Kejahatan yang Digembor-Gemborkan di Media vs Kebaikan Sejati di Dunia Nyata

Sadar tidak sih, ketika kita terlalu banyak mengonsumsi media baik itu televisi, koran, ataupun media online, banyak sekali berita tentang kejahatan yang berseliweran di dalamnya. Bahkan menurutku yang jarang nonton TV dan baca koran ini, 70 % kali ya beritanya kebanyakan negatif, tentang kejahatan dan tindakan-tindakan kriminal lainnya. Jarang begitu memberitakan kebaikan, semoga sih karena itu sudah dianggap hal yang wajar, bukan karena dianggap tidak menarik dan tidak menjual.

Banyaknya berita tentang kejahatan itu—sadar atau di bawah sadar—akan meresap masuk ke dalam pikiran kita dan membuat kita berpikir bahwa orang itu memang jahat, ya ga sih? Kita jadi penuh rasa curiga dan menurun kepercayaannya pada orang. Misalnya saja ya, sejak dahulu aku tahu sih Jogja adalah kota yang aman dan ramah, tapi karena banyaknya berita tentang klithih atau teror tidak beralasan di malam hari, setiap kali pulang malam dan berhenti di lampu merah tiba-tiba jadi merasa takut, tengok kanan-kiri, dan setiap melihat anak muda naik motor langsung merasa paranoid saja penuh kecurigaan. Dulu bahkan ada beberapa temanku (dan aku juga) yang kalau malam tidak berani melewati daerah tertentu.

Jangan-jangan, sebenarnya media yang membuat pikiran kita jadi seperti itu, kecurigaan kita meningkat seiring dengan rasa kepercayaan kita yang menurun pada kebaikan hati yang merupakan sifat alami manusia. Pengalamanku semalam menunjukkan hal itu, bahwa kebaikan hati manusia itu sebenarnya ada di sekeliling kita, tapi kita tidak menyadarinya karena sibuk terpengaruh media.

Jadi semalam sehabis menghadiri festival musik yang diselenggarakan oleh seorang teman dilanjut ngobrol ngalor-ngidul, akhirnya aku dan suamiku pulang ke rumah jam 2 malam. Bodohnya karena barometer bensin motor kami sudah tidak jelas, dan kami tidak sadar saja kalau terakhir beli bensin itu sudah lama dan barusan perjalanan dari Bantul – Kulon Progo – Sleman seharian kemarin, tiba-tiba saja bensin habis di tengah-tengah Jalan Parangtritis yang sudah sepi karena jam 2 malam gitu lho. Kebayang tidak sebelnya seperti apa, apalagi di jam segitu sudah tidak bakalan ada kios bensin eceran yang buka, dan pom bensin 24 jam terdekat masih berjarak sekitar 3 km di depan kami. Akhirnya mau tidak mau kami mendorong motor karena nggrundel pun tidak akan ada gunanya.

Tidak lama setelah kami mendorong motor datang seorang pengendara motor mendekati kami. Mas-mas berusia sekitar 30an mengendarai motor besar menanyakan ada apa dan menawarkan bantuan apa yang kira-kira bisa dia lakukan, apakah mendorongkan motor atau memboncengkan aku sampai pom bensin. Pada saat itu reaksi spontan kami langsung menolaknya dan mengucapkan terima kasih, “tidak apa-apa mas, kami jalan saja, terima kasih ya”. Diakui atau tidak, di luar kemauanku, aku curiga pada mas-mas baik hati itu, dan tidak mau mengambil risiko dengan membiarkan mas-mas itu menolong kami. Kemudian mas-mas itu pergi melanjutkan perjalanannya. 1 menit kemudian, datang pengendara motor kedua, seorang bapak-bapak berusia 50an, menanyakan ada apa dan menawarkan mendorong motor kami menggunakan motornya. Kecurigaan kami sudah mulai berkurang walaupun masih berat hati menerima tawaran bantuannya, disusul kemudian pengendara motor ketiga yang juga mendekati kami, seorang bapak-bapak berusia 40an dengan motor berkeranjang besar ikut menawarkan bantuan juga. Kecurigaan kami pun semakin hilang, kedua bapak itu mencoba membantu kami tapi agak kesulitan sehingga kami merasa tidak enak dan kembali mengatakan, “tidak apa-apa pak, terima kasih, kami dorong saja motornya”, akhirnya mereka berdua pergi. Kurang dari 10 detik kemudian, datang lagi pengendara motor keempat, seorang mas-mas berusia 20an, yang langsung dengan sangat pede mengatakan, “saya dorongkan saja motornya”. Karena si mas-mas ini tahu tekniknya, dia bisa mendorong kami dengan lancar sambil mengendarai motornya. Akhirnya kami terbebas dari harus jalan kaki sejauh 3 km pada dini hari yang dingin itu. Sudah sampai di depan pom bensin pun, mas-mas yang ternyata adalah mahasiswa ISI Jurusan Perdalangan (kami sempat ngobrol selama dia mendorong kami) itu masih tetap membelokkan motor kami hingga benar-benar masuk pom bensin, baru kemudian dia melaju meningalkan kami. Pada saat mas-mas yang keempat itu datang, baru benar-benar bisa hilang semua kecurigaan di hati kami digantikan dengan bertumbuhnya kepercayaan kepada kebaikan hati manusia yang selama ini sedikit demi sedikit telah dipudarkan oleh media.

Di perjalanan pulang dari pom bensin, kami tidak henti-hentinya terkagum-kagum, bahwa kurang dari 5 menit dari kami mengalami masalah, langsung ada 4 orang yang datang menawarkan bantuan dengan tulus dan tanpa pamrih, padahal jalanan sangat sepi. Meskipun udara masih dingin, tapi hati kami dipenuhi kehangatan dan kedamaian yang membuncah. Betapa di sekitar kita sebenarnya masih dikelilingi banyak orang-orang baik dengan ketulusan yang alami. Hanya saja kadang kita sering melupakannya atau tidak menyadarinya, mungkin karena kita terlalu fokus melihat ke media dengan segala pengaruhnya.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *