And Freddie Mercury Will Live Forever

Yes I know, aku sudah berkali-kali menulis tentang Queen dan Freddie Mercury di kolom mini harianku di FB dan IG. Tapi karena persis di hari ini, 27 tahun yang lalu, that rock star meninggalkan dunia ini walaupun tetap hidup di hati dan pikiran kita untuk selama-lamanya, so I can’t help it not to write about him again. And just like Brian May say in their song “Only the Good Die Young”, that he’s not dying, he’s just “flying too close to the sun”. And the fact that we are still listening to his voice, watching his video, and talking about him, make it seems like he is still living around us.

Well, aku mulai kenal dan langsung ngefans sama Queen tahun 1990, waktu aku kelas 3 SD, hanya setahun sebelum Freddie pergi untuk selama-lamanya. Dan pada waktu itu, you know lah, bagi anak SD yang hidup di kota kecil Magelang, segala akses informasi tentu sangat terbatas tidak seperti sekarang. All I’ve I got at that time cuman kaset album-albumnya Queen yang aku putar berulang-ulang di tape recorder. Tidak ada seperti zaman sekarang yang kita bisa ngelihatin semua videonya di YouTube, stalking foto-fotonya di Instagram, atau membaca semua informasi tentangnya di internet, bahkan bisa nonton film biopiknya pula. I wish I had that luxury before. Untuk cari lirik-lirik lagunya saja dulu susah banget, jadi kalau bisa nemu liriknya itu sudah kayak treasure banget. Soalnya jadi bisa menyanyikannya tanpa ngawur kata-katanya, hehehe.

Tapi aku juga sekaligus merasa bangga dan kagum dengan kehidupan kita dulu (baca: anak-anak tahun 1990an). Perasaan kita dulu santai aja gitu anaknya, tidak mudah memberikan stigma dan stereotyping kayak orang-orang sekarang. Dulu aku sudah tahu dari berita dan dari om dan tanteku kalau Freddie itu biseksual, mengidap HIV/AIDS, dan bahkan meninggal karena HIV/AIDS. Tapi ya so what gitu lho. Aku yang pada waktu itu masih SD dan dari kota kecil yang minim akses pula, sudah otomatis memandang manusia ya sebagai manusia saja, melihat prestasinya saja, dan tidak dengan gampangnya memberi stigma serta caci maki ke orang hanya karena alasan-alasan tertentu seperti yang banyak dilakukan orang sekarang. Well, aku yang berumur 9 tahun pada waktu itu sudah berpikir, okay, mungkin memang perilakunya salah, but who am I to judge. Bukan berarti kita harus membenci orangnya kan. I still admire his songs and his charms until the next 28 years and still counting. Keren ya anak-anak tahun 1990an.

Sejak kecil aku kalau mendengarkan lagu selalu memperhatikan dan menghayati liriknya, termasuk lagu-lagu Queen tentu saja, dan karena dalam Bahasa Inggris aku sibuk-sibuk mencari artinya. Aku ingat, salah satu omku pernah bilang gini, “coba kamu kalau dengerin lagu, dengerin satu-satu komponennya, dengerin suara gitarnya doang, dengerin suara bass-nya doang, dengerin suara drum-nya doang, terus dengerin suara vokalnya doang”, dan aku mencobanya, mungkin karena itu aku jadi menghayati banget suara vokalnya Freddie, karena kalau pas denger vokalnya doang, aku mengabaikan suara-suara yang lain. Terus satu hal lagi yang aku sadari baru-baru ini adalah, kok aku sekarang melihat Freddie yang bitchy, Roger yang ganteng, John yang manis dan kalem, serta Brian yang tampang rock n roll banget itu jadi terlihat super hot and sexy banget ya. Dulu perasaan waktu SD sampai SMA aku biasa saja ngelihat mereka secara fisik. Again, menunjukkan kalau hasrat itu letaknya di kepala kita, bukan di mata, apalagi di ujung kelamin, hehehe.

Freddie, sebagai seorang entertainer, mengungkapkan segala isi hatinya secara implisit melalui lirik-lirik lagunya, yang ketika aku dengarkan lagi sekarang, oh my God, it’s so sad. I think he loved his fans so much, and he did everything he can to make all his fans happy. Di lagu “The March of the Black Queen” yang dibuat tahun 1974, dia sudah mengatakan melalui lirik lagunya “ a voice from behind me reminds me, spread out your wings you are an angel, remember to deliver with the speed of light, a little bit of love and joy, everything you do bears a will and a why and a wherefore, a little bit of love and joy, in each and every soul lies a man, and very soon he’ll deceive and discover, but even to the end of his life, he’ll bring a little love”. And he did, even to the end of his life, he did bring a little love and joy, just like he said through his song. Freddie memenuhi janjinya untuk bring a little love and joy to the end of his life.

Setelah mengetahui bahwa hidupnya tidak akan lama lagi, dia benar-benar memanfaatkan waktunya untuk sebisa mungkin meninggalkan “a little bit of love and joy” untuk para penggemarnya. Dalam 5 tahun terakhir hidupnya, dia masih melakukan concert tour (1986), masih mengeluarkan 4 album musik (A Kind of Magic/1986, The Miracle/1989, Innuendo/1991, dan Greatest Hits II/1991), 2 album live (Live Magic/1986 dan At the Beeb/1989), serta meluncurkan banyak video klip yang keren-keren. Bahkan pada tahun 1991, tahun terakhir dia berada di dunia ini, sepertinya dia sudah merasakan tanda-tandanya, sehingga dia meminta ketiga bandmates-nya untuk merekam suara vokalnya sebanyak mungkin dan meminta Roger, Brian, dan John untuk menyelesaikannya besok-besok, yang penting suara vokal dia sudah direkam dulu. Freddie sudah tahu waktunya tidak akan lama lagi. Dia mengatakan, “get me to sing anything, write me anything and I will sing it and I will leave you as much as I possibly can”. Dan ketiga bandmates-nya pun selalu siap, kapan saja Freddie merasa baikan sedikit, mereka sudah langsung stand by di studio siap merekam vokal Freddie. Itulah kenapa setelah kepergian Freddie, Queen masih menelurkan album-album musik baru dengan lead vokal masih suara Freddie Mercury.

Dan video-video klip terakhir yang dibuatnya. Oh my God, make me cry everytime I see it. Misalnya video klip “I’m Going Slighty Mad”, oh my God, di video itu seolah-olah Freddie di-make up pucat dan seram, padahal memang itu wajah aslinya, he looks so sick and he’s definetely going slighty mad dengan rasa sakit yang menyiksanya itu, bahkan kabarnya dia sudah hampir buta. But still, dia dan ketiga bandmates-nya membuat video klip itu dengan sangat serius dan keren. You will definitely cry hearing him sing, “I’m going slighty mad, I’m going slighty mad, it finally happened, it finally happened, I’m slighty mad, oh dear”. Walaupun dia sudah setengah gila karena menahan rasa sakit, tapi seperti dalam lirik lagu “The Show Must Go On”, dia tahu sekali bahwa “the show must go on, even my heart is breaking, my make up maybe flaking, but my smile still stays on”.

Video klip “These Are the Days of our Lives” tidak kalah sedihnya. Video klip terakhir Queen di masa Freddie masih hidup ini awal diluncurkannya sengaja dibuat hitam putih untuk menyamarkan wajah Freddie yang sudah sangat pucat, kurus, dan terlihat sangat sakit itu. Di video ini Freddie tampil sederhana dengan potongan rambut cepak, tanpa kumis, dan mengenakan baju bergambar wajah kucing-kucingnya. Lagu yang diciptakan oleh Roger Taylor itu menceritakan hari-hari mereka berempat bersama Queen selama 22 tahun yang sangat membahagiakan. Dikatakan melalui lagu itu, “sometimes I get to feeling, I was back in the old days, long ago, when we were kids, when we were young, things seemed so perfect you know, the days were endless, we were crazy, we were young, the sun was always shining, we just lived for fun, sometimes it seems like lately, I just don’t know, the rest of my life’s been just a show”, so obvious ya liriknya.

Tapi aku rasa Freddie sudah melakukan a proper good bye pada semua penggemarnya yang mencintainya. Ketika di video klip lagu tersebut dia menyanyikan lirik, “those are the days of our lives, the bad things in life were so few, those days are all gone now but one thing is true, when I look and I find,” lalu Freddie menatap lekat-lekat ke kamera, kemudian dia di-close up, dan dia tersenyum sambil melanjutkan lirik tersebut yang kata-kata begini, “I still love you, I still love you!” Aku rasa itu adalah caranya mengucapkan selamat tinggal kepada semua orang yang mencintainya. Dia sudah memenuhi apa yang pernah dijanjikannya 20 tahun sebelumnya, bahwa dia akan “bring a little bit of love and joy” bahkan sampai “the end of his life”. What a great proper good bye I guess. Video itu adalah terakhir kalinya dia menampakkan diri di depan kamera hingga kepergiannya pada tanggal 24 November 1991.

Seperti yang Freddie katakan sendiri, dia hanya memenuhi apa yang menjadi takdirnya, sebagai performer, entertainer sejati. Mari kita kembali ke pesan yang disampaikannya melalui lagu “The March of the Black Queen” di tahun 1974 tadi, ketika dia mengatakan, “My life is in your hands, I’ll fo and I’ll fie, I’ll be what you make me, I’ll do what you like, I’ll be a bad boy, I’ll be your bad boy, I’ll do the march of the Black Queen”. Aku rasa lirik lagu itu ditujukan kepada kita penggemarnya. And he did it! He did it! He did become what we make him, he did what we like, he did become our bad boy! Thank you Freddie Mercury for every little love and joy you gave us. I think you will live forever in our heart and mind.

Fitri Indra Harjanti.

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *