KEDAI KOPI LIMA

Tempatnya sederhana saja. Dari luar, bangunan kecil tersebut nampak biasa-biasa saja. Mungil, bersih, bersahaja, jauh dari kesan kafe cantik yang populer di kalangan pengguna media sosial untuk update status ataupun memamerkan gaya hidup kekinian. Dari depan, warung kopi tersebut lebih nampak seperti kebun belakang dengan berbagai macam tanaman dan pohon rindang. Desain interiornya pun akan mengingatkan pengunjung pada teras rumah sederhana, dengan ornament-ornamen lawas namun tertata apik. Lantainya terbuat dari semen kelabu yang nampak bersih dan terawat. Para pengunjung dapat duduk di kursi-kursi kayu yang diletakkan di sepanjang teras maupun di dalam ruangan yang memiliki jendela kaca lebar dan tanpa pendingin ruangan. Meja-meja kayu itu sederhana, tapi nampak benar dirancang dengan detail yang memang dikhususkan bagi mereka yang ingin bekerja atau berkonsentrasi penuh, walaupun tetap memberi ruang bagi mereka yang sekadar duduk mengobrol.

Pemiliknya, Agung Yudha, adalah lulusan institut seni yang setelah gagal malang melintang di dunia teater akhirnya memutuskan untuk menempuh jalan yang lebih “realistis” untuk menyambung hidup dengan membuka kedai kopi tersebut. Jiwa seni yang dulu ia salurkan lewat seni peran dan panggung kini sepenuhnya ia curahkan untuk Kedai Kopi Lima, dengan menciptakan atmosfer yang nyaman dan sesuai untuk para pelanggannya. Dia memang tidak pernah sembarangan dalam hal apapun, termasuk dalam menghias kedainya, memilih biji kopi yang sesuai, menyortir menu, sampai urusan piring gelas cangkir. Kalau toh ada hal yang tidak terlalu dipikirkan secara “artistik” adalah nama kedai itu sendiri—Lima—yang diambil dari jumlah anak kucing miliknya yang lahir saat Agung Yudha memutuskan untuk membuat kedai tersebut, dan kemudian kelima anak kucing tersebut menjadi salah satu penghuni tetap di kedai kopinya.

Ya, Agung Yudha memang selalu kesulitan memilih nama—apapun, tidak hanya menu-menu di kedainya, bahkan juga nama kucing, anjing, boneka, dan lainnya. Untungnya dia belum punya pasangan dan belum punya anak, karena terbayang bagaimana dia akan tersiksa jika suatu saat nanti harus memberi nama anaknya.

Sebenarnya ada satu hal lagi yang membuat Lima tidak semencolok kafe-kafe kopi lain yang saat ini sedang menjamur dan semacam menjadi bagian dari gaya hidup. Agung Yudha, pemuda yang sebenarnya memiliki bakat besar di dunia peran itu, adalah laki-laki yang sangat tertutup. Sejak dulu dia memiliki masalah dengan publikasi, ketenaran, dan popularitas. Dia menikmati pertunjukannya di atas panggung, dia menghayati setiap peran dan cerita yang dilakoninya, tapi dia tidak menikmati tepuk tangan, ucapan selamat, liputan, wawancara, dan sebagainya. Dia menganggap bahwa seni peran yang dilakoninya adalah sesuatu yang sakral, privasi yang tidak diperuntukkan untuk mengumpulkan tepuk tangan. Mungkin itu pula yang kemudian menyebabkan karir panggungnya kurang berkembang, dan kemudian banting setir menjadi penjual kopi.

Jiwa introvertnya inipun kemudian terbawa saat dia “melahirkan” Lima. Dia tidak ingin kafe itu terlalu menonjol, mencolok, instagramable, atau apapun itu namanya. Dia tidak mempromosikan Lima melalui media sosial seperti yang banyak dilakukan kafe pesaing lainnya, pun tidak berusaha menarik perhatian orang-orang untuk sekadar berfoto dan mengunggahnya ke medsos mereka melalui sudut-sudut kafe yang upload-able, sebuah cara praktis untuk mempromosikan Lima. Bahkan, kalau bisa, dia tidak ingin meninggalkan jejak digital apapun untuk dirinya maupun Lima, hal yang nyaris tidak mungkin terjadi di masa kini dan yang tentunya memberi dampak negatif pada bisnisnya.

Mungkin karena konsepnya yang terlalu spesifik ini, Lima, meskipun hampir selalu memiliki pengunjung setiap harinya, tidak pernah terlihat terlalu ramai (meskipun di saat-saat tertentu semua bangku bisa penuh terisi), tapi memiliki pengunjung-pengunjung setia yang bisa dibilang menjadi pengunjung tetap yang datang hampir tiap hari dan menjalin hubungan sendiri dengan Lima dan pemiliknya. Agung Yudha tidak keberatan dengan kondisi ini, meskipun ini berarti dia tidak bisa mengeruk keuntungan yang banyak dari bisnisnya. Dia telah membangun sarangnya yang nyaman, di dalam gelembung sabun tempat dia bisa membangun dunianya sendiri dan menjauhkan apapun yang tidak ingin dia tahu.

Di antara pengunjung tetap Lima, adalah Mas Han, yang secara harafiah menghabiskan hampir separuh harinya di Lima. Dia selalu mengambil tempat yang sama—di pojok ruangan di depan jendela yang menghadap halaman belakang. Bisa dibilang dia sudah berkantor menetap di Lima, sejak pertama kali kedai tersebut dibuka. Agung Yudha tidak pernah repot-repot menanyakan apa yang dia pesan, karena dia selalu memesan menu yang sama: kopi hitam pada jam 9, 12, dan 3 sore, pisang goreng untuk sarapan, dan nasi goreng telur untuk makan siang. Dia adalah seorang penulis roman picisan yang menghasilkan banyak buku, yang menjadi sumber penghasilan utamanya.

Pengunjung lain menganggap profesinya mentereng, nyeni, nyentrik—meskipun sebenarnya Mas Han sendiri tidak pernah puas dengan apa yang dia tulis. Nama aslinya adalah Slamet Handoyo, orangtua dan saudara-saudaranya memanggilnya Slamet, tapi dia menggunakan nama pena S. Han supaya lebih menjual. Dia juga memperkenalkan dirinya sebagai Mas Han pada teman-teman komunitas sastranya, karena nama Slamet dianggapnya terlalu “ndeso” dan kurang nyeni.

Meskipun Mas Han telah memiliki reputasi yang lumayan di dunia penulisan, dalam hatinya dia tidak puas dengan karya-karyanya yang sebagian besar pesanan penerbit, cerita romantis picisan yang lebih menjual dan lebih menghasilkan cuan dibanding karya-karya sastra serius muram yang membuat orang depresi ketika membacanya. Mas Han sudah pernah membuat karya serius non-picisan, yang ia garap dengan sungguh-sungguh selama 6 bulan di antara kesibukannya membuat karya pesanan, tapi penerbitnya menolaknya dengan alasan tidak akan menghasilkan cuan. Karya itu bagus, kata editornya, tapi pembaca sekarang sudah terlalu lelah dengan hidup mereka dan membutuhkan bacaan yang ringan dan menghibur, yang juga berarti melibatkan perselingkuhan, cinta beda kasta, anak haram, dan konflik-konflik murahan tapi menghibur. Juga kisah-kisah Cinderella yang menikah dengan pangeran tampan kaya raya, yang sebenarnya sangat membuat Mas Han merasa muak dan jengah. Tapi toh dia tetap melakukannya karena dia butuh uang, dan mengubur jauh-jauh idealisme sastranya demi jalan yang lebih realistis—pekerjaan dan uang.

Tentunya Mas Han tidak pernah menceritakan kegalauannya itu pada siapapun. Dalam akun sosmednya (yang diwajibkan oleh penerbit untuk mengelola popularitas) dia hanya membagi hal-hal yang indah dan menjual-kata-kata bijak, foto2-foto dengan caption proses kreatifnya yang nampak keren, kegiatan-kegiatannya bersama komunitas menulis (yang dia lakukan jika tidak sedang berada di Lima). Mas Han perlu menjaga popularitasnya supaya buku-bukunya tetap laris, dan pada poin itu dia hanya membagi sisi hidupnya yang “layak jual” dan hanya yang ingin dilihat oleh penggemarnya, sebagai penulis produktif yang kreatif dan inspiratif. Tentu saja sisi kelam hidupnya, kegerahannya atas dunia palsu yang ia jalani, ataupun bagaimana ia ingin mengumpat dunia di sekitarnya yang penuh rekayasa, bukan sesuatu yang ingin dilihat oleh dunia. Dia sudah berencana akan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya sampai umur 50 tahun, lalu pensiun dan membeli tanah di desa, memelihara sapi dan menanam cabe sembari menulis cerita apapun yang dia inginkan, tanpa peduli apakah buku tersebut akan laku atau tidak. Namun sebelum itu terjadi, dia harus bertahan menjadi penulis roman picisan.

Terkadang dia merasa iri pada Agung Yudha. Laki-laki pendiam yang selalu membuatkan kopinya itu seakan menikmati hidup dalam dunia yang ia ciptakan, tak peduli apapun hiruk pikuk di sekitarnya. Dia melakukan apa yang dia sukai—membuatkan kopi untuk pelanggan, mendengarkan cerita mereka, dan mengelola Lima seperti seorang anak, menjadikan tempat itu seperti apa yang dia inginkan. Sungguh sebuah kebebasan yang sangat mewah yang tidak dimiliki Mas Han saat ini, karena bahkan pikiran dan citra kehidupannya pun dikendalikan oleh pasar. Kunjungannya ke Lima yang sudah memasuki tahun ketiga membuatnya tahu bahwa Agung Yudha mendapatkan tempat itu dari warisan kedua orangtuanya, dia anak tunggal dari keluarga menengah yang cukup memberinya warisan untuk mulai mengelola Lima. Sementara Mas Han, dia adalah anak pertama dengan 3 adik perempuan yang sekarang menjadi tanggungannya, setelah usaha konveksi keluarganya bangkrut bertahun-tahun lalu. Sebuah pilihan logis jika kemudian dia menyerah dari idealismenya.

Selain Mas Han, salah satu pengunjung tetap Lima lainnya adalah Maya, seorang perempuan cantik yang biasanya muncul setiap sore sehabis pulang kerja (atau setelah kelas gym-nya), memesan espresso dan menghabiskan rokok sebatang dua batang di meja yang sama—di bagian tengah, dua meja dari tempat Mas Han biasanya duduk. Sembari menghabiskan kopinya, dia akan memeriksa dan membalas email dengan ipad-nya, membuat rekap pekerjaannya hari ini, dan menyusun jadwal yang harus dilakukan besok. Dia lebih memilih Lima untuk melakukan rutinitasnya dibandingkan gerai kopi terkenal lain yang sering jadi tempat nongkrong wanita karir muda sepertinya, dengan alasan bahwa di sini tidak ada wanita karir lain, kolega yang mungkin tanpa sengaja bertemu, ataupun teman-teman dari kehidupannya yang ia temui di luar jam kunjungannya ke Lima.

Maya menyukai tempat ini karena cukup memberinya privasi dan ketenangan untuk merekap kehidupannya dalam sehari dan merencanakan hari esok. Ya, Maya adalah perempuan yang sangat terorganisir, dia merencanakan semuanya dengan detail, meng-handle pekerjaannya sebagai manajer menengah di sebuah perusahaan multinasional dengan baik, dan masih sempat mengurus bisnis sampingannya beternak udang. Dia juga memiliki penghasilan yang lumayan, kehidupan yang mapan, dan dana pensiun yang memungkinkan jika sewaktu-waktu dia memutuskan berhenti bekerja. Dia menyukai atmosfer Lima yang teratur, dengan Agung Yudha yang menyajikan kopinya dengan gerakan yang memiliki ritme yang nyaman dilihat.

Jika ada satu ketidakteraturan dalam hidupnya, mungkin itu adalah hubungan asmaranya dengan Bagas, teman masa SMA-nya yang saat ini berstatus sebagai “pacar simpanan” Maya. Siapa saja yang akrab dengan cerita-cerita perselingkuhan pasti akan bisa menebak bahwa Bagas adalah laki-laki beristri, dan Maya datang dalam kehidupan Bagas sebagai perempuan kedua, WIL yang dalam novel-novel Mas Han biasanya digambarkan sebagai perempuan cantik, tak berakhlak dan hanya berorientasi pada harta, serta memiliki pekerjaan yang penghasilannya tidak bisa menutupi kebutuhan dan gaya hidupnya, yang tidak sepenuhnya benar dalam kasus Maya.

Maya tidak memiliki kualifikasi apapun yang memenuhi syarat sebagai WIL (jika merujuk pada novel-novel Mas Han), kecuali mungkin paras yang cantik dan badan yang ideal. Dia mandiri, independent, berasal dari keluarga baik-baik, dan tidak sedikit lelaki baik-baik yang mendekatinya. Tapi dalam kasus Bagas, segala kriteria itu sepertinya mengabur. Ya, mereka berteman sejak kecil, pernah satu SMA, dan keluarga Bagas adalah teman keluarga Maya. Kerumitan hubungan itu bermula dari hutang budi masa lalu saat mereka masih SMA, ketika Maya secara ceroboh terjebak dalam urusan obat terlarang dan Bagas “menyelamatkannya” dari aib yang lebih jauh. Lalu mereka putus hubungan setelah lulus SMA, dan bertemu lagi saat sama-sama sudah bekerja, 1 bulan sebelum Bagas menikah dengan istrinya yang sekarang, seorang perempuan lembut dan baik hati yang semakin menempatkan Maya sebagai tokoh antagonis dalam cerita perselingkuhan ini.

Maya tahu bahwa kisahnya dengan Bagas dulu belum benar-benar tuntas, dan adalah sebuah kesalahan ketika kemudian mereka bermain api di waktu yang salah. Setelah kemudian Bagas menikah (yang Maya juga menghadirinya), ternyata permainan ini tidak bisa dengan mudah diakhiri, terus berlanjut selama bertahun-tahun, yang kemudian semakin rumit ketika melibatkan uang. Di awal pernikahannya, Bagas memutuskan untuk resign dan membuka usaha, yang awalnya berjalan baik tapi lama kelamaan usaha itu semakin merugi (terutama karena sifat boros Bagas dan gaya hidupnya yang flamboyan). Bagas benar-benar berada dalam kesulitan keuangan, dan (bisa ditebak) Maya yang kemudian berulangkali menyelamatkannya dari kemiskinan.

Hutang budi masa lalu, begitu selalu yang jadi alasan di benak Maya. Tapi, sesungguhnya, Maya tidak tega pada istri dan anak-anak Bagas. Makin dia mengenal keluarga itu, makin dia jatuh hati pada istri Bagas yang lembut dan anak-anaknya yang lucu. Dia tidak tega jika mereka harus menanggung akibat dari ulah Bagas. Ironis? Ya. Maya sudah berkali-kali mencoba mengakhiri hubungan ini, tapi berulangkali pula Bagas, yang memang sudah bajingan sejak dulu, merengek, memaksa, mengancam supaya dia tetap bersamanya. Toh istrinya tidak keberatan.

Salah satu pengunjung tetap Lima lainnya adalah Enrico. Di antara pengunjung lain yang rata-rata berusia paruh baya, Enrico adalah yang paling muda, yang masih masuk kriteria millenial, genZ yang memenuhi kriteria keren masa kini: tampan (meskipun tidak seperti bintang Korea), kaya, bad boy. Enrico tidak memiliki jam kunjung tetap di Lima, tapi dalam setiap kunjungannya dia bisa bertahan lebih dari 10 jam, melakukan hal yang juga sangat umum dilakukan oleh genZ: main game. Sekali dua dia juga mengajak teman-temannya, juga pacar-pacar yang silih berganti. Enrico kuliah di jurusan bisnis, tapi jika melihat waktu kunjungnya di Lima (dan pergaulan lainnya), sepertinya dia tidak punya cukup waktu untuk kuliah maupun aktivitas akademik lainnya.

Lahir dari keluarga kaya membuatnya menjadi sedikit manja dan semau sendiri, menyia-nyiakan hidup dan fasilitas yang dimilikinya untuk hal-hal tak berguna, karakter yang sering membuat para genY yang bekerja keras untuk hidupnya menjadi sedikit iri menjelang benci. Dan begitulah Enrico. Papanya memiliki jaringan bisnis luas, dan mamanya, mantan artis yang berhenti dari dunia panggung sejak menikah, mengelola butik yang juga laris.

Meskipun begitu, sejauh yang diingat Enrico, kedua orangtuanya tidak pernah akur. Dia tahu papanya punya banyak perempuan simpanan, yang menjadi pemicu utama pertengkaran kedua orangtuanya, dan semakin menjadi alasan bagi mereka untuk sering tidak di rumah. Dan semua pertengkaran itu harus dihadapi oleh Enrico sendiri, karena kakaknya telah lebih dulu menyelamatkan diri keluar rumah dengan kuliah di Australia. Enrico si anak bungsu seperti terjebak di neraka keluarganya, menyaksikan papanya berselingkuh dengan perempuan-perempuan muda seusianya, dan melihat mamanya yang menyalurkan kekecewaan atas nasib buruknya dengan sibuk bekerja, mengabaikan Enrico yang kemudian tumbuh membawa dendam.

Secara harafiah pekerjaannya saat ini hanyalah menghabiskan harta orangtua (yang sepertinya tak pernah habis), bersenang-senang dengan teman-teman konyolnya dan tidak memikirkan masa depan. Hanya di Lima Enrico bisa terlihat agak tenang (karena sibuk main game), sementara hidup lainnya penuh dengan dan hura-hura.

Anak produk broken home yang menggunakan permakluman atas kondisinya untuk menjalani irresponsible life memang sangat menyebalkan. Apalagi di luar sana, banyak juga anak-anak tidak beruntung lainnya yang tetap harus berjuang untuk hidup karena tidak mendapatkan kemudahan seperti Enrico. Seperti misalnya Aning, waitress Lima, yang juga seumuran dengan Enrico. Kedua orangtua Aning meninggal saat dia masih kecil, dan dari usia dini dia hanya tinggal bersama kakak perempuannya, bertahan hidup dengan kerja serabutan. Beberapa waktu lalu kakaknya menikah dan punya dua anak, tapi kemudian suaminya selingkuh dan pergi bersama perempuan lain, sehingga kakaknya, yang selisih 15 tahun darinya, harus menjadi orangtua tunggal.

Terhimpit oleh kebutuhan hidup yang makin gila-gilaan, akhirnya beberapa waktu lalu kakaknya memutuskan bekerja di Qatar sebagai TKW, dan Aning yang masih perawan itu tiba-tiba saja dilimpahi tanggung jawab mengasuh kedua keponakannya (untungnya mereka sudah cukup besar untuk mengurus diri sendiri), di antara kesibukannya bekerja di Lima, juga kuliahnya di Universitas Terbuka.

Enrico sudah cukup lama menjadi pelanggan Lima, sehingga sedikit banyak Aning tahu solah tingkah pemuda itu, dan diam-diam memendam perasaan benci dan iri padanya. Dalam hatinya, Aning akan melakukan apapun asalkan dia masih punya orangtua lengkap yang bisa membiayai hidupnya, agar dia tidak perlu repot-repot banting tulang dan bisa fokus belajar. Sementara Enrico, dia berpikir bahwa lebih baik hidup di tengah keluarga biasa-biasa saja daripada kaya raya tapi bagaikan di dalam neraka. Enrico yang kaya itu sudah tahu benar arti ungkapan bahwa uang tidak bisa membeli kebahagiaan, sementara Aning yang selalu miskin beranggapan bahwa uang bisa membeli kebahagiaan asal dibelanjakan secara bijaksana. Dalam beberapa kesempatan saat menghidangkan pesanannya, Aning sering tidak tahan untuk tidak melontarkan kata-kata pedas ke Enrico tentang betapa tidak bergunanya hidupnya, yang selalu ditanggapi Enrico dengan senyum ala prince charming-nya yang selalu berhasil meluluhkan hati hampir setiap perempuan (keahlian lain Enrico selain game). Kecuali, mungkin, Aning.

Atau, dalam bahasa yang lebih presisi, sebenarnya Aning pernah sekali tergelincir menyukai Enrico. Bukan sepenuhnya salahnya, pembawaan Enrico yang ramah, sedikit nakal, dan memiliki kualitas yang memenuhi syarat sebagai buaya darat pernah sekali membuat Aning khilaf. Pada awal-awal kunjungannya ke Lima “radar” Enrico langsung menangkap keberadaan gadis manis pendiam itu, yang membuatnya penasaran dan melancarkan jurus-jurus mautnya untuk mendekati Aning. Sementara Aning, yang sejak kecil terbiasa mengekang diri dan senantiasa keras pada dirinya sendiri, menanggapi rayuan-rayuan Enrico dengan dingin meskipun lama kelamaan pertahanannya jebol juga.

Di sisi lain, semakin Aning bersikap membatu dengan rayuannya, semakin Enrico merasa penasaran dengan gadis itu. Aning memang bukan tipe perempuan yang biasanya ia dekati, tapi adalah sebuah Kesia-siaan kalau dia yang menghabiskan banyak waktu di Lima, dan ada seorang perempuan manis yang menyajikan kopi dan makanan untuknya, bersikap sedingin batu dan sesadis ibu tiri, tidak ia taklukkan. Ini adalah tantangan yang disukai Enrico.

Tidak perlu waktu lama bagi Aning untuk menyadari bahwa Enrico adalah laki-laki yang salah untuk perempuan sepertinya. Untungnya dia tidak pernah sedikitpun menunjukkan celah hatinya yang pernah sedikit terbuka. Dan seperti yang sudah ia duga, Enrico-pun bosan dengan permainan buaya-macan ini, dan segera ia beralih ke gadis-gadis lain yang lebih mudah ia dekati, tipe kelinci manis dan menyenangkan. Yang semakin membuat Aning benci walaupun tidak patah hati. Dia tetap menjadi macan di depan Enrico, dan Enrico tetap menjadi buaya yang terikat ekornya di depan macan betina itu.

Mungkin hanya mata orang-orang yang lebih dewasa yang bisa melihat bahwa permainan buaya-macan itu sebenarnya potensial berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius, seperti yang ditangkap oleh Agung Yudha. Meskipun minim pengalaman dengan perempuan, Agung Yudha melihat bahwa kedua bocah yang dari luar terlihat saling menerkam dan menghindar itu sebenarnya memiliki potensi untuk membawa hubungan itu menjadi lebih harmonis. Entah apapun itu bentuknya.

Jadi begitulah kemudian Lima membentuk ekosistemnya sendiri, dengan orang-orang yang saling bersinggungan tapi tidak pernah masuk ke teritori yang lebih dalam. Mereka saling kenal satu sama lain, dan dalam setiap pertemuan akan saling bertukar sepatah dua patah kata sebelum kembali sibuk dengan urusan masing-masing. Apa yang mereka ketahui dari masing-masing hanyalah permukaan saja, citra diri yang dibangun untuk publik. Mereka mengenal Agung Yudha sebagai lelaki idealis yang berprinsip, orang yang melakukan segala sesuatu dengan kesungguhan luar biasa. Tidak ada yang tahu bahwa di antara segala sifat tenang yang ia tampakkan itu, Agung Yudha menyimpan kekhawatiran atas hutang-hutangnya yang kian menumpuk. Bisnisnya memang berjalan dengan baik, tapi ternyata Lima tidak dapat menopang beban dari bisnisnya dulu yang sempat gagal, dan meskipun Lima didirikan di atas tanahnya sendiri (rumah warisan orangtuanya), tapi lahan itu telah dihipotekkan dan harus dilunasi akhir tahun ini jika tidak ingin disita Bank.

Demikian juga Mas Han, mereka melihat pengarang muda itu sebagai sosok yang menikmati hidup, penuh semangat, inspiratif, produktif, dan positif. Tidak ada yang menyangka bahwa dia menyimpan kemuakan pada dunia yang penuh kepalsuan, yang seringkali membuatnya membayangkan perbuatan-perbuatan jahat apa yang mungkin bisa dia lakukan. Dia muak dengan jargon-jargon kebaikan yang didoktrinkan kepada dunia, dan bukannya dibiarkan secara natural. Sungguh dia sangat tidak bisa menerima konsep ibadah dan pahala, surga dan neraka, jika dunia penuh kebaikan yang dia jalani saat inipun juga adalah kepalsuan.

Akan halnya dengan Maya, tentunya kita sudah membayangkan seperti apa kerumitan hidupnya, dengan jangkar moral yang tidak jelas dan hati nurani yang abu-abu. Sementara Enrico, mungkin semua orang menganggap bahwa hidupnyalah yang paling mudah, karena toh walaupun orangtuanya bermasalah, tapi ia tidak pernah benar-benar kesulitan. Hanya saja tidak ada yang tahu kemarahan Enrico melihat tingkah papanya memacari gadis-gadis seusianya dan berganti-ganti setiap minggu hanya demi membuat mamanya semakin marah, pun juga kegusarannya pada mamanya yang egois dan mengabaikan keluarga.

Akan halnya dengan Aning, sikap tenang, waspada dan tidak mudah didekati itu cukup menggambarkan latar belakang kehidupannya yang pahit. Macan betina muda itu masih belum cukup terlatih untuk menyembunyikan kegarangannya, tak peduli siapapun lawan yang dihadapinya. Dia sangat mengagumi Maya yang cantik, percaya diri, sukses, dan independent, gambaran yang dia inginkan tentang masa depannya kelak (kecuali mungkin kisah asmaranya yang rumit, meskipun dia juga tidak tahu serumit apakah itu). Dia sebenarnya juga sangat lelah harus mengasuh keponakan-keponakannya sementara hidupnya sendiri juga cukup berat dengan pekerjaan dan kuliahnya. Bukan berarti dia tidak menyayangi keponakannya, tapi saat ini dia hanya ingin ada orang dewasa lain, kakaknya misal, untuk mengambil tanggung jawab atas keadaannya saat ini.

Dia ingin kakaknya pulang, tapi hal itu tak pernah tersampaikan. Dia lelah harus selalu tampil kuat setiap saat, tidak menyisakan ruang untuk sekadar mengeluh atau bermanja—yang kemudian semakin membuat orang beranggapan bahwa dia kuat dan bisa menanggung semua hal. Hanya mungkin Agung Yudha yang bisa menangkap sinar lelah dari mata gadis yang sudah dianggapnya sebagai keponakannya sendiri itu. Aning memang tidak pernah bercerita apapun tentang kelelahan hatinya, tapi Agung Yudha tahu, bahwa jiwa mungil itu perlu istirahat sejenak, perlu perhatian yang tidak sekadar hanya diberi nasehat untuk selalu kuat.

Secangkir teh seusai jam kerja, mainan untuk keponakan-keponakannya, membolehkan keponakan-keponakannya dititipkan di Lima saat dia sedang ada urusan, atau sekadar sepotong pie apel kesukaannya, adalah hal-hal kecil yang bisa ditawarkan Agung Yudha untuk macan kecilnya itu. Untuk sekadar memberinya ruang kecil agar macan di dalam jiwanya bisa beristirahat sejenak. Biar bagaimanapun, dia masih 20 tahun, masih cukup pantas menjalani hidup yang lebih hingar bingar dari yang dimilikinya saat ini. Agung Yudha yang sebatang kara tahu benar bagaimana menyiksanya menjadi seorang diri, tidak punya siapa-siapa untuk sekadar diajak bertukar pikiran ataupun bersandar ketika kelelahan.

Mungkin ekosistem Lima yang terjaga selama bertahun-tahun itu akan tetap konstan selamanya tak berubah (hingga mungkin sampai saatnya Agung Yudha harus menutupnya karena hutang yang tak terbayar), jika saja pada suatu sore, dalam kunjungan rutinnya, Maya tidak menerima telepon dan nampak gusar karenanya. Dalam percakapan selama lima belas menit dua puluh detik itu, dia yang biasanya tenang dan terkontrol tiba-tiba saja berteriak, mengumpat, mengancam, memaki seseorang yang sepertinya adalah laki-laki.

Lima belas menit kemudian, seorang laki-laki masuk, memesan espresso kepada Agung Yudha, dan langsung menghampiri meja Maya. Nampaknya laki-laki itu adalah orang dalam telepon, karena umpatan dan makian itu kemudian kembali berlanjut. Kali ini lebih jelas, karena semua orang bisa mendengar pembicaraan mereka yang melibatkan kata-kata hubungan mereka, istri dan anak-anak, uang, bisnis, dan mengakhiri hubungan.

Sebenarnya mereka yang ada di situ tidak akan terlalu menaruh perhatian andai saja Maya bukanlah pengunjung tetap yang sudah lebih dari tiga tahun menempati bangku yang sama, dan andai saja pertemuan itu tidak diakhiri dengan Maya yang menggebrak meja dan merenggut kerah laki-laki itu, mengancam untuk kesekian kalinya, dan diakhiri dengan lelaki itu yang dengan senyum sinis menghina meninggalkan Maya. Dengan gelas yang pecah dan kopi yang tumpah mengotori lantai. Hening sesaat setelah laki-laki itu keluar, semua orang membatu tak tahu apa yang harus dilakukan. Lalu keheningan itu pecah oleh tangis Maya yang tiba-tiba saja, melengking seperti seekor anjing kehilangan anaknya.

Dia terduduk dengan tangan menopang kepala dan wajahnya, dan lengkingan tangisnya itu sungguh tidak anggun, melengking dan mendengking nyaris meraung, bukan tangis terisak seperti adegan sedih di film. Sungguh kontras dengan sosok Maya. Yang membuat Agung Yudha mendekat, meskipun dia adalah manusia yang tidak pernah peduli dengan urusan orang. Juga membuat Mas Han, yang duduk dua kursi darinya, mengalihkan perhatiannya (yang memang sudah teralihkan dari tadi) dari naskahnya (satu lagi kisah percintaan), dan bahkan membuat Enrico menghentikan permainannya dan kalah dua skor dari lawannya.

Mungkin atas nama kepantasan akhirnya Agung Yudha menanyakan penyebab tangisan dan lolongan Maya, meskipun sebenarnya dia tidak nyaman terlalu mencampuri urusan orang. Tapi perempuan cantik yang melolong mana bisa diabaikan, bukan? Maka kemudian Agung Yudha duduk di bangku depan Maya, menawarkan tissue, dan tanpa harus terlalu berusaha (bahkan dia tidak perlu bertanya) cerita itu mengalir bak sungai yang airnya meluap. Bisa ditebak, laki-laki barusan adalah Bagas, pacar ilegalnya, dan pertengkaran itu adalah (apalagi) tentang hubungan ilegal mereka. Maya rupanya cukup waras bahwa hubungan bertahun-tahun ini tidak akan kemana-mana, dan sejak beberapa bulan lalu ia ingin lepas dari Bagas. Tapi mereka punya urusan finansial yang rumit yang melibatkan hutang dan jaminan, yang harus dipastikan oleh Maya akan diselesaikan oleh Bagas.

Tapi laki-laki itu memang bajingan. Ternyata, selain Maya, dia juga menjalin hubungan dengan perempuan-perempuan lain dan juga menjerat mereka dengan hutang-hutang, penipuan berkedok asmara (yang membuat Mas Han langsung pasang antena karena bisa menjadi ide cerita selanjutnya). Dan saat Maya menyadarinya, dia sudah terlambat terlalu jauh. Uangnya telah lenyap di tangan Bagas, jumlah yang sangat banyak yang bahkan bisa menutup hutang Agung Yudha dalam sekejap. Tak lupa Maya memberi bumbu-bumbu cerita romantis tentang kisah cintanya, yang membuat Enrico tak tahan untuk tidak mencibir—karena dia tahu itulah tepatnya yang akan dilakukan oleh para hidung belang seperti Bagas (dia jadi merasa sedikit bangga pada papanya, karena, setidaknya, papanya lah yang menghidupi perempuan-perempuan yang dipacarinya).

Sementara Aning, yang sedikit banyak menguping pembicaraan itu sambil membereskan pecahan gelas dan tumpahan kopi, membayangkan kakaknya yang dulu juga ditinggalkan oleh suaminya (meskipun bedanya Maya tidak memiliki kesulitan finansial seperti kakaknya) dan berpikir kenapa perempuan bisa sebodoh itu “hanya” demi urusan cinta. Mungkin hanya Agung Yudha yang mendengarkan cerita itu tanpa melibatkan perasaan (selain mungkin berpikir andai saja uang itu dipinjamkan padanya, tentu dia akan mengelolanya dengan bertanggung jawab).

Maka begitulah kemudian kelima orang tersebut (1 narasumber, 1 pendengar legal, 3 penguping ilegal tidak profesional) berkumpul di Lima sore itu, pada saat yang kebetulan saja tidak ada pengunjung lain selain mereka. Maya, seperti tidak mempedulikan keberadaan lainnya, tetap saja mengeluarkan segala unek-unek yang sudah lama ia pendam, tidak peduli apakah Agung Yudha benar-benar mendengarkan atau hanya terpesona melihat bibirnya yang tak henti mencerocos, riasannya yang luntur dan mascaranya yang belepotan. Dia hanya ingin uangnya kembali, dan mengakhiri kisah cinta tidak normal ini tanpa jejak, sambil mencoba menghibur dirinya bahwa dia masih bermartabat dan tidak seperti stereotip WIL yang sering ada di kisah sinetron. Menurutnya dia tidak sedangkal itu.

Sampai sini, Mas Han sepertinya tidak dapat menahan diri, dan menyahut bahwa kecil kemungkinan orang akan memandang perempuan kedua dari sisi malaikat, tak peduli seberapapun bajingannya si lelaki—yang kemudian ia sadari bahwa mungkin ia punya andil dalam membentuk stereotip masyarakat itu dengan menuliskan kisah-kisah cinta segitiga yang hampir selalu menempatkan pihak ketiga sebagai “the devil wear prada” (dan Mas Han benci dengan budaya stereotip ini, yang memaksakan kebenaran berdasarkan kebiasaan. Dia menjadi bagian dari apa yang dia benci).

Keempat orang lain yang mendengarkan argumen Mas Han hanya mengangguk-angguk, dan kemudian sama-sama terdiam dalam pikiran masing-masing. Lalu Enrico, yang sudah sejak dari lolongan Maya yang pertama menghentikan game-nya, bertanya apakah Bagas (yang ia sebut sebagai “lelaki itu”) sudah membayar kopinya—yang dijawab tidak oleh Maya, dan membuat Enrico berkomentar “baiklah, dia memang bajingan” (Enrico tidak bisa menerima ide seorang laki-laki memanfaatkan perempuan dari sisi finansial). Ini kemudian membuat Maya teringat bahwa ia juga harus mengganti gelas-gelas yang pecah itu, dan dijawab Agung Yudha dengan “tidak perlu repot-repot, toh mungkin aku akan menutup tempat ini bulan depan”, dan membuat yang lainnya terperanjat sehingga lupa bereaksi.

“Dan apa maksudmu ini?” tanya Maya, yang dalam sekejap melupakan urusannya dengan Bagas.


Dalam sekejap, pembicaraan empat mata antara Agung Yudha dengan Maya tersebut berubah menjadi pembahasan terbuka lima pasang mata. Jika beberapa menit lalu Maya yang menjadi pusat perhatian, tiba-tiba saja kini Agung Yudha yang menjadi pesakitan. Dia dicecar dengan berbagai pertanyaan mengapa, bagaimana, bisa-bisanya, yang tidak satupun sempat dijawab Agung Yudha. Dan kini tiba-tiba saja Aning yang tidak dapat menahan diri. Dia merasa terluka dan dibohongi, menganggap Agung Yudha sangat dalam mengecewakannya, menyalahkan nasib sialnya yang kesekian kali pada pemuda yang sudah dianggapnya sebagai pengganti kakaknya sendiri itu. Di mana lagi dia bisa mencari tempat kerja yang mengizinkan dia menitipkan keponakan-keponakannya, izin sebentar untuk kuliah, atau sekadar tiduran karena kecapekan tanpa mempermasalahkan kinerjanya?

Hal ini tentu saja tidak disia-siakan oleh Enrico, yang biasanya menjadi sasaran kegalakan Aning (dan sekarang si kesayangan Agung Yudha yang menggantikan posisinya). Dia dengan anggun menuntun Aning untuk duduk dan menenangkan diri, serta mengambilkan air mineral yang langsung dihabiskan oleh Aning dalam tiga kali teguk.

Dan setelah semua kembali tenang, Maya, yang berhasil kembali menjadi sosok Maya ketika di Lima, menuntut penjelasan Agung Yudha tentang statement-nya beberapa menit lalu yang sempat membuat heboh. Malang benar bagi Agung Yudha yang tidak pernah berbagi perasaan dengan siapapun itu, kini harus menghadapi empat manusia penuntut untuk menceritakan kebodohan-kebodohan finansialnya yang membuat Lima merugi. Sebenarnya dia memiliki beberapa kolega yang sudah menawarinya bantuan, dengan syarat harus merekonsepsi Lima (yang dikelola bak warmindo dengan sentuhan artistik) menjadi lebih hype, upload-able, gaul, atau apapun itu istilahnya, yang ujung-ujungnya adalah cuan. Kafe yang cuan-able. Yang pastinya berseberangan dengan idealisme Agung Yudha yang lebih memilih menjadi penyendiri, memelihara Lima seperti apa adanya saat ini asalkan tidak merugi. Yang tentunya berseberangan dengan ilmu bisnis aliran manapun dan terlihat konyol oleh investor manapun. Sungguh menyedihkan sekali bagi Agung Yudha.

Idealisme Agung Yudha yang agak menyimpang dari kelaziman tersebut sepertinya tidak terlalu dipahami oleh keempat orang lainnya, yang sepertinya lebih melihat permasalahan ini dari sisi bisnis saja. Padahal, sebenarnya, kemampuan artistik Agung Yudha dan otentisitasnya, jika dikelola dengan tepat, bisa sangat menjanjikan. “Sejujurnya,” komentar Maya, “aku sama sekali tidak bisa memahami preferensi bisnis dan finansialmu,” yang kemudian dijawab dengan telak oleh Agung Yudha bahwa dia pun tidak bisa memahami preferensi cinta dan pilihan laki-lakinya.

Ya, semua orang memang memiliki keanehan sendiri-sendiri yang mungkin nampak konyol di mata orang lain, yang bahkan mungkin yang bersangkutan pun tidak bisa menjelaskannya. Kadang memang sesuatu terjadi begitu saja tanpa bisa dijelaskan, “seperti halnya kedua orangtuaku yang sudah lama tidak saling cinta tapi masih tetap bersama,” komentar Enrico, yang ditimpali Aning dengan “ya, seperti kamu yang menghabiskan hidupmu dengan game dan mengejar perempuan”.

“Yang terpenting adalah,” kini giliran Mas Han yang berbicara, “apapun keanehan yang kita miliki, sejauh kita tidak merugikan orang, itu tidak masalah. Kita tidak perlu menjadi orang lain hanya untuk memuaskan masyarakat, toh semua orang bertanggung jawab atas kebahagiaan mereka sendiri. Kebahagiaan orang lain bukan tanggung jawab kita kan?”—yang Mas Han tahu benar bahwa kalimat yang ia ucapkan itu sungguh ironis, mengingat dia mengorbankan kebahagiaan dan kepuasannya menulis demi “memuaskan” pasar.

“Tapi sesungguhnya saya akan sedih sekali kalau Lima ditutup,” komentar Aning, begitu tulusnya sehingga keempat lainnya merasa tersentuh. Selain Agung Yudha, bisa dibilang Aning yang mendapat konsekuensi paling berat jika Lima ditutup.

“Saya juga,” kata Mas Han, mengingat bahwa sudah bertahun-tahun ini dia menghabiskan hampir seluruh harinya di tempat itu, memproduksi puluhan novel dan ratusan posting yang mendatangkan popularitas. Mungkin mudah saja baginya menemukan kafe lain, tapi pastilah rasanya tidak akan sama, dan dia harus mulai lagi dari awal, bertemu orang-orang baru lagi yang sebenarnya melelahkan. Dia tidak menyukai proses adaptasi.

“Jadi sebenarnya,” Maya menyeletuk. “Aku mungkin saja tertarik untuk berinvestasi di Lima, menjadi mitra bisnismu walaupun aku tahu kamu bukan partner bisnis yang ideal. Lihatlah, tempat ini begitu menyenangkan. Dan kopimu sungguh enak,” kata Maya, yang membuat lainnya merasa tersentuh, merasa semakin berlipat ganda penyesalannya atas berita kemungkinan penutupan Lima. “Tapi sayang sekali, uangku sudah banyak habis untuk laki-laki sialan itu. Dia menipuku luar dalam, dan kalian tahu kemungkinan kecil aku bisa mendapatkan kembali uangku. Dan entah berapa banyak perempuan lain yang tertipu”.

Mas Han, yang beberapa hari ini tengah mengalami kejenuhan dan kebuntuan ide tentang kisah cinta apalagi yang akan dia tulis, tiba-tiba saja terbersit ide. Pikiran dan imajinasi liarnya yang sudah lama terkekang tiba-tiba saja bergejolak, dan segala macam skenario yang dulu hanya berlompatan di dalam otaknya, tiba-tiba saja berkelebat liar begitu mendapat celah kesempatan. Maka kemudian dia berkata, “bagaimana jika kita bersekongkol untuk membantu Maya mendapatkan uangnya? Dan kalau itu berhasil, Maya bisa menaruh modal untuk Lima? Apakah kamu setuju berpartner dengan Maya?” tanya Mas Han pada Agung Yudha. “Tergantung,” jawab laki-laki tertutup itu. “Asal Lima tetap bisa dikelola dengan caraku, tidak terlalu memaksakan profit, dan kucing-kucing itu tetap boleh tinggal di sini, tidak menebang pohon mangga di samping itu, mungkin aku bisa mempertimbangkan,” yang membuat Maya menggumam bahwa pantas saja jika sulit bagi Agung Yudha untuk bisa menemukan partner bisnis yang tepat. Tapi Maya tidak terlalu peduli akan hal itu, sebenarnya dia juga tidak terlalu peduli dengan uangnya, lebih ke arah harga dirinya yang terluka. Maka seperti apapun nanti uang itu akan digunakan Agung Yudha, dia tidak peduli.


“Jadi apa secara detailnya rencanamu itu?” tanya Enrico, yang tiba-tiba saja mengendus bau petualangan di dunia nyata, dan merasa tertarik karena sudah tidak ada lagi game yang ingin ia coba dan menangkan. Dia membutuhkan petualangan di dunia nyata, terutama jika mungkin itu bisa melibatkan Aning si macan betina.

Lalu Mas Han membeberkan rencananya panjang lebar, beberapa skenario yang mungkin bisa dilakukan untuk mendapatkan uang Maya kembali. Skenario itu meliputi: Rencana A: Menghubungi istri dan keluarga Bagas supaya perempuan malang itu tahu apa yang sudah dilakukan suami “sempurna”-nya (yang langsung ditolak Maya karena dia tidak mau melukai perasaan perempuan itu, Maya mengenalnya sebagai perempuan polos yang rapuh dan begitu tergantung pada Bagas. Dan jangan lupakan juga anak-anaknya, bocah-bocah menggemaskan itu). Atau Rencana B: Menekan Bagas lewat keluarga dan koleganya (yang oleh Mas Han langsung ia koreksi sendiri—skenario ini akan menempatkan Maya pada pihak yang jahat dan bersalah.

Dalam hampir semua skenario novelnya, wanita simpanan dan selingkuhan hampir selalu menjadi tokoh antagonis, dengan kadar yang berbeda-beda. Sepertinya dalam kasus Maya, orang-orang tidak akan melihat dia sebagai si protagonis yang malang dan lemah. Dan Maya tidak suka itu. Atau Rencana C: Menyewa preman untuk mengancam Bagas (yang tidak disetujui Agung Yudha karena “urusan kotor jangan diselesaikan dengan cara yang lebih kotor”). Atau Rencana D: Menjebak Bagas dengan urusan lain yang membuatnya terpaksa mengembalikan uang Maya (dan apakah itu tidak setara “kotor”-nya dengan rencana C?).

Sebenarnya ini membingungkan juga, menyelesaikan urusan “kotor” dengan cara syariah, karena realitas dunia tidak bisa serta merta mengalahkan kejahatan dengan kebaikan. Seperti menyodorkan dirimu sendiri di hadapan seekor macan kelaparan dan mengharapkan si macan akan merasa kasihan dan tidak memakanmu. Atau berharap si jahat akan tiba-tiba tersambar petir diazab oleh Tuhan. Mungkin itu terjadi di novel atau film, tapi tidak di dunia nyata. Sungguh ini adalah zaman realistis, di mana mukjizat sepertinya sudah habis di zaman nabi dan manusia harus beradaptasi dengan dunia yang serba realistis, memakan atau dimakan. Andaikan saja ini bisa diselesaikan di dunia maya, mungkin masalah akan selesai di tangan Enrico dan game-nya. Tinggal kerahkan pasukan, beli senjata, bantai lawan. Dia ahli memenangkan pertempuran dunia maya, tapi tidak di kehidupan nyata.

Maka sembari Mas Han membeberkan rencana gemilangnya yang melibatkan konspirasi tingkat kaki lima, kelima penghuni ekosistem Lima tersebut berdiskusi dengan intens mengenai term and condition atas rencana mereka, merevisi sana-sini rencana itu sampai semua orang sepakat. Tapi ada beberapa hal pokok yang harus mereka sepakati bersama sebelum rencana itu berlanjut. Yang pertama, jika Maya berhasil mendapatkan kembali uangnya, maka dia akan menjadi rekan bisnis Agung Yudha, tapi dia hanya memiliki kewenangan sampai sejauh mengurus keuangan. Lima harus tetap terjaga seperti ini, termasuk kucing-kucing harus tetap menjadi bagiannya. Kedua, Maya sepakat tidak akan ikut-ikutan terlalu jauh mengatur Lima, tapi dia sungguh-sungguh minta Agung Yudha menambahkan menu camilan dan pilihan makanan. Dia sungguh menderita karena Lima hanya punya pilihan makanan nasi goreng dan mie instan.

Ketiga, selama proses ini berlangsung, Mas Han berhak atas segala plot cerita, peristiwa yang mungkin terjadi, dan boleh menuangkannya dalam novel/cerita, termasuk tokoh-tokoh yang terlibat yang akan ia samarkan. Dia berhak untuk menuliskan cerita berdasarkan kisah nyata ini dan mempublikasikannya. Keempat, kalau ini berhasil, Aning berhak tetap bekerja di tempat ini dengan peraturan sekarang, boleh membawa keponakan-keponakannya, boleh izin di jam-jam tertentu untuk keperluan kuliah. Dan sumpah mati, Agung Yudha harus mengganti peralatan-peralatan makannya karena bentuknya membuat susah dicuci.

Kelima, kalau urusan ini berhasil, Enrico akan memangkas separuh waktu main game dan mulai mengerjakan skripsinya, asalkan Aning mau membantunya (yang langsung ditolak Aning tapi segera disanggah oleh tiga orang dewasa lainnya dengan alasan “demi kebaikan bersama”), yang kemudian memunculkan syarat keenam: Enrico harus berhenti mempermainkan perempuan jika dia tidak benar-benar serius. Dan selama misi rahasia ini (yang akan sering membuat mereka bersama) dia tidak boleh menggoda Aning, mengeluarkan kalimat-kalimat gombal memuakkan, dan bertingkah layaknya laki-laki normal (yang membuat Enrico bertanya di sebelah mana sisi tidak normalnya).

Maka beginilah kemudian skenario yang disusun Mas Han berdasarkan imajinasi romance-crime-nya.

Pertama, Maya akan kembali mendekati Bagas. Ide ini awalnya ditolak mentah-mentah oleh Maya, karena sungguh dia sudah terlalu muak dengan laki-laki itu dan tidak sanggup melakukan apapun lagi yang berhubungan dengan Bagas. Tapi Mas Han meyakinkan Maya bahwa ini adalah kunci utama kesuksesan rencananya. Maka Maya harus kembali pada Bagas, bersikap manis dan memohon-mohon (yang ia yakin Bagas akan terlalu bodoh untuk menyadari apa yang sesungguhnya terjadi). Yang harus dipastikan Maya adalah, dia keluar selama beberapa kali di tempat-tempat yang sudah disepakati, bertindak semesra mungkin (di beberapa kesempatan) dan memancing Bagas untuk mengeluarkan sifat aslinya yang flamboyan, berkuasa, manipulatif, dan kadang-kadang memaksa. Maya harus sedikit melunakkan dominasi perempuannya supaya Bagas semakin terpancing dan melakukan tindakan-tindakan yang scene-nya “layak jual” untuk dipublikasikan.

Kedua, ketika Maya sedang berusaha memancing serigala jantan itu mengeluarkan sifat aslinya, Aning dan Enrico akan berada di sekitar mereka, menyamar menjadi apapun yang sekiranya tidak mencurigakan, dan mencuri gambar apapun yang kira-kira bisa menjadi ilustrasi yang tepat untuk apapun yang nanti akan diolah oleh Mas Han. Tugas mereka juga termasuk membuntuti Bagas dan menyelidiki apapun yang dilakukan Bagas, mengambil gambar-gambar secara rahasia yang sekiranya bisa dimanfaatkan. Termasuk juga mereka akan memerlukan sesi-sesi pemotretan untuk Maya, untuk mengeksploitasi ekspresi-ekspresi yang sekiranya bisa mencitrakan Maya sebagai perempuan ketiga yang malang, yang ditipu dan dimanfaatkan oleh laki-laki bajingan.

Lalu apa tugas Agung Yudha? Tugasnya adalah menyediakan kopi dan mengekang diri untuk tidak mengkritisi apapun yang dilakukan oleh klub detektif Lima itu meskipun itu bertentangan dengan idealisme apapun yang dia anut. Mas Han sendiri, sebagai sutradara, akan memainkan peran kunci yang nanti akan menjadi penutupan dan balas dendam yang manis untuk Maya, yang akan meramunya menjadi drama yang layak jual tapi masih berbobot.

Jadi apakah rencana Mas Han?

Maka begini plot yang dirancang Mas Han: Sembari semua orang menjalankan tugasnya dalam misi ini, Mas Han, yang ahli dalam menarik massa di media sosial, akan mulai membuat cerita bersambung yang ditulis pendek-pendek di akun media sosial yang ia kelola, yang sudah punya ribuan follower, yang memang khusus ia buat untuk posting teaser novel-novelnya dan beberapa tulisan lain. Apa yang akan dia tulis? Tentu saja kisah Bagas dan Maya, yang tentunya melibatkan plot yang menyudutkan Bagas dan membela Maya. Kisah itu hanya akan dia tulis sepenggal-sepenggal, di-update setiap hari, dan dibuat sedemikian rupa sehingga pembaca akan terus penasaran dengan lanjutan ceritanya.

Tak lupa caption menjual dan ilustrasi foto yang menarik sesuai dengan cerita, yang akan diambil diam-diam oleh Aning dan Enrico. Tentunya dalam postingan itu tidak akan muncul foto Bagas dan Maya, hanya tempat-tempat di mana mereka “pernah bersama” yang akan langsung dikenali oleh Bagas jika saatnya tiba. Dan tentunya, Aning dan Enrico akan tetap mengambil foto mereka di tempat yang sama, yang akan digunakan di kemudian hari. Tapi untuk sekarang, cukup postingan cerita dengan latar tempat yang bisa menarik hati pembaca saja.

Selanjutnya, Mas Han, dengan segala kemampuan digital marketing-nya, akan membuat cerita ini menjadi trending topic yang dibaca dan dibicarakan banyak orang, mengenai kejahatan penipuan berkedok asmara yang dilakukan lelaki sociopath yang sudah punya anak istri (jika kalian ingat beberapa kisah horor yang sempat menjadi trending di dunia maya, maka kurang lebih seperti itu rencana Mas Han). Lalu, di akhir kisah, Mas Han akan mengolah post dia sedemikian rupa, yang akan membuat orang bertanya-tanya apakah kisah ini berdasarkan kisah nyata.

Nah, sampai di sini, negosiasi siap dibuka dengan Bagas. Mas Han (atau Maya) akan mengancam lelaki itu dengan membeberkan identitas lelaki yang menjadi tokoh antagonis di cerita tersebut (dengan konsekuensi seluruh dunia akan tahu), tentunya dengan dukungan bukti foto-foto yang menguatkan, yang dibuat sedemikian rupa sehingga hanya wajah Bagas yang akan dengan mudah dikenali. Atau, pilihan kedua, Bagas harus mengembalikan uang Maya.

Memang rencana ini tidak bisa dilakukan secara cepat, karena membutuhkan ketelatenan dan ketelitian yang tinggi dari masing-masing pemerannya. Maya harus bisa memancing “sisi binatang” Bagas dengan tepat, sementara Enrico dan Aning harus bisa menangkap momen tersebut dengan pas dalam foto-foto yang akan mereka ambil secara rahasia. Sementara Mas Han, dengan kelihaiannya mengolah kata dan peristiwa, harus bisa mengemas “kisah” ini sedemikian rupa sehingga dapat menarik follower-follower-nya untuk ikut terhanyut dalam konflik ini, menempatkan Bagas sebagai penjahat dan Maya sebagai korban tak berdaya yang berbudi pekerti luhur (yang diprotes Maya karena dia juga toh tidak sebaik itu, tapi sekali lagi diyakinkan Mas Han bahwa ini semua adalah “demi konten” dan “demi uang”, yang semua orang sepakat ini menjijikkan tapi tetap harus dijalankan).

Agung Yudha sendiri, yang bisa diduga tidak setuju dengan cara “licik” ini sejak awal, dipastikan untuk tidak mengacau dengan diam-diam membocorkan misi ini pada Bagas (karena rasa kemanusiaan), dan memfokuskan perhatiannya untuk bisa memperpanjang masa tenggat pinjaman sebelum uang Maya berhasil dikembalikan. Dan, Maya perlu memastikan ulang bahwa semua urusan ini tidak boleh melibatkan kekerasan (aman, karena tidak ada yang minat berkelahi) serta tidak melibatkan istri dan anak-anak Bagas (sulit, tapi bisa diusahakan). Dan, Enrico bisa memanfaatkan jaringan restoran milik keluarganya sebagai setting “lokasi”, sehingga ia bisa lebih leluasa mereka rencana.

Sungguh keahlian berstrategi dan manipulasi yang ia pelajari dari bermain game online dua puluh jam sehari terbukti sangat bermanfaat dalam kasus ini, dan ia membuat rencana licik yang sangat detail dan terperinci untuk menjebak Bagas, yang membuat Aning dan lainnya kagum dan ia bisa tampil jumawa (“aku menuruni kecerdasan strategi bisnis papaku, dan aku terbiasa menghadapi konflik rumah tangga,” katanya, yang membuat dia merasa bersyukur untuk pertama kalinya lahir di keluarganya yang amburadul itu). Aning sendiri, yang terbiasa melakukan segala sesuatu dengan efisien dan tak terlihat, bisa menjadi partner yang pas untuk menyelesaikan urusan abu-abu ini.

Dan begitulah kemudian tim itu bekerja sama untuk tujuan yang sama, meskipun dengan kepentingan yang berbeda-beda. Enrico ternyata sangat handal menjadi sutradara dan koordinator lapangan, mengatur setting dan detail dengan sangat bagus. Dia menggunakan pertengkaran orangtuanya dan kisah-kisah perselingkuhan papanya (yang terungkap) sebagai referensi, dan menyusun plotnya dengan ketekunan bagaikan sedang menyusun skripsi.

Di lain sisi, ternyata Aning bisa menjadi partner yang sangat efisien. Mulut pedas dan hati batunya ternyata luluh juga saat Enrico berhenti bersikap main-main dan berubah menjadi lelaki yang serius dan bertanggung jawab. Enrico begitu bersemangat dengan proyek ini, sehingga lupa dengan sikap buaya daratnya. Perubahan ini yang kemudian sekali dua pernah membuat Aning sedikit merasa “tergoda” untuk menyukainya lagi (yang langsung ditepisnya jauh-jauh. Buaya tetaplah buaya, batin Aning), tapi toh biar bagaimanapun dia tidak mau munafik bahwa dia menikmati saat-saat bersama Enrico, mendengarkan pemuda itu membeberkan rencananya dan mengatur ini itu bagaikan seorang sutradara, dan seringkali sengaja berlama-lama di spot-spot “TKP” untuk sekadar mengulur waktu berdua dengan Enrico.

Jika terus berlanjut, cerita ini tentunya akan menjadi sinetron jilid dua tentang kisah cinta si miskin dan pangeran kaya, tapi toh Aning tidak peduli. Hidupnya sudah penuh drama sejak dia lahir, dan sekarang dia hanya merasa ingin menikmati memiliki seseorang yang bisa dia andalkan, bertukar pikiran, dan menganggapnya ada. Dia lelah sendirian dan bersikap sok jagoan. Jika toh nanti akan berlanjut menjadi sinetron seri tiga, biar dipikirkan nanti saja. Kalau perlu dia akan menjual kisah ini ke Mas Han untuk jadi novel, dan dia bisa minta bayaran. Dia tidak keberatan kisah hidupnya yang dramatis ini dieksploitasi. Buat apa kisah sedih disimpan jika tidak bisa mendatangkan keuntungan? Hanya buang-buang waktu dan perasaan saja kan? Ya, Aning yang terlatih dengan penderitaan sejak kecil itu sudah mengembangkan kemampuan untuk bertahan hidup secara efisien. Tiada guna meratap, kalau itu tidak memberikan manfaat. Lebih baik fokus pada yang bisa diusahakan.

Akan halnya dengan Enrico, sepertinya dia tidak terlalu merasakan perubahan itu. Keberadaan Aning di dekatnya terlihat sangat natural, dan semua kesibukan proyek Lima itu benar-benar telah mengubahnya menjadi (mungkin) adalah Enrico versi yang sesungguhnya, jika saja dia tidak terbelit dengan kisruh rumah tangga orangtuanya.

Ketiga orang dewasa dalam tim itu tentunya menyambut perubahan itu dengan gembira. Melihat Aning dan Enrico begitu solid membuat mereka bernostalgia dengan masa-masa saat mereka masih lebih muda dengan semangat dan energi yang masih meluap-luap, serta cinta yang menggebu-gebu yang belum terkontaminasi permasalahan klasik orang-orang dewasa: ekonomi, konflik keluarga, karir. Benar-benar murni seperti novel-novel cinta remaja (dalam hati mereka berharap kisah Aning dan Enrico bisa terus berlanjut, kebersamaan mereka sungguh memberikan aura positif pada jiwa-jiwa manusia dewasa yang sedang kelelahan itu. Sungguh mereka sangat merindukan masa remaja, saat hidup belum serumit ini).

Enrico sendiri, di luar dugaan, mulai mencoba membangun komunikasi dengan papa dan mamanya yang ia tempatkan sebagai narasumber urusan selingkuh dan konflik rumah tangga. Dan karena dia menempatkan urusan itu sebagai referensi, dia melihat keruwetan rumah tangga papa dan mamanya secara lebih objektif, dan merasakan simpati yang sama pada papa dan mamanya. Kemarahan dan kebencian itu tiba-tiba saja menghilang setelah dia mampu mendengarkan dengan cara yang berbeda, bukan hanya umpatan, makian, dan sumpah serapah yang selama ini menyiksanya.

Dalam hal ini, dia harus berterima kasih pada Aning yang pragmatis efisien dalam menyikapi segala sesuatu, “fokus pada masalah dan penyelesaiannya, bukan pada perasaan kita dan bagaimana orang bereaksi,” yang terbukti cukup efektif dalam banyak hal. Orangtuanya mungkin tidak akan serta merta rukun dan bahagia, papanya mungkin akan tetap berselingkuh dengan perempuan-perempuan muda dan mamanya mungkin masih akan tetap mendramatisir keadaan, tapi Enrico bisa mengubah cara pandangnya terhadap masalah ini dengan lebih bijaksana. Sepertinya buaya darat pun dapat berubah ketika menemukan macan yang tepat untuk membukakan matanya.

Jika proyek Lima ini membawa perubahan pada Aning dan Enrico, begitu juga halnya dengan Maya. Perempuan itu dengan tabah dan tekun menjalankan perannya untuk “menjebak” Bagas sebagai bahan konten yang menjual, karena memang begitulah sifatnya, sungguh-sungguh dan persisten untuk semua hal. Hanya saja, setelah kejadian pertengkarannya di Lima, dan setelah dia mendengar pendapat teman-teman satu misinya, dia bisa memandang hubungannya dengan Bagas ini dari sudut pandang yang lebih objektif. Penyelidikan-penyelidikan Enrico menunjukkan bahwa Maya bukan satu-satunya korban penipuan Bagas, yang membuat Maya sedikit terhibur karena dia bukan satu-satunya orang yang bertindak bodoh dengan masuk begitu saja dalam jebakan Bagas selama bertahun-tahun.

Oleh karena itu, atas nama seluruh perempuan manapun yang dengan alasan apapun masuk ke dalam perangkap asmara, menjadi budak cinta yang tanpa sadar telah dieksploitasi oleh lelaki macam Bagas, dia menjalankan perannya sebaik mungkin demi membalaskan dendam. Juga demi Agung Yudha, lelaki pendiam malang yang kini sedang terlilit hutang, yang telah bersedia mendengarkan keluh kesahnya meskipun dia tahu pemuda itu enggan melakukannya. Juga demi Enrico, pemuda yang sejak bertahun-tahun dia menjadi pengunjung Lima selalu duduk bermain game selama berjam-jam seakan-akan tidak memiliki kehidupan lainnya. Juga Aning yang ketakutan kehilangan pekerjaan kalau Lima tutup. Juga Mas Han, yang sejak beberapa bulan ini ia perhatikan selalu mengetik novelnya dengan wajah bosan.

Mungkin ia perlu tantangan lebih. Orang-orang itu tidak pernah melakukan apapun dalam hidup Maya yang harus membuatnya membalas budi, tapi semua semangat yang tiba-tiba muncul ini, entah mengapa menggerakkan hatinya untuk juga harus melakukan sesuatu yang positif. Mungkin ini yang disebut atmosfer positif, positive vibes, atau apapun itu yang sering dilihatnya di postingan media sosial, suatu kondisi di mana kemudian orang-orang seperti terdorong untuk melakukan perbuatan baik dan saling mempengaruhi untuk melakukan hal baik. Mungkin ini juga yang sedang diperlukannya, keluar sejenak dari hidupnya yang ruwet dan penuh tekanan: pekerjaan, status sosial, percintaan.

Bagi Agung Yudha sendiri, sebenarnya sampai saat ini dia belum bisa menerima proyek Lima dengan sepenuhnya. Ya, dia sadar bahwa dialah yang akan mendapatkan keuntungan paling banyak jika proyek ini berhasil. Hanya saja, pemuda malang yang idealis agak membabi buta itu tetap beranggapan bahwa skenario ini terlalu memanipulasi keadaan. Pendapatnya masih tetap sama, semua ini harus dibicarakan baik-baik dengan Bagas, hati ke hati, dan jika memang Bagas tidak mau mengembalikan uang Maya, maka biarlah Tuhan yang menggerakkan hatinya. Jikalau kemudian Lima harus tutup, maka memang itu adalah konsekuensi dari pilihan buruk finansialnya di masa lalu yang harus ia bayar, dan tidak perlu disesalkan. Toh dia bisa memulai hidupnya kembali.

Meskipun begitu, tak bisa dipungkiri kalau Agung Yudha sendiri melihat bahwa proyek Lima ini telah memberikan perubahan positif pada pelanggan-pelanggan setianya itu. Belum pernah dia melihat Mas Han seantusias ini sejak pertama kali ia duduk di pojokannya. Dan Enrico yang sepertinya mulai sedikit-sedikit meninggalkan game dan perempuan-perempuan cantik yang secara reguler selalu ia bawa (kabar baik juga, Enrico sedikit bercerita kalau ia mulai bicara pada papa dan mamanya). Dan juga Maya, perempuan cantik yang terkesan selalu memikirkan dirinya sendiri itu kini menjadi lebih ramah dan perhatian pada orang-orang di sekitarnya.

Tak jarang dia datang membawakan makanan untuk yang lain, bahkan mulai bermain-main dengan kucing-kucing Agung Yudha (dia tidak pernah tahu kalau Maya bisa menyukai kucing). Di sela-sela kedatangannya untuk mencatat pekerjaannya dan menikmati espresso buatan Agung Yudha, Maya juga akan menyapa ramah teman-teman “baru”-nya itu, memaksa Agung Yudha menceritakan sedikit kisah hidupnya, dan membuat suasana Lima menjadi lebih hangat. Ini sebenarnya yang diinginkan Agung Yudha, sebuah kafe yang tidak hanya menampung orang-orang yang minum kopi kemudian sibuk dengan pekerjaannya sendiri-sendiri, tapi juga menjalin hubungan yang lebih hangat antar-pelanggannya. Bukan hanya duduk diam dan terlarut dengan laptop, tablet, atau ponselnya. Dia menyukai interaksi cara-cara lama di mana orang-orang benar-benar terhubung secara nyata, bukannya intensif di dunia maya.

Terlepas dari segala kegalauan yang dirasakan Agung Yudha, proyek ini berjalan dengan nyaris sempurna. Segala material yang diserahkan Enrico diolah dengan gemilang oleh Mas Han, dan dia publish secara berkala di akun media sosial. Mas Han sungguh seorang jenius konten, karena dalam waktu singkat saja, cerita mini bersambung itu berhasil menarik banyak pembaca dan mencapai popularitas yang bahkan jauh melampaui harapan. Ditambah dengan foto-foto menarik dan misterius yang diambil Enrico dan Aning, serta kelihaian Mas Han dalam mengolah kata, cerita mini bersambung itu seolah-olah menjadi kisah yang mengandung candu, yang membuat orang-orang bertanya-tanya tentang kelanjutannya, termasuk pula menebak di mana kira-kira lokasi yang dipotret dengan misterius itu, dan tentu saja pertanyaan—apakah kisah ini nyata, apakah tokoh-tokoh yang hanya sekilas terlihat potongan tangannya, bagian belakang tubuhnya, atau hanya sekilas benda-benda pribadi miliknya itu benar-benar ada (dalam hal ini Mas Han memuji kecerdasan Enrico yang begitu lihai memancing rasa penasaran pembacanya dengan menyuguhkan sedikit potongan-potongan petunjuk melalui potret-potretnya).

Secara ajaib akun media sosial itu memiliki follower dua kali lipat dari sebelumnya hanya dalam waktu kurang dari satu bulan. Di atas semua popularitasnya itu, Mas Han sendiri merasa sangat puas bisa menyalurkan imajinasi liar dan fantasi kriminalnya yang sudah lama ia pendam, dan sejauh yang dia ingat, belum pernah ia merasa sesemangat ini dalam menuliskan sebuah cerita. Mungkin jika semua ini telah selesai dan ia sudah mengumpulkan uang yang cukup, ia bisa memikirkan alternatif menjadi penulis cerita detektif atau kisah-kisah kriminal yang sepertinya lebih menarik daripada drama percintaan konvensional. Mungkin dia juga bisa mencoba peruntungan menjadi penulis naskah film layar lebar. Atau mungkin dia bisa menjadi the next Sir Arthur Conan Doyle, dan menciptakan tokoh detektif Indonesia sekelas Sherlock Holmes, dan bisa sedikit-sedikit meninggalkan kisah cinta segitiga atau perselingkuhan yang menjemukan. Dia seperti mendapatkan energi kembali setelah bertahun-tahun mati suri dan menumpulkan otaknya menulis cerita-cerita pesanan.

Kesuksesan kisah Lima di dunia maya ini tentunya memberikan keuntungan bagi tujuan awal proyek untuk mengancam Bagas. Dan seperti yang sudah diduga Mas Han, Bagas sendiri, sebagai target, sama sekali tidak menaruh curiga ketika Maya mengajaknya bertemu di banyak restoran, bar, taman, dan di tempat manapun yang sekiranya cocok untuk pasangan selingkuh. Laki-laki itu terlalu angkuh untuk menyadari bahwa dia sedang masuk ke dalam perangkap buaya. Dan semua itu berhasil diramu oleh Mas Han (tentunya dengan tambahan sana-sini), sehingga kisah itu benar-benar menghanyutkan pembaca dunia maya, diperbincangkan secara luas, dan memperoleh popularitas setara gosip artis-artis papan atas.

Mas Han berhasil menggiring publik untuk membenci tokoh Mr. X dan bersimpati pada Y, si perempuan korban penipuan (yang jelas-jelas dilebih-lebihkan dan tidak menyerupai karakter Maya sekalipun). Sungguh hebat memang kekuatan pencitraan dunia maya, di mana karakter dan kenyataan bisa benar-benar diputarbalikkan sesuai tujuan, entah baik ataupun buruk. Mungkin ini juga yang membuat Agung Yudha membuat jarak dengan dunia maya, karena dia tidak bisa melihat kebohongan dan kepalsuan yang keterlaluan, sama seperti dulu ketika dia masih berada di dunia panggung. Kekuatan pencitraan akan mempengaruhi kesuksesan, dan orang-orang mulai kehilangan kemampuan untuk menghargai ketulusan dan pertemanan sejati.

Walaupun mungkin, dalam kasus Enrico, dunia maya membantunya berpura-pura bersikap baik-baik saja. Dengan game-game tempat dia bisa menjalani kehidupan sesuai yang ia mau, menumpahkan kemarahannya dalam perkelahian tanpa harus ada yang benar-benar terluka. Game itu adalah pelariannya dari luka duniawi yang lama ia pendam sendiri. Sungguh sebenarnya dia amat kesepian selama ini, meskipun dia tidak menyadarinya. Entah bagaimana kemudian kelanjutan nasibnya jika proyek Lima ini telah berakhir, apakah dia akan menepati janjinya untuk menyelesaikan skripsi, atau kembali terjerat dalam kubangan suram dan kembali menghambur-hamburkan uang. Semoga saja semua ini bisa berakhir dengan baik bagi semuanya, karena sebenarnya, tanpa disadari, orang-orang yang terlibat dalam proyek ini sedang berusaha menolong dirinya sendiri.

Akan tetapi, biar bagaimanapun, kisah ini telah hampir mencapai akhirnya. Proyek Lima telah hampir mencapai bagian akhir, ketika pada akhirnya cerita Maya itu telah mendapatkan popularitas sesuai yang direncanakan (bahkan melebihi ekspektasi), dan kisah tersebut sudah sedemikian viral sehingga orang-orang semakin penasaran, apakah ini sekadar fiksi belaka ataukah berdasarkan kisah nyata. Kini tiba saatnya membuat gertakan kepada Bagas. Mas Han telah menyiapkan ending cerita yang heroik, puncak dari pertanyaan-pertanyaan para pengikutnya. Dan ending tersebut akan sangat tergantung dari bagaimana cara Bagas menanggapi permasalahan tersebut.

Maka pada suatu sore, seperti biasa Maya membuat janji dengan Bagas. Laki-laki itu tentunya tidak curiga sama sekali, karena dipikirnya dia masih berada di atas angin dan Maya masih tergila-gila padanya. Tapi sore ini, dia mengajak Mas Han untuk menemui Bagas. Penulis picisan ini nanti yang akan bertindak sebagai Godfather, yang akan membeberkan apa-apa saja yang ia punya serta membuat kesepakatan dengan Bagas. Dan dia melakukan itu dengan sangat lihai, bagaikan mafia yang mengeluarkan ancaman-ancaman berbalut kata-kata manis kepada para korbannya. Dengan tenang dia membeberkan apa saja yang dia miliki, dan menjelaskan tanpa basa-basi apa yang bisa ia lakukan pada Bagas.

Sekali dia mengungkapkan identitas Bagas, maka habislah reputasinya, yang berarti hancur pula hidupnya, di depan istri dan anak-anaknya, keluarganya, koleganya, rekan bisnisnya. Dia juga akan dihujat oleh para pegiat dunia maya, menjadi bahan pergunjingan di seluruh negeri, dan jangan lupa juga dengan terbongkarnya segala penipuan dan penggelapan yang selama ini dia lakukan. Hidupnya akan berubah 180 derajat hanya gara-gara satu postingan. “Jangan lupakan kemampuan dunia maya dalam menghancurkan kehidupan seseorang, Bung!” kata Mas Han dengan tenang.


Tuntutannya tidaklah banyak, cukup kembalikan saja uang Maya dan rahasia itu dijamin akan aman selamanya. Dan Bagas, yang tiba-tiba saja merasa sudah benar-benar berada di dalam mulut buaya, tidak bisa mengabaikan ancaman itu, terlebih lagi bukti-bukti yang disodorkan Mas Han begitu tak terelakkan.

Pertemuan itu memang akhirnya berhasil dengan gemilang. Bisa dipastikan bahwa Bagas menerima perjanjian itu dengan berat hati, tapi baik Mas Han maupun Maya tidak peduli. Pun ketika Bagas mengumpat, memaki, mengutuk dengan sumpah serapahnya, dua orang itu tetap tak bergeming, menunjukkan ketenangan tak tertandingi bagaikan Budha yang membuat Bagas terlihat makin konyol. Tapi memang dia tidak punya pilihan, bukan?
Mereka kemudian bersepakat bahwa Bagas akan mengembalikan uang pinjamannya dalam waktu maksimal satu bulan, dan setelah ini selesai masing-masing pihak berjanji akan melupakan urusan ini, identitas Bagas akan tetap dirahasiakan, dan Mas Han akan mengklarifikasi bahwa kisah ini hanyalah fiksi belaka (meskipun semua detail penipuan itu terlihat sangat nyata).

Sial bagi Bagas karena dia tidak punya banyak pilihan selain setuju, dan dengan kesepakatan tersebut, maka berakhirlah proyek Lima dengan akhir yang membahagiakan. Dan bagi para anggota proyek Lima, ini tidak hanya sekadar kesuksesan dalam membantu Maya ataupun menyelamatkan kedai kopi Lima. Lebih dari itu, proyek itu telah membantu mereka menemukan jati diri, sisi hidup yang hilang, mengobati kehampaan, serta menuntun mereka untuk belajar memaafkan dunia. Memang setelahnya kehidupan tidak serta merta menjadi sempurna. Mas Han masih berkutat dengan novel picisannya, orangtua Enrico masih tidak harmonis, dan Aning masih tetap harus bekerja keras. Tapi setidaknya, kini mereka memiliki teman yang akan selalu bisa diandalkan, yang membuat hidup mereka menjadi layak diperjuangkan.

Seburuk apapun yang kita lalui, memiliki kesempatan untuk hidup adalah anugrah yang harus terus disyukuri. Hidup memberikan kesempatan untuk berubah dan menuju kebaikan, asalkan kita cukup cerdas mengenali peluang dan selalu rendah hati untuk terus belajar. Memang mungkin hidup tidak selalu berjalan seperti yang kita inginkan, dan hal buruk akan selalu terjadi, dengan atau tanpa alasan. Tapi, selama akal sehat masih terus bekerja, kita masih akan selalu memiliki kemampuan untuk memaafkan kekonyolan dunia dan menertawakannya. Karena hidup selalu memberi kita kesempatan.

*Pernah diterbitkan secara berseri di akun Instagram @miss_mooo dari tanggal 30 Desember 2020 hingga 28 Januari 2021.

Sukmo Pinuji

WhatsApp Image 2019 01 05 at 22.09.35 e1546701107982 | KEDAI KOPI LIMA
Latest posts by Sukmo Pinuji (see all)
Bagikan:

Sukmo Pinuji

I believe that I was born to be a traveller and a lifetime learner – dan sampai saat ini ibu satu anak ini masih percaya pada hal tersebut! Doyan jalan dan selalu merasa excited ketika menemukan hal baru, mengamati, mempelajari, dan menuliskannya (dalam artikel maupun dalam hati), saat ini dia merasa sangat beruntung karena pekerjaannya sebagai seorang researcher memberinya keleluasaan untuk menyalurkan hobi abadinya tersebut. Sangat menjunjung tinggi kesetaraan gender, dia juga adalah seseorang yang percaya bahwa setiap perempuan – dari manapun dia berasal dan seperti apapun latar belakangnya, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi apapun yang dia mau, selama dia memiliki keberanian, kepercayaan diri, tekad kuat, dan konsistensi untuk mewujudkan mimpi-mimpinya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *