Film MARRIAGE STORY: Pernikahan adalah Sebuah Seni Saling Menghargai dan Memahami Satu Sama Lain

Yes film ini sudah agak lama keluarnya, sekitar akhir tahun lalu, dan aku menontonnya pun sudah lebih dari satu kali, tiga kali tepatnya, hehehe. You know me, penonton film diulang-ulang hore. Sudah lama juga aku ingin membuat review-nya, tapi ya karena satu dan lain hal, akhirnya baru sekarang aku beneran menulis review-nya. Telat banget memang, tapi karena aku menulis apa yang aku inginkan dalam waktu yang aku inginkan pula, jadi biarin lah ya, hehehe.

Marriage Story adalah tipe film yang menurutku kita nonton 3 kali ya selama 3 kali itu pula kita akan sangat terbawa perasaan dan suram hidupnya. I’m crying over adegan yang sama again and again, hahaha. Ya memang itu kelebihanku, bisa excited akan suatu hal yang sama dalam jangka waktu yang sangat panjang. Aku pernah merasakan efek yang serupa pada film Revolutionary Road yang kebetulan temanya sama persis. Sudah nonton berkali-kali selama bertahun-tahun ya tetap saja setiap kali habis nonton hidup jadi suram, baper, dan pengen nangis, hihihi.

Kalau Revolutionary Road (2008) menceritakan pasangan Frank (Leonardo DiCaprio) dan April (Kate Winslet) dengan setting Amerika Serikat tahun 1961 (karena film ini berdasarkan novel yang dibuat pada tahun 1961), maka Marriage Story (2019) berkisah tentang pasangan Charlie (Adam Driver) dan Nicole (Scarlett Johansson) dengan setting Amerika Serikat tahun 2019. Meskipun film itu menceritakan situasi dalam sebuah pernikahan yang berselang waktu cukup lama (hampir 60 tahun), tetapi situasi konflik, cara penyelesaian masalah, dan kesalahan-kesalahan yang dibuat oleh para suami istri itu masih sama persis. Nothing is really changed. Wow, don’t we learn something in the last 60 years? Akankah kita terus mengulang kesalahan-kesalahan yang sama selama 60 tahun ini dan akan terus berlanjut?

Mungkin banyak orang yang akan berpikir apa sih masalahnya April dan juga Nicole, sudah punya suami yang bertanggung jawab, ganteng, menafkahi dia dengan cukup, anak yang lucu, rumah yang nyaman, lingkungan pergaulan yang asyik, kenapa sih masih merasa tidak bahagia? Well, kalau aku sih dari sejak menit-menit awal menonton kedua film itu sudah langsung get it masalahnya apa, dan yes masalahnya memang substansial dan krusial. Baik April maupun Nicole, mereka tidak merasa cukup dihargai, tidak cukup didengarkan, dan merasa tidak bisa menjadi dirinya sendiri, bahkan merasa semakin hari mereka semakin kecil dan kecil, lenyap dan menghilang, dan hanya dikenal orang sebagai istri dari Frank/Charlie dan ibu dari anaknya. Mereka kehilangan dirinya, bukankah itu sangat mengerikan?

Frank dan Charlie sendiri tidak bisa melihat dan memahami hal itu. Mereka sama sekali do not get it kenapa istrinya tidak merasa bahagia padahal sudah dicukupi kebutuhannya dan bahkan dalam kasus Nicole dibantu karirnya menjadi aktris teater. Aku bahkan sampai gemas sekali rasanya pas melihat setelah Charlie dan Nicole menjalani proses perceraian yang panjang dan menyakitkan itu, Charlie tetap tidak bisa melihat apa sih sebenarnya masalahnya, dia tetap tidak memahami kenapa istrinya minta cerai. Bahkan setelah semuanya berakhir dia masih dengan wajah kebingungan, sedih, dan no clue menyanyikan lagu “Being Alive” dengan lirik “make me confuse, mock me with praise, let me be used, vary my days”. So no, he didn’t get a clue, not at all. Dan baik Charlie maupun Frank ketika mereka merasa tidak bisa membahagiakan istrinya, pelariannya adalah tidur dengan perempuan lain, dan ketika dikonfirmasi oleh Nicole maupun April, “apakah kamu mencintainya?” Jawabannya dengan tegas, “no, but she doesn’t hate me” kata Charlie, dan hanya ingin menunjukkan bahwa ada perempuan lain yang mencintainya kalau kata Frank. Oh nooo, sungguh sebuah pengalihan konflik yang sangat buruk, yes.

So no, they don’t stop love each other. They do still love each other! Mereka masih saling mencintai, sebesar atau bahkan lebih besar dari ketika mereka memutuskan menikah dulu. Tapi memang masalahnya bukan itu, masalahnya bukan karena sudah tidak ada cinta lagi. Cinta masih ada, masih banyak, tapi ketidakmampuan untuk saling mengkomunikasikan kebutuhan mendasarnya sebagai seorang manusia, kebutuhan untuk mengada dan menjadi dirinya sendiri, diterima dan didengarkan, dihargai keinginan dan pendapatnya, dan didukung untuk berkembang menjadi dirinya dalam versi terbaiknya, untuk  sama-sama diprioritaskan dalam kehidupan yang mereka bangun bersama, untuk tidak dihilangkan dan hanya dianggap sebagai peran pendamping saja.

Bisa jadi itu bukan salah Frank atau Charlie yang sama sekali tidak bisa memahami hal itu dan juga bukan salah April atau Nicole yang setengah mati coba menyampaikannya dan berharap dipahami tapi sulit sehingga memutuskan untuk menyerah dan pergi. Tetapi di sini lagi-lagi kita bicara tentang konstruksi gender tradisional yang membentuk laki-laki in some certain ways dan membentuk perempuan in some certain ways secara kaku dan sistematis sehingga sulit didobrak. Hasilnya baik para laki-laki maupun para perempuan ini sama-sama menderita karena tidak bisa saling menemukan, tidak bisa saling mendobrak sekat-sekat gender yang sudah dibentuk ribuan tahun itu, sehingga yang muncul adalah kemarahan, kebingungan, dan kemenyerahan. Meskipun mereka saling mencintai, mereka harus menyerah oleh ketidakberdayaan mereka menguasai seni saling menghargai dan memahami satu sama lain.

Well, it’s so sad, tapi ini jamak terjadi. Walaupun yang biasanya terjadi, perempuannya tidak seberani April atau Nicole yang akhirnya mencoba untuk keluar dari situasi itu, tapi ya pasrah saja, hidup ngenes, dibatin, tidak bahagia, dan akhirnya dari penyakit psikis itu berubah menjadi penyakit fisik yang menggerogoti hidupnya sedikit demi sedikit dan perlahan-lahan, atau mencoba mencari hiburan untuk mengalihkan ketidakbahagiaannya itu dan tidak mengharapkan apapun lagi dari pasangannya. “Terlihat seperti klien-klien yang setiap hari datang untuk konseling,” kata temanku seorang konselor di lembaga layanan pendampingan perempuan, setelah menonton film Marriage Story. “Capek aku, setelah setiap hari melihat hal semacam itu, eh nonton film mau cari hiburan malah melihat hal yang sama persis,” lanjutnya, hahaha.

Menurutku sih film ini sangat berhasil membawa realitas dan menyajikannya secara “hurtfully beautiful” kepada kita para penonton. Selain konflik utama soal relationship suami dan istri yang aku ceritakan di atas, film ini juga banyak mengangkat soal peran-peran gender tradisional yang kusebutkan tadi dalam hal-hal yang lainnya. Misalnya soal peran pengasuhan anak. Ketika pengadilan memutuskan untuk melakukan pengamatan kepada Nicole dan Charlie untuk keperluan memutuskan soal hak asuh anak mereka, Nora pengacara Nicole yang sangat keren dan kaya pengalaman itu mengatakan bahwa ketika diwawancara oleh evaluator Nicole harus benar-benar menjadi ibu yang sempurna. Karena masyarakat dan juga hakim bisa menerima ayah yang tidak sempurna tapi tidak bisa menerima ibu yang tidak sempurna, lha wong ide tentang ayah terlibat dalam pengasuhan saja baru ditemukan 30 tahun yang lalu, demikian penjelasan Nora. Again, it’s sad but it’s so true!

Ada setidaknya 3 scene yang mau aku tonton ulang sejuta kali pun kayaknya aku tetap bakal menangis sejuta kali over it, hahaha, lebay ya. Pertama scene ketika Charlie dan Nicole yang awalnya masih tetap santun dan tenang akhirnya meledak dalam sebuah pertengkaran hebat yang full of deepest emotion, keren banget deh, you should see that, dalam banget. Kedua, saat Charlie menyanyikan lagu “Being Alive” di sebuah café, again dengan ekspresi perasaan yang sangat mendalam, bercampur aduk, dan dapat banget. Ketiga ketika Henry (anak mereka) membaca keras-keras tulisan yang ditulis Nicole tentang Charlie ketika mereka pertama kali bertemu mediator pra-perceraian dan bagaimana Charlie menahan sekuat tenaga agar air matanya tidak tumpah di depan anaknya, dengan Nicole berdiri di belakangnya. Oh my God, kata yang paling tepat menggambarkan ketiga adegan itu adalah “hurtfully beautiful” atau “beautifully hurtfull” aku tidak tahu yang mana yang lebih pas, tapi you know kan what I mean, hehehe.

Adam Driver dan Scarlett Johannson, tidak usah ditanyakan lagi, keren banget dan bisa banget membawakan karakter Charlie dan Nicole. Noah Baumbach sang sutradara memang keren banget. Keseluruhan alur cerita dan adegan-adegan sepanjang film ini juga semuanya pas, natural, dan masuk akal, juga karakter-karakter pendukung kedua tokoh utama tadi, keren banget pokoknya. I think this movie worth lots of award-winning, seriously! This is the kind of movie that I strongly recommend you to watch, lebih dari satu kali kalau bisa, hehehe.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *