Kekerasan Sosial Dalam Relasi Intim: Melelahkan, Mengalienasi, dan Menghambat Perkembangan Diri

Hari ini kita akan membahas tentang kekerasan sosial sebagai salah satu dari 5 bentuk kekerasan berbasis gender. Aku mengenal kekerasan sosial sebagai salah satu bentuk kekerasan yang terpisah di kantorku yang lama, sebuah organisasi perempuan yang berbasis di Yogyakarta. Di tempat lain, termasuk di UUPKDRT, kekerasan sosial ini mungkin digabungkan ke dalam kekerasan psikis. Dua-duanya boleh saja sih menurutku, yang penting kita memahami esensi dari apa yang disebut dengan kekerasan sosial ini.

Untuk yang memisahkan kekerasan sosial dari kekerasan psikis, walaupun memang mirip-mirip, kalau kekerasan psikis kan lebih menyerang ke diri kita secara personal sebagai pribadi, nah kalau kekerasan sosial ini yang diserang adalah hubungan kita secara sosial dengan orang lain. Contoh yang paling banyak terjadi dari kekerasan sosial dalam relasi intim (rumah tangga atau pacaran) adalah dibatasi pergaulannya. Kita mungkin sudah sangat familiar mendengar celetukan, “kamu kan pacarku, kamu perginya sama aku dong, ngapain kamu ngumpul-ngumpul sama teman-temanmu,” atau “kamu ga usah ikut-ikut kegiatan ekstra kurikuler di sekolah, nanti kamu malah tepe-tepe sama cowok-cowok lain di sana”. Itu contoh dalam hubungan pacaran.

Dalam hubungan suami istri, kekerasan sosial yang terjadi misalnya, “ngapain sih kamu pulang ke rumah orangtuamu terus, bukannya mengurus suami di rumah, pokoknya kamu tidak boleh sering-sering ke rumah orangtuamu atau saudaramu yang lain,” atau “kamu ga usah ikut-ikut arisan kampung atau kumpul-kumpul sama ibu-ibu di kampung, ga ada gunanya, buang-buang waktu saja”. Nah kurang lebih seperti itu ya contoh dibatasi pergaulannya oleh pasangan kita, sehingga lama-lama hidup dan dunia kita isinya hanya dia melulu dia melulu, kagak bosan apa ya, memangnya manusia hidup hanya butuh bersosialisasi dengan pasangannya doang, esmosi nih saya, hehehe.

Contoh yang lain dari kekerasan sosial ini adalah diawasi setiap gerak-gerik dan aktivitas sosialnya. Tidak hanya di dunia nyata tapi juga di dunia maya. Dari mulai Facebook dan Instagram kita yang di-stalking setiap saat. Tapi beda ya dengan aku yang suka stalking Instagram Benedict Cumberbatch, itu kan risiko dia sebagai artis ganteng, dan lagian bukan dia juga yang mengelola IG-nya tapi admin, dan yang paling utama, aku bukan pasangannya, hahaha, ngarep. Selain itu, pasangan kita juga menuntut untuk mengetahui password email kita, password media sosial kita, password HP kita, dan setiap saat mengecek kita whatsapp-an dengan siapa, siapa yang mengirim email kepada kita, dan siapa yang sering komen di postingan kita. Hadeuuuhh capek dan merasa terteror banget ga sih.

Lagian kayak ga percaya banget gitu ya sama kita. Bawaannya curiga melulu. Padahal kalau memang sudah niatnya setia, mau di depan kita ada Benedict Cumberbatch (lagi) juga kita pasti bakal tetap milih pasangan kita, dan kalau memang sudah niatnya tidak setia, mau diawasi sebagaimanapun juga, kita tetap akan selalu bisa menemukan cara untuk tidak setia, iya ga sih. Terus fenomena yang lagi nge-trend di kalangan pacaran anak muda zaman now: tukeran HP saudara-saudara! Bukan untuk supaya HP kita lebih bagus, tapi untuk mengawasi siapa saja yang menghubungi HP pasangan kita itu dan apa isinya, selama 24 jam, duh mengerikan sekali yes. Kita hampir tidak punya privacy lagi jadinya.

Contoh lain lagi dari kekerasan sosial adalah kita dipermalukan di depan umum, disebut bodoh di depan keluarga kita, disebut istri tidak becus di depan tetangga atau teman-teman kita, dan hal-hal semacam itu lainnya. Aku masih ingat dulu waktu aku masih kecil aku sering main ke rumah mbak-mbak tetanggaku yang sudah menikah, kebetulan Mbak ini punya warung kelontong, dan ya ampun, suaminya itu selalu mengatai-ngatai kalau dia bodoh, tidak becus, dan tidak bisa apa-apa di depan para pembeli warungnya, termasuk aku yang waktu itu masih anak kecil. Mbak itu tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa tersenyum-senyum kecut dan salah tingkah, walaupun dalam hatinya aku yakin dia pengen melempar karung beras 10 kg ke muka suaminya, hehehe. Atau cerita yang lain lagi, ada seorang suami yang selalu mengatur istrinya untuk berpakaian tertentu, dari mulai celana dalam sampai seluruh hal yang melekat pada tubuh istrinya diatur oleh suaminya sampai sedetail-detailnya, termasuk ketika si istri hanya di rumah saja atau hanya mau berkunjung ke rumah tetangga. Padahal si istri ini sangat tidak nyaman dengan gaya berbusana yang dipaksakan oleh suaminya tersebut. Yes, yang terakhir ini bisa juga masuk ke salah satu dari 15 bentuk kekerasan seksual terhadap perempuan, yaitu pemaksaan berbusana. Aku bisa membayangkan hal itu pasti sangat meneror sekali, dan itu sama sekali bukan hal yang sepele.

Dampak dari kekerasan sosial, sama dengan 4 bentuk kekerasan yang lain, dari mulai dampak jangka pendek hingga dampak jangka panjang. Dampak jangka pendeknya bisa stres, frustrasi, merasa terteror, dan seterusnya. Dan dampak jangka panjangnya misalnya jadi tidak punya kehidupan sosial lagi, teralienasi, semakin tidak percaya diri, tidak punya support system lagi, pembunuhan karakter, depresi berkepanjangan, hingga sama seperti akibat dari kekerasan psikis, kita menjadi kehilangan diri kita, mengamini semua yang dikatakan/diinginkan oleh pelaku, dan ketergantungan yang semakin tinggi kepada pelaku. Ujung-ujungnya kita tidak akan sanggup melakukan apa-apa sendiri dan tidak berani membuat keputusan sendiri. Kita akan kehilangan diri kita.

Yes, kekerasan terhadap perempuan dalam relasi intim itu beragam bentuknya. Dan semuanya bukan permasalahan sepele. Dampaknya tidak main-main, walaupun sayangnya kadang masih sering dianggap sebagai hal yang biasa saja. Bagaimana hal itu bisa biasa saja kalau itu membuat kita jadi kehilangan diri kita dan membuat kita tidak lagi menjadi manusia seutuhnya. Jadi mari kita sudahi segala bentuk kekerasan terhadap orang-orang tercinta kita dan terhadap siapapun. Mulai dari kita, mulai saat ini. Right here, right now!!!

Fitri Indra Harjanti

Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *