Inklusif Sejak Dalam Pikiran Apalagi Perbuatan adalah Budaya Kita?

Sebagai orang yang melalui masa kecilnya di tahun 1980an hingga 1990an, aku—dan aku yakin banyak orang seangkatanku—memiliki memori yang kurang lebih mirip-mirip, terutama yang tinggal di Jawa kali ya, yaitu soal tatanan masyarakat yang seingatku dulu sering disebut dengan tatanan masyarakat yang khas Indonesia banget, yang komunal, kolektif, inklusif, atau apapun istilahnya aku juga tidak tahu istilah yang paling tepat.

Tapi gambarannya kurang lebih begini kalau aku menceritakan masa kecilku dulu. Aku tinggal di sebuah kota kecil tapi di pusat kotanya, jadi kayak semacam di perumahan gitu bukan di desa. Nah pada masa kecilku itu, aku kecil mengenal semua nama tetanggaku se-RW, baik yang dewasa apalagi yang anak-anaknya. Jadi pada waktu itu rasanya anak-anak itu tidak hanya diasuh oleh orangtuanya tapi diasuh secara kolektif oleh komunitas. Jadi aku kecil itu bebas keluar masuk rumah tetanggaku, tidak pernah ada yang dikunci dan tidak satupun yang berpagar tinggi, bahkan kalau siang pintunya selalu terbuka. Aku ingat aku bahkan dengan pedenya dan biasa saja masuk ke kamar tetanggaku, membaca tabloid selama berjam-jam sambil tiduran di ruang tamunya (bahkan tabloid baru yang empunya rumah belum baca), atau mengintip dapurnya melihat ada makanan apa di sana.

Ketika bermain pun, main sepeda-sepedaan atau mencari jejak sampai agak jauh tetap merasa aman karena kenal sama semua orang yang aku lewati depan rumahnya. Mereka selalu menyapa dan tentu saja ikut menjaga si anak-anak yang sedang bermain ini. Main pasaran atau kuartet atau monopoli atau boneka bisa di halaman teras rumah tetangga, tanpa takut mengganggu. Pendek kata, rasanya anak itu menjadi anak bersama yang diasuh dan dijaga oleh komunitas.

Tidak hanya anak, dalam sepeingatanku dulu kucing-kucing juga dipelihara oleh komunitas. Zaman dulu rasanya tidak ada kucing yang dimiliki oleh seseorang, kucing ya dimiliki oleh kampung atau komunitas, makanya sebutannya kucing kampung. Jadi kucing-kucing ya beredar saja di kampung, mampir ke teras-teras dan atap-atap rumah orang-orang, dan diberi makan oleh orang-orang yang disinggahi rumahnya oleh kucing-kucing itu. Mereka sudah secara alamiah dan biasa saja berbagi ruang dengan para binatang. Berbagi ruang dan juga berbagi makanan. Dan ketika kucing-kucing itu eek ya biasa saja, siapa yang rumahnya paling dekat dengan eek-nya akan menyingkirkan eeknya atau menguburnya dengan tanah (kalau belum dilakukan secara mandiri oleh kucingnya). Tidak menjadi suatu kehebohan besar. Atau ketika sesekali si kucing mencuri lauk ya itu dianggap biasa saja, namanya juga kucing. Walaupun tentu saja dengan tetap ngomel-ngomel dan mengusir si kucing keluar dari dapurnya. Tapi tidak dengan menyakiti. Tidak juga dengan menganggap itu adalah hal besar apalagi kriminal. Hal tersebut ya dianggap sebagai peristiwa alamiah biasa sebagai bagian dari dinamika interaksi antara manusia dan alam sekitarnya. Alih-alih kemudian mencari siapa manusia “pemilik” kucing itu dan memintanya bertanggung jawab.

Satu hal lagi yang ada dalam ingatanku soal masa kecilku adalah apa yang orang zaman sekarang sering sebut “inklusif sejak dalam pikiran apalagi perbuatan” hehehe. Semua orang diterima apa adanya sebagai bagian dari komunitas. Tidak ada seorangpun yang di-exclude-kan. Aku dulu punya teman sekitar 2 atau 3 tahun di atasku yang tuna netra. Tapi kami menganggapnya sebagai bagian dari komunitas yang biasa saja. Ketika kami bermain kami selalu melibatkannya. Bahkan aku ingat ketika main petak umpet, ketika bukan dia yang jadi sih kami tinggal mengajaknya bersembunyi. Tapi giliran dia yang jadi kan susah ya, hehehe. Tapi kami sering lupa soal itu, mungkin karena kami terlalu menganggap dia biasa saja, bagian dari kami yang sama saja seperti kami. Ketika ada acara atau kumpul-kumpul di mana dia selalu kami ajak. Kami jemput ke rumahnya dan kami gandeng tangannya. Pulangnya kami gandeng lagi dan kami antar sampai rumah. Semua melakukannya secara bergantian, padahal kami masih anak-anak usia SD yang tidak mengenal konsep inklusi. Itu semua terjadi secara alamiah saja.

Di komunitas juga biasa saja ada orang yang gangguan jiwa, orang yang galaknya setengah mati, orang yang kompor gas abis tukang nyinyirin orang to the max, ada PKS alias preman kampung sini, ada juga Cina kaya yang dari kecil anak-anaknya sudah jago bisnis menyewakan buku-buku komik miliknya, ada pemilik anjing galak yang anjingnya selalu menggonggong, atau ada juga pasangan yang konon kabarnya dia cuman kumpul kebo, dan lain sebagainya, jangankan hanya yang berbeda agama atau suku. Semua diterima apa adanya sebagai bagian dari komunitas yang tetap saja saling menghargai, saling mengenal, dan saling menjaga kerukunan. Hampir tidak ada dalam ingatanku ada orang yang mengekspresikan kebencian secara terbuka apalagi yang sampai menolak keberadaannya dan mengusirnya. Paling banter hanya bisik-bisik ngomongin di belakang tapi tidak pernah di depan mukanya. Di depan mukanya dalam kehidupan sehari-hari ya tetap hidup bersama, berbagi ruang, dan menerima sebagai bagian dari kehidupan kita. Tidak ada yang dikucilkan, tidak ada yang di-exclude-kan, tidak ada yang diabaikan.

Well, itulah kurang lebih tatanan sosial masyarakat masa kecilku yang masih tertanam dalam ingatanku hingga sekarang. Kalau sekarang ini, orang banyak sekali konsep besar-besar, tentang inklusivitas, tentang toleransi, tentang bhineka tunggal ika, tentang keberagaman, tentang attitude di ruang publik, banyak sekali teorinya. Dulu rasa-rasanya itu terjadi secara alamiah saja dengan satu alasan, ya karena kita manusia saja, manusia yang punya akal, budi, dan hati.

Aku tidak bilang sekarang hal itu tidak terjadi lagi, atau sekarang lebih buruk dari yang dulu. Mungkin sekarang masih terjadi atau malah mungkin sekarang jauh lebih baik dibanding dulu. Entahlah, aku juga tidak tahu. Mungkin ada yang iya ada yang tidak, beda-beda di setiap komunitas kali ya. What do you think?

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | Inklusif Sejak Dalam Pikiran Apalagi Perbuatan adalah Budaya Kita?
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *