Ilmu Parenting yang Bikin Galau

Mbak, bentar Mbak!

Panggil seorang perempuan usia tiga puluhan yang tengah mendorong gerobak. Aku tengah berkendara naik motor selepas acara Seminar Parenting yang mengundang narasumber. Si Ibu tersebut menjadi peserta di acara tersebut, sedangkan saya posisinya sebagai panitia.

“Pripun Bu?” tanyaku sambil menepikan motor. Ia juga menepikan gerobak beserta dagangannya.

“Begini Mbak. Tadi saya mau nanya, cuma saya malu,” jelasnya sambil sekali-kali matanya melirik, mengawasi si kecil yang baru berusia 3 tahun yang bersepeda roda tiga di sisinya.

“Jadi, saya itu sebenarnya orangnya nggak sabaran Mbak. Kalau marah nyubit. Tapi ya habis itu nangis Mbak, nyesel.” Ia juga bercerita bahwa ia kerap menyebut anaknya nakal karena nggak bisa disambi kalau si Ibu kerja. “Saya kan masih cari uang, ya beresin rumah, jadinya capek dan kadang emosian,” tambahnya.

“Nggih Bu. Saran saya, ada baiknya Ibu nggak terlalu menyalahkan diri Ibu dulu. Karena saya tahu Ibu ya harus menghidupi anak sendiri, harus kerja, anak juga pas rusuh-rusuhnya. Tetapi, kalau ibu emosi, coba keluarkan dengan hal lain, misal menangis, jangan dengan mencubit anak. Atau, ketika marah, ibu bisa peluk anak. Jangan menyebut anak nakal, tapi sebut aja anak sholeeh. Ganti sebutannya ya Bu, jangan anak nakal,” jelasku.

Kalau bicara ilmu parenting, wah, pasti dari A sampai Z, dari 1 sampai tak terhingga. Orang dapat memilih atau mengakses ilmunya, mau lewat WAG, Telegram, Instagram, dan gram-gram lain. Tapi sayangnya ya itu, untuk mempraktikkannya? Nggak semulus keluarga bahagia yang sering ditampilkan di iklan-iklan. Lha wong yang suaminya ada dan ngasuh bareng kayak saya aja ada lah kadang drama-dramanya, mbrebes mili ketika si anak bertingkah sementara kedua orangtuanya butuh kerokan semua.

Karena saya juga orang yang terimbas dengan iklan dan sinetron, dulu sebelum punya anak saya ya mbayangin kalau jadi ibu itu:

#1. Mbikin makanan sehat (no MSG, pengawet, pewarna).

#2. Membuat berbagai macam variasi menu sayur dan anak tersenyum ketika memakannya.

#3. No pospak, wajib nih, karena merusak lingkungan.

#4. Nggak boleh sering jajan, makanan manis.

#5. No sufor. 

#6. No gadget.

#7. Akan tetap sabar, tersenyum, nggak merengut ketika anak berulah.

Praktiknya kadang ambyar saudara. Ya nggak ambyar banget sih, tapi saya jadi harus menegosiasikan banyak hal. Saya nggak pernah marah dengan mencubit atau ngunek-ngunekke anak sih, tapi, saya masih pakai pospak, alasannya untuk menjaga kewarasan (sedikit sebelas dua belas dengan males). Asupan sayur? Ya akhirnya kadang-kadang saja karena belum-belum anak udah bilang “emoh”. Kadang-kadang saya pun mengajak anak jajan untuk meredakan tangis. Kemudian untuk gadget, yah, pada akhirnya nonton video ya, walaupun download dari Youtube atau nonton videonya sendiri.

Cerita lainnya adalah soal sufor. Saya dulu orang yang nggaya dan menganggap heran kalau ada ibu-ibu yang nggak ngasih ASI sama anaknya. Lahdalah, ternyata saya sendiri mengalami yang namanya ASI minim, meski udah ke DSA, konseling berkali-kali, makan kurma sampai jus daun pepaya. Soal stigma “mesthi iki ibune sibuk, setres, dan lain sebagainya” masih saya jumpai hingga sekarang. Setelah saya ceritakan kronologinya lah, baru ada Ayah dan Bunda yang nanya dan baru paham mengapa bisa begitu. Mungkin Allah SWT memberi saya kondisi seperti itu supaya saya nggak asal bacot kalau ada Ibu lain yang nggak “MengASI-hi” anaknya, wkwkwk. Dan itu benar ya, saya jadi bisa jauh lebih berempati pada perempuan lain dengan berbagai kondisi. Tidak langsung ngehakimi ketika ada ibu membiarkan anaknya nonton gadget, ibu yang marah-marah sama anaknya, atau ibu yang lebih memilih pakai tisu basah dibandingkan ngajak anaknya cuci tangan. 

Akhirnya, saya perlu belajar banyak pada ibu yang tengah mendorong gerobak penganan itu. Apabila saya dalam posisi dia, mungkin saya juga belum tentu bisa sabar dalam kondisi tanpa pasangan dan harus berjibaku mengurus anak dan mencari uang. Dalam hati, saya ingin merengkuhnya dan berkata, duh, jangan galau gara-gara ilmu parenting ya, Bu. Ketika kita berproses, wajar ada perasaan kecewa saat ada hal yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Namun, dengan terus belajar, semoga kita dan si kecil makin bahagia.

Photo By: Nurina Wardhani

Niken Anggrek Wulan

Niken Anggrek Wulan

Mempunyai filosofi urip kuwi sakmadya. Merasa hidupnya datar-datar aja. Kesenangannya bermain sama anak-anak, masak, ngobrol sama suami, nonton acara TV, dan melakukan hal-hal nggak penting lainnya.

Latest posts by Niken Anggrek Wulan (see all)

Bagikan:

Niken Anggrek Wulan

Mempunyai filosofi urip kuwi sakmadya. Merasa hidupnya datar-datar aja. Kesenangannya bermain sama anak-anak, masak, ngobrol sama suami, nonton acara TV, dan melakukan hal-hal nggak penting lainnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *