Film Dua Garis Biru: Materi dan Isu Banyak Pelatihan yang Disampaikan dengan Cerdas dalam Satu Film

Film Dua Garis Biru adalah film kedua yang aku tonton dalam seminggu terakhir ini yang alasan utamaku ingin menontonnya—pada awalnya—adalah karena review-nya yang bagus. Film pertama adalah Parasite yang—sorry I have to say—that it’s just NOT my kind of movie, dan yang kedua adalah Dua Garis Biru yang WOW! Wow as in kereeenn bangeeeett, wow as in I strongly recommend everybody to watch it, wow as in I was crying for like two hours straight, wow as in I instantly thinking of using it as training material, and wow as in I’m still thinking about it until now and consider it as one of the best Indonesian movie I’ve ever watched so far!

Ada banyak sekali “isu” yang ter-cover dalam film berdurasi kurang lebih 2 jam ini. Mungkin kita akan mulai review kali ini dengan pembahasan isu-isu tersebut, yes. Isu pertama tentu saja adalah SRHR alias Hak dan Kesehatan Seksual dan Reproduksi. Film ini dengan cara yang cerdas dan smooth menunjukkan pentingnya pengetahuan SRHR bagi siapa saja, entah itu anak dan remaja, orangtua, guru, dan orang-orang dewasa lainnya. Bahwa pendidikan seks itu bukan pendidikan tentang bagaimana berhubungan seksual atau sebaliknya larangan berhubungan seksual sebelum menikah saja, tetapi segala hal detail di antaranya yang perlu diketahui dengan baik dan benar, karena itu adalah hak setiap orang untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan benar.

Termasuk dalam isu ini—dibahas dengan sangat bagus tanpa judgement and blaming—adalah tentang KTD (Kehamilan Tidak Diinginkan), dan juga dampak-dampak dari kehamilan usia anak dari sisi medis, sosial, ekonomi, pendidikan, masa depan anak, dan lain-lain. Jadi kebayang deh, 7 tahun terakhir ini, aku dan teman-temanku keliling dari sekolah-sekolah dan komunitas-komunitas berusaha menyampaikan hal tersebut pada para remaja dengan berbagai metode. Eh ini sang sutradara, Gina S. Noer, melakukannya dengan cara yang puluhan kali lebih efektif dan massif, hihihi, you are a badass girl!

Isu yang kedua adalah soal mematahkan segala pelabelan yang ada selama ini tentang permasalahan remaja. Pelabelan bahwa KTD hanya akan terjadi pada “remaja tidak baik-baik” yang keluarganya broken, sekolahnya hancur, dan perilakunya buruk, serta pelaku seks bebas. Kedua tokoh dalam film ini, Dara dan Bima, adalah remaja baik-baik dengan keluarga yang harmonis, berprestasi di sekolah, memiliki lingkaran pertemanan yang supportif, dan pergaulan yang baik. And well, that thing still happened to them! Bagaimana ceritanya bisa demikian? You should watch it, okay, I’m trying my best to not giving you spoilers as much as I can, hehehe.

Pelabelan selanjutnya yang dipatahkan oleh film ini adalah pelabelan gender, bahwa laki-lakilah yang A, B, C, D, dan perempuanlah yang W, X, Y, Z, secara kaku dan tidak bisa dipertukarkan. Aku suka banget bagaimana film ini menggambarkan dengan sangat manusiawi pemeran utama laki-laki (Bima) yang lebih emosional dan ekspresif akan perasaannya, lebih sensitif, berperasaan halus, lembut, dan sangat sopan. Sementara pemeran utama perempuan (Dara) lebih rasional, tegas, tak-tes, penuh target, lempeng, dan kurang ekspresif. Dan hal itu tidak membuat keduanya less man or less woman, instead, it makes them more human!

Kesamaan dari mereka berdua adalah mereka sama-sama berani bertanggung jawab dan menanggung segala konsekuensi dari kesalahan yang telah mereka perbuat. Walaupun dengan respon-respon dan cara-cara yang khas remaja berusia 17 tahun. Salah satu adegan-adegan yang aku suka adalah ketika Bima menangis karena dia takut, marah, bingung, merasa bersalah, terharu, sedih, senang, merasakan cinta, dan berbagai emosi lain yang saling berkelindan. I really can feel you, boy!

Juga para tokoh orangtua di sini. Para ayah di sini adalah ayah yang sensitif serta lebih perhatian pada hal detail dan lebih tahu cara mendekati anaknya. Para ibu di sini kebetulan adalah ibu-ibu yang tegas dan rasional, walaupun tetap sangat mencintai anak-anak mereka. Para orangtua ini berusaha keras memaafkan kesalahan anaknya dan juga menyadari kesalahannya sendiri serta memaafkan diri mereka sendiri dengan segala proses yang mereka lalui, yang pada akhirnya, tetap, LOVE is all that matters.

Banyak sekali adegan-adegan mengharukan dan menguras emosi tentang segala perasaan yang bersilang-sengkarut dalam relasi-relasi antara sepasang kekasih, antara orangtua dan anak, antara kakak dan adik, antar-besan, antar-teman, dan lain-lain yang sungguh-sungguh menunjukkan bahwa manusia itu tidak hitam putih, bahwa segala hal itu tidak bisa didikotomikan dengan simply baik-buruk, bahwa ada sebab di balik sebuah akibat, bahwa kita mesti menghargai proses, dan bahwa pada akhirnya, again, LOVE is all that matters.

Isu yang ketiga adalah nilai-nilai feminisme yang terselip dengan cantik, yang sudah kusebutkan di atas tadi. Tentang tidak dikotomis, tidak hitam-putih, sebab dari sebuah akibat, menghargai proses, kehidupan adalah siklus, pentingnya membangun relasi personal agar bisa memahami, dan penerimaan tanpa syarat. Semua disampaikan dengan sangat smooth dan nge-blend melalui semua tokoh-tokohnya.

Alurnya berjalan dengan sangat logis, masuk akal, dan mengalir dengan indah. Tokoh-tokohnya pun sangat berkarakter dan dimainkan dengan sangat apik oleh para casting-nya. Dinamika psikologis yang dialami oleh tokoh-tokohnya dan twisted feeling yang tergambar dengan sangat apik sungguh akan membuat kita sangat terlarut ikut merasakan perasaan mereka.

Gambar-gambarnya indah dan penuh metafora. Nah, metafora ini juga adalah hal yang cukup signifikan dalam film ini. Kita harus cukup jeli melihat metafora-metafora yang kadang lucu, kadang sedih, kadang indah di sepanjang film. Seperti buah strawberry, kerang rebus, navigator di HP yang lupa dimatiin, boneka ondel-ondel raksasa, poster-poster di kamar Dara, suasana perkampungan di sekitar rumah Bima, ibu-ibu cerewet di Obgyn, dan masih banyak lagi. Semua mengandung arti dan pesan-pesan tersembunyi. Again, you should watch it and find them yourselves.

Dan endingnya, the best possible ending a movie can have! Ending-nya sangat tidak mainstream, sangat mematahkan bias gender, sangat feminis, memberikan alternatif yang berbeda, dan sangat tidak bisa ditebak. Tentu saja aku tidak akan mengatakannya di sini, because you should watch it yourselves and feel the surprising feeling that I experienced when I watch that best ending, huhuhu.

Casting-castingnya juga keren-keren semua menurutku, dan semua tokoh di sini play a big role terhadap kekuatan jalan ceritanya, termasuk dokter Obgyn yang tidak judgemental dan sangat informatif serta supportif.  

Ooh wow, tumben ya aku membuat review film penuh dengan pujian, biasanya lebih banyak nyinyiran, hihihi. Maybe that is a sign, sign that you should watch this movie, hehehe!

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *