Jadi, Apakah Kita Perlu Menikah?

Pikiran ini pernah terlintas, bahkan sampai pada titik di mana aku merasa tidak perlu menikah. Kenapa aku sempat berpikir begitu pada saat itu? Bukan tanpa alasan, tapi ada beberapa pengalaman personal yang melatarbelakanginya.  

Pertama ketika aku bersekolah di jenjang SMA. Pada saat itu, hidupku tidak jauh-jauh dari pesantren. Bisa dikatakan aku terlahir dari keluarga santri dan besar di pesantren. Meskipun orangtuaku bukan santri tulen. Bayanganku tentang pernikahan pada waktu itu adalah dijodohkan dan tidak boleh pacaran, karena tidak sedikit dari keluarga besarku menikah karena perjodohan, demikian pula dengan orangtuaku. Kenyataan semacam di lingkunganku sangat mempengaruhi cara berpikirku sebagai perempuan.

Aku selalu berpikir kalau aku akan menikah dengan dijodohkan oleh orangtuaku. Sehingga saat itu aku pun memilih untuk tidak berpacaran. Karena rasanya sia-sia saja nantinya kalau pacarannya dengan siapa eh menikahnya dengan siapa. Pada saat itu aku bener-benar menjadi ukhti-ukhti yang sangat taat dan sholehah. Padahal kalau aku pikirkan sekarang, rasanya rugi juga dulu aku tidak banyak makan asam garam mencari pengalaman sebanyak-banyaknya sewaktu remaja, hehehe. Karena pikiranku pada saat itu, aku akan bernasib sama dengan saudara-saudaraku, sehingga yang kubayangkan adalah aku akan dipilihkan jodoh orang yang tidak aku kenal yang mungkin bagi keluarga besarku dianggap baik, soleh, dan taat beragama. Itu dulu, cara pandangku waktu aku masih SMA, sekarang rasanya lucu kalau mengingatnya.

Kedua saat aku kuliah. Pada waktu itu pernikahan malah menjadi momok bagiku. Menjadi hal yang menakutkan. Bagaimana tidak? Aku melihat banyak perempuan yang menikah di lingkunganku, kebanyakan oleh suaminya dibatasi sana-sini, tidak boleh ini tidak boleh itu. Belum lagi aku melihat banyak kekerasan di dalam rumah tangga dan juga penelantaran anak. Hal ini membuat aku galau berkepanjangan, karena pada saat itu aku tidak menemukan jawaban atas apa yang aku pertanyakan.

Persoalan-persoalan di atas membuat aku memandang negatif pernikahan dan membuatku tidak berpihak pada pernikahan. Menikah bagiku hanya akan membatasi ruang gerakku, sehingga membuatku takut bahkan untuk memikirkannya. Karena pada waktu itu aku belum menemukan contoh yang sebaliknya, belum pernah kulihat pernikahan yang membuat perempuan meningkat martabatnya sebagai manusia, tetap bisa menjadi dirinya sendiri, serta tentunya tetap bisa tumbuh dan berkembang untuk mengaktualisasikan dirinya. Cara berpikir seperti ini aku yakini sampai aku beranjak dewasa, bahkan saat aku mulai pacaran. Hal itu terkadang membuat aku ragu untuk serius menjalin hubungan ketika berpacaran. Karena bagiku pernikahan sama dengan pembatasan. Mungkin karena hidupku sudah terlalu lama dikelilingi oleh pembatasan-pembatasan yang tidak mengenakkan, pembatasan karena aku perempuan. Semua hal itu membuatku berpikir menikah akan semakin membatasiku saja. Tapi itu dulu, dan ternyata kenyataannya sekarang tidak.

Cara berpikirku yang seperti itu mulai terbantahkan saat aku mulai bergabung di lembaga perempuan yang banyak mengurusi kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan, seperti KDRT, trafficking, dan kekerasan terhadap anak. Aku melihat banyak sekali kasus semacam itu di hadapanku, menggelutinya, menanganinya, serta melakukan upaya-upaya pencegahan agar hal itu tidak terjadi. Proses itu membuat aku menjadi cukup tahu bagaimana semua hal itu bisa terjadi. Bagaimana kekerasan bisa terjadi pada anak, pada perempuan, dan pada laki-laki. Aku jadi cukup bisa memahami bagaimana dinamika keluargaku sendiri pada saat itu yang cukup pelik dan terkadang di luar kontrolku.  

Di lembaga ini aku belajar dengan kawan-kawanku yang kebanyakan perempuan. Bagaimana mereka membangun relasi dengan pasangannya, memahami apa yang pernah terjadi dalam hidup mereka, membangun visi bersama, berkomunikasi, serta saling bernegosiasi dan berkompromi. Realitas yang ada di hadapanku itu meruntuhkan cara pandangku sebelumnya. Aku diperlihatkan kenyataan tentang hubungan-hubungan yang harmoni dan dibangun dengan apresiasi serta penghargaan yang tinggi satu sama lain yang dimiliki oleh kawan-kawanku. Tentunya mereka bukan tanpa masalah ya, tapi prinsip yang dibangun di keluarga mereka itu di dalamnya mengikis egoisme masing-masing untuk membangun institusi keluarga yang lebih baik, adil, dan membahagiakan demi kemaslahatan umat. Nilai saling menghargai satu sama lain tanpa saling memaksakan serta memberikan kesempatan satu sama lain untuk tetap berkembang membuat aku akhirnya memiliki keinginan ke arah sana. Membuat aku yakin, bahwa banyak laki-laki baik di dunia ini yang masih bisa aku temukan!

Namun, cerita ketiga yang terjadi saat aku bekerja berkata lain. Saat pandanganku sudah mulai berubah dan aku mulai percaya pada institusi pernikahan dan keluarga, aku malah dihadapkan pada persoalan yang jauh lebih besar. Aku mengalami kekerasan seksual! Pengalaman itu membuatku kembali berpikir untuk tidak ingin menikah. Dan di antara semua yang pernah aku lalui, persoalan inilah yang menurutku paling berat. Bagaimana tidak, semua yang kamu yakini bisa runtuh begitu saja seketika, dan kamu merasa menjadi sangat tidak berharga. Yang jelas, aku merasa sudah tidak berarti lagi di dunia ini. Aku selalu mempertanyakan kenapa hal itu bisa terjadi padaku.

Banyak pertanyaan yang tidak bisa aku jawab, dan bahkan aku lebih banyak menyalahkan diri sendiri. Namun aku akhirnya menyadari bahwa apa yang aku alami itu adalah kekerasan terhadap perempuan, karena kekerasan seksual itu merupakan bagian dari kekerasan berbasis gender atau ketidakadilan terhadap perempuan dalam sistem patriarkhi. Untuk menyadari bahwa aku korban saja membutuhkan waktu yang lama, apalagi untuk bisa menjadi survivor. Aku sendiri membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa pulih. Aku berjuang melewati itu semua dan akhirnya bisa berdamai dengan peristiwa kekerasan seksual yang aku alami. Bagiku saat-saat itu tidak mudah, tapi aku akhirnya bisa menerima pengalaman itu sebagai bagian dari hidupku. Hal itu membuat aku menjadi diriku yang sekarang. Pengalaman itu membuat aku semakin mengenal siapa aku.

Proses-proses menuju aku pulih membuat aku semakin tahu diriku. Sampai akhirnya aku percaya bahwa pilihan menikah adalah pilihan masing-masing perempuan secara personal. Mau menikah atau tidak menikah adalah pilihanmu. Tanpa harus merasa terbebani dengan tekanan sosial atau pertanyaan “kapan nikah” dari sekelilingmu. Jikapun kamu memilih menikah, ya lakukan dengan sadar dan tanpa tekanan, serta tanpa takut umurmu semakin tua atau karena takut tidak laku. Yang lebih tahu adalah dirimu sendiri, kapan kamu siap dan kapan kamu belum siap untuk menikah. Pasti akan ada waktu yang tepat, entah untuk menikah atau untuk tidak menikah. Dan yang paling penting, jika pilihanmu adalah menikah, kamu harus tetap menjadi dirimu sendiri.

Identitas penulis tidak disebutkan atas permintaan yang bersangkutan.

Latest posts by admin (see all)
Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *