Indonesian Tubruk, American V60, Vietnam Drip, Italian Bialetti Moka Pot, French Press, atau Acehnese Kopi Tarik?

Aku bukan coffee expert, hanya coffee lover, itupun pernah berhenti ketika asam lambung lagi parah-parahnya. Untungnya sekarang asam lambung aman terkendali, jadi bisa ngopi setiap hari lagi seperti dulu, tapi cukup satu mug sehari. Kalau dulu sehari bisa bermug-mug, hingga lambung protes. Well, tubuh kita selalu mengingatkan kita bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, hehehe.

Aku sudah minum kopi dari kecil karena bapakku adalah coffee addict, walaupun waktu kecil dulu tidak bisa dibilang peminum kopi beneran, hanya suka nyicip-nyicip saja, dan kopi bapakku adalah kopi kapal api hitam yang dibuat dengan cara diseduh air panas alias tubruk dan ditambah sedikit gula. Mulai kuliah dan keluar rumah, kebiasaan ngopi makin menggila, apalagi anak-anak kosan kalau sudah ngumpul dan sok-sokan berdiskusi mengenai permasalahan dunia ini, wajib hukumnya ditemani secangkir kopi, rasanya semakin banyak kopi semakin progresif revolusioner saja, atau semakin kiri sexy, hehehe. Sayangnya di masa-masa kuliah ini, aku mulai jadi “pengabdi sachetan” alias ngopi kopi-kopi sachet, favoritku adalah cappuccino dan coffee mix sachetan, kadang kopi hitam sachetan tanpa ampas itu. Mungkin karena di masa mahasiswa, kopi sachetan adalah solusi paling murah dan praktis bagi para mahasiswa. Tinggal beli ngecer di warung depan kosan dan minta air panas dari dispenser teman sebelah kamar. Tidak perlu masak air, tidak perlu rempong, no fuss no muss. Setelah lulus kuliah dan bisa punya duit sendiri (walaupun tidak seberapa), mulai berpikir kalau kopi sachetan itu bukan kopi melainkan minuman rasa kopi. Lalu beralihlah ke biji-biji kopi nusantara, walaupun masih dibuat dengan cara Indonesia alias tubruk. Selanjutnya, karena teringat dengan cara pembuatan kopi metode V60 yang dilakukan oleh host-family selama satu tahun tinggal di Hamburg dulu, ingin sekali melakukannya. Tapi karena tidak tahu di mana mendapatkan coffee paper dan perlengkapan V60-nya, akhirnya coba-coba membuat peralatan sendiri dengan stocking sebagai pengganti coffee paper, hahaha, tapi stocking baru kok, sumpah.

Coffee maker pertama yang aku miliki (akhirnya) adalah Vietnam Drip, dibeli dari sebuah warnet di daerah Pakuncen (jangan tanya kok bisa). Akhirnya selalu membuat kopi dengan cara Vietnam Drip tapi sering tidak sabar karena “netes-netesnya lama” dan “hasilnya sedikit” dan ada beberapa bubuk kopi yang tidak bisa di-drip alias langsung ambyar jatuh ke bawah semua, ada juga yang susah di-drip, netesnya bisa lamaaaaaa sekali. Tidak lama setelah itu, aku mulai membeli French Press di toko progo, dan menggunakannya beberapa kali tapi tidak begitu menyukainya karena “ampasnya tidak tersaring semua” dan kalau nunggu ampasnya turun sendiri, keburu dingin kopinya. Selanjutnya aku pun membeli Italian Bialetti Moka Pot, masih di toko progo, hehehe. Tapi tidak terlalu menyukainya juga, karena agak ribet, mesti ditaruh di atas kompor, dengan api kecil, terus kalau tidak ditunggu, sering luber-luber, bahkan kadang terasa gosong, sudah begitu hasilnya sedikit pula. Kalau mau ngopi bersama teman harus membuatnya satu-satu, ribet dan lama.

Hingga akhirnya di sebuah pameran kopi di depan hotel ambarukmo aku mendapatkan peralatan American V60 dengan harga yang cukup terjangkau. Sejak saat itulah, aku selalu membuat kopi dengan metode V60 dan bikinnya langsung banyak, seteko, hehehe. Dengan teko yang bisa dipanaskan di atas kompor, jadi kalau mau minum tinggal dipanaskan lagi saja. Dan enaknya kalau mau ngopi beramai-ramai sangat praktis, bisa bikin langsung banyak. Masalah datang ketika coffee paper-nya habis dan harus repot membeli online, karena pada waktu itu belum ada yang menjual coffee paper di Yogyakarta, pernah sampai keliling mencari ke mana-mana tapi tidak dapat. Metode pembuatan kopi V60 dengan coffee paper beli online aku pilih menjadi yang terbaik dan aku lakukan bertahun-tahun, hingga pada suatu hari, seorang sahabat baik menghadiahi aku peralatan membuat kopi alat Kopi Tarik Aceh. Berbentuk seperti coffee paper hanya terbuat dari kain dengan ujung besi melingkar dan ada pegangannya. Wow, it’s like the dream come true, karena hasilnya mirip dengan V60 tapi tidak usah repot-repot membeli coffee paper mahal-mahal. Setelah dipakai tinggal dicuci dan digantung saja hingga kering. Selain super ngirit juga sangat go green kan karena kita tidak perlu membuang-buang sampah coffee paper bekas. Bulan ini, tepat satu tahun aku menggunakannya, dan so far, it’s still the best practical method to make a good coffee. Kalau kopinya sendiri, aku mengumpulkan kopi-kopi dari berbagai wilayah Indonesia, dan sejauh ini my very favourite adalah kopi Papua dan kopi Sidikalang.

Well, berasal dari manapun biji kopinya, bagaimanapun cara pembuatannya, yang terpenting dari ritual ngopi adalah ada teman, rokok, dan percakapan yang hangat. Because all we need is cups of coffee, cigarettes, good friends, and nice conversation. That’s all we need!!!

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *