ISU KULIT HITAM DAN KESEHATAN MENTAL DALAM SERIAL MARVEL “THE FALCON AND THE WINTER SOLDIER” (FULL OF SPOILERS)

Peringatan pertama, review ini full of spoilers. Jadi bagi yang alergi sama spoilers karena pingin tetap menjaga rasa penasarannya, silakan diurungkan kembali membaca tulisan ini. Bagi yang tidak, silakan lanjut ya.

Peringatan selanjutnya, di dalam review ini mungkin akan ada beberapa interpretasi dan pemahaman atau bahkan asumsiku sendiri, jadi kalau salah ya mohon dimaafkan. Lagipula kan sebuah karya kalau sudah sampai ke tangan penikmatnya, jadi sudah terserah penikmatnya ya mau menginterpretasikannya bagaimana, eh gitu ngga sih, hahaha.

Jadi serial The Falcon and The Winter Soldier yang merupakan bagian dari fase IV Marvel Cinematic Universe ini mengambil timeline beberapa bulan pasca peristiwa Avengers Endgame, yaitu setelah separuh penduduk dunia yang menjadi debu kembali lagi ke dunia setelah 5 tahun menghilang, jadi sekitar tahun 2023 yes.

Tentunya kita ingat ya, di akhir film Avengers Endgame, ketika Steve Rogers (Captain America) memutuskan untuk tetap stay di zamannya ketika mengembalikan infinity stones untuk live happily ever after bersama Peggy Carter, dan tiba-tiba di tahun 2023 sudah menjadi sangat tua dan datang kembali untuk menyerahkan shield Captain America kepada Sam Wilson (Falcon).

Hal itu merupakan pertanda bahwa ia ingin Sam-lah yang melanjutkan tugasnya sebagai Captain America, dan sudah diamini dan disetujui pula oleh James Buchanan “Bucky” Barnes (Winter Soldier) yang merupakan sahabat sejati Steve yang selalu stay with him until the end of the lines. Falcon dan Winter Soldier memang keduanya adalah orang-orang kepercayaan, wingmen, atau tangan kanan dari si Captain America ini.

Nah serial The Falcon and The Winter Soldier ini menceritakan kelanjutan kisah Sam dan Bucky ini sepeninggal Captain America, baik kehidupan personalnya maupun kiprah kesuperheroan mereka. Begitu deh kira-kira.

Sam Wilson alias Falcon yang tetap menjalankan misi-misi heroiknya sebagai anggota angkatan udara Amerika Serikat diperlihatkan merasa bahwa shield Captain Amerika itu bukanlah untuknya, dia merasa tidak pantas untuk menjadi Captain America menggantikan sahabatnya, Steve Rogers, sehingga dia memutuskan untuk menyerahkan shield itu kepada pemerintah Amerika agar diletakkan di museum untuk mengingat kisah kepahlawanan Steve Rogers.

Digambarkan di sini secara tersirat (tidak tersurat) bahwa among other things, alasan Sam tidak mau mengambil peran itu adalah karena dia berkulit hitam, sementara tahu sendiri bahwa Captain America itu tidak hanya superhero saja tetapi juga symbol negara, symbol kekuatan dan kebangkitan Amerika, symbol patriotisme Amerika, begitu-begitu lah. Dan kenyataan bahwa Sam berkulit hitam membuatnya enggan untuk dijadikan symbol, karena, you know lah, walaupun diceritakan itu sudah tahun 2023.

Aku suka bagaimana Marvel mengangkat isu black lives di sini walaupun tidak secara eksplisit, tapi terasa sekali deh kalau kalian nonton, serius. Misalnya pada adegan ketika Sam dan Bucky berselisih paham di jalan, eh tiba-tiba langsung ada mobil polisi datang dan langsung mengasumsikan bahwa Sam sedang mengganggu atau menyakiti Bucky. Sounds so familiar, huh? Walaupun setelahnya polisi-polisi itu meminta maaf setelah menyadari bahwa keduanya adalah anggota Avengers, dengan alasan dia tidak mengenali Sam karena tidak pakai kacamata google. Menyebalkan ya.

Atau ketika ada anak-anak kulit hitam melihat Sam, mereka berteriak, “hey itu black falcon”, lalu falcon menjawab “just falcon, not black falcon”, terus si bocah menjawab “tapi kata bapakku kamu black falcon”, lalu falcon pun menimpali, “apa karena aku falcon dan aku black makanya aku black falcon, kalau gitu berarti kamu black kid dong!” A really good point kan, ngapain coba kita mesti pakai embel-embel black ketika menyebut manusia kulit hitam dan jarang menyebut while untuk manusia kulit putih?

Ketika Bucky sangat marah pada Sam karena Sam tidak mau melakukan wasiat Steve Rogers untuk menggantikannya sebagai Captain America, Sam tak kalah marah mengatakan, “kamu tidak akan pernah mengerti, Steve juga tidak akan pernah mengerti”. Well this is sad sih, and I can fully understand him, dan memang benar, bagaimanapun Bucky atau Steve tidak akan bisa mengerti, wong mereka kulit putih dengan segala privilege yang sudah mereka miliki sejak lahir.

Selain isu black lives matter, serial ini juga mengangkat isu mental health. Aku suka sih Marvel mengangkat isu ini, dari sejak serial WandaVision bahkan, bahwa persoalan kesehatan mental ini real dan bisa dialami oleh siapa saja, bahkan superhero.

Bucky di sini diceritakan sedang mati-matian dealing dengan his mental health issue akibat didera perasaan bersalah karena sewaktu menjadi Winter Soldier di bawah H.Y.D.R.A. dia adalah seorang pembunuh kejam berdarah dingin yang banyak membunuh orang tidak bersalah, termasuk kedua orangtua Tony Stark yes.

Bucky hidup menyedihkan seorang diri di sebuah flat kosong minim perabotan, dan bahkan dia pun tidurnya di atas lantai dan tidak pakai baju (yang terakhir ini sih silakan dinikmati ladies, hehehe), selalu dihantui oleh mimpi-mimpi buruk tentang masa lalunya yang penuh kejahatan, hanya berinteraksi dengan sangat sedikit orang, dan bahkan phonebook HP-nya pun hanya berisi kurang dari 10 contact yang ngga pernah menghubungi dia pula, sedih ya. Dia adalah laki-laki muda ganteng berusia 106 tahun yang sangat menyedihkan.

Serasa belum cukup saja penderitaannya, tetangganya seorang kakek-kakek Jepang yang merupakan satu-satunya orang yang sering berinteraksi dengannya dan dia anggap sebagai sahabatnya ternyata menyimpan duka yang amat dalam karena anaknya dulu dibunuh dengan kejam hanya karena dia berada di tempat dan waktu yang salah. Ya tepat sekali dia dibunuh oleh Bucky hanya karena dia kebetulan menyaksikan kejahatan yang sedang Bucky lakukan. Bagaimana tidak semakin disiksa habis-habisan oleh rasa bersalah si Bucky ini.

Oh ya Bucky juga mengikuti mandatory counseling yang disediakan oleh pemerintah Amerika Serikat bersama seorang psikolog senior, tapi dia masih tampak susah sekali percaya dan mau terbuka dengan psikolognya itu.

Nah, tanpa disangka-sangka oleh Sam dan Bucky, tiba-tiba pemerintah Amerika menunjuk dan memperkenalkan Captain America yang baru, seorang tentara kulit putih berprestasi cemerlang, berbadan tegap, berwajah Amerika banget, dan ideal sebagai symbol kebangkitan dan patriotisme Amerika seperti dulu halnya Steve Rogers (lihat film Captain Amerika – The First Avengers).

Jadi selepas orang-orang yang menjadi debu kembali, dunia memang dalam keadaan chaos, karena tiba-tiba penduduknya menjadi banyak akibat separuh penduduk dunia yang menjadi debu kembali lagi. Bisa dibayangkan kan, tatanan sosial politik dan terutama perekonomian pasti menjadi kacau-balau karena tiba-tiba penduduk menjadi 2 kali lipat.

Bahkan sempat diceritakan Sam bersama kakak perempuannya ingin mengajukan pinjaman di bank untuk menyelamatkan bisnis keluarga mereka, tapi ditolak mentah-mentah oleh bank, dan malah hanya diajak selfie bareng karena petugas bank-nya nge-fans dengan Avengers, tetapi pengajuan pinjamannya tetap ditolak, hahaha.

Nah pemerintah menganggap di situasi seperti ini, penting sekali untuk ada seorang symbol kebangkitan dan patriotisme bangsa, peran yang dulunya dipegang oleh Steve Rogers.

Maka diadakanlah karnaval besar-besaran yang megah dan meriah serta disiarkan langsung di televisi-televisi untuk pengukuhan John Walker sebagai Captain Amerika yang baru ini. Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Bucky ketika melihatnya melalui televisi di dalam flatnya yang suram dan sepi. Apalagi ketika John Walker mengatakan bahwa meskipun belum pernah bertemu langsung dengan Steve dia merasa bahwa Steve itu sudah seperti abangnya sendiri, hahaha. Tahu sendiri kan bagaimana hubungan antara Steve dengan Bucky. Ditambah lagi pas akhirnya mereka ketemu, si new cap ini sok kenal sok dekat dengan Bucky dan merengek, “Bucky, aku tidak bermaksud menggantikan Steve,” hahaha so annoying.

Sam sendiri juga kaget bukan kepalang ketika melihat siaran langsung di televisi itu dan merasa dikhianati. Memang sih orang kepercayaan Captain America baru itu berkulit hitam (seperti halnya dirinya), juga orang-orang yang terlibat dalam perayaan dan karnaval itu, baik penari-penarinya, barisan tentaranya, pasukan drumband-nya, pembawa bendera-nya banyak yang kulit hitam, tetapi tetap Captain Amerika-nya tetap harus kulit putih karena dia symbol. Nyebelin ya? Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Sam. Ditambah lagi John Walker ini merayu agar Sam mau menjadi wingmen-nya seperti halnya dulu dia terhadap Steve Rogers, hahaha makin nyebelin.

Oh ya ada satu hal penting lagi di episode 1 & 2 ini. Ternyata selain Steve Rogers dan Bucky, masih ada satu orang lagi super soldier (tentara yang menjadi sangat kuat secara fisik karena serum), yaitu seorang kulit hitam bernama Isaiah. Namun tidak seperti halnya Steve yang dielu-elukan dan dijunjung tinggi sebagai superhero, Pak Isaiah ini justru dikurung di dalam penjara selama 30 tahun untuk dijadikan bahan penelitian. Diambil darahnya lah, disuntik lah, diambil sel-nya lah, dan hal-hal humiliating lainnya, sehingga membuat dia menjadi sangat marah dan terhinakan, “jadi superhero kok malah diperlakukan seperti binatang dan tidak manusiawi,” and again, he’s black.

Menarik ya, dan seperti pernah kubilang, semakin mengenal para superhero “level kedua” seperti Sam dan Bucky yang selama ini hanya menjadi “tangan kanan”-nya Captain America saja, semakin lah aku jatuh cinta dan tertarik dengan pribadi mereka yang selama ini tidak mendapatkan porsi yang cukup di film-film Marvel sebelumnya (fase 1 sampai fase 3). Aah jadi tidak sabar menunggu hari Jumat.

Fitri Indra Harjanti

WhatsApp Image 2019 01 01 at 22.38.08 | ISU KULIT HITAM DAN KESEHATAN MENTAL DALAM SERIAL MARVEL “THE FALCON AND THE WINTER SOLDIER” (FULL OF SPOILERS)
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *