Kekerasan Dalam Relasi Intim: Membingungkan dan Seringkali Berupa Siklus

Kali ini kita akan membahas tentang kekerasan yang terjadi dalam intimate relationship alias relasi intim, yaitu kekerasan yang terjadi dalam hubungan suami istri (atau lebih dikenal dengan istilah KDRT, walaupun KDRT tidak hanya itu isinya) dan kekerasan yang terjadi dalam hubungan pacaran alias KDP (Kekerasan Dalam Pacaran) atau boleh juga disebut dengan KDT (Kekerasan Dalam Taaruf), hihihi, *langsung ditimpukin.

Kekerasan dalam relasi intim ini tentu saja membingungkan dan lebih susah dikenali atau lebih tepatnya disadari. Kenapa? Ya karena pelakunya adalah orang terdekat kita atau orang yang paling kita cintai sekaligus orang yang kita kira paling mencintai kita. Apalagi dalam kekerasan yang terjadi dalam relasi intim, kekerasannya tidak terjadi sepanjang waktu, not all time all day. Ada juga saat-saat di mana kekerasan itu tidak terjadi dan berganti dengan belaian mesra atau kata-kata cinta super manis yang bisa bikin kita langsung sakit gigi. Bagaimana tidak tambah membingungkan dan mengaduk-aduk perasaan tuh. Kalau kita mendapatkan kekerasan dari orang asing atau orang yang kita tidak terlalu dekat, kita tidak akan bingung dengan peristiwa itu atau dengan perasaan kita. Sudah jelas dia melakukan kekerasan kepada kita dan kita tidak terima, misalnya dijambret sambil dipukuli. Pastilah kita akan sangat marah pada pelaku dan menghendaki dia dihukum secepat dan seberat mungkin.

Tapi bisa bayangkan kalau kejadiannya adalah duit kita selalu diminta semua oleh pasangan kita, kalau kita tidak mau, dia merayu-rayu, kalau kita tetap tidak mau dia akan mengancam dan memukuli kita dan kemudian mengambil uang dari dompet kita dengan paksa. Poinnya terdengar sama ya dengan penjambretan dengan kekerasan tadi, tetapi karena pelakunya adalah orang yang paling kita cintai yang selama ini berbagi hidup dengan kita, semuanya menjadi berbeda. Kita tidak akan marah-marah atau melaporkannya ke polisi, meskipun peristiwa itu terjadi berulang-ulang dan sebenarnya uang itu harus kita gunakan untuk memberi makan serta menyekolahkan anak kita, yes anak kita bersama sang pelaku. Rumit kan situasinya. Itu baru satu contoh kejadian saja dari segala bentuk dan jenis kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga dan hubungan pacaran.

Oleh karena itu, please, jangan mudah untuk menghakimi dan menyalahkan perempuan korban kekerasan dengan mengatakan, “gimana sih, udah tahu begitu kok tidak dicerain/diputusin aja!” Hey show a lil bit empathy won’t hurt you, will you? Kita bertahun-tahun hidup bersama lho dengan sang pelaku, bahkan memiliki buah hati bersama, dulu mengucap janji sehidup semati di hadapan Tuhan, belum lagi memiliki rumah bersama, rekening bersama, sampai ke hal sepele seperti memiliki lemari buku bersama, TV bersama, dan juga keluarga besar yang sudah menyatu, tetangga-tetangga yang tahunya kita adalah satu, dan seterusnya. It doesn’t sound so easy anymore, right?

Sehingga biasanya korban kekerasan dalam relasi intim ini akan selalu memiliki harapan. Ya harapan bahwa sang pelaku akan berubah. Mungkin kalau aku memperbaiki diri suamiku akan berubah, mungkin kalau aku lebih menurut suamiku akan berubah, mungkin kalau kami sudah punya anak suamiku akan berubah, mungkin kalau sudah banyak uang suamiku akan berubah, dan seterusnya, which is never happen, suaminya tetap melakukan kekerasan lagi dan lagi. Korban juga akan terjebak dalam situasi penuh teror, karena dia tidak tahu kapan kekerasan akan terjadi padanya. Bisa jadi pagi ini pasangannya terlihat manis, lembut, dan penuh cinta, eh siangnya dia marah-marah dan memukuli. Atau suatu hari dia pulang terlambat, pasangannya biasa saja, esok hari dia sudah buru-buru pulang ke rumah, tiba-tiba pasangannya marah dan mengatai-ngatainya binal dan jahanam. Korban akan selalu berada dalam situasi penuh teror karena tidak tahu kapan pasangannya akan baik padanya atau akan memukulinya, sehingga dia sulit untuk merencanakan sesuatu dalam hidupnya dan selalu berada dalam keadaan was-was, cemas, dan khawatir. Yes, cinta-harapan-teror, 3 hal yang akan selalu membuat perempuan korban kekerasan dalam relasi intim terjebak di dalamnya dan mengalami kebingungan yang tak berkesudahan.

Berikutnya mengenai siklus yang aku sebutkan di atas. Betul sekali, kekerasan dalam relasi intim tidak terjadi sepanjang waktu dan setiap saat. Ia selalu terjadi dalam siklus, sehingga tambah membuat semuanya menjadi semakin membingungkan. Kira-kira seperti ini ilustrasi siklus dalam sebuah relasi yang penuh kekerasan: Awalnya ketika 2 orang insan manusia baru saja menjalin hubungan percintaan, semuanya tampak sempurna dan berbinar-binar gejolak asmara. Ini disebut masa bulan madu, di mana pada masa ini karet gelang pun akan terasa bagai spaghetti dan dunia terasa hanya milik berdua, yang lain hanya ngontrak, cuih. Setelah masa bulan madu berlalu, biasanya akan muncul konflik-konflik. Nah konflik-konflik ini sebenarnya biasa saja dalam sebuah relasi (dengan siapapun), tetapi dalam relasi yang penuh kekerasan, konflik-konflik ini akan diselesaikan dengan cara kekerasan (padahal ada banyak sekali cara menyelesaikan konflik yang nir-kekerasan).

Nah setelah terjadi kekerasan, korban akan tersakiti hatinya dan juga fisiknya, dan pelaku akan meminta maaf padanya, berkali-kali kalau perlu. Korban yang masih terluka belum langsung memaafkan, tetapi kemarahannya sudah agak mereda. Pelaku biasanya membuat alasan bahwa dia melakukan semua kekerasan itu atas nama cinta (kok bisa ya cinta tapi menyakiti, entahlah, sungguh alasan yang tidak dapat diterima). Karena korban belum juga memaafkannya, pelaku akan memasuki fase pengejaran kembali, di mana dalam fase ini dia akan melakukan segala cara agar korban memaafkannya dan kembali menerimanya lagi, misalnya dengan hadiah yang bertubi-tubi, sikap manis yang berlebihan, dan hal-hal indah serta romantis lainnya. Korban pun akhirnya luluh. Bagaimanapun dia adalah laki-laki yang aku cintai, bagaimanapun dia adalah suamiku, ayah dari anakku, dan kemarin itu dia khilaf, dan dia sudah berjanji tidak akan mengulanginya lagi, dan seterusnya. Akhirnya mereka berdamai dan kembali memasuki fase bulan madu lagi. Tak lama kemudian terjadi konflik lagi, terjadi kekerasan lagi, minta maaf lagi, pengejaran kembali lagi, berdamai lagi, bulan madu lagi, begitu seterusnya sampai Thanos menjentikkan jari dan menghilangkan separuh dari seluruh penduduk dunia. Lho apa hubungannya ya, entahlah, hehehe.

Apakah siklus tersebut mustahil untuk diputus? Apakah kebingungan dan keterjebakan dalam relasi yang penuh kekerasan itu tidak bisa dihentikan? Bisa lah! Bisa dong! Apa sih yang tidak bisa diperjuangkan di dunia ini, eaaa. Dengan semakin meningkatnya kesadaran akan kekerasan berbasis gender dalam relasi intim, semakin banyaknya dukungan bagi para korban untuk bersuara dan bertindak, serta semakin banyaknya empati, pengertian, dan cinta yang diberikan kepada korban, kekerasan berbasis gender dalam relasi intim ini akan bisa dihentikan, dan digantikan dengan relasi yang lebih setara gender dan membahagiakan baik bagi perempuan, laki-laki, dan tentu saja anak-anak mereka. Yes, still long long way to go sih, but it’s not impossible!

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *