HACKSHAW RIDGE (2016): BISAKAH KITA BERPERANG UNTUK MENYELAMATKAN NYAWA DAN BUKANNYA MENGHILANGKANNYA?

Salah satu kabar berita mengerikan yang mengelilingi kita akhir-akhir ini adalah serangan militer Rusia ke Ukraina yang membuatku terheran-heran, hari gini masih perang fisik, so last century banget ngga sih itu, yang disambut oleh tawa suamiku atas pandangan naifku itu. Tentu saja aku tidak akan menulis soal perang yang tengah terjadi itu karena I don’t know what to say, really, saking speechless-nya, tapi instead, dalam rangka rangkaian tulisan film-filmnya Andrew Garfield, aku jadi pengen menulis soal filmnya yang berjudul Hackshaw Ridge yang merupakan film bertema perang.

Hackshaw Ridge adalah film biografi perang yang disutradarai oleh Mel Gibson. Mengangkat kisah nyata seorang prajurit bernama Desmond Doss dengan latar belakang masa Perang Dunia II, khususnya Pertempuran Okinawa (Battle of Okinawa) tahun 1945 antara kekuatan tentara militer Amerika Serikat melawan tentara militer Jepang di Pulau Okinawa, Jepang. Konon Pertempuran Okinawa ini adalah pertempuran yang memakan paling banyak korban sepanjang Perang Pasifik di masa Perang Dunia II.

Diceritakan Desmond Doss (yang tentu saja diperankan oleh si keren Andrew Garfield) adalah seorang penganut Kristen yang taat, anak seorang veteran perang yang tinggal di Virginia, Amerika Serikat. Seperti anak muda lainnya pada masa itu, Desmond pun ingin juga turut serta membela negaranya dalam perang dunia II, apalagi kakak laki-lakinya, Harold, juga sudah duluan mendaftar sebagai tentara. Sempat disebutkan bahwa pada saat itu, akan malu dan merasa bersalah banget bagi seorang laki-laki yang hanya enak-enakan di rumahnya yang damai sementara tetangga dan teman-temannya terjun ke medan perang, bahkan beberapa yang tidak keterima militer sampai bunuh diri saking malunya.

Makanya Desmond pun seperti pemuda-pemuda lainnya mendaftar dan berharap bisa diterima di kemiliteran Amerika, meskipun sebenarnya tidak disetujui oleh ayahnya Thomas Doss yang merupakan veteran perang dan tahu pasti seperti apa sih sebenarnya perang dan semengerikan apa kehancuran yang dibawanya. Desmond juga sempat bertemu dengan seorang perawat Bernama Dorothy dan jatuh cinta padanya, dan meminta Dorothy untuk menikahinya sebelum dia berangkat perang yang disambut dengan sukacita oleh Dorothy.

Desmond yang sangat religius ini sangat meyakini ajaran agamanya bahwa menghilangkan nyawa orang itu sangat dilarang dan merupakan dosa besar. Maka motivasinya menjadi tentara dan terjun ke medan perang adalah untuk menyelamatkan nyawa dan bukan untuk menghilangkannya. Terdengar naif ya kayak aku, hihihi. Maka sejak selama latihan sebelum dikirim ke medan perang pun, Desmond sudah dengan tegas menolak untuk menyentuh senapan apalagi menggunakannya.

Hal ini tentu saja langsung membuat kehebohan di camp latihan, masa iya tentara yang mau terjun ke medan perang menolak mentah-mentah menyentuh senjata. Walaupun Desmond menyatakan ia ingin menjadi tentara bagian medis, tetapi tetap saja kan semua tentara mesti memegang senjata kalau pergi ke medan perang. “Kalau kamu tidak memegang senjata, kamu tidak hanya akan membahayakan dirimu sendiri, tapi kamu juga akan mencelakakan teman-temanmu,” demikian kira-kira kata sang kapten. Desmond pun dipaksa untuk mengundurkan diri dari kemiliteran kalau dia tetap keukeuh tidak mau memegang senjata.

Namun Desmond bersikukuh bahwa dia tetap ingin ke medan perang sekaligus bersikukuh dengan nilainya bahwa dia tidak mau menyentuh senjata. Masalah ini menjadi besar dan bahkan sampai harus dibawa ke pengadilan militer. Belum lagi Desmond juga di-bully oleh teman-temannya karena nilainya itu, tidak mau memegang senjata dan harus diberi waktu untuk beribadah di hari Sabtu.

Anyway, Desmond pun akhirnya berangkat ke medan perang, dan dikirim ke salah satu medan pertempuran yang paling berbahaya, yaitu medan pertempuran Okinawa di sebuah tempat yang mereka sebut dengan Hackshaw Ridge. Dan tetap, tanpa membawa senjata apapun, hanya membawa tas berisi obat-obatan dan perlengkapan medis lainnya.

Aku sebenarnya tidak suka film perang ya karena aku takut dan merasa stres serta terteror dengan adegan-adegannya. Tapi ya demi Andrew Garfield apa sih yang engga, jangankan cuman disuruh nonton film perang doang, hihihi. Eh tetapi, turns out, film ini bagus bangeeeeettt. Tetap sih ada adegan darah-darah, bagian-bagian tubuh yang terburai ke mana-mana, mayat-mayat bertumpuk-tumpuk, tembak-tembakan, granat meledak, muncratan darah ke mana-mana, dan sebagainya itu. Tetapi semua itu tidak semata hanya sebuah kengerian yang terlihat di layar, tetapi benar-benar bisa menyampaikan makna, pesan, serta jalan cerita yang diinginkan, sehingga mungkin itu ya yang membuat film ini jadi bagus.

Walaupun tetap gilak, film ini meneror aku tanpa ampun. Rasanya stres dan tertekan banget aku selama paling tidak separuh dari durasi film ini ketika adegan-adegan di medan perang. Tapi walaupun stres dan tertekan tapi kurasa it was a good stress kali ya. Jadi rasanya itu kayak, oh nooo please, ingin filmnya segera berakhir tapi sekaligus ingin menikmati filmnya lebih lama lagi, ingin menutup mata tidak mau melihat adegannya tapi sekaligus tidak mau terlewatkan sedikitpun detail dari setiap adegan, ingin menyudahi saja filmnya tapi sekaligus aku ulang-ulang setiap adegan pentingnya, wkwkwkwk, kebayang kan ya seperti apa dinamikanya.

Menurutku ini termasuk pengalaman baru yang kurasakan dalam menonton film sih. It’s like aku tak henti-hentinya bilang oh nooo please nooo tapi juga mata tidak berkedip mengamati detail setiap adegannya. Belum lagi rasa tegang, deg-degan, takut, kesal, penasaran, kaget, kagum, senang, bangga, yang datang silih berganti bahkan kadang bercampur dan saling bersilang sengkarut, hehehe.

Tidak hanya aku saja yang mengatakan film ini bagus, tapi hampir semua sambutan terhadap film ini memberikan rating atau penilaian yang bagus tentang film ini. Film ini bahkan mendapat 6 nominasi Oscar tahun 2017 termasuk di antaranya film terbaik, sutradara terbaik, dan aktor terbaik untuk Garfield, nominasi Golden Globe juga di antaranya untuk film terbaik, sutradara terbaik, dan aktor terbaik untuk Garfield. Belum lagi award-award lain seperti AACTA Awards, British Academy Film Awards, Critics Choice Awards, Satellite Awards, dan lain-lain. Pokoknya bejibun banget penghargaannya baik yang dinominasikan maupun yang akhirnya benar-benar dimenangkan. Sangat recommended untuk ditonton menurutku, dan film ini mudah didapatkan karena ada di Netflix.

Ini adalah film pertama Garfield setelah The Amazing Spider-Man 2, ketika The Amazing Spider-Man 3 dibatalkan dengan banyak konflik yang menyertainya. Garfield mengatakan bahwa ternyata memerankan superhero yang betulan ada di dunia nyata lebih menginspirasi dibanding memerankan superhero fiksional seperti Spider-Man. Garfield juga mengatakan bahwa dia menangis begitu membaca naskah film ini, dan sempat mengunjungi rumah tinggal Desmond Doss dan menyentuh barang-barangnya. Mel Gibson sendiri tertarik pada Garfield setelah melihat akting idola aqoeh ini bermain sebagai Eduardo Saverin di The Social Network.

Garfield menyampaikan bahwa dia sangat mengagumi Desmond Doss. Desmond Doss ini menjadi terkenal karena dia seorang diri menyelamatkan lebih dari 75 prajurit yang terluka (diceritakan dengan detail di film) dengan cara membopongnya, menyeretnya, menggendongnya, atau apapun yang diperlukan untuk memberikan pertolongan pertama kepada korban dan kemudian membawanya ke tempat yang aman untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

“Desmond Doss ini tubuhnya lebih kurus dari aku tapi dia seorang diri bisa menggendong/membopong korban-korban terluka yang beratnya melebihi dia, jadi aku bertekad aku akan benar-benar melakukannya selama proses syuting,” demikian cerita Garfield. Tapi ternyata baru membopong 1 orang saja, setelahnya Garfield langsung tidur selama 2 hari karena saking kelelahannya, wkwkwk. “Tidak terbayang bagaimana Desmond melakukannya,” kata Garfield kemudian.

Sudah lama banyak pihak ingin memfilmkan kisah Desmond Doss ini tapi ditolak oleh yang bersangkutan karena ia khawatir kisahnya tidak diceritakan dengan akurat dan hanya mengejar sensasi saja. Namun akhirnya pada tahun 2001 Doss memberikan izinnya, 5 tahun sebelum ia meninggal dunia di tahun 2006 pada usia 87 tahun.

Akting Garfield di film ini keren banget lah, there’s nothing left to say, kan dapat banyak nominasi aktor terbaik, termasuk Oscar dan Golden Globe, sama lah kayak peran terbarunya di Tick Tick Boom. Bisa banget Garfield (dan sutradara Mel Gibson tentu saja) membuat para penonton—khususnya aku—benar-benar bisa merasakan a very good stress kayak yang kugambarkan di atas. Sungguh sebuah pengalaman sinematik baru bagi aku yang sebelumnya tidak suka (atau tidak tahan) melihat film perang. Rating dari aku untuk film Hackshaw Ridge 9, untuk akting Garfield di film ini juga 9, yay!

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | HACKSHAW RIDGE (2016): BISAKAH KITA BERPERANG UNTUK MENYELAMATKAN NYAWA DAN BUKANNYA MENGHILANGKANNYA?
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *