Hallo My Name Is Dropi, A Grey Tabby Cat

Hallo, namaku Dropi, lengkapnya adalah Rain Drop. Manusiaku memberiku nama itu karena ketika melahirkan aku, ibuku lari-lari sehingga aku terjatuh dari jalan lahirku, plus waktu itu di luar hujan deras. Untung aku dan keempat saudaraku lahir di dalam rumah kontrakan milik manusiaku di bawah tangga. Oh ya, aku adalah seekor kucing, grey tabby cat tepatnya. Buluku berwarna abu-abu dengan sedikit garis-garis doreng. Agak tebal karena ayahku adalah kucing blesteran, dan ekorku yang hanya half tail itu bulunya lebat sekali seperti sulak. Aku suka makan ikan bandeng atau tongkol, tapi manusiaku lebih sering memberi aku makan makanan kucing kering dicampur dengan makanan kucing basah. Tapi aku sangat mencintai kedua manusiaku, aku sering kangen kalau mereka pergi lama. Kadang aku mengambil makanan mereka tanpa izin, tapi mereka tidak pernah marah, malah menggendong dan mengelusku.

Ayahku Cucil adalah grey tabby cat blasteran bermata satu dan tidak memiliki ekor. Ketika berusia 2 bulanan ayahku dibuang begitu saja oleh entah siapa bersama dengan seekor kucing kampung betina calico berusia 1 bulan lebih tua darinya. Waktu itu lebaran tahun 2015. Akhirnya kedua manusiaku menampung ayahku dan ibuku yang terlunta-lunta. Aku lahir tanggal 10 November 2015 bersama dengan keempat saudaraku, aku adalah anak kucing ketiga yang dilahirkan. Tapi saudaraku yang lahir setelah aku mati ketika dilahirkan sehingga hanya tinggal kami berempat, kebetulan jantan semua: Lightning Bolt kakakku seekor ginger cat yang ganteng, Shower of Mercy kucing kembang asem yang lahir dengan kondisi khusus kelainan saraf sehingga tidak bisa bergerak layaknya kucing pada umumnya, dan adikku yang kelima Little Boxy yang berwarna sama sepertiku tapi bulunya tidak sepanjang aku. Boxy pernah sakit parah dan dibawa ke klinik selama 2 minggu. Kata manusiaku, jika seekor kucing kena penyakit seperti Boxy hanya 95 % kemungkinannya bisa bertahan, tapi Boxy bertahan.

Kami dulu tinggal di kontrakan kecil milik manusiaku dengan lingkungan yang sangat tidak ramah kucing, sehingga manusiaku selalu was-was setiap kali kami keluar rumah. Karena itu, kami selalu mendoakan agar mereka mendapatkan rejeki sehingga bisa membeli rumah sendiri dengan lingkungan yang lebih ramah kucing. Akhirnya doa kami terkabul, ketika usiaku satu tahun, manusiaku membawaku dan ketiga saudaraku pindah ke rumah baru di Bantul, yang sedikit lebih luas, lebih asri, dan lebih ramah kucing. Sekitar rumahnya pun masih banyak sawah dan lahan kosong untuk kami bisa bermain dan berlarian. Aku sangat berterima kasih pada manusiaku, aku sering menciumnya ketika mereka sedang terlelap tapi mereka tidak menyadarinya.

Sekarang usiaku hampir 3 tahun. Ketiga saudaraku sudah tidak ada bersamaku. Waktu kakakku Bolt hilang, manusiaku terus mencarinya dan mereka bersedih selama berbulan-bulan. Aku kasihan pada mereka dan ingin selalu menemani mereka. Saat ini, aku tinggal di rumah manusiaku bersama Lulu dan anak-anak kami yang lucu-lucu. Aku juga punya seorang frenemy alias teman sekaligus musuh bernama Putih, kami selalu berantem tapi kalau aku tidak ada, dia selalu mencariku. Putih adalah kucing penguasa kampung ini. Tapi sebentar lagi, aku yang akan menggantikan Putih sebagai penguasa baru. Manusiaku membebaskan aku untuk main keluar rumah dan pulang sesuka hatiku. Aku suka bermain di atap-atap rumahku dan rumah tetanggaku. Tetangga-tetangga kami di sini pun sudah mengenal aku, dan ada dari mereka yang juga suka memberiku makan. Aku sebenarnya tidak pernah pergi terlalu jauh dari rumah. Setiap kali manusiaku mau memberiku makan atau sekadar kangen denganku, mereka akan meneriakkan namaku berkali-kali, “Dropiii!!!” Begitu mendengar suara manusiaku memanggilku, aku pasti akan langsung berlari pulang. Menurutku suara mereka sangat khas sehingga aku bisa mendengarnya dari jauh. Begitu aku pulang, aku selalu digendong dan dielus-elus, kadang aku sebel karena aku adalah kucing dewasa calon penguasa kampung. Aku takut nanti Putih akan mengejekku.

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *