Kerja Kantoran (Bisa) Sangat Membosankan

Nah, membicarakan tentang mana sih yang paling enak, kerja kantoran yang harus ready from 8 to 5 atau kerja freelance yang bebas mengatur waktu dan (biasanya) terlihat melakukan sesuatu yang berhubungan dengan passion – sepertinya emang nggak akan ada habisnya. Yang biasanya terjadi nih, para pekerja kantoran akan merasa iri setengah mati dengan para freelancer yang melakukan pekerjaan keren sesuai dengan passion, bebas menentukan jam kerja, nggak usah ketemu sama boss yang nyebelin atau rekan kerja yang rese, bisa kerja di rumah atau sambil nongkrong cantik di café demi mengejar deadline, bisa sambil momong anak, dengan bayaran yang sepertinya cukup besar untuk mengafiliasi kebutuhan hidup dan gaya hidup. Di lain pihak, para pekerja freelance akan berpikir bahwa pekerja kantoran itu secara finansial lebih secure karena ada gaji yang bisa dinanti setiap bulan, tidak perlu susah-susah cari kerjaan karena tiap hari sudah disodori job description yang jelas, punya jenjang karir yang bisa dijadikan sebagai tujuan hidup, dan yang jelas bisa tiap hari dandan cantik, pakai sepatu cantik, tas cantik, dan baju cantik untuk pergi ke kantor. Kalau kerja freelance yang banyakan di rumah mah, mau ngantor sambil dasteran juga OK, iya nggak sih?

Sebenarnya nih ya, mau kerja apa saja, freelancer maupun pekerja kantoran, itu semua tergantung panggilan hidup dan kebutuhan hidup saja kok. Semua pasti ada plus minusnya, dan sudah banyak tulisan yang membahas tentang ini. Nah, masalahnya, ketika kita sudah memilih mana yang akan menjadi jalur penghidupan kita, sekarang tinggal bagaimana caranya untuk konsisten dan persisten dengan pilihan yang sudah kita ambil.

Sebagai seorang pekerja kantoran yang sudah ngantor di tempat yang sama selama lebih dari 10 tahun, terus terang saya sering dilanda kebosanan mulai dari level ringan sampai akut berat. Dari yang cuma malas berangkat kantor dan ogah-ogahan sampai yang benar-benar merasa stres dan nyaris depresi karena berasa kehilangan orientasi dan tujuan hidup saking bosannya. Kalau sedang dalam level kayak gini nih, biasanya saya sering merasa iri setengah mati dengan teman-teman freelancer saya yang dengan kerennya memamerkan hasil pekerjaan mereka –terlibat di proyek temporer yang keren, menulis artikel atau terjemahan, menjadi tenaga ahli di macam-macam bidang, dan lain sebagainya— yang di mata saya mereka kerjakan dengan sepenuh hati dan perasaan. Belum lagi dengan tampilan-tampilan keren “ala freelancer” yang bawa laptop ke café, pakai baju bebas tapi tetap keren (dibandingkan saya yang always berbaju formal), dan pikiran-pikiran “bebas” dan “liar” mereka tentang masa depan. Sementara saya, boro-boro mengerjakan sesuatu yang disukai atau mengembangkan ide serta gagasan, untuk menyelesaikan kerjaan sehari-hari (yang itu-itu saja) dan melayani keinginan boss saja sudah sangat menguras pikiran dan perasaan. Yang ada hati seringkali ngedumel dan menyalahkan sistem kerja yang nggak nyaman, kultur organisasi yang nggak sehat, kerjaan yang bikin nggak pinter, dan tiadanya kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai bakat dan minat. Kalau sudah begini, ujung-ujungnya nanti saya akan berpikir, am I on the right track, apakah ini jalan hidup yang benar-benar saya inginkan (sebagai pekerja), dan berakhir pada keinginan untuk resign dan living my dream life – menjadi apapun yang saya inginkan yang bukan sebagai pekerja kantoran.

Rumput tetangga itu memang seringkali terlihat lebih hijau, ya. Kalau saya mengeluhkan ini ke teman saya yang seorang freelancer, dia akan menjawab, paling tidak kan saya tidak perlu mencemaskan kebutuhan bulanan karena sudah ada gaji tetap, nggak perlu repot-repot cari kerjaan karena sudah pasti ada di depan mata, dan yang jelas bisa ada alasan beli baju-baju kantor cantik, tas-tas lucu, dan make up segala rupa untuk “modal” bekerja. Memang benar sih, segala sesuatu itu emang tergantung dari sudut pandang dan penerimaan kita. Dan sudah kodratnya manusia kali ya, yang seringkali merasa kurang atas apa yang kita miliki saat ini dan lupa mensyukuri apa yang sudah ada di genggaman tangan. Pada prinsipnya, apapun sebenarnya pilihan kita, it’s OK, mau jadi pekerja kantoran dan selamanya memburuh pada orang, mau jadi freelancer yang merdeka dan independen, itu adalah pilihan hidup. Yang harus diingat baik-baik adalah, apapun pilihan hidup kita, jadilah outstanding, jangan nanggung-nanggung. Kalau kita memutuskan untuk jadi pekerja kantoran, jangan hanya menyerah pada – baiklah aku bekerja, yang penting bulan depan aku gajian. Di manapun kita berada, selalu berikan yang terbaik yang kita bisa. Kita nggak dituntut untuk harus selalu positif dan optimis setiap saat kok (siapa yang bisa coba). Merasa bosan sesekali, merasa useless, nggak nambah pinter, dan gitu-gitu aja – itu wajar dan normal. Yang nggak normal adalah kalau kita terus-terusan merasa stuck dan tidak ada harapan (atau tidak menantang diri untuk mengubah keadaan, just complaining without doing anything). Nah kalau seperti itu mungkin sudah saatnya kita memperhitungkan untuk resign dan melakukan pekerjaan yang benar-benar kita inginkan. Prinsip saya sih, take it or leave it, and if you decide to take it, do your best and be outstanding, jangan setengah-setengah. Tidak ada yang mudah di dunia ini, girls!

Nah, buat kalian para pekerja kantoran yang sering merasa stuck dan meaningless dengan kehidupan kantoran yang menjemukan, berikut beberapa tips yang mungkin bisa kamu coba untuk mengatasi kebosanan (and it’s work for me)!

Beri Nilai Lebih Pada Pekerjaanmu

Yuups, walaupun kerjaan kita tiap hari itu-itu saja dan standar-standar saja, kita bisa sedikit menantang diri kita dengan memberikan nilai lebih pada pekerjaan rutin kita. Kalau tiap hari tugas kita adalah membuat presentasi power point, buat presentasi yang tidak biasanya. Bisa dengan mencoba platform presentasi online seperti prezi, canva, dan lain sebagainya. Atau, buat presentasi semenarik mungkin dengan animasi-animasi canggih yang akan membuat orang melongo melihatnya – tentu saja tetap dengan konten yang berkualitas. Kalau tiap hari kerjaan kita bikin proposal, TOR, atau apapun, bikin itu semenarik mungkin dan sebagus mungkin, yang akan membuat kita merasa puas dan bangga melihatnya. Kalau misalnya setiap rapat biasanya kita datang saja dan duduk mendengarkan, coba untuk lebih vokal dan mengemukakan pendapat yang konstruktif. Kalau misalnya kita yang memimpin rapat, coba buat rapat seefisien mungkin, dengan agenda yang jelas, terukur waktunya, dan notulensi yang rapi. Meskipun jerih payah nilai lebih ini sebenarnya tidak terlalu berarti bagi kantor kita atau bagi orang lain (ini sering terjadi pada saya), tapi at least akan memberikan kebanggaan pada diri kita karena sudah melakukan sesuatu yang lebih bagus dan lebih berkualitas. Tidak perlu sesuatu yang wow yang sampai mengubah kultur organisasi atau menghasilkan ide yang bombastis, tapi dari hal-hal kecil dan sederhana kita bisa membuat itu menjadi istimewa. Dan secara mental, ini sangat membantu kita mengikis perasaan useless dan bosan karena mengerjakan hal yang sama setiap hari.  

Work – Life Balance is Important!

Sometimes you just have to stop for a while, and it’s OK. Seperti zaman sekolah dulu, sekali waktu membolos itu menyenangkan (dan kadang diperlukan). Izin sehari di waktu kerja dan lakukan segala hal yang sudah lama kalian inginkan tapi selalu tertunda karena sibuk dengan urusan kantor: nonton, jalan-jalan ke mall, pergi ke salon, menjemput anak pulang sekolah, atau sekadar pulang ke rumah dan membersihkan rumah, memasak, beberes, dan lain sebagainya. Gunakan waktu untuk menyelesaikan urusan pribadi yang lama tertunda, and it will make you feel better. Make time for yourself di jam kerja, dan asal tidak keseringan (dan tentunya memastikan bahwa kerjaan kantor sudah ter-handle dengan baik) sah-sah saja kok demi menjaga kesehatan mental!  

Cari Komunitas Baru

Kebayang nggak sih, kita menghabiskan waktu 8 jam sehari di kantor (dan bisa lebih), bertemu dengan orang yang sama setiap hari, makan siang bersama mereka, dan ngobrolin kerjaan kantor serta kehidupan kantor, dan terus berulang setiap hari selama 5 atau 6 hari seminggu. Belum nanti saatnya pulang kantor, sampai rumah kita masih juga whatsapp dan chatting dengan teman kantor, kalau nggak ngomongin kerjaan kantor ya gosip kantor. Kebayang nggak bosannya?

Mencari komunitas baru di luar kantor itu perlu dan penting supaya pikiran dan fokus kita nggak melulu tentang kantor, dan yang jelas sih membangun jejaring baru yang pastinya akan berguna untuk menjaga kewarasan otak dan pikiran kita. Yeps memang benar kalau di usia-usia pekerja yang 30 something itu memang susah cari teman baru (apalagi teman di luar kantor), tapi it’s not something impossible to do kok. Bisa melalui jejaring teman-teman lama, atau ikut klub sesuatu yang menarik, atau bergabung dalam komunitas-komunitas volunteer yang bisa kalian browsing di internet.   

Lakukan Hobi, or Just Do Your Passion

Jangan bilang kalau kita tidak punya waktu untuk melakukan hobi atau passion kita! Teman saya pernah bilang, if you really like it, you will find time to do it!  Jadi bukannya we try to find the time tapi we make the time for it. Waktu itu tidak untuk dicari mana yang kosong dan available, tapi kita yang membuat waktu itu ada. Kerjaan itu tidak akan pernah ada habisnya, akan selalu ada sampai sepanjang hayat. Jadi kalau kita menunggu waktu senggang untuk melakukan hobi atau passion kita, believe me, nggak akan pernah ada waktu! Kalau kita suka menulis dan ingin membuat novel, make the time for it. Kalau kita ingin membuat blog atau berjualan online, cari waktu and just do it! Saya sendiri biasanya mengalokasikan waktu di hari Jumat (saat menjelang weekend biasanya kerjaan tidak terlalu padat) untuk melakukan apapun yang berhubungan dengan hobi atau passion – bikin artikel, update blog, mengikuti kursus online, dan lain-lain. 

Challenge Yourself

Kalau level bosan saya sudah menjelang akut, biasanya saya akan membuat tantangan untuk diri sendiri untuk mencapai suatu target yang saya tetapkan sendiri. Bisa menurunkan berat badan sampai kg tertentu, meditasi selama sebulan full tanpa terputus, memasak makanan sendiri dan nggak jajan selama seminggu, bangun pagi sebulan full tanpa terputus, pergi ke gym paling tidak seminggu dua kali selama sebulan, dan lain sebagainya. Tujuannya sih sebenarnya supaya tiap bangun tidur saya merasa punya tujuan hidup yang harus dicapai – if office work can’t help. Jadi supaya bisa merasa bahwa saya bangun dan melakukan sesuatu yang berarti – at least dengan melakukan self-challenge tadi. Idenya bisa apapun, dan bisa dimulai dengan sesuatu yang sederhana, nggak perlu target yang bombastis dan harus realistis serta terukur (ya iyalah, jangan sampai self-challenge malah bikin tambah stres karena nggak bisa memenuhi tantangan).

Nah, buat yang sedang merasa bosan jadi babu kantoran, beberapa tips tersebut bisa dipertimbangkan. Yang penting pokoknya jalani hidup dengan bahagia, dan kuncinya adalah tetap menjaga work-life balance. Kantormu bukan segalanya bagimu, jadi bijaksanalah untuk membagi fokus, tenaga, dan waktu. Lalu bagaimana kalau tips-tips tersebut tetap tidak berhasil? Well, mungkin sudah saatnya kalian memikirkan untuk berganti pekerjaan 🙂 !

Sukmo Pinuji

Sukmo Pinuji

I believe that I was born to be a traveller and a lifetime learner – dan sampai saat ini ibu satu anak ini masih percaya pada hal tersebut! Doyan jalan dan selalu merasa excited ketika menemukan hal baru, mengamati, mempelajari, dan menuliskannya (dalam artikel maupun dalam hati), saat ini dia merasa sangat beruntung karena pekerjaannya sebagai seorang researcher memberinya keleluasaan untuk menyalurkan hobi abadinya tersebut. Sangat menjunjung tinggi kesetaraan gender, dia juga adalah seseorang yang percaya bahwa setiap perempuan – dari manapun dia berasal dan seperti apapun latar belakangnya, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi apapun yang dia mau, selama dia memiliki keberanian, kepercayaan diri, tekad kuat, dan konsistensi untuk mewujudkan mimpi-mimpinya!
Bagikan:

Sukmo Pinuji

I believe that I was born to be a traveller and a lifetime learner – dan sampai saat ini ibu satu anak ini masih percaya pada hal tersebut! Doyan jalan dan selalu merasa excited ketika menemukan hal baru, mengamati, mempelajari, dan menuliskannya (dalam artikel maupun dalam hati), saat ini dia merasa sangat beruntung karena pekerjaannya sebagai seorang researcher memberinya keleluasaan untuk menyalurkan hobi abadinya tersebut. Sangat menjunjung tinggi kesetaraan gender, dia juga adalah seseorang yang percaya bahwa setiap perempuan – dari manapun dia berasal dan seperti apapun latar belakangnya, memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi apapun yang dia mau, selama dia memiliki keberanian, kepercayaan diri, tekad kuat, dan konsistensi untuk mewujudkan mimpi-mimpinya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *