Jangan Dikotomis, Yang Baik Tidak Sepenuhnya Baik dan Yang Buruk Tidak Sepenuhnya Buruk

Sadar ga sih betapa seringnya kita berpikir secara garis besarnya atau secara umumnya atau Bahasa Jawanya gebyah uyah sehingga otomatis melupakan detail-detail, alasan-alasan, keunikan-keunikan, dan cerita-cerita di balik setiap hal dan peristiwa. Seringkali kita jika sudah sebel atau tidak suka sama seseorang atau sesuatu, rasanya semua hal yang terkait dengannya itu jelek semua. Sebaliknya jika sudah seneng atau suka sama seseorang atau sesuatu, segala hal yang terkait dengannya baik semua. Padahal itu mengingkari hukum alam lho dan juga hukum kemanusiaan, karena yang sepenuhnya baik itu hanya sang pencipta semesta. Kalau yang diciptakannya mah, tidak bakal adalah yang sepenuhnya baik sekaligus tidak bakal ada yang sepenuhnya buruk. Tidak ada itu hitam dan putih, yang ada adalah gradasi, warna-warna gradasi yang sangat kompleks dan detail, yang bahkan kalau kita lihat dengan kaca pembesar itu bisa sampai ke setiap titik yang berbeda, di mana setiap titik itu membawa ceritanya sendiri yang khas. Justru itu yang membuat human, nature, and human nature are interesting, right? Kalau cuman ada hitam dan putih, baik dan buruk, bosen banget ga sih, hehehe.

Penyakit kedua hasil dari pemikiran dikotomis yang tanpa kita sadari sering menyerang kita adalah sikap selalu mempertentangkan dua hal. Padahal kan tidak mesti seorang Vianisty itu pasti tidak suka dengan Nella Kharisma, atau seorang Nella-Lover itu dijamin benci sama Via Vallen. Kenapa pilihannya harus either you are a Vianisty or a Nella-Lover, kan bisa saja suka sama keduanya sekaligus, atau tidak suka sama sekali sama keduanya, atau biasa saja, atau yang satu biasa saja yang satu suka sedikit, atau yang satu suka banget yang satu lagi suka sedikit, dan seterusnya. Lihat, banyak sekali kan gradasi-gradasi yang bisa terjadi, ratusan bahkan ribuan. Tapi kita sukanya mendikotomi sih. Memberi hanya 2 pilihan saja saklek: “lo suka si A dan benci si B ATAU lo suka si B dan benci si A”. Eh ga bisa gitu dong!

Pemikiran dikotomis ini adalah sumber dari segala sumber yang akan menjerumuskan kita ke dalam jurang kenistaan, alaaah. Kita jadi sukanya mengkotak-kotakkan orang dan menilai serta menghakimi orang sebagai benar atau salah, bagus atau jelek, terberkati atau ternistakan, dan seterusnya. Penyakit mengkotak-kotakkan ini pasti erat kaitannya dengan pemikiran yang saklek, non-kompromis, dan based on prejudice. Seolah-olah semua orang harus masuk ke dalam kotak-kotak yang sudah disediakan dalam pikirannya dan tidak bisa keluar dari kotak itu atau tidak bisa berada dalam lebih dari satu kotak. Setelah mengkotak-kotakkan orang, sambungannya biasanya adalah memberikan penilaian, cap, label, atau stereotyping, bahwa orang-orang yang di kotak ini pasti begini, yang di kotak itu pasti begitu. Dan akan semakin diperparah lagi ketika sudah diwarnai dengan penghakiman, bahwa yang satu benar dan yang lain salah, yang satu bagus dan yang lain jelek. Duh, syerem amat yak.

Jadi karena sumbernya tadi adalah cara berpikir yang dikotomis, maka marilah kita berlatih untuk tidak dikotomis sejak dalam pikiran, eaaa. Nikmatilah dunia ini sebagai sesuatu yang sangat kompleks dengan detail-detail yang beraneka macam bentuk, warna, dan jenis yang indah. Lagian, bukannya kita suka melihat kebun bunga yang berisi beraneka macam bentuk, warna, dan jenis bunga. Kenapa when it comes to human berbeda? Ga konsisten ah, standar ganda, hehehe.

#fitridaily #minicolumn #103 #dailylife #selfreflection #refleksi #mythought #menurutkusih #nondikotomis #feminisme

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

2 thoughts on “Jangan Dikotomis, Yang Baik Tidak Sepenuhnya Baik dan Yang Buruk Tidak Sepenuhnya Buruk

  • Januari 8, 2019 pada 9:48 am
    Permalink

    Iya sih. Suka lihat bunga beraneka warna dan rupa, tapi kalo udah soal manusia dan urusannya kok gak terima ya. Hehehhehehe…saya juga kadang masih seperti itu…

    Balas
    • Januari 8, 2019 pada 10:26 am
      Permalink

      Hehehe iyaaaa, kadang kita memang suka standar gandar kok. Contoh lain, seringnya ngata-ngatain cowok yang cantik tapi suka dengan cowok-cowok Korea, gimana sih, hahaha…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *