Ketika Makan dan Nonton Bersama, Siapa yang Harus Membayari, Laki-Laki atau Perempuan?

Okay, kita masih akan membahas tentang kekerasan terhadap perempuan. Kalau kemarin-kemarin kita sudah membahas tentang kekerasan psikis, kekerasan sosial, dan kekerasan seksual, nah hari ini kita akan membahas tentang kekerasan ekonomi. Kekerasan ekonomi ada berbagai macam contohnya. Pelaku kekerasan ekonomi yang paling terkenal se-Indonesia tentu saja adalah Bang Toyib, karena dia sudah 3 kali puasa dan 3 kali lebaran tidak pulang dan menelantarkan anak istrinya, hehehe. Yups penelantaran keluarga adalah salah satu bentuk kekerasan ekonomi, dan di UUPKDRT pun bahasa yang digunakan untuk menyebutkan kekerasan ekonomi ini adalah “penelantaran keluarga”. Jadi Bang Toyib bisa dilaporkan ya saudara-saudara, karena sudah ada undang-undangnya.

Contoh lain dari kekerasan ekonomi adalah kalau dalam rumah tangga misalnya, istrinya ditutup/dibatasi aksesnya dalam hal keuangan keluarga, tidak memiliki suara dalam pengambilan keputusan ekonomi keluarga, dilarang bekerja untuk mendapatkan penghasilan, atau sebaliknya dieksploitasi secara ekonomi seperti dipaksa untuk mencari uang atau bahkan dalam kasus yang ekstrim, “dijual” oleh suaminya untuk kepentingan ekonomi (ini ada lho, dan banyak), padahal suaminya sehat-sehat saja dan mampu bekerja. Beda kasusnya kalau itu kesepakatan bersama, istri bekerja di luar rumah dan suami di rumah mengurus rumah dan anak, atau suaminya sudah berusaha tapi memang belum saja mendapatkan pekerjaan, kebayang yes bedanya. Sementara dalam hubungan pacaran (dating violence), salah satu bentuk kekerasan ekonomi yang paling populer adalah diporotin, alias disuruh selalu nraktir makan, bayarin nonton, beliin pulsa, nransferin, ngasih cash sewaktu-waktu, dan seterusnya, semua atas nama cinta, aiiihhh. Nah untuk tulisan kita kali ini, kita akan lebih banyak membahas soal porot memorotin ini, ceileeehh.

Pandangan yang diselimuti pemahaman gender tradisional mengatakan, “gila aja harus cowoknya lah yang bayarin, masa ceweknya, gengsi dong, bisa jatuh harga diri si cowok,” dan pandangan itu diamini baik oleh laki-laki maupun perempuan, sehingga sudah menjadi semacam kesepakatan tidak tertulis gitu, kalau ada laki-laki dan perempuan makan atau nonton bareng, apalagi kalau itu kencan/pacaran, maka yang harus bayarin semuanya adalah laki-lakinya, end of discussion! Ya Alloh, berat amat yak jadi cowok dengan konstruksi gender semacam itu, hingga hasilnya adalah cowok selalu berpikir kalau pacaran itu perlu modal, kalau masih missqueen, terima nasib sajalah jadi jomblo selamanya. Memangnya merasakan cinta hanya haknya orang yang bermodal? Alaaahhh! Sementara untuk ceweknya yang dibayarin melulu, emangnya enak dibayarin melulu, engga keuleus! Ketika dibayarin apalagi terus menerus, maka sadar tidak sadar kita akan memberikan kontrol dan kuasa kita kepada yang membayari kita itu. Selain itu, kita juga akan merasa tidak enak dan merasa berhutang, meskipun itu pacar kita sendiri. Dan terutama ya itu, kendali dan kuasa kita atas diri kita jadi berkurang, karena kita selalu dibayari. Plus cewek juga ingin kali membayari, kan ada kebanggaan tersendiri ya ketika bisa membayari atau memberikan sesuatu kepada orang yang kita cintai, rasanya puas gitu. Aku yakin bukan aku saja yang merasakan begitu, ayo cewek-cewek yang tidak suka dibayari terus, mana suaranya?

Jadi ketika cowok dan cewek jalan bareng, makan dan nonton, siapa dong yang harus membayari? Ya yang lebih mampu pada saat itu lah! Misalnya malam minggu ini makan, cowoknya lagi punya duit, ya boleh dia yang bayarin. Malam minggu, minggu depannya, ceweknya lagi punya duit, ya ceweknya yang bayarin! Malam minggu berikutnya, keduanya sama-sama lagi cekak, ya BSS dong alias Bayar Sendiri-Sendiri atau BMM alias Bayar Masing-Masing, bisa kan? Terus malam minggu selanjutnya lagi, keduanya benar-benar lagi bokek sebokek-bokeknya, ya tidak udah nonton dan makan di luar, cukup di rumah saja bikin Indomie sambil nonton film download-an di laptop berdua, bisa kan? Hehehe…

Intinya, tidak harus selalu cowoknya atau tidak harus selalu ceweknya yang membayari, bisa keduanya alias gantian, atau bayar sendiri-sendiri. Apalagi hubungannya masih pacaran, belum ada ikatan resmi. Dengan begitu relasi yang dibangun akan lebih adil dan setara, kuasa dan kontrolnya pun juga akan lebih bisa dibagi dengan setara. Kan katanya cinta itu memberi dan menerima, bukan yang satu memberi doang dan yang satu menerima doang, tekor dong kalau begitu. Plus hubungan yang setara (tidak yang satu hanya memberi dan yang lain hanya menerima) akan meminimalisir relasi yang salah satu pihak mendominasi yang lain, serta mencegah hubungan yang berbasiskan superior dan subordinat. Kalau sudah berumah tangga nanti, tetap prinsipnya sama, baik suami maupun istri harus sama-sama memiliki akses, keputusan, dan pengelolaan terhadap keuangan keluarga, meskipun sumbernya bisa dari keduanya atau salah satunya, itu tergantung kesepakatan di masing-masing rumah tangga dengan pertimbangannya masing-masing tentu saja.

Jadi teringat, sekitar tahun 2012, aku pernah ke Jakarta untuk satu pekerjaan penelitian dari kantor. Nah ketika mendatangi rumah salah satu responden, aku diantar oleh salah satu rekan kerja laki-laki berboncengan motor. Pulang dari mewawancarai responden, dengan jalanan Jakarta yang super macet, panas, dan melelahkan itu, aku mengajak teman laki-laki itu untuk berhenti sejenak di sebuah café untuk minum segelas es kopi. Setelah selesai aku langsung membayari kopi dan snack yang kita pesan itu. Begitu mengetahuinya, dia langsung merasa tidak enak, cemas, galau, dan mengatakan harusnya dia saja yang membayari karena dia laki-laki. Padahal pasangan juga bukan, hanya rekan kerja saja. Dengan santai aku bilang saja kalau sudah aku bayari, dia bisa bayari aku lain kali di kesempatan selanjutnya kalau kita ngopi bareng lagi. Dan di sepanjang perjalanan pulang, di atas motor, dia masih belum bisa menerima itu dan terus saja meributkan soal kenapa aku yang membayari kopinya, harusnya dia sebagai laki-laki yang membayari. Dia benar-benar menggunakan alasan itu lho gaess, “sebagai laki-laki harusnya dia yang membayari”! Oh my God, dan dia benar-benar merasa terganggu dengan hal itu sampai ketika sudah balik lagi ke sekretariat. Betapa konstruksi gender itu sudah melekat erat dan kuat dalam lubuk sanubari, disadari ataupun tidak, bahkan bagi laki-laki yang sudah bekerja di isu kesetaraan gender, hehehe. Ya tapi itu memang tidak semudah membalikkan telapak tangan sih, butuh waktu dan proses yang panjang, dan tentu saja dukungan dan saling mengingatkan.

Fitri Indra Harjanti

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.
Bagikan:

Fitri Indra Harjanti

Seorang fasilitator, editor, penerjemah, dan penulis freelance yang tinggal di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Aktif menggeluti isu gender dan feminisme sejak 7 tahun yang lalu. Menghabiskan waktu luangnya dengan menonton film di bioskop, mendengarkan band Queen, dan berbicara dengan kucing-kucingnya.

2 tanggapan untuk “Ketika Makan dan Nonton Bersama, Siapa yang Harus Membayari, Laki-Laki atau Perempuan?

  • Januari 19, 2019 pada 9:36 am
    Permalink

    Fiiitt.. sebenarnya aku pengen nulis artikel dengan tema yang sama, cuman aku mau ikut membahas hal ini dari kultur yang berbeda. Ketika baru nyampe jerman 14 tahun yang lalu, aku sempat shock melihat pasangan suami istri jerman bayar masing-masing di restoran. Mereka bilangnya “the dutch way”. Kok bisaa?? Kan suami-istri?? Ini adalah hal salah satu misteri terbesar yang gak masuk frame pikiran aku.
    Lambat laun, sekian banyak yang aku lihat, ternyata situasi ini pun harus aku hadapi.. Oh God!
    Hihi.. Tulisan lengkapnya menyusul ya cin.. <3

    Balas
    • Januari 19, 2019 pada 11:11 am
      Permalink

      Tulis dooongg beb, tema yang sama dengan tulisan/perspektif yang berbeda justru akan makin seruuu dan semakin melengkapi, duh ga sabar pengen baca tulisanmu, apalagi konteks jerman, ditunggu bingiittzz ya beb…

      Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *