I Don’t Celebrate New Year’s Eve but I Do Celebrate Hopes to Welcoming the New Year with People I Love

Time is flying, isn’t it? Perasaan baru kemarin tahun baru 2018 eh tahu-tahu sudah mau tahun baru 2019 saja. Tapi tidak apa-apa, hal yang seharusnya kita renungkan adalah, apa yang sudah kita lakukan dalam 12 bulan yang telah berlalu itu. Seberapa banyak orang yang kita bikin senang dan kita berikan kenangan indah, seberapa banyak pekerjaan yang sudah kita selesaikan dengan baik, seberapa sering kita mengunjungi atau menemui keluarga dan sahabat-sahabat kita, seberapa banyak buku bagus yang kita baca, seberapa banyak film dan lagu keren yang kita nikmati, dan seberapa banyak binatang yang kita yakinkan bahwa bumi ini tidak hanya milik manusia saja, dan seterusnya. Kalau jawabannya sering dan banyak, berarti setahun kita yang telah berlalu ini bermanfaat dan tidak sia-sia, hehehe.

Seingatku selama ini aku tidak pernah “merayakan” tahun baru. Bukan, bukan karena itu dianggap budaya barat atau apalah gitu ya, hahaha. Eh budaya barat maksudnya gimana sih, budaya Kulon Progo gitu? (Hahaha, dasar orang Jogja sejati, tahunya barat cuman mentok sampai ke Kulon Progo.) Tapi lebih ke karena masih banyak hal-hal memprihatinkan yang terjadi di negeri ini, seperti bencana alam yang banyak terjadi menjelang penutup tahun ini, masih banyaknya kasus kejahatan seksual dan kekerasan terhadap perempuan lainnya, semakin tidak bersahabatnya manusia dengan alam dan binatang, masih sukanya orang-orang pada saling berantem dan menyakiti hati orang lain hanya karena perbedaan keyakinan, perbedaan pilihan hidup, dan bahkan perbedaan pilihan presiden (ealah), dan lain-lain. Rasanya seperti tidak ada yang bisa atau perlu kita rayakan gitu ya.

Tetapi setiap malam tahun baru biasanya aku tetap selalu keluar untuk merayakan sesuatu, yes, untuk merayakan harapan-harapan untuk tahun yang baru bersama orang-orang yang aku cintai. Walaupun tentu saja harapan-harapan baru itu bisa ada kapan saja, tidak usah menunggu malam tahun baru. Tapi kalau ada momennya dan ada simbol-nya kenapa tidak, ditambah hari libur lagi. Teman-temanku sih maksudnya yang libur, kalau aku sih libur terus (atau ga pernah libur, tergantung dari sisi mana melihatnya, hehehe). Ga usah dibikin susah atau dianalisis apalah apalah lah. Ini ada hari libur yang bisa kita manfaatkan untuk merayakan harapan baru di tahun baru bersama orang-orang yang kita cintai, ngapain ga kita manfaatin. Kalau ada pemandangan kembang api ya bagus lah, selama bukan kita yang beli, kan mahal soalnya. Kalau sudah ada dan kita hanya harus menikmatinya, ya dinikmati saja, jangan kufur nikmat, dan jangan bikin susah diri sendiri, kayak masih kurang susah saja hidupnya, hahaha.

Itulah kenapa di malam tahun baru aku selalu harus banget keluar rumah bersama suamiku dan berkumpul bersama teman-teman kami. Walaupun di usia yang semakin bijaksana ini (baca: tua), aku sudah jarang pergi ke keramaian-keramaian dan lebih memilih tempat-tempat yang lebih sepi dengan circle yang lebih kecil dan suasana yang lebih intimate. Seperti misalnya ke Balai Budaya Minomartani di Sleman Yogyakarta menonton pertunjukan seni komunitas bersama suami dan para sahabat seperti yang aku lakukan pada tahun baru 2016, tahun baru 2017, dan sepertinya juga iya pada tahun baru 2019 ini, rencananya sih begitu. Untuk tahun baru 2018 aku tidak kemana-mana karena sedang flu dan demam, sehingga cuman merayakannya bersama tetangga di atap rumahnya saja. Kalau awal-awal tinggal di Jogja dulu sih, aku masih suka pergi ke keramaian di malam tahun baru, tepatnya ke alun-alun utara Yogyakarta tempat biasanya pusat perayaan kembang api dilakukan. Bukan apa-apa ya, soalnya dulu kontrakannya di pusat kota dan bisa ke alun-alun utara dengan berjalan kaki saja. Cuman kalau harus bawa kendaraan dan harus parkir-parkir, kayaknya malas juga sih, hehehe. Aku suka melihat pesta kembang api, tapi tidak segitunya kalau effort-nya terlalu banyak (baca: pemalas), hahaha.

Pernah juga tahun baru aku habiskan bersama suami dan teman-teman di bukit bintang Patuk Gunungkidul dan di Rumah Budaya Tembi Bantul, ya hanya dengan ngopi-ngopi dan makan bersama saja, dan tentunya sambil ngobrol dengan hangat dan intimate. Atau pernah juga bakar-bakar jagung di rumah teman di Jalan Kaliurang Km. 9 Sleman walaupun ternyata susah sekali menghidupkan api untuk membakar jagung yang sudah disiapkan, dan pada akhirnya kita hanya makan snack-snack yang kita beli dari Ind*mart, hahaha. Pernah juga hanya berdua dengan suamiku keluar pada jam 12 malam kurang seperempat untuk makan mie ayam di Jalan Parangtritis Km. 9, hehehe. Intinya biasanya di malam tahun baru I want to stay awake all night and spend it with people I love to celebrate new hopes, new optimism, and new good plans untuk 12 bulan selanjutnya. What about you folks, what are you doing in the New Year’s Eve?

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *