Film “Bumi Manusia”: Kita Sudah Melawan Sebaik-Baiknya Sehormat-Hormatnya

Yes, memang ketika tahun lalu ramai kabar bahwa novel masterpiece Bumi Manusia akan difilmkan, aku agak deg-degan, dan sempat agak kesal karena waktu itu katanya sutradaranya hanya akan fokus di kisah cinta antara Minke dan Annelies dan bahkan sempat mengatakan bahwa Bumi Manusia hanyalah kisah cinta sepasang anak muda, something like that. Bukan cuman aku yang kesal waktu itu, banyak yang ngomel juga dengan pernyataan itu, menunjukkan kalau novel ini begitu dicintai oleh banyak orang Indonesia.

Tapi karena aku sadar bahwa aku sedang melatih diriku untuk berpikir secara holistik, tidak sepotong-sepotong, dan juga harus berangkat dari realitas bukan asumsi, maka sejak awal aku sudah memutuskan untuk tetap akan menontonnya, bagaimanapun juga. Apalagi ketika sebulan yang lalu teaser trailer-nya muncul, aku pun memantapkan untuk adil sejak dalam pikiran, tonton dulu baru komentar kemudian, hehehe, baik itu tentang ceritanya, alurnya, pesannya, maupun para pemainnya.

Dan inilah dia, setelah kemarin pagi begitu bangun tidur aku langsung buka aplikasi M-Tix (karena tidak bisa pre-order) demi bisa mendapatkan bangku di deretan C di hari pertama pemutarannya, akhirnya bakda magrib aku bersama ketiga movie-mate-ku menghabiskan 3 jam kami di dalam bangku gedung bioskop. Dan karena aku sudah nonton, dengan seksama pula (plus nahan pipis supaya tidak terlewatkan satu adegan pun), berikut adalah review-ku.

Jujur saja di 15 menit pertama aku agak terganggu ketika film menampilkan gambar-gambar untuk memperkenalkan latar belakang waktu dan situasi cerita film tersebut. Rumah-rumah, bangunan-bangunan, serta gapura kampungnya kenapa terlihat seperti di studio banget (I know itu memang di studio di Moyudan sono sih), tapi ya masa terlihat seperti di studio, hihihi. Warna-warna rumah dan bangunan yang sangat cerah ngejreng oranye, pink, kuning, hijau muda, dan terlihat seperti baru saja dicat malam sebelumnya sungguh mengganggu pemandangan mataku.

Entah kenapa sutradara film memilih warna-warna dan gambar-gambar yang saturasinya sangat cerah, bersih, dan tampak seperti baru semua begitu. Dan—ini yang paling bikin jiwa OCD-ku bergejolak hebat—kapal di atas lautannya, ya ampun, terlihat sangat tempelan sekali, seperti sinetron Indosiar dengan macan dan naga terbang tempelannya itu. Ya walaupun cuman terlihat sekitar 2 atau 3 detik sih, tapi benar-benar membuatku gatal rasanya, hehehe. Juga kostumnya, aduuuhh, bersih-bersih dan terlihat baru begitu. Entahlah, mungkin memang itu semua disengaja. Tapi kayaknya kok kostum mereka terlihat terlalu bersih, rapi, dan bagus untuk zaman itu, walaupun ya itu memang terlihat indah di mata sih.

Eits tenang, itu cuman 15 menit di awalnya saja sih, masih ada 2 jam 45 menit lagi. Dan ternyata hal yang aku sebutkan di atas tadi adalah satu-satunya hal yang menggangguku di film itu, karena other than that, menurutku film ini bagus dan bisa membawa pesan-pesan kuat yang ingin disampaikan Pramoedya melalui Bumi Manusia-nya, dan kekhawatiranku sebelumnya bahwa film ini hanya akan menampilkan kisah cinta saja, tidak terjadi sih menurutku. Ya kisah cinta antara Minke dan Annelies mendapatkan porsi yang besar, tapi tidak cheesy, dan memang seperti itu seingatku yang ada di novelnya. Dan kisah cinta itupun diliputi oleh banyak sekali isu-isu kebangsaan, kemanusiaan, dan semangat zaman itu, seperti yang ada di novelnya.

Bahasa yang digunakan juga keren sekali, gabungan antara Bahasa Indonesia, Bahasa Belanda, Bahasa Jawa Surabayaan, Bahasa Madura, Bahasa Belanda Logat Surabaya, Bahasa Belanda Logat Madura, dan campuran antara semua itu. Walaupun aku tidak tahu bahasa-bahasa maupun logat-logat yang digunakan itu salah atau benar untuk masa itu, karena aku juga tidak sepenuhnya menguasai bahasa-bahasa itu, tapi menurutku sangat indah dan merupakan salah satu hal yang aku sukai dalam film ini. Walaupun temanku mengatakan logat Jawa-nya lebih mirip Yogyakartaan dibanding Surabayaan, tapi well secara keseluruhan aku tidak terlalu terganggu sih.

Dalam hal inilah film ini lebih dibanding novelnya, karena kalau dalam novelnya hanya ditulis “menggunakan Bahasa Belanda totok” atau “menggunakan campuran antara Jawa dan Belanda” atau “menggunakan Bahasa Belanda logat Madura” yang mana aku tidak bisa membayangkannya, dan film ini menampilkan semuanya secara nyata.

Selanjutnya para casting. Well secara keseluruhan para casting-nya okay menurutku. Iqbaal benar-benar sudah meninggalkan Dilan (kecuali mungkin di beberapa menit ketika dia ngegombalin Annelies). Aku rasa Iqbaal akan bisa menjadi seorang rising star setelah Dilan dan Minke ini. Dan hal yang paling aku suka dari Iqbaal di sini adalah dia bisa konsisten terlihat jelek alias tidak menarik secara fisik selama the whole 3 hours. Karena yang tergambar di kepalaku selama membaca novelnya memang Minke ini tidak cakep, tidak ganteng, tidak menarik secara fisik. Dia menarik karena kecerdasannya, kesopansantunannya, keberaniannya, karakternya, serta ketegasan sikapnya. Pendek kata, Minke menarik karena segala hal kecuali rupa fisiknya.

Dan hal itu cukup berhasil digambarkan dalam film ini. Karena kalau aku ingat Iqbaal di Dilan 1990 maupun Dilan 1991, kan dia terlihat sangat cakep dan charming banget gitu ya, like every young girl’s dream gitu yang cute dan sangat mempesona gitu. Nah itu semua hilang dalam film ini, Iqbaal tidak cakep! Seperti kubilang di atas tadi, dia menarik sih karena segala hal, tapi bukan karena fisiknya. Bahkan selama 3 jam itu aku menunggu akan ada saat-saat atau momen-momen yang di mana tiba-tiba Iqbaal terlihat cakep seperti Dilan, dan tidak ada dong, aman, konsisten jelek, congratulation, hihihi. Tapi tetap menarik, kan kemenarikan tidak selalu ada hubungannya dengan fisik.

Mawar, menurutku juga dia sangat cocok berperan sebagai Annelies. Cantik, bersinar, kekanak-kanakan, fragile tapi menyimpan kekuatan. Perpaduan yang akan membuat banyak laki-laki, termasuk Minke, jatuh cinta pada pandangan pertama. Persis seperti Annelies yang aku bayangkan selama ini. Mawar terlihat sangat-sangat cantik mempesona dan terlihat sekali Indo-nya, baik ketika menggunakan pakaian Belanda maupun pakaian pribumi.

Sha Ine Febriyanti, hmm, bagus juga sih sebagai Nyai Ontosoroh, tampak sekali karakternya yang kuat, tangguh, penuh harga diri, serta sangat mencintai Annelies dan Minke. Sedikit kekurangan mungkin secara fisik dia kurang “Jawa” dan agak terlihat seperti ada bule-bulenya, tapi ya tidak cukup menganggu sih. Darsam okay banget juga, Babah A-Tjong juga okay, bapak-ibunya Minke juga okay, Jan Marrais dan May Marrais bolehlah, Herman Mellema boleh juga, Resident dan kedua putrinya ya boleh, dokter keluarga Mellema, juru ketik Sastrotomo, ya okay-lah semua.

Hanya ada beberapa sih casting yang menurutku kurang cocok. Yang pertama yang lumayan mengangguku adalah Robert Mellema. Dalam bayanganku Robert itu ganteng, putih, dan terlihat banget Indo-nya. Tapi di sini Rob Mellema tidak terlihat Indo, malah terlihat Indonesia banget. Beda dengan adiknya Annelies yang Indo-nya tampak banget. Entahlah, mungkin disengaja ya untuk menunjukkan Rob yang sangat ingin menjadi Belanda tulen, secara fisik malah terlihat seperti orang Indonesia. Sementara Annelies yang ingin menjadi pribumi malah secara fisik terlihat banget Belandanya, entahlah.

Jan Dapperste alias Panji Darman juga cukup menganggu, dia terlalu cakep dan terlalu putih bersih serta tidak kelihatan Jawa-nya, padahal dalam bayanganku dia itu Jawa banget. Robert Suurhoff juga tidak terlihat Indo-nya. Kenapa sih, memangnya susah apa nyari casting laki-laki Indo di sini, bukannya banyak ya, hehehe.

Kalau jalan ceritanya, okay sih menurutku, bisa mentransfer apa yang ada di novel. Ya walaupun tentu saja tidak se-detail di novelnya, namanya juga film. Tapi cukup bisa menyajikan pesan-pesan dan semangat-semangat yang ada di novelnya. Bahkan bisa menghadirkan emosi-emosi yang kita dapatkan ketika membaca novelnya, seperti rasa kesal dengan orang Belanda dan hukumnya yang tidak masuk akal, rasa jengkel dan terhinanya betapa pribumi tidak dianggap sebagai manusia oleh Belanda maupun oleh sesama orang Indonesia sendiri, juga perasaan sebal dengan adat istiadat priyayi – non priyayi yang masih mengharuskan orang berjalan jongkok.

Ya pokoknya semua hal yang masih memandang rendah satu manusia dibanding manusia lainnya itu membuat kesal, mau dilakukan oleh Belanda maupun oleh bangsa sendiri. Ini semua tampak di film.

Juga perasaan-perasaan mendalam seperti harga diri yang terkoyak, kemarahan yang amat sangat, kejengkelan yang tiada terperikan, kekecewaan yang begitu menyakitkan, keputusasaan dan ketidakberdayaan, perasaan bahwa sudah mencoba melakukan segalanya tapi tetap harus bertekuk lutut di hadapan sebuah kekuasaan besar yang minta ampun tidak masuk akalnya. Itu semua tergambar dalam film ini, sama seperti di novelnya.

Ada 3 scene favoritku dalam film ini. Pertama ketika pengadilan Belanda tetap memutuskan Annelies harus dibawa ke Negeri Belanda, Minke yang biasanya sangat santun, terpelajar, serta tertata sopan dan rasional omongannya, saking-saking marah dan jengkelnya oleh situasi yang sangat tidak masuk akal itu, sampai mengangkat kainnya dan melompat ke meja majelis hakim sambil mengatakan, “bajingan, monyet kalian semua!”. Duh emosinya dapat banget deh.

Kedua ketika Nyai Ontosoroh dengan penuh harga diri, ketegasan, keberanian, dan kepala tegak menghadang pejabat Belanda dan berhadap-hadapan dengan senapan petugas Belanda mempertahankan apa yang menjadi hak miliknya walaupun akhirnya tetap harus menyerah dengan kenyataan, keren sekali.

Dan ketiga tentu saja ketika Nyai Ontosoroh mengatakan pada Minke bahwa “kita sudah melawan Nak, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya”, oh my, that’s my favourite punchline banget.

Okay panjang banget ya review-ku ya. Pada bagian terakhir aku akan membahas bahwa dari keseluruhan film, hal yang menurutku paling keren adalah film ini tetap menghadirkan kalimat-kalimat indah penuh makna yang sangat terkenal dari novelnya secara utuh dan pas banget. Seperti, “berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri, bersuka karena usahanya sendiri, dan maju karena pengalamannya sendiri” atau “seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sejak dalam pikiran apalagi perbuatan” atau “kalian boleh maju dalam pelajaran tapi tanpa mencintai sastra kalian tinggal hanya hewan yang pandai” atau “duniaku adalah bumi manusia dan segala persoalannya” dan masih banyak lagi, semuanya ada di dalam film, ya ampun senangnya.

Dan tentu saja kalimat paling favoritku yang di film-pun munculnya di moment yang paling pas dan paling menyentuh, yang sangat mewakili keseluruhan isi film ini: “Kita sudah melawan Nak, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya!”

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *