Hal yang Dibutuhkan oleh Seorang Single Mom Bukan Tuntutan yang Tak Pernah Berakhir, Tapi Dukungan

Sebagai seorang single mom atau bilang saja janda gitu—entah kenapa kalau sebutan janda seringnya dikonotasikan negatif, tidak seperti sebutan duda yang dianggap biasa saja atau malah keren)—itu banyak sekali tantangannya. Tapi aku tahu aku tidak sendiri. Salah satunya aku memiliki sebuah grup WhatsApp yang isinya para single moms ini, walaupun anggotanya sangat sedikit karena tidak semua bisa atau mau blak-blakan dengan pilihan hidup sebagai single mom atau janda ini.

Tapi walaupun hanya dengan sedikit orang dalam obrolan-obrolan via grup WhatsApp itu saja sudah bisa membuat aku merenungkan, betapa para perempuan kawan-kawanku di grup WhatsApp ini dulunya adalah perempuan-perempuan yang ceria dan percaya diri, namun sekarang banyak yang jadi memiliki perasaan inferior, tidak percaya diri, dan selalu dihantui rasa takut, terutama ketika harus mengawali sesuatu yang baru.

Salah satu contohnya, ketika datang seorang laki-laki yang ingin memasuki kehidupan kita dan kebetulan “klik”. Apakah hal itu serta-merta membuat kita merasa bahagia? Engga lho! Lebih seringnya malah membuat kita merasa bingung. Kenapa bisa begitu? Ya bingung saja, apakah kita akan mengawali sebuah hubungan yang baru ini dengan menjadi diri kita sendiri atau akan menjadi sesuatu yang lain yang sesuai atau cocok dengan calon pasangan kita itu. Kebingungan-kebingungan semacam itu muncul karena kita pernah punya pengalaman, kita tahu rasanya bagaimana satu saja sifat negatif kita bisa membubarkan segalanya. Padahal kan semua orang, baik perempuan maupun laki-laki pasti memiliki sifat-sifat negatif dan sekaligus sifat-sifat positif ya, namanya juga manusia, kan tidak ada yang sempurna.

Nah ketika kita dihadapkan pada pilihan-pilihan itu, haruskah kita menjadi diri kita sendiri tanpa kepalsuan dan menerima bahwa kita jauh dari kesempurnaan? Ketika hal itu bisa sekaligus menempatkan diri kita pada posisi di ujung tanduk. Karena kita sulit menghilangkan kekhawatiran bahwa bisa jadi kita akan jatuh lagi untuk kesekian kalinya, entah karena ditinggalkan, atau tidak dihargai, atau bisa sih tetap bertahan tapi dengan kekhawatiran akan ditendang kapan saja tergantung dari kekuatan dan keluasan toleransi si pasangan, atau bisa juga kita yang terpaksa meninggalkannya.

Kekhawatiran-kekhawatiran itu membuat kita jadi berpikir bahwa kita harus menyesuaikan diri kita agar “cocok” seperti apa kata pasangan kita, padahal hal itu bisa membuat kita seakan terhimpit di antara dua tembok besar. Sudah begitu, kita pun juga tetap tidak akan tahu pasti hasilnya apa. Bisa jadi kita dihargai dan tidak ditendang, tapi bisa juga tidak, we’ll never know. Yang jelas yang sudah kita tahu adalah ketika kita memutuskan untuk tidak menjadi diri kita sendiri, sifat ceria, bebas, dan pribadi unik kita lainnya pun akan ikut hilang ditelan bumi. Apakah itu yang disebut hidup?

Sulit kan menyandang gelar janda di lingkungan patriakhi seperti ini? Itu baru berbicara tentang awal sebuah hubungan baru saja lho. Belum nanti memikirkan lanjutannya. Apakah calon mertua setuju, keluarga besar menerima, apakah si calon pasangan bisa menerima anak kita, menerima cerita kelam masa lalu kita? Belum lagi bicara soal keluarga kita sendiri—orangtua dan saudara kandung kita—yang selalu menuntut kita untuk memperbaiki sifat negatif kita. Tidak tahukah mereka bahwa kita saja sudah dihantui rasa tidak percaya diri, masih saja ditambah dengan tuntutan-tuntutan itu, padahal sejatinya yang kita butuhkan adalah dukungan, karena kita tentu sudah tahu kalau harus ada perubahan.

Belum lagi harus menghadapi pertanyaan-pertanyaan semacam, “kapan kawin”, “jangan pilih-pilih”, “ntar keburu tua lho”, “nanti keburu menopause lho”, “cari yang duda saja”, dan lain-lain yang datang dari segala penjuru. Apa ya semua hal itu berada di tangan kita dan bisa kita kontrol? Memangnya kita bisa memilih siapa yang datang kepada kita? Kan mereka datang sendiri ya tidak diajak-ajak, hehehe. Padahal di antara semua pertanyaan-pertanyaan yang membombardir itu, kita masih harus membagi pikiran dan perasaan kita untuk tetap berjuang mengurus masa depan anak sendirian, berjuang keras untuk mengidupi diri sendiri dan demi kesejahteraan anak yang semestinya bisa berbagi tugas tapi terpaksa kita lakukan sendiri. Lho kok malah jadi mengeluh gini ya.

Aku tidak mengeluh kok, malah aku pikir-pikir, hidupku ini jadi komplit. Tidak semua orang memiliki pengalaman seperti yang aku miliki. Tapi dengan pengalaman seperti itu, wajar kan ya kalau perasaan inferior sering muncul dan kepercayaan diri kadang mudah hancur. Bahkan kita pun masih sering have no idea dengan sifat negatif calon pasangan baru yang datang ke kita itu, walaupun banyak yang bilang, kan sudah berpengalaman sebelumnya, hahaha. Dan si laki-laki pun seringnya masih berfokus pada seputar persoalan sisi negatif perempuan yang menjadi sumber masalah, tanpa sedikitpun mau kompromi ataupun membangun komunikasi yang baik, apalagi berefleksi dengan sifat dan karakternya sendiri. Lagi-lagi perempuan yang salah. Memang ya perempuan ini harus selalu yang salah, hahaha.

Lalu apa yang harus dilakukan oleh perempuan-perempuan seperti kita ini? Sementara yang sangat kita butuhkan adalah dukungan dari orang-orang di sekitar kita agar perasaan inferior, ketidakpercayaan diri, serta rasa takut kita bisa sedikit demi sedikit hilang. Aku juga tidak tahu. Nanti kalau aku sudah tahu, aku kasih tahu ya, hehehe. Yang jelas, yang aku tahu pasti adalah, kita punya hak yang harus selalu dijaga untuk menjaga kewarasan kita sendiri.

Santi Listiyaningsih

Santi Listiyaningsih

Santi Listiyaningsih - Seorang abdi negara yang khusus mengurus pemberantasan dan penyalahgunaan narkotika. Sejak 2013 aktif menjadi konselor bagi mereka-mereka yang memiliki masalah adiksinya sekaligus segambreng permasalahan hidup yang dimilikinya. Sesungguhnya keinginan saya adalah punya pasangan yang baik hati, setia, ganteng, kaya raya dan gemar menabung, hanya saja yang seperti itu hanya ada di mimpi jadi demi membuat mimpi saya terwujud saya menjadikan tidur sebagai hobi yang paling menyenangkan.
Bagikan:

Santi Listiyaningsih

Santi Listiyaningsih - Seorang abdi negara yang khusus mengurus pemberantasan dan penyalahgunaan narkotika. Sejak 2013 aktif menjadi konselor bagi mereka-mereka yang memiliki masalah adiksinya sekaligus segambreng permasalahan hidup yang dimilikinya. Sesungguhnya keinginan saya adalah punya pasangan yang baik hati, setia, ganteng, kaya raya dan gemar menabung, hanya saja yang seperti itu hanya ada di mimpi jadi demi membuat mimpi saya terwujud saya menjadikan tidur sebagai hobi yang paling menyenangkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *