hihihi. Dan tentu saja, tidak ada yang lebih cocok memvisualisasikan Pastor Yosef yang merupakan cobaan terbesar bagi iman kita ini selain Chicco Jerikho yang dapat banget memerankan tokoh yang tipe aku banget ini, hihihi.

Cerita selanjutnya berputar di sekitar dinamika yang dialami Suster Maryam dan Pastor Yosef di antara cinta dan komitmen mereka kepada Tuhan serta janji suci akan pelayanan kepada Tuhan dan umat, dengan sebuah tawaran akan cinta baru yang misterius, mendebarkan, bergemuruh, bergelora, sulit ditolak, membahagiakan, sekaligus berbalutkan dosa besar dan perasaan bersalah yang tiada terperikan. Dinamika psikologis dan kebimbangan hati yang dialami oleh Suster Maryam dan Pastor Yosef ini tergambarkan dengan sangat apik dan menggetarkan hati, apalagi dengan dibalut gambar-gambar indah Kota Tua Semarang (dan beberapa scene di Yogyakarta), membuat film ini sungguh memanjakan mata dan hati kita, walaupun kadang agak gemas dengan kelakukan Pastor Yosef yang bad boy-bad boy gimana gitu, hehehe, you should watch it yourself.

Apa yang kemudian terjadi pada Suster Maryam dan Pastor Yosef, apalagi setelah terjadi sebuah peristiwa besar pada hari ulang tahun Suster Maryam yang ke-40? Again, you should watch this movie yourself! Dan aku pikir masih jarang film Indonesia dengan tema maupun alur seperti ini, jadi, yes, you should watch it!

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *