Jadi Penerjemah Itu Berat: Tidak Hanya Harus Menerjemahkan Bahasa Tapi Juga Sense, Tidak Hanya Harus Menerjemahkan Teks Tapi Juga Konteks

Kemarin ketika sedang berjalan-jalan di mall dan melihat-lihat barang-barang unyu di salah satu toko dengan brand Jepang yang sedang sangat happening di kalangan generasi milenial saat ini, aku dan temanku agak terganggu dengan suara seseorang sedang ngomel-ngomel menggunakan bahasa asing di toko itu. Karena aku dan temanku sedang berada di toko yang Japanese-branding, awalnya kirain bahasa asing itu Bahasa Jepang tapi setelah didengarkan baik-baik, ternyata itu bukan Bahasa Jepang melainkan Bahasa Cina.

Ternyata suara orang ngomel-ngomel itu adalah suara semacam supervisor dari Cina yang tidak bisa berbahasa Indonesia yang sedang memberi pengarahan (atau omelan) kepada para staf toko orang-orang Indonesia. Tapi kenapa jadi dari Cina ya, kan itu toko Jepang, bingung juga sih. Kami jadi iseng deh melihat tulisan dari produk-produk unyu yang dijual, dan banyak di antaranya tertulis made in China, di toko yang sangat branding Jepang ini. Ternyata memang benar kalimat yang mengatakan, God made heaven and earth while the rest is made in China, hehehe.

Tapi bukan itu sih yang ingin aku bahas di sini, melainkan lebih ke soal language-translation. Karena pas lihat si supervisor itu ngomel-ngomel kepada para staf-nya dengan diterjemahan dulu oleh seorang interpreter (penerjemah) yang selalu mengikuti sang supervisor, hal pertama yang langsung aku pikirkan adalah, “ouch, ga seru dong, udah ngomel-ngomel penuh semangat gitu, tapi yang diomelin ga langsung nangkap, melainkan harus ada jeda beberapa menit dulu untuk mereka mendengarkan terjemahannya, hehehe”.

Iya, kalau penerjemahnya nerjemahinnya pas ya, kalau dia cuman bilang, “ini ibu supervisor lagi ngomel-ngomel, jadi tolong kalian ngangguk-ngangguk aja pura-pura ngerti,” gitu gimana, hahaha. Itu ekstrim sih, yang ngga seekstrim itu, misalnya, gimana kalau penerjemahnya iya nerjemahin sih tapi lempeng aja tanpa ikut menerjemahkan sense keselnya si ibu supervisor ini, apakah pesannya tetap akan sampai? Atau kalau penerjemahnya kasian dengan para staf yang mukanya sudah pada ketakutan itu lalu sengaja menyensor kata-kata kasar si ibu supervisor dan menggantinya dengan kata-kata yang lebih manis gimana, terdengar jadi banyak reduksi ya di pesan yang ingin disampaikan.

Temanku yang nyuri-nyuri dengar the whole situation mendengar mbak-mbak penerjemah mengatakan begini, “ini kan barang-barang yang tidak begitu banyak peminatnya dan kurang begitu laku, kenapa dipajang di depan, harusnya kan dimundurin dan diganti dengan barang-barang yang lebih laku,” gitu doang ngomongnya. Padahal kalau ditengarai dari nada bicara, gestur, dan eskpresi si ibu supervisor sepertinya apa yang dikatakannya lebih dari itu.

Mungkin dia mengatakan begini, “kalian gimana sih, sudah berapa lama kalian kerja di sini, masa belum tahu juga kalau produk kurang laku itu jangan di-display di depan, kan sayang produk-produk lain yang lebih laku jadi tidak terlihat, ngerti ga Su? Coba ini dilihat, pakai muatamu itu lho Su, ini kalau di belakang kelihatan ngga, bajiguuurr,” hahaha. Ya kurang lebih seperti itu, setidaknya dalam imajinasi kami. Meskipun mungkin maksudnya sama dengan yang dikatakan oleh si mbak penerjemah, tapi sense-nya beda banget kan, sense-nya jadi ra mashoookk blas, hahaha.

Jadi memang jadi penerjemah itu berat, biar Dilan saja. Karena tidak hanya harus menerjemahkan kata-kata dan kalimat-kalimat, tapi yang tak kalah penting, dia juga harus bisa menerjemahkan sense sebuah ucapan berikut situasi dan atmosfer-nya, harus benar-benar bisa menerjemahkan konteks, susah kan. Belum lagi banyak bahasa yang sense-nya itu lokal banget sehingga susah banget diterjemahkan ke dalam konteks bahasa lainnya.

Misalnya caci maki ala Surabayaan, kalau cuman dilihat dari arti teks-nya saja ya kasar dan rude. Tapi kalau orang sudah tahu sense, budaya, dan atmosfer setempat, ya itu ngga kasar sama sekali, dan malah menunjukkan kedekatan dan keakraban yang paripurna antara si pengirim pesan dengan di penerima pesan. Bagaimana coba cara menerjemahkan “matamu suwek” atau “makmu kiper” atau “mbahmu kutangan seng” ke dalam Bahasa Inggris atau Bahasa Indonesia saja, yang sekalian juga sekaligus menerjemahkan sense-nya dan bisa tercakup di dalamnya keakraban/kedekatan di antara pada komunikatornya yang sudah level dewa itu, susah kan. Masa mau bilang “your eyes is ripped” atau “your mom is goalkeeper” atau “your granny’s bra is made of zinc”, hahaha, ra mashook blas kan.

Jadi seorang penerjemah itu memang berat, dia harus bisa menemukan padanan yang pas dalam istilah lokal setempat dalam bahasa yang dituju yang bisa sekalian mendapatkan sense, situasi, serta atmosfer-nya, atau pendek kata bisa menerjemahkan “rasa”-nya, sehingga seorang penerjemah itu pengetahuan umumnya harus luas, cerdas, sensitivitasnya tinggi, serta kemampuan analisisnya mumpuni, sehingga mampu untuk tidak hanya menerjemahkan teks tapi konteks, hehehe, mampus, berat kan.

Menurutku salah satu penerjemah yang keren itu, aku ga tau namanya sih, hihihi, tapi itu lho, penerjemah majalah Tintin dan Asterix zaman kita kecil dulu. Benar-benar bisa menerjemahkan sense dan konteks menurutku. Caci makinya Kapten Haddock, cara ngomongnya Thomson dan Thompson benar-benar bisa diterjemahkan dalam konteks Indonesia sehingga masuk banget pesannya dan kelucuannya pun tetap dapat.

Di majalah Asterix, nama-nama prajurit Romawinya pun diterjemahkan dalam konteks Indonesia tapi tetap dapat kelucuan humor aslinya, misalnya nama-nama prajuritnya ada yang nasibungkus, akalbulus (karena prajurit Romawi lainnya semuanya namanya ending-nya “us”) atau ketika orang-orang ketakutan dan ada yang bilang “demi Zeus” atau “demi Thor” terus Obelix bilang “demi kian”, itu kan lucu banget ya, dan jelas teks aslinya tidak seperti itu. Atau pas Asterix naik karpet terbang lewat balkon istana Romawi ketemu Julius Caesar, terus dia nyapa, “hai Yul!!!” hahaha, itu Indonesia banget! Benar-benar keren memang penerjemahnya, beraaaatt, berat memang, hehehe.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *